Bacaterus / Review Film Barat / Inilah Review & Sinopsis Film Under the Riccione Sun (2020)

Inilah Review & Sinopsis Film Under the Riccione Sun (2020)

Ditulis oleh - Diperbaharui 21 Juli 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Mendengar judul filmnya, langsung mengingatkan film drama romantis Under the Tuscan Sun [2003]. Apakah film ini sequel-nya? Ternyata bukan, dan tidak ada hubungannya sama sekali. Hanya saja, kedua film ini memiliki seting di Italia yang terkenal akan nuansa romantisnya.

Dan judul film ini diambil dari judul lagu yang dinyanyikan oleh sebuah band yang bernama Dee Jay yang menggelar konsernya di akhir film. Ada yang tahu dengan band itu? Gak usah dipikirin, itu hanya band fiktif kok!

Sinopsis

  • Tahun: 2020
  • Genre: Comedy / Drama / Romance
  • Produksi: Lucky Red / Mediaset / New International
  • Sutradara: Younuts!
  • Pemeran: Cristiano Caccamo, Lorenzo Zurzolo, Ludovica Martin

Film ini menyuguhkan beberapa kisah cinta para remaja di liburan musim panas dengan problematikanya masing-masing. Jika kalian merasa bisa menebaknya, berarti referensi film kalian cukup banyak. Paling tidak ada tiga kisah cinta yang menjadi fokusnya, dan kisah lainnya hanya sebagai pelengkap. Ada Ciro dan Emma, Marco dan Guenda, serta Vicenzo dan Camilla.

Ciro (Cristiano Caccarno) adalah seorang musisi yang ingin menjadi terkenal lewat ajang pencarian bakat, tapi gagal dan mendapatkan pekerjaan selama liburan sebagai penjaga pantai, sedangkan Emma (Claudia Tranchese) adalah teman kekasihnya yang bekerja di sebuah hotel. Mereka terpaksa tinggal bersama karena Ciro tidak betah sekamar dengan putra bossnya yang berisik. Dari sinilah kemudian perasaan itu tumbuh.

Sementara Marco (Saul Nanni) adalah karakter remaja yang termasuk ke dalam golongan nerd lengkap dengan kacamata dan kemeja jadulnya, sedangkan Guenda (Fotini Peluso) adalah seorang gadis cantik dan populer yang diambang perpisahan dengan kekasihnya. Sudah lama Marco mencintai Guenda, tapi bagi Guenda, Marco hanya dianggap sebagai teman saja. Friend-Zone Alert!

Lalu Vicenzo (Lorenzo Zurzolo), yang datang berlibur bersama ibunya yang overprotektif karena dia buta dan bertemu Camilla (Ludovica Martino) lewat sebuah aplikasi dimana mereka sering mengirimkan voice message.

Camilla yang terpesona dengan ketulusan, kebijakan, dan wawasan Vicenzo yang luas, awalnya hanya menjadikannya sebagai pelarian dari kebuntuan hubungannya dengan kekasihnya yang sudah berlangsung sangat lama dan sulit untuk diakhiri. Tetapi, dunia yang diperlihatkan oleh Vicenzo kepadanya membuat hatinya lebih memilih Vicenzo di atas segala kekurangannya.

Terlalu Banyak Kisah Cinta

UNDER THE RICCIONE SUN

Dan masih ada kisah cinta yang ditampilkan sangat singkat dan hanya berupa sempalan cerita saja, yaitu antara ibunya Vicenzo (Isabella Ferrari) dan seorang security pesta, serta mantan playboy senior yang akhirnya membuka cinta sejatinya setelah sekian lama dipendam. Kedua kisah ini hanya sebagai referensi saja bagi mereka yang masih muda, dan pada akhirnya tidak menjadi poin penting di dalam film.

Masing-masing karakter ini ada yang sudah berteman dan beberapa diantaranya baru mereka kenal selama liburan di pantai Riccione tersebut. Banyak sekali aktivitas pantai yang mereka lakukan, seperti bertanding voli pantai, berselancar, berjemur, dan tentunya pesta pantai. Film ini diakhiri dengan konser spektakuler dan berakhir happy ending bagi semua karakter. Tidak hanya yang muda, tapi juga bagi yang tua.

Liburan Musim Panas di Italia

LIBURAN MUSIM PANAS DI ITALIA

Jangan terlalu banyak berharap dari sebuah film remaja bernuansa liburan seperti ini, apalagi ini merupakan film debut bagi duet sutradara yang menamakan diri mereka dengan Younuts! (harus pakai tanda seru ya!).

Aroma pantai dan segala aktivitasnya tertangkap kamera dengan cukup baik, tapi minim nilai cinematography yang apik, padahal pantai ini terlihat begitu indah dan eksotis, meski yang ditonjolkan oleh sineas ini ialah kehidupan pesta dan keramaiannya.

Dari sisi cerita juga tidak ada pendalaman karakter, cukup dengan yang ada di permukaan saja. Bahkan ada satu adegan dimana Vicenzo emosi dengan sikap ibunya yang masih menganggapnya anak kecil, tidak tergarap dengan baik dan berlalu begitu saja tanpa bekas.

Kisah cintanya pun sangat tipikal dan pernah diangkat oleh film-film lain sebelumnya, dan ending-nya pun sudah bisa ditebak sebelum film berakhir. Semua terlalu klise.

Nuansa Cinta Ala Remaja Italia

TERLALU BANYAK KISAH CINTA

Sebenarnya, film berbahasa Italia ini memiliki struktur film yang cukup baik dan mengikuti pola banyak film remaja produksi Hollywood. Dibuka dengan aroma pantai, laut, dan liburan, lalu dimasukkan cerita cinta yang sayangnya tanpa pondasi yang baik, kemudian klimaks kisah yang ditutup dengan konser meriah di tepi pantai.

Semua elemen sudah sesuai, hanya saja penggarapannya masih belum mencapai standar layak untuk ditonton berulang kali. Layaknya film remaja lainnya, Under the Riccione Sun juga memiliki deretan soundtrack yang ear-catching, meski jenis musiknya cenderung bernuansa Amerika yang bergenre alternative-rock, bukan pop-dance yang menjadi ciri khas musik-musik Eropa.

Lagu-lagu yang terdengar dalam film ini mayoritas dibawakan oleh Thegiornalisti, band yang digawangi oleh Tomasso Paradiso, dan Riccardo Amorese, seorang composer yang telah banyak mengubah komposisi musik untuk beberapa produksi film.

Setidaknya, film ini akan membuat mood kita akan terasa senang dengan beragam kisah romantis yang disajikan, sekaligus menikmati pesona negara Italia yang terkenal dengan sifat warganya yang katanya terkenal romantis.

Pada akhirnya, bagi kalian yang suka dengan film romantis remaja bertema liburan, film original Netflix ini boleh dimasukkan ke dalam watchlist, tetapi jangan memasang ekspektasi berlebihan darinya. Cukuplah nikmati pemandangan indah di pantai yang menyegarkan mata, apalagi bagi kalian yang sudah lama tidak berlibur ke pantai, baik bersama teman-teman ataupun keluarga.

Pantai Riccinone

PANTAI RICCIONE

Di dalam film ini, pantai Riccione digambarkan adalah pantai yang luas dan ramai pengunjung. Ternyata, sejak tahun 1930-an comune di utara Italia, tepatnya di Provinsi Rimini, telah menjadi objek wisata favorit di negeri asal spaghetti ini.

Berbagai macam festival tahunan diselenggarakan yang semakin meramaikan pantai berpasir putih ini. Di Eropa sendiri, lokasi ini menjadi tujuan utama para anak muda untuk berlibur, seperti yang ditampilkan di dalam filmnya.

Untuk menunjang kesenangan pengunjung, di sepanjang pantai banyak terdapat night club dan hotel, dan di jalan-jalan utama kotanya pun banyak bertebaran pusat perbelanjaan dan tempat kuliner ternama.

Dari ujung ke ujung pantainya, tersedia banyak fasilitas transportasi umum, dan yang menjadi favorit adalah sepeda, yang tersedia secara gratis di sepanjang pantai dan setiap sudut kota, dimana kegiatan bersepeda ini adalah aktivitas favorit warganya, sehingga setiap hotel menyediakan fasilitas ini.

Meski di dalam film Under the Riccione Sun pantai yang indah ini tidak terekspos secara maksimal, tetap saja pantai ini menjadi destinasi wisata utama bagi warga Italia khususnya dan anak muda dunia secara umum. Dengan catatan masa pandemic Covid-19 sudah berakhir tentunya, karena negara Italia sendiri adalah salah satu negara di Eropa yang terdampak cukup parah oleh wabah ini.

Film ini memang menunjukan sisi percintaan remaja yang cukup klise. Meskipun begitu, film ini juga menyajikan latar yang menarik, pantai yang menyejukan menjadi gambaran percintaan remaja yang fresh dan hangat. Tertarik untuk menontonnya?

RATING: 5.5/10 [IMDb]

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *