Bacaterus / Review Film Barat / Review & Sinopsis State of Play (2009), Kusutnya Dunia Politik

Review & Sinopsis State of Play (2009), Kusutnya Dunia Politik

Ditulis oleh - Diperbaharui 22 September 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Bagi sebagian orang, politik itu rumit dan membingungkan. Di sisi lain politik adalah komponen kehidupan sosial yang sangat dekat dengan kita. Sebagai salah satu komponen penting dalam kehidupan, tema politik sering diangkat ke dalam film dan dikemas sedemikian rupa agar tetap bisa menarik untuk ditonton.

Salah satu film bertema politik yang luput dari banyak pandangan orang adalah State of Play. Walau dirilis sudah cukup lama yaitu tahun 2009, tapi film ini masih tetap relevan karena mengungkap sisi lain dari dunia politik dan dunia lain yang ikut menopangnya. Ingin tahu seperti apa film State of Play? Yuk, simak ulasannya berikut ini!

Sinopsis

Sinopsis State of Play

  • Tahun rilis: 2009
  • Genre: Political Thriller
  • Produksi: Working Title Films, StudioCanal, Relativity Media, Andell Entertainment
  • Sutradara: Kevin Macdonald
  • Pemain: Russell Crowe, Ben Affleck, Rachel McAdams, Jason Bateman, Helen Mirren

Stephen Collins adalah seorang anggota kongres. Di usianya yang masih relatif muda sudah mempunyai karir politik yang brilian. Suatu malam, ada tiga orang yang menjadi korban penembakan di Washington D.C. Salah satu korbannya adalah Sonia Baker, salah satu staf dari Collins. Awalnya Baker disebut-sebut meninggal karena bunuh diri, tapi Collins nggak percaya begitu saja.

Collins mempunyai latar belakang militer, dia pun melakukan investigasi. Pihak yang dia curigai mempunyai andil atas kematian Baker adalah sebuah perusahaan bernama PointCorp. PointCorp adalah perusahaan swasta di bidang pertahanan militer yang melayani jasa penyewaan tentara bayaran.

Collins merasa apa yang harus dihadapinya terlalu berat jika berjuang sendiri, karena itulah dia meminta bantuan pada temannya di masa kuliah dahulu yang kini berprofesi sebagai jurnalis, Cal McAffrey. McAffrey merupakan seorang reporter yang berani terjun langsung untuk melakukan investigasi suatu kasus.

Hal pertama yang diungkap Collins pada McAffrey adalah dia nggak percaya Baker melakukan bunuh diri karena gelagatnya nggak ada yang mencurigakan bahkan pagi sebelum dia tewas, mereka sempat berkomunikasi dan nggak ada apa-apa. Selain itu, dia juga mengaku mempunyai hubungan asmara dengan Baker.

Dalam menjalankan tugasnya, McAffrey dibantu oleh Della Frye dan editornya, Cameron Lynne. Mereka diberi tugas untuk mencari CCTV di tempat kejadian perkara. Dari tiga CCTV, hanya ada satu yang merekam kejadian bahwa ada penembakan terjadi malam itu walau nggak terlihat jelas Baker adalah salah satu korbannya.

Selain Baker ada dua orang lain yang ditembak malam itu, seorang pencuri, dan seorang kurir. McAffrey meyakini bahwa penembakan ketiganya berkaitan. Seorang tunawisma mencari McAffrey dan memperlihatkan foto temannya yang tewas malam itu, dia mencuri koper dari sang pembunuh.

Di foto itu juga ada Baker yang terlihat sedang mengobrol dengan seorang pria berpakaian rapi. McAffrey menyimpan seorang informan di perusahaan PointCorp dan mendapat informasi tentang kemungkinan pelaku penembakan. Berbekal alamat orang itu, McAffrey datang tapi dia nggak menemukan siapa-siapa.

Di tempat lain, Frye berhasil mengidentifikasi orang berpakaian rapi di CCTV dan orang itu adalah Dominic Foy, PR dari PointCorp. Untuk menemukan bukti lain, McAffrey menjebak Foy. Akhirnya ditemukan fakta bahwa Baker adalah orang yang diutus oleh PointCorp untuk mencari informasi dari Collins.

Sang istri, Anne Collins merasa terpukul ketika suaminya mengaku mempunyai hubungan dengan Baker ke publik. Di sisi lain, Anne tahu bahwa Baker bekerja untuk PointCorp. Penyelidikan dilakukan dan muncul nama Robert Bingham, rekan Collins di militer dulu yang disebut sebagai orang yang melakukan penembakan.

Menurut Collins, Bingham jauh lebih nggak menyukai PointCorp walau ada kemungkinan dia membunuh Baker di luar tugasnya. Jadi siapa sebenarnya pembunuh Sonia Baker di tengah pusara politik? Kenapa Baker harus tewas?

Adaptasi dari Serial TV

Adaptasi dari Serial TV

Film State of Play merupakan adaptasi dari serial TV dengan judul yang sama yang ditayangkan di Inggris. Serial itu tayang pada tahun 2003 dengan terdiri dari enam episode dan tayang di Amerika setahun setelahnya. Kevin Macdonald selaku sutradara film State of Play sangat menyukai serial itu lalu mengumpulkan orang yang mau bekerja sama membuat versi adaptasinya.

Paul Abbott, penulis cerita serial The State of Play sempat menolak ide bahwa karyanya akan diadaptasi menjadi film. Dia merasa khawatir cerita yang dia sampaikan sebanyak enam episode nggak cukup baik untuk dipersingkat menjadi sebuah film. Bahkan proses pembelian hak cipta untuk serial tersebut memakan proses yang cukup panjang.

Film State of Play akhirnya berhasil dibuat dan dirilis. Enam episode asli itu bisa dibuat ringkas menjadi sebuah film, sayangnya beberapa pihak menilai bahwa filmnya mempunyai tempo yang cepat sehingga sulit diikuti. Belum lagi dengan temanya yang dikategorikan berat. Tapi, sajian ini sangat menarik bagi orang yang menyukai film yang menonjolkan teka-teki.

Plot Twist yang Menarik

Plot Twist yang Menarik

Sebuah film thriller rasanya nggak akan lengkap kalau nggak menyajikan plot twist. Selain untuk mengejutkan penonton, tapi juga mengubah jalan cerita sehingga semakin sulit ditebak dan kita dipaksa untuk duduk menonton hingga film selesai. The State of Play menyajikan plot twist yang menarik dengan porsi yang cukup. Twist dibuat logis tapi tetap mengejutkan untuk penonton.

Plot twist di The State of Play diawali dengan fakta bahwa Sonia Baker adalah orang yang bekerja untuk PointCorp sebagai mata-mata untuk Stephen Collins. Plot twist ini berkembang sampai memancing banyak teka-teki lain yang membuat film ini semakin seru. Dari sana plot twist lainnya bermunculan.

Politik dan Jurnalisme

Politik dan Jurnalisme

Dari awal mulai, The State of Play langsung memperlihatkan bahwa film ini menggunakan politik sebagai unsur utamanya. Collins sebagai anggota kongres serta keberadaan PointCorp sebagai perusahaan swasta yang dinilainya membahayakan. Lalu tewasnya Sonia Baker yang menggerakkan cerita menuju konflik yang sesungguhnya.

Dimainkannya unsur politik membuat film terasa nyata karena persaingan di level atas bisa menjadi begitu kejam. PointCorp di film ini disebut berhasil meraup miliaran dollar atas usahanya menyewakan tentara bayaran di Amerika dan Timur Tengah. Selain itu, mereka bekerja sama dengan perusahaan swasta lain untuk memonopoli kontrak di bidang pertahanan.

Keberadaan Collins sebagai anggota Kongres dinilai bisa membahayakan karena sewaktu-waktu dia bisa memberi usulan untuk membentuk peraturan yang mengganjal perusahaan mereka. Salah satu unsur yang nggak kalah penting muncul di film State of Play adalah jurnalisme. Cal McAffrey merupakan seorang jurnalis ulung yang begitu memegang teguh etika jurnalisme.

Dia mendorong Collins untuk berbicara secara terbuka mengenai hubungan asmaranya dengan Baker. Bahkan dia nggak segan menjatuhkan Collins kalau diperlukan demi mengungkap fakta yang sebenarnya. Editornya bersikeras agar McAffrey mau berkompromi untuk fakta yang dinilainya beresiko, tapi McAffrey tetap teguh pada pendiriannya.

Tema politik yang berat berhasil dikemas dengan apik di film ini. Siap-siap saja mengernyitkan dahi dan ikut memecahkan teka-teki siapa pembunuh Sonia Baker sesungguhnya. Nah setelah menonton, kamu bisa membagikan pesan yang bisa dipetik dari film ini di kolom komentar berikut ini ya!

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *