Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis & Review Birds of Prey, Emansipasi Harley Quinn n’ The Gank

Sinopsis & Review Birds of Prey, Emansipasi Harley Quinn n’ The Gank

Ditulis oleh - Diperbaharui 5 Januari 2021

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

“Birds of Prey (and the Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn)” adalah film superhero tahun 2020 yang didasarkan pada Komik DC, “Birds of Prey”. Jika kamu telah menonton “Suicide Squad” (2016), film “Birds of Prey” ini merupakan kelanjutannya. Pada waktu sekarang, Harley Quinn sudah putus dengan kekasihnya, Joker.

Sempat patah hati dan gamon alias gagal move on, Harley akhirnya berhasil bangkit bersama teman-teman wanita barunya, Helena Bertinelli, Dinah Lance, Renee Montoya, dan Cassandra Cain. Inilah kelompok baru yang bernama Birds of Prey.

Sinopsis

  • Tahun: 2020
  • Genre: Laga, Film pahlawan super, Petualangan, Kejahatan
  • Rating: R (strong violence, language throughout, some sexual & drug material)
  • Sutradara: Cathy Yan
  • Produksi: DC Films, LuckyChap Entertainment, Kroll & Co. Entertainment, Clubhouse Pictures
  • Pemeran: Margot Robbie, Mary Elizabeth Winstead, Jurnee Smollett-Bell, Rosie Perez, Chris Messina, Ella Jay Basco

Diceritakan Joker memutuskan Harley Quinn, membuangnya ke jalanan Kota Gotham. Harley pun menyewa tempat tinggal mungil di lantai atas restoran masakan Asia milik seorang kakek bernama Doc. Sambil memulihkan dirinya, Harley melakukan banyak hal seperti memotong rambut, mengadopsi hyena, dan melakukan kegilaan khas Harley (seperti mematahkan kaki supirnya Roman Sionis—kriminal yang kejam—karena menghina Harley saat di klub).

Suatu ketika, Harley mendengar ‘teman-teman’ (fake)nya membicarakan dirinya yang lemah tanpa Joker. Bahwa Harley hanyalah parasit dan bukan apa-apa tanpa Joker di sisinya, juga pasti Harley akan memohon agar Joker menerimanya kembali. Akhirnya Harley pun sadar, kalau selama ini dia selalu dibayang-bayangi Joker.

Padahal, semua kejahatan yang dilakukan Joker, seperti mencuri perhiasan mewah, adalah ide dan jerih payah Harley. Sedangkan Joker hanya menerima hasilnya, menikmatinya dengan teman-teman prianya, dan tidak berterimakasih pada Harley sama sekali. Sadar tidak pernah dicintai oleh Joker, Harley pun memutuskan kalau putusnya hubungan mereka yang kali ini adalah untuk selamanya, dan dia akan move on.

Harley pun mengumumkan ke seluruh Kota Gotham kalau dia telah putus dengan Joker dengan cara meledakkan Pabrik Ace Chemicals (tempat bersejarah buat Harley dan Joker, tempat Joker menyuruh Harley lompat ke larutan acid yang membuat kulitnya jadi seputih porselen seperti sekarang).

Namun, ada yang Harley lupakan. Kalau memang, selama ini dia bisa berkeliaran bebas tanpa diincar penjahat maupun pembela kebenaran seperti polisi, karena dia di bawah naungan Joker. Dengan mengumumkan kandasnya hubungannya dengan Joker, maka Harley berubah menjadi prey alias mangsa empuk, karena selama ini Harley lebih banyak membuat musuh daripada teman.

Pemeran Utamanya Semua Wanita!

Jarang banget film superhero dan kejahatan yang memiliki banyak karakter perempuan. Sedangkan film “Birds of Prey” ini malah karakter utamanya semua perempuan, loh. Tak hanya itu, bahkan sutradara dan penulis ceritanya juga wanita semua! Hal ini cukup membuat keseluruhan cerita dan penokohan Harley Quinn memiliki perbedaan yang signifikan dengan Harley Quinn pada film “Suicide Squad”.

Tokoh utamanya, Harleen Quinzel alias Harley Quinn, masih dimainkan oleh Margot Robbie. Untuk yang belum kenal dengan sosok Harley, dia adalah seorang mantan psikiater yang menjadi penjahat sinting dan pacar—kaki tangan—Joker. Dia kemudian menjadi bagian dari “Suicide Squad”.

Namun, dalam film “Birds of Prey” ini, Christina Hodson selaku penulis skenario ingin menggali lebih dalam potensi Harley Quinn bukan sebagai kekasih Joker tapi sebagai dirinya sendiri. Sebagai penulis, Christina Hodson mengatakan kalau Harley adalah karakter yang paling dia sukai karena kepribadiannya yang meledak-ledak, tidak dapat ditebak.

Lalu, jika di franchise sebelumnya Harley tidak pernah diceritakan memiliki teman atau tidak, sekarang kita jadi tahu kalau Harley tidak pernah punya teman sejati. Namun, dalam cerita ini, Harley dipertemukan oleh wanita-wanita kuat (sebagian penjahat dan sebagian pembela kebenaran). Mereka adalah:

Ada Dinah Lance a.k.a Black Canary (diperankan oleh Jurnee Smollett-Bell). Dari luar, dia merupakan penyanyi klub yang tidak dihargai, padahal suaranya sangat mematikan, dia juga punya visual yang sempurna. Padahal, dia memiliki kemampuan metahuman jeritan hipersonik yang diwarisi secara genetik dari ibunya.

Oh, ya, dia bekerja di klubnya Roman Sionis yang jahat. Setelah mengetahui kemampuan berkelahinya Dinah, Sionis menaikkan pangkat Dinah dari penyanyi menjadi supir pribadinya (karena supir sebelumnya kakinya patah oleh Harley). Di antara ‘geng’ Harley yang baru ini, Dinah merupakan ‘orang baik-baik’ yang sebenarnya tidak ingin ikut campur dalam masalah apapun tapi akhirnya terseret juga.

Tokoh Polisi yang mengincar Harley adalah Renee Montoya yang diperankan oleh Rosie Perez. Dia seorang detektif yang selalu terdepan dalam memberantas kejahatan di Departemen Kepolisian Kota Gotham (GCPD).

Dia juga yang sedang membangun kasus melawan Sionis secara diam-diam karena tidak disetujui atasannya. Pada akhirnya, karena tak pernah dihargai kerja kerasnya, dia pun mengundurkan diri sebagai polisi dan membentuk kelompok bersama teman-teman barunya ini untuk.. mengerjakan kebajikan. Haha.

Selanjutnya ada Helena Bertinelli alias The Huntress yang diperankan oleh Mary Elizabeth Winstead. Dia adalah seorang yatim piatu gangster Franco Bertinelli yang semua keluarganya tewas terbunuh. Seumur hidupnya dia latihan bela diri dan menggunakan senjata karena ingin membalaskan dendam pada para pembunuh keluarganya. Dia pun menyamar dengan nama The Huntress. Sayangnya scene tentangnya agak kurang banyak jadi dia terasa ‘dipaksakan’ masuk ke geng Birds of Prey.

Ella Jay Basco berperan sebagai Cassandra Cain, seorang gadis muda yang suka mengutil dan mencuri. Dia juga memiliki skill yang mumpuni untuk itu. Sionis mengincarnya karena dia menelan berlian yang selama ini dicari-cari oleh Sionis. Berkat perjalanan bersama cewek-cewek dewasa lainnya, Cassandra membangun hubungan yang dalam dengan Harley, layaknya saudari.

Film yang Seru & Fun

Film “Birds of Prey” ini sangatlah seru untuk ditonton. Sejak awal dimulai, film ini memang sengaja dibuat tidak menentu. Cathy Yan berhasil menambahkan warnanya sendiri dalam film garapannya ini. Saya rasa bagian-bagian dalam filmnya cukup adil, mulai dari penokohan, aksi, humor, dan tentunya set film-nya yang begitu memanjakan mata.

Tapi, tentu yang menjadi daya tarik utama film ini adalah sang protagonis, Harley Quinn, yang begitu spektakuler dimainkan oleh Margot Robbie kali ini juga. Di sini kita tidak hanya dipertontonkan sisi gila Harley, melainkan sisi lembut, konyol, dan pintar, dan kuatnya juga.

Harley Punya Teman Sejati, No Man? It’s Ok!

Yang saya syukuri adalah, Harley berhasil keluar dari bayang-bayang mantannya dan berhasil juga membuktikan ke orang-orang bahwa dia bisa tanpa Joker. Dia juga kuat dan pintar, pokoknya sehabis ini pasti tidak ada lagi yang berani mengganggunya. Bagaimana tidak, mob boss Sionis saja berhasil Harley singkirkan.

Selain itu, saya juga ikut bahagia karena Harley bertemu dengan orang-orang ‘baik’. Tapi, dia hanya ingin dekat dengan Cassandra Cain saja. Jadi yang berakhir sebagai Birds of Prey hanya Dinah Lance, Renee Montaya, dan Helena Bertinelli saja.

Sedangkan Harley membawa kabur mobil Dinah (dan juga Cassandra) dan mereka berdua diceritakan hidup bersama + membangun bisnis baru berdua. Oh, mereka juga membawa Bruce Wayne, hyena-nya Harley!

Selain para pemain, sutradara dan penulis cerita “Birds of Prey” juga mendapatkan banyak kritik positif. Secara keseluruhan, film “Birds of Prey” merupakan film yang lucu, penuh kekerasan, tapi fun untuk ditonton bersama teman-teman. Bagaimana pendapatmu setelah menonton film ini? Bagikan di kolom komentar, yuk.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *