bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review The Boy Who Harnessed the Wind (2019)

Ditulis oleh Dhany Wahyudi - Diperbaharui 23 September 2021

Melawan semua rintangan, bocah berusia 13 tahun di Malawi menciptakan sebuah cara yang tidak biasa untuk menyelamatkan keluarga dan desanya dari kelaparan. The Boy Who Harnessed the Wind adalah sebuah film drama produksi Inggris yang menjadi debut penyutradaraan bagi aktor Chiwetel Ejiofor yang juga menjadi penulis naskah dan bintang di film ini.

Setelah ditayangkan di Sundance Film Festival di awal tahun 2019, Netflix kemudian menjadi distributor film yang menjadi wakil Inggris di Academy Awards ini untuk penayangan di seluruh dunia lewat aplikasi streaming-nya sejak 1 Maret 2019. Film ini menuai respon positif, hanya sayangnya film yang berdasarkan kisah nyata ini gagal dinominasikan di ajang Oscar.

Menyorot kehidupan sebuah keluarga di sebuah desa terpencil di Afrika di saat menghadapi musim kemarau yang panjang, film ini tampil bersahaja dan kental dengan nuansa tradisi budaya setempat. Berikut review kami tentang film yang sarat pesan positif tentang pendidikan dan motivasi ini.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun: 2019
  • Genre: Biography, Drama, History
  • Produksi: BBC Films, BFI Film Fund, Blue Sky Films
  • Sutradara: Chiwetel Ejiofor
  • Pemeran: Maxwell Simba, Chiwetel Ejiofor, Aissa Maiga

William Kamkwamba adalah seorang bocah yang sangat menyukai segala hal tentang listrik dan elektronik. Bahkan dia berani menerima jasa perbaikan radio, meski butuh waktu yang lama baginya untuk memperbaiki barang-barang elektronik tersebut. Selain dia perlu mencari tahu letak kerusakan, suku cadangnya pun tidak tersedia, dan dia harus mencarinya di lokasi pembuangan barang rongsokan.

Kematian salah satu anggota dari keluarga besar mereka menimbulkan perbedaan pendapat perihal penggunaan lahan yang ditinggalkannya. Ayah William, Trywell, masih ingin menggunakan lahan tersebut untuk bercocok tanam, sedangkan keponakannya ingin menjual lahan itu kepada pihak pengembang property yang berakibat penggundulan sebagian besar lahan tanam mereka.

Cuaca yang ekstrim melanda Afrika dan merusak hasil panen mereka, dimana di musim hujan lahan mereka kebanjiran dan saat musim kemarau, lahan mereka mengalami kekeringan. Kepala suku mencoba membujuk presiden untuk membantu kesulitan mereka, tapi karena persaingan politik di masa kampanye, justru mereka semakin menderita.

Bahan pokok semakin langka, sekalipun ada harganya pun sangat mahal. Ketika sembako datang dari pusat, mayoritas warga mengantri untuk membeli bahkan saling berebut karena takut kehabisan. Saat William ikut mengantri, Gudang makanan di rumahnya dijarah orang-orang tidak dikenal. Terjadi kerusuhan yang memaksa William untuk keluar dari tempat itu lewat jalan belakang.

Kekeringan semakin mengganas, kemarau semakin Panjang, tanaman tidak bisa tumbuh tanpa air. William diberhentikan dari sekolah sebagai akibat ketidakmampuan keluarganya untuk membayar biayanya. Kemudian William memanfaatkan asmara tersembunyi gurunya dengan kakaknya agar dia bisa berada di perpustakaan dan mempelajari sesuatu yang bisa membantu desanya dari kelaparan.

Dan William kemudian menemukan pencerahan setelah membaca buku Using Energy yang menjadi inspirasi baginya untuk menyelamatkan desanya dari kekeringan dengan menciptakan alat pembangkit tenaga listrik yang menggunakan tenaga angin. Tetapi untuk membuat pembangkit listrik tenaga angin ini tidaklah mudah, apalagi dengan sumber daya terbatas, baik materi dan manusia.

William harus mendapat amarah ayahnya terlebih dahulu yang tidak merelakan sepedanya untuk dijadikan alat untuk memutar kincir angin desain William. Tapi setelah keadaan semakin parah dan bujukan istrinya, akhirnya Trywell merelakan sepedanya dirombak. William berhasil membuat sebuah alat monumental bagi desanya yang bisa mengalirkan air ke sawah dari sumur.

Bangunan Cerita yang Baik

Bangunan Cerita yang Baik

Naskah yang juga ditulis oleh Ejiofor berdasarkan buku karya William Kamkwamba dan Bryan Mealer ini mampu menampilkan cerita yang menyentuh hati, meski terkesan sangat konvensional. Kesan keintiman kita dengan keluarga William ini diperkuat oleh kehandalan Ejiofor dalam mengangkat tradisi dan budaya masyarakat desa Wimbe yang sangat kental di atas kemajemukan agama di dalamnya.

Penggambaran tradisi dan budaya Afrika di The Boy Who Harnessed the Wind ini sedikit banyak sama kuat dengan apa yang ditampilkan oleh Mira Nair di film Queen of Katwe (2016). Mata dan wawasan kita tentang Afrika dan masyarakatnya akan terbuka seketika setelah menonton kedua film ini, dimana kesulitan ekonomi merupakan penghalang terbesar mereka untuk bisa menatap masa depan yang cerah.

Bagi William, mendapatkan pendidikan yang layak tidaklah mudah, meski dia terlahir memiliki otak yang cerdas. Hal ini menjadi tamparan yang keras bagi kita yang bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik di negeri kita tercinta ini, bahkan hingga ke jenjang yang lebih tinggi yang hanya bisa diimpikan oleh mayoritas masyarakat di Afrika. Kita harus banyak bersyukur dan tidak melupakan nikmat ini.

Selain faktor ekonomi, faktor eksternal lainnya pun tidak kalah mendapat porsi yang setara untuk menjadi penghalang, bagi William khususnya, untuk melangkah maju demi menyelamatkan keluarga dan desanya dari kelaparan. Musim kemarau yang panjang dan sistem politik di Malawi yang sedang carut-marut, membuat William semakin kesulitan untuk belajar, apalagi setelah sekolahnya ditutup.

Politik demokrasi yang masih baru di Malawi dalam film ini, sebenarnya ditanggapi dengan antusias oleh warga negaranya. Tetapi justru dicoreng oleh oknum yang tidak mau dikritik dan terkesan seperti diktator berkedok demokrasi saja. Kepala desa yang berjuang untuk menyelamatkan desanya malah dipukuli karena berseberangan pemikiran dengan kepala negara sekaligus pimpinan partai pemenang pemilu.

Performa Akting yang Kuat

Performa Akting yang Kuat

William sendiri hanyalah salah satu korban dari ketidakadilan pemerintahan yang tidak peduli dengan musibah kelaparan yang menimpa negaranya dan lebih fokus untuk kampanye demi memenangi pemilu berikutnya. Dia rela berebut antrian untuk mendapatkan sembako bagi keluarganya di atas kekisruhan yang terjadi di desanya. Bahkan gudang makanan keluarganya dijarah oleh beberapa orang tidak dikenal.

Kita sudah tahu bagaimana kualitas akting Chiwetel Ejiofor yang sudah tidak diragukan lagi, tapi ternyata dia juga mampu mengasah bakat akting dari bocah bernama Maxwell Simba yang berperan sebagai William. Simba mampu menyuguhkan performa akting yang cukup baik dan memikat dengan kepolosannya. Aktingnya terlihat sangat natural.

Dalam berbagai situasi, akting Simba mampu mencuri perhatian, lewat senyum, tawa, tangis dan banyak ekspresi lainnya sesuai dengan situasi dalam hidup karakternya yang mengalami banyak cobaan setelah tampak bahagia secara sekilas di awal film. Kita bisa lihat keyakinan dirinya bahwa dia mampu membuat alat pembangkit tenaga listrik bagi desanya lewat tatapan mata yang penuh dengan motivasi.

Hasil yang Impresif bagi Sutradara Baru

Hasil yang Impresif bagi Sutradara Baru

The Boy Who Harnessed the Wind merupakan debut penyutradaraan bagi Chiwetel Ejiofor, seorang aktor yang pernah masuk nominasi Best Actor di ajang Oscar lewat film 12 Years a Slave (2013). Ejiofor mampu menampilkan bakatnya sebagai sineas lewat pengarahannya dalam film yang penuh inspirasi dan pesan moral ini.

Meski jalan ceritanya nyaris serupa dengan film biografi lainnya, October Sky (1999), tetapi nuansa Afrika dan produk hasil ciptaan yang sederhana membuat cerita dalam film ini terkesan lebih masuk akal dan memiliki nilai keintiman yang tinggi. Tentunya kita akan dibuat lekat dengan sosok William yang jenius meski hanya belajar secara otodidak di perpustakaan sekolahnya yang sangat sederhana.

Ejiofor sepertinya akan mengikuti jejak para aktor lainnya yang sudah lebih dulu terjun sebagai sutradara dan sukses pada film perdananya. Kita sebut saja beberapa diantaranya, yaitu Robert Redford lewat film Ordinary People (1980) dan Kevin Costner dalam Dances with Wolves (1990). Kita harapkan karirnya sebagai sutradara bisa setara, bahkan lebih baik, dari para aktor pendahulunya.

The Boy Who Harnessed the Wind menjadi sebuah film yang bisa menginspirasi dan memotivasi kita agar bisa terus berusaha saat banyak rintangan yang mendera dalam hidup kita. Film ini juga mengajarkan kita untuk lebih banyak bersyukur karena kehidupan kita di negri tercinta ini lebih baik jika dibandingkan dengan banyak negara di Afrika, seperti yang dipaparkan dalam film ini.

Dan tentu saja, pendidikan menjadi hal terpenting yang harus dikedepankan demi memajukan kehidupan bangsa, khususnya keluarga. William sendiri akhirnya bisa menempuh pendidikan yang tinggi di Darmouth College, Amerika Serikat. Memiliki impian itu harus, menuntut ilmu itu wajib dan membaktikannya bagi masyarakat luas adalah sebuah perbuatan mulia.

Film ini sangat kami rekomendasikan untuk ditonton, mengingat banyaknya penilaian positif atasnya. IMDb memberikan rating 7,6 dengan Metascore sebesar 68. Selain itu Rotten Tomatoes juga memberikan cap certified fresh bagi film yang membuat Chiwetel Ejiofor meraih penghargaan sebagai sutradara terbaik di ajang Heartland Film, Image Awards dan Sundance Film Festival ini. Langsung simak saja ya!

The Boy Who Harnessed the Wind
Rating: 
3.5/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram