bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review X-Men: First Class, Awal Terbentuknya X-Men

Siapa yang nggak mengenal nama X-Men? Sekumpulan superhero yang merupakan mutan itu terlebih dahulu dikenal lewat komik rilisan Marvel. Di dekade 2000-an, cerita para mutan di bawah pimpinan Charles Xavier itu diangkat ke dalam bentuk live action. Jadi, kita bisa menonton aksi mutan macam Wolverine, Mystique, Beast sampai Riptide bukan dalam bentuk animasi saja.

Di film X-Men, Xavier biasanya langsung menjadi pemimpin dari para mutan untuk menegakkan keadilan. Di X-Men: First Class, cerita akan ditarik jauh ke belakang tentang bagaimana tim yang beranggotakan para mutan itu terbentuk. Bisa dibilang, film ini menampilkan fondasi yang kokoh untuk film-film X-men berikutnya.

Sinopsis

Review X-Men First Class

Pada tahun 1944, seorang anggota Nazi yang menjaga di kamp konsentrasi, Klaus Schmidt, menyaksikan seorang tahanan yang masih kecil bernama Erik Lehnsherr membengkokkan sebuah gerbang yang terbuat dari besi. Schmidt membawa Erik ke markas. Erik menggunakan kekuatannya untuk membunuh dua orang penjaga dan merusak ruangan.

Di New York, seorang anak yang mempunyai kemampuan telepati bernama Charles Xavier bertemu dengan Raven. Raven merupakan seorang mutan yang dapat mengubah bentuknya. Wujud sebenarnya adalah seluruh badannya berwarna biru. Merasa menemukan orang lain yang sama dengan dirinya, Xavier mengundang Raven untuk tinggal bersama keluarganya dan menganggap Raven sebagai adik asuhnya.

Pada tahun 1962, Erik yang berhasil lolos dari kamp konsentrasi Nazi, mulai mencari keberadaan Schmidt untuk membalas dendam atas tindakan Schmidt yang menghabisi ibunya. Sementara itu, Xavier berhasil menyelesaikan studinya dan mendapatkan gelar sebagai Professor of Genetics di Oxford University.

Di Las Vegas, seorang petugas CIA, Moira MacTaggert mengikuti Kolonel Hendry ke Hellfire Club. Moira melihat Schmidt bersama beberapa mutan yaitu Emma Frost, Riptide dan Azazel. Schmidt berganti nama menjadi Sebastian Shaw, mengancam Hendry dan membawanya berteleportasi ke Joint War Room.

Di Joint War Room, Shaw yang telah berubah menjadi seorang mutan memanfaatkan Hendry untuk menyerap kekuatan nuklir kemudian membunuh Hendry. Moira menemui Xavier untuk mencari tahu tentang Shaw. Xavier menyatakan bahwa Shaw merupakan mutan yang dapat mengancam keberadaan manusia.

Merasa perlu menghentikan Shaw, CIA bekerja sama dengan Xavier dan membawanya ke fasilitas rahasia bernama Division X. Moira dan Xavier berhasil menemukan keberadaan Shaw. Ketika itu, Shaw sedang diserang oleh Erik tapi Shaw terlalu tangguh bagi lawannya itu. Moira dan Xavier pun menyelamatkan Erik yang nyaris tewas, sementara Shaw berhasil melarikan diri.

Xavier membawa Erik ke Division X dan bertemu dengan Hank McCoy, seorang mutan yang juga seorang ilmuwan. Dengan alat buatan McCoy yang dapat melacak lokasi para mutan, Xavier berniat membentuk sebuah tim untuk melawan Shaw beserta mutan-mutan pengikutnya. Mereka berhasil merekrut beberapa mutan dengan kekuatan luar biasa.

Saat Frost bertemu dengan jenderal Rusia, Xavier dan Eric berhasil menangkap Frost. Mereka menemukan fakta dari Frost bahwa Shaw berniat memulai Perang Dunia Ketiga. Shaw berniat untuk mendominasi dunia. Shaw bersama anak buahnya berhasil menyerang Division X dan menyisakan para mutan. Shaw menawari mereka untuk menjadi anak buahnya. Mutan yang menolak pun dihabisi.

Shaw memaksa Rusia untuk meluncurkan misil nuklir dari Kuba agar menghancurkan Amerika dan perang dunia dimulai. Supaya pikirannya nggak bisa terlacak oleh telepati, Shaw menggunakan helm. Para mutan harus mulai bergerak agar bisa menggagalkan misi dari Shaw. Bisakah mereka menyelamatkan dunia dari Perang Dunia ketiga?

Cerita yang Solid

Cerita yang Solid

X-Men: First Class merupakan awal dari seluruh cerita dari film X-Men. Film ini menceritakan bagaimana dari awal para mutan terbentuk ke dalam tim dan terbagi ke dalam dua sisi, baik dan jahat. Yang menjadi pusat dari cerita adalah Erik yang kelak akan menjadi Magneto serta Charles Xavier yang kelak menjadi Professor X. Latar belakang keduanya dengan lengkap, sehingga ceritanya terasa solid.

Masa lalu Erik digambarkan dengan jelas di film ini dengan masa kecilnya yang penuh dengan penderitaan. Begitu juga dengan Xavier yang pertama kali merasa mempunyai teman sesama mutan yaitu Raven. Kemudian Xavier menggunakan kemampuan telepatinya untuk menyelamatkan manusia dari rencana jahat Shaw, yang juga diburu Erik sehingga Xavier dan Erik bekerja sama.

Dengan fokus utama pada dua sosok paling berpengaruh dalam X-Men, beberapa mutan lain nggak diberi pendalaman karakter yang cukup. Tapi hal itu nggak mengurangi keseruan film yang lebih menitikberatkan pada sejarah bagaimana X-Men terbentuk. Dengan sinematografi yang ciamik, perubahan masa di dalam cerita dan drama di antara adegan-adegan laga menjadi kombinasi yang mengasyikkan.

Penampilan James McAvoy dan Michael Fassbender

Penampilan James McAvoy dan Michael Fassbender

Sebelum X-Men: First Class, sudah ada beberapa judul film X-Men yang dirilis. Karakter Professor X dan Magneto yang meruncing digambarkan punya babak awal berbeda di First Class. Keduanya baru saja menyadari bahwa kekuatan mereka sebagai mutan, bisa digunakan untuk membentuk kekuatan besar.

Dalam hal ini, Magneto murni ingin membalas dendam pada Shaw sementara Xavier menggunakan kemampuannya untuk menyelamatkan manusia dari perang dunia.

Sebagaimana karakter Xavier dan Erik yang masih muda, maka aktor yang dipilih pun berbeda dibandingkan dengan film-film X-Men lainnya. James McAvoy didapuk menjadi Xavier sedangkan Michael Fassbender berperan sebagai Erik. Keduanya tampil apik memerankan dua karakter yang bertolak belakang tapi kemudian bersahabat demi menghentikan satu nama, Sebastian Shaw.

Villain yang Keji

Villain yang Keji

Kehebatan X-Men: First Class adalah kemampuan untuk merangkai cerita superhero yang megah dan seru dilengkapi dengan karakter villain-nya. Schmidt yang dulunya adalah penjaga kamp konsentrasi Nazi berubah menjadi seorang mutan bernama Sebastian Shaw. Tujuan dari tindakannya pun baru terungkap di 2/3 film yaitu memulai Perang Dunia Ketiga agar bisa mendominasi dunia.

Sebagai seorang villain, Shaw diberikan kemampuan yang luar biasa sehingga karakternya sebagai pemimpin dari mutan yang jahat terasa believable. Hal itu juga membuat Xavier dan Eric mempunyai musuh yang sepadan. Kevin Bacon yang memerankan karakter Shaw pun berhasil membuat sosoknya yang ambisius dan jahat terlihat begitu meyakinkan lewat tindak-tanduknya.

X-Men: First Class dianggap sebagai salah satu film X-Men terbaik karena mampu menonjolkan keunggulannya dalam dua hal yaitu cerita dan adegan laga yang keren. Selain itu, apabila dihubungkan dengan film X-Men lain, ceritanya masih terasa terhubung dengan baik. Pokoknya, 2 jam 12 menit nggak akan terasa lama menonton film ini. Kalau kamu setuju, mari bagikan kesanmu di kolom komentar, teman-teman!

X-Men: First Class
Rating: 
4/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram