bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Scream (2022), Kembalinya Teror Ghostface

Seorang wanita harus kembali ke kampung halamannya setelah mendapat berita penusukan adiknya. Berusaha melindungi, dia juga terpaksa harus membuka rahasia lama sekaligus menjadi target utama sang penebar teror yang menggunakan motif legenda pembunuh di kota kecil tersebut.

Berita ini menarik perhatian tiga orang yang pernah berhadapan dengan sang pembunuh bersenjata pisau ini. Scream adalah film thriller karya Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett yang dirilis oleh Paramount Pictures pada 14 Januari 2022.

Selain menampilkan banyak karakter baru sebagai warga kota Woodsboro, tiga tokoh yang selalu hadir di empat film sebelumnya juga muncul meski tidak mendapat porsi adegan yang besar.

Apakah teror yang ditebar Ghostface masih tetap menakutkan? Kali ini, siapakah orang di balik jubah hitam dan topeng tersebut? Berikut review dari film yang memperpanjang warisan dari mendiang sineas Wes Craven ini.

Baca Juga: 10 Film Slasher Terbaik yang Menegangkan dan Bikin Paranoid

Sinopsis

Scream 2022 poster_

Sam Carpenter yang bekerja di Modesto mendapat kabar bahwa adiknya, Tara, mengalami penusukan di rumahnya saat sendirian. Sam bersama kekasihnya, Richie, berangkat menuju Woodsboro. Sesampainya di rumah sakit, Sam bertemu dengan teman-teman Tara yang memiliki anggapan negatif tentang kepulangan Sam ke kampung halamannya.

Saat pergi ke kantin, Sam mendapat panggilan telepon dari sang pembunuh yang ternyata sudah berada di ruangan itu dan langsung menyerangnya. Beruntung Sam berhasil kabur dan menemui polisi yang berjaga disana. Pernah memiliki masa lalu yang buruk dengan Sheriff Judy, Sam diperingatkan oleh sheriff untuk pergi dari kota ini.

Sam mengungkapkan rahasianya kepada Tara tentang ayah kandungnya yang ternyata adalah Billy Loomis, satu dari dua pembunuh pertama yang menggunakan topeng Ghostface. Tara marah dan mengusir Sam dari kamarnya.

Sam tidak bisa tinggal diam dan berusaha mencari tahu misteri sang pembunuh dari ahlinya, mantan sheriff Dewey. Awalnya Dewey tidak peduli, tapi hati nuraninya membuat dirinya bersedia membantu Sam.

Langkah awal ialah mencari kemungkinan sang pembunuh di lingkungan pertemanan Tara dan Sam. Kelima teman Tara memiliki kemungkinan itu, termasuk Richie menurut teori dari Dewey.

Sam pergi dari kelompok itu hingga akhirnya melihat rumah Sheriff Judy menjadi TKP pembunuhan sang sheriff dan putranya, Wes. Sam segera berlari menuju rumah sakit begitu menyadari bahwa tidak ada polisi yang menjaga Tara. Sam dan Dewey datang tepat waktu ketika pembunuh sedang berusaha menyerang Tara yang tidak berdaya setelah terjatuh dari kursi roda.

Setelah Sam membawa Tara beserta Richie, Dewey kembali untuk memastikan bahwa pembunuh itu sudah mati, tapi justru dia ditikam hingga tewas oleh sang pembunuh yang ternyata memakai rompi anti peluru sehingga tidak mempan setelah ditembak oleh Dewey. Setelah Tara selamat dan dirawat lagi, Sam memutuskan untuk membawa Tara keluar dari Woodsboro.

Keputusannya ini sempat dihalangi oleh Sydney Prescott dan Gale Weathers yang berusaha meyakinkan Sam untuk mengejar sang pembunuh, bukan justru lari darinya. Sam tetap pergi. Dalam perjalanan, Tara kebingungan mencari inhaler dan meminta Richie untuk singgah sebentar di rumah Amber yang sedang menggelar sebuah pesta.

Tara, Sam dan Richie datang lalu membubarkan pesta dimana setelah itu Ghostface menebar teror lagi. Sydney dan Gale sampai juga di rumah itu dan menyadari bahwa Tara dan Sam sudah masuk perangkap sang pembunuh.

Bagaimana cara Sydney dan Gale menolong Sam untuk menghentikan teror Ghostface ini? Dan, siapakah orang di balik topeng Ghostface itu? Tonton dulu filmnya sampai habis, ya!

Kembalinya Teror Pembunuh yang Mengejutkan

Kembalinya Teror Pembunuh yang Mengejutkan_

Mengingat sejak film pertamanya di tahun 1996 silam, tiga sequel-nya gagal menyamai pencapaian tersebut bahkan Scream 3 (2000) adalah yang terburuk, dan perilisan Scream 4 (2011) seolah menjadi pemaksaan yang tidak membuat franchise horror ini menjadi lebih baik, meski ada peningkatan kualitas sedikit lebih bagus dari film sebelumnya.

Lalu, hampir satu dekade setelahnya muncul ide untuk meneruskan franchise ini tanpa sutradara Wes Craven yang sudah wafat di tahun 2015 dan penulis naskah Kevin Williamson yang mundur dari proyek. Keraguan semakin mengemuka ketika The Weinstein Company, sebagai pemegang lisensi franchise, ditutup.

Baru di tahun 2019, Blumhouse Productions merencanakan untuk membuat film Scream terbaru yang memulai proses syuting di bulan September 2020. Kita pasti berpikir tentang ketegangan apa lagi yang bisa dihadirkan di dalam film terbarunya mengingat tiga film sebelumnya telah kehilangan faktor tersebut. Tapi ternyata kita salah, film ini tampil lebih baik dan bisa setara dengan film pertamanya.

Terlalu berlebihankah? Tentu saja tidak. Banyak faktor yang membuat film ini bisa menjadi salah satu film horor terbaik di tahun 2022. Faktor yang utama adalah misteri yang tebal sehingga membuat kita susah untuk menebak siapa di antara mereka yang menjadi pembunuhnya. Meski sebenarnya sudah disinggung secara lugas oleh Dewey, kita tentu tidak serta-merta langsung percaya begitu saja.

Kita akan dibuat bingung dengan semua karakter yang memiliki indikasi kuat bahwa mereka adalah pembunuhnya, tapi mereka pun memiliki alibi yang kuat pula untuk menolaknya. Penulis naskah James Vanderbilt dan Guy Busick cukup pintar bermain kata-kata dan menyusun adegan sehingga kita benar-benar dibuat tersesat dalam pikiran kita sendiri.

Faktor berikutnya adalah ketegangan yang terolah dengan baik berkat perpaduan apik adegan dan musik yang mengiringinya. Beberapa kali kita dibuat tahan napas dan menduga Ghostface akan muncul di balik pintu rumah atau pintu kulkas yang dibuka karena iringan musik yang semakin mencekam, tetapi dugaan kita berkali-kali pula salah.

Dan ketika Ghostface muncul dengan gerakannya yang cepat, kita benar-benar dibuat tercengang dan terhenyak dengan betapa sadisnya dia dalam membunuh korbannya.

Jika menurut teorinya sang pembunuh terdiri dari dua orang, kita juga dibuat seperti sedang bermain mix-and-match untuk menebak siapa saja yang paling mendekati untuk ditetapkan sebagai orang di balik topeng Ghostface itu.

Napas Segar dari Deretan Pemain baru

Napas Segar dari Deretan Pemain baru_

Film Scream edisi ini dipenuhi oleh banyak pemain baru yang belum pernah hadir di film-film sebelumnya sehingga menghadirkan napas baru untuk cerita yang lebih segar. Nama-nama seperti Melissa Barrera, Jenna Ortega dan Jack Quaid mungkin masih asing terdengar di telinga kita, tapi mereka bisa tampil dengan baik dalam membawakan karakter masing-masing.

Sejak awal film dengan durasi 1 jam 54 menit dan sinematografi bernuansa mencekam ini, dimana Tara diteror lewat telepon dan ditusuk oleh Ghostface meski tidak mati, banyak adegan menegangkan yang hadir sebagai nostalgia dengan film pertamanya yang dibuat hampir mirip dengan tingkat ketegangan yang tinggi pula.

Emosi yang ditampilkan oleh Barrera dan Ortega sangat terasa dan mereka terlihat mirip satu sama lain sehingga pantas disandingkan sebagai kakak dan adik. Jack Quaid, yang merupakan putra dari aktor senior Dennis Quaid, juga tampil sangat baik dan pintar mengelabui kita sehingga ketika terkuak bahwa dia adalah salah satu dari Ghostface kita sangat tidak percaya.

Kehadiran Proporsional para Pemeran Utama Franchise

Kehadiran Proporsional Para Pemeran Utama Franchise_

Selain itu, motif dari pembunuhan yang mereka lakukan juga sangat tidak terduga dan jauh dari apa yang kita pikirkan, yaitu karena kekecewaan mereka atas buruknya kualitas film lanjutan Stab, film fiksi yang terinspirasi kejadian di Woodsboro, sehingga membuat mereka menghadirkan cerita baru secara nyata yang diharapkan bisa menjadi pelipur lara dari kekecewaan yang sebenarnya tidak beralasan ini.

Uniknya, para pemeran utama di empat film sebelumnya dihadirkan kembali dalam porsi yang lebih sedikit namun menentukan jalan cerita dan akhir filmnya. David Arquette, Neve Campbell dan Courteney Cox memang tidak mendapat menit bermain yang banyak, tapi apa yang mereka lakukan terasa cukup untuk memancing kesedihan maupun semangat untuk melawan sang penebar teror.

Bahkan Skeet Ulrich juga dihadirkan kembali meski hanya sebagai bayangan yang mengikuti Sam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Diantara mereka, hanya Cox yang terlihat tampil kurang maksimal.

Memang ada beberapa adegan yang terkesan absurd, seperti saat Ghostface meneror Tara di rumah sakit dan membunuh Dewey dimana rumah sakit terlihat kosong tidak ada satu pun orang di sana, baik perawat maupun pasien dan hanya ada satu jasad polisi yang terbunuh, tapi secara keseluruhan film Scream ini tampil melebihi ekspektasi.

Pada akhirnya, Scream bisa menghembuskan napas baru bagi franchise ini dengan balutan misteri yang apik, jalinan cerita yang rapi, akting penuh potensi serta emosi, dan permainan tensi yang membuat kita selalu berusaha menebak-nebak di sepanjang film.

Meminjam istilah “requel” yang diucapkan Mindy, memang film ini bisa melupakan rasa kecewa kita dengan kualitas tiga film sebelumnya yang buruk dan menghadirkan cerita yang lebih baik. Jika bisa melihat film ini, mendiang Wes Craven pasti bangga dibuatnya dimana film ini didedikasikan untuknya.

Bagi kalian penyuka film horror dan thriller, Scream wajib kalian tonton dengan segera. Dijamin, jantung kita akan dibuat selalu berdebar dan selalu menahan napas di setiap adegan yang menegangkan. Selamat menonton!

Scream (2022)
Rating: 
3.7/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram