Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Review Film Velvet Buzzsaw, All Art is Dangerous

Sinopsis dan Review Film Velvet Buzzsaw, All Art is Dangerous

Ditulis oleh - Diperbaharui 3 September 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Kisah satir dengan seting di dunia seni kontemporer di Los Angeles, dimana para artis kaya-raya dan kolektor yang bersedia membayar tinggi sebuah karya seni yang bernilai komersial. Film horror thriller yang disutradarai oleh Dan Gilroy ini menampilkan banyak bintang, antara lain Jake Gyllenhaal, Rene Russo, Toni Collette, dan John Malkovich bersama cast mentereng lainnya.

Velvet Buzzsaw pertama kali tayang di Sundance Film Festival sebelum dirilis secara internasional lewat layar Netflix pada 1 Februari 2019. Berikut ini kami paparkan synopsis dan review film yang menawarkan nuansa horror berbeda dari film dengan genre serupa.

Sinopsis

Velvet Buzzsaw

  • Tahun: 2019
  • Genre: Horror / Mystery / Thriller
  • Produksi: Netflix
  • Sutradara: Dan Gilroy
  • Pemeran: Jake Gyllenhaal, Rene Russo, Zawe Ashton

Cerita dimulai di Miami, di sebuah pameran seni yang digelar oleh Rhodora Haze (Rene Russo), mantan musisi rock yang kini berkecimpung di dunia seni kontemporer. Kita dikenalkan pada dua karakter utama lainnya, Morf Vandewalt (Jake Gyllenhaal) seorang kritikus seni yang bisexual, dan Josephina (Zawe Ashton) karyawan Rhodora yang adalah mantan istri Morf.

Kembali ke Los Angeles, Josephina menemukan mayat tetangganya di apartemen tempat dia tinggal. Tidak disangka, orang yang tewas tanpa diketahui sebabnya itu meninggalkan banyak lukisan di ruangannya yang sebagiannya sudah rusak. Josephina mencuri semua lukisan itu dan diperlihatkan kepada Rhodora dan Morf yang terkesima dengan semua karya seni dari Vetril Dease.

Tidak hanya mereka berdua saja, ketika beberapa lukisan itu dipamerkan, Gretchen (Toni Collette) seorang kurator seni teman dari Morf, dan Piers (John Malkovich) seorang pelukis yang sedang mengalami kebuntuan ide, terpana melihat lukisan-lukisan karya Dease tersebut. Rhodora, Josephina dan Morf menyimpan lukisan-lukisan Dease secara terpisah dengan maksud supaya lukisannya bernilai langka.

Rhodora mengirimkan sebagian besar lukisan Dease ke gudang di luar kota Los Angeles. Di perjalanan, terjadi sebuah insiden yang aneh dan menyebabkan kecelakaan pada mobil berisi lukisan itu.

Diawali dari api rokok yang membakar sebuah lukisan menyebabkan si sopir menabrak sebuah bekas motel. Ketika dia hendak membersihkan sisa api yang membakar tubuhnya, dia ditarik oleh monyet-monyet di lukisan.

Morf berniat membuat sebuah buku tentang karya seni Dease, dan dia menemukan sisi kelam dalam kehidupan Dease sejak dia kecil, bahwa dia membunuh ayahnya dan gangguan kejiwaan yang mempengaruhi karya-karyanya. Jon Dondon (Tom Sturridge) saingan Rhodora, juga melakukan riset yang sama terhadap Dease melalui detektif sewaannya.

Saat Dondon hendak mengungkapkan kisah Dease ke publik, malam itu dia terbunuh oleh syalnya sendiri yang menggantung dirinya di langit-langit kantornya. Diperlihatkan jika syal itu ditarik oleh sebuah tangan misterius.

Hal serupa juga sempat dilihat oleh Morf yang semakin hari mengganggu jiwanya dan merusak hubungannya dengan Josephina. Morf menemukan bukti jika Dease melukis menggunakan darah.

Gretchen membuka pameran lukisan Dease ditambah dengan sebuah karya seni kontemporer berupa sebuah bola raksasa seperti mesin yang dinamakan Sphere. Tidak disangka, ketika Gretchen memasukkan tangannya ke dalam salah satu lubang Sphere, tiba-tiba tangannya seperti tergiling dan membuatnya tewas bersimbah darah di sekitarnya yang disangka bagian dari pameran oleh pengunjung.

Morf menyarankan kepada Rhodora untuk menghentikan penjualan lukisan-lukisan Dease. Tetapi Rhodora tidak menghiraukannya. Josephina, yang kini selingkuh dengan seniman, mengalami kejadian luar biasa yang membunuhnya. Tubuhnya seperti dijalari oleh warna-warna lukisan. Sementara itu, Morf pun bertemu dengan Hoboman, sebuah karya seni yang dikritik buruk olehnya.

Morf bertemu Hoboman ketika dia hendak menyimpan lukisan-lukisan Dease ke gudang miliknya. Dengan sangat cepat, Hoboman menghabiskan hidup Morf dengan mematahkan lehernya. Coco (Natalia Dyer), karyawan Morf yang sebelumnya juga pernah bekerja pada Dondon dan Rhodora, menemukan mayat Morf dan memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya.

Rhodora akhirnya menyadari jika semua kematian itu diakibatkan oleh lukisan-lukisan Dease. Rhodora memindahkan semua lukisan Dease dari rumahnya demi keselamatannya. Ketika duduk di teras rumahnya, tato di pundak Rhodora tiba-tiba berputar dan merenggut nyawanya. Di akhir film, kita diperlihatkan jika masih ada beberapa lukisan Dease yang dijual di pinggir jalan oleh tukang loak.

Penulis dan Director yang Sama dengan “Nightcrawler”

Penulis dan Director yang Sama dengan “Nightcrawler”

Sudah pernah menonton film Nightcrawler [2014] belum? Film itu menampilkan sisi kelam seorang reporter untuk menghadirkan berita menarik untuk dijual. Film thriller itu mendapat banyak pujian dari para kritikus film dan menempatkan nama sutradara Dan Gilroy dalam deretan sineas bertalenta. Film itu juga menjadi awal persahabatannya dengan aktor Jake Gyllenhaal.

Maka tidak heran jika Gilroy memberikan kebebasan untuk berekspresi bagi Gyllenhaal untuk karakternya kali ini sebagai Morf Vandewalt, seorang kritikus seni yang sinis. Segala pernak-pernik yang dimiliki oleh Morf dan gerak-geriknya murni berasal dari ide Gyllenhaal. Tidak hanya Gyllenhaal saja yang diajak, tetapi juga aktris Rene Russo yang juga tampil di Nightcrawler diajak bergabung di film terbarunya ini.

Film ini sebenarnya adalah proyek sakit hati setelah proyek Superman Lives yang sejatinya akan diarahkan oleh Gilroy dihentikan oleh studio Warner. Merasa waktunya terbuang percuma selama setahun lebih, Gilroy langsung tancap gas dengan ide yang baru saja didapatnya dan mendiskusikannya dengan Gyllenhaal yang juga merespon positif proyek barunya ini.

Gilroy mengakui jika dia terinspirasi oleh film The Player [1992] karya Robert Altman yang bernuansa satir dan bertabur bintang juga sama seperti Velvet Buzzsaw ini. Setelah proyek ini diumumkan, berdatanganlah aktor dan aktris kenamaan mendukung film ini, diantaranya ada nama Toni Collette dan John Malkovich, bersama beberapa nama tenar lainnya.

All Art Is Dangerous

All Art Is Dangerous

Di setengah jam pertama durasi film, kita masih belum tahu darimana teror akan muncul, yang ditampilkan hanya latar belakang beberapa karakter utamanya saja. Setelah ada korban pertama, baru mulai terlihat siapa yang membuat teror dan bagaimana polanya. Ternyata benar ungkapan “All art is dangerous” yang menimpa semua karakter yang menjadi korban.

Mari kita lihat satu-persatu. Korban pertama adalah Bryson, sopir pengangkut lukisan yang hendak dibawa keluar kota. Dia menghilang setelah ditarik oleh monyet-monyet dalam lukisan. Hal ini mencerminkan kerakusan, karena sebelumnya dia membongkar isi paket di tengah jalan, dan sepertinya dia ingin mengambil keuntungan sendiri dengan mengambil beberapa lukisan.

Korban kedua adalah Jon Dondon, rival Rhodora yang hendak mengungkap ke publik tentang kehidupan Vetril Dease. Dia tewas tercekik oleh syalnya di langit-langit kantornya. Hal ini mencerminkan keculasan dirinya yang hendak menjegal pameran Rhodora hingga dia yang bisa menggelar pamerannya. Berikutnya adalah Gretchen yang tangannya tergiling dalam Sphere, karena dia sempat menyindir karya itu.

Josephina dan Morf dibunuh dalam waktu yang sama, dimana tubuh Josephina terserap ke dalam lukisan graffiti dan Morf tewas di tangan Hoboman. Itu balasan bagi mereka berdua, dimana Josephina mencuri lukisan-lukisan Dease dan Morf yang sudah memberikan kritik yang buruk dan pedas atas karya seni kontemporer bertajuk Hoboman.

Dan yang terakhir adalah Rhodora yang tewas karena tato Velvet Buzzsaw di bahunya berputar dan membunuhnya. Hal ini bisa jadi karena dia adalah mantan musisi rock dari band bernama Velvet Buzzsaw yang sepintas kita ketahui jika dia meninggalkan bandnya tidak dengan baik-baik. Intinya, mereka semua tewas karena dosa yang pernah mereka lakukan terhadap karya seni.

Kesimpulannya, Velvet Buzzsaw bukanlah film horror thriller terbaik yang pernah ada, tetapi dengan bertaburannya bintang film papan atas yang berakting di dalamnya bisa menjadi poin plus lain jika kita tidak mengerti dengan maksud yang ingin disajikan oleh Gilroy tentang kesinisan dalam dunia seni. Nikmati saja akting Jake Gyllenhaal yang sepertinya sangat dia jiwai.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *