Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Review The Umbrella Academy Season 1

Sinopsis dan Review The Umbrella Academy Season 1

Ditulis oleh - Diperbaharui 14 Oktober 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Siapa yang menyangka, Gerard Way, vokalis band rock My Chemical Romance ternyata adalah seorang komikus yang handal? Bekerja sama dengan ilustrator Gabriel Ba, pada tahun 2007 Way dan Ba meluncurkan komik mereka yang bertitel The Umbrella Academy. Hasilnya, kita bak membaca sebuah tim superhero yang dikreasikan oleh Tim Burton.

Di ajang penghargaan Eisner Award tahun 2008, The Umbrella Academy berhasil menyabet gelar Best Finite Series/Limited Series. Menjadi salah satu karya terbaik yang mendapat pengakuan dari ajang penghargaan tertinggi dunia komik, Way dan Ba melanjutkan karya mereka itu hingga 3 volume.

Dan sekarang, Netflix mengadopsi The Umbrella Academy untuk menjadi salah satu serial live-action mereka. Mengusung tema kisah kekuatan super yang agak berbeda, The Umbrella Academy menarik perhatian penggemar film seri, terutama mereka para penonton Netflix. Seperti apa serial ini sebenarnya, yuk, kita bahas bareng-bareng!

Sinopsis

Review The Umbrella Academy

  • Tahun rilis: 2019
  • Tahun berakhir: masih berjalan
  • Season: 2
  • Genre: Drama, superhero, fiksi ilmiah
  • Produksi: Borderline Entertainment, Dark Horse Entertainment, Universal Cable
  • Sutradara: Jeremy Slater, Steve Blackman
  • Pemeran: Ellen Page, Aidan Gallagher, Tom Hopper, Emmy Raver-Lampman, David Castañeda, Robert Sheehan, Justin H. Min, Colm Feore

Sebuah peristiwa langka dan unik terjadi pada tahun 1989, ketika 43 wanita secara misterius melahirkan anak tanpa tanda-tanda kehamilan sebelumnya. Tujuh di antaranya diadopsi oleh seorang milioner sekaligus penjelajah eksentrik bernama Sir Reginald Hargreeves (Colm Feore).

Mengetahui bahwa ketujuh anak tersebut memiliki kekuatan super, Reginlad pun mendirikan sebuah tim superhero dengan nama The Umbrella Academy.

Para superhero yang dibesarkan oleh Reginald kini telah dewasa, dan mereka tidak lagi menjadi pahlawan super dan menjalani kehidupan mereka masing-masing.

Luther (Tom Hopper) atau Number One tinggal di bulan, Vanya (Ellen Page) atau Number Seven menjadi seorang pemain biola, Allison (Emmy Raver-Lampman) atau Number Three menjadi selebritas, Diego (David Castañeda) atau Number Two adalah seorang vigilante, sementara Klaus (Robert Sheehan) atau Number Four menjadi seorang pemadat yang keluar masuk pusat rehabilitasi.

Number Five yang dikenal dengan Five (Aidan Gallagher) menghilang, sementara Number Six yang dikenal dengan nama Ben (Justin H. Min) telah meninggal dunia. Meski begitu, Klaus yang dapat melihat arwah orang yang telah tiada selalu ditemani oleh sosok Ben.

Suatu ketika, para mantan anggota The Umbrella Academy mendapat kabar bahwa ayah mereka telah meninggal dunia. Luther, Diego, Allison, Klaus dan Vanya kembali berkumpul di rumah sekaligus markas terdahulu mereka, untuk memberikan penghormatan terakhir.

Namun, Luther sebagai pemimpin mereka sepertinya mencurigai bahwa ada sesuatu di balik kematian ayah angkat mereka itu. Setelah upacara penaburan abu dari Reginald Hargreeves yang tidak berjalan dengan khidmat, Luther dan saudara-saudaranya dikejutkan dengan kepulangan Five yang mendadak.

Sang Number Five kemudian menjelaskan bagaimana selama ini, dia tersesat dalam waktu karena kemampuan super yang ia miliki. Ia juga menemukan bahwa sebuah bencana yang menghancurkan dunia akan terjadi tujuh hari lagi.

Kabar yang dibawa oleh Five tersebut rupanya tidak mempengaruhi saudara-saudaranya yang lain. Allison yang baru saja bercerai ingin fokus mengurus putrinya, Diego asyik dengan kehidupannya sebagai seorang pahlawan bertopeng, sementara Klaus masih saja larut dalam kecanduannya.

Sehingga, bermodal petunjuk bola mata prostetik, Five memutuskan untuk mencegah apa yang akan terjadi tujuh hari lagi. Kepulangan Five sepertinya juga mulai menimbulkan sebuah masalah.

Karena, ada dua orang tak dikenal yang memburu salah satu mantan anggota The Umbrella Academy yang masih berwujud anak laki-laki tersebut. Sementara itu, Vanya yang selama ini hidup sendiri sebagai guru biola dan tidak memiliki kemampuan super mulai menjalin hubungan dengan seorang pria.

Lama kelamaan, keenam saudara tersebut mulai mengungkap bahwa ada misteri yang tengah terjadi dalam pertemuan kembali mereka. Five yang selama ini bekerja untuk Temp Commission menjadi salah satu kuncinya, sedangkan Vanya sepertinya mulai menunjukan bahwa sebenarnya, dia menyimpan sebuah kekuatan yang tidak disangka-sangka.

Darker X-Men dan Fantastic Four

Darker X-Men dan Fantastic Four

Kita mengenal X-Men yang menghadirkan karakter-karakter seperti Wolverine, Cyclops, Colossus, dan teman-teman. Bisa dikatakan, seperti itulah The Umbrella Academy.

Uniknya, mereka juga berperilaku, atau lebih tepatnya, diarahkan untuk tumbuh menjadi sebuah keluarga. Dan kita juga mengenal tim superhero Marvel yang memiliki konsep family, yaitu Fantastic Four.

Tapi, Five dan kawan-kawan tidak tampil layaknya seperti para superhero yang kita kenal tersebut. Diadopsi sejak masih bayi, anak-anak asuh Reginald Hargreeves yang memiliki ibu sesosok robot wanita ini seolah tumbuh dengan memiliki jiwa pemberontak.

Pemberontakan pertama terjadi pada Five yang akhirnya tersesat dalam ruang dan waktu. Kemudian, ada Klaus yang terjerumus dalam penyalahgunaan obat terlarang, lalu terungkap pula bahwa Allison telah sering menggunakan kekuatannya dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Bahkan, selain Luther yang penurut, saudara-saudaranya menganggap sosok ayah mereka adalah orangtua yang tidak baik. Tentu saja hal ini yang menjadi game changer dari The Umbrella Academy dibanding dengan kisah superhero lainnya yang harmonis, meski ada satu-dua orang tokoh yang sering kali melakukan hal yang off the book.

Tapi dalam serial ini, hanya ada satu orang yang menjunjung tinggi etika superhero-nya, yaitu Luther. Sementara sisanya seperti enggan untuk peduli.

Masing-masing tokohnya juga memiliki sisi kelam yang lambat laun terungkap, sehingga kita dibuat bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan para pahlawan kita. Tentunya, hal tersebutlah yang bakal membuat kamu penasaran dan ingin terus mengikuti serial ini.

Not Too Mind Bending

Not Too Mind Bending

Meskipun Netflix mengkategorikan serial ini dalam genre mindbender – juga memiliki plot kelam – sebenarnya, The Umbrella Academy bukanlah sebuah serial yang membuat otak kita terbolak-balik. Berbeda dengan film seri Dark yang begitu sarat dengan unsur kejutan, serial ini justru sangat mudah untuk diikuti.

Konsep time traveling yang ada di dalamnya juga tidak sulit dipahami. Malah, arahnya dapat ditebak. Memang, ada beberapa plot twist yang disuguhkan. Tapi, tidak juga sampai membuat mereka yang menyaksikan melongo saat hal tersebut terungkap.

Yang menarik adalah organisasi Temps Commission. Mereka merupakan sebuah organisasi yang mengirim para agennya ke berbagai lini masa, untuk menyelesaikan ‘masalah’ yang terjadi. Atau tepatnya, menjaga apa yang harus terjadi, agar tetap terjadi. Cukup unik.

Namun, ini bukanlah suatu hal yang baru. Para penggemar Dark yang membaca review ini mungkin akan menghela nafas. Kita telah melihat berbagai konsep seperti ini di film-film lain. Sehingga, perjalanan waktu dalam The Umbrella Academy seolah bukanlah sesuatu yang begitu istimewa.

Betul. X-Men: Days of Future Past atau Avengers: End Game memiliki tema yang serupa. Akhir-akhir ini rasanya kita sudah sering melihat para pahlawan super mengarungi waktu demi menyelamatkan dunia dari sebuah peristiwa ‘apocalypse’.

Komedi Satir

Komedi Satir

Inilah salah satu unsur yang membuat kita merasa senang menyaksikan The Umbrella Academy. Humor-humor satir yang dilontarkan para tokohnya memang cukup menggelitik dan agak sukar ditebak kemunculannya.

Sehingga, di saat-saat yang seharusnya kita tidak tertawa, ada saja adegan atau juga kata-kata yang akan membuat kita spontan terkekeh geli karenanya.

Apalagi, karakter ‘tante rempong’ kita, yaitu Klaus. Tokoh ini bisa jadi adalah salah satu ‘penceria’ dalam The Umbrella Academy karena tingkahnya yang kelewat unik. Apalagi, dia hampir selalu berada dalam pengaruh obat bius. Selain itu, sang Number Four adalah salah satu tokoh yang membuat serial ini berkesan ‘psychedelic’.

Bukan Superhero Standar

Bukan Superhero Standar

The Umbrella Academy – dulunya – adalah sebuah tim superhero remaja. Tapi, seiring berjalannya waktu dan kerinduan mereka akan kebebasan dari sang ayah yang dinilai otoriter, merubah para anggotanya untuk mengejar kehidupan masing-masing seperti yang mereka inginkan. Mungkin plot inilah yang jarang kita temukan dalam kisah pahlawan super sejenis.

Kisah tersebut akan membuat kita melihat para anggotanya bagai gamang karena terjebak dalam dua sisi kehidupan. Sisi manusiawi yang ingin mereka jalani, tapi tidak juga tidak bisa menyangkal bahwa mereka memiliki kemampuan super.

Ada juga Vanya yang merasa ‘terbuang’ dari saudara-saudaranya yang lain karena menurut sang ayah, dia tidak memiliki kekuatan apapun.

Apalagi, ketika mereka mengetahui bahwa Reginald Hargreeves meninggal dunia. Five dan kawan-kawan berusaha untuk tidak peduli dengan misteri kepergian sang ayah, dan ingin kembali menjalani kehidupan normal mereka. Namun, Luther, Diego dan Klaus ternyata tidak dapat berdiam diri begitu saja.

Lantas di satu sisi, lambat laun kita juga akan melihat bahwa perlakuan Reginald terhadap putra-putrinya ternyata memiliki alasan yang kuat. Ketika kita mengetahuinya, ada sedikit rasa haru yang tersirat karena sang multi milioner eksentrik ini memang menjalani tugasnya sebagai seorang ayah.

Hanya saja, karena anak-anaknya bukanlah manusia biasa, ia juga memiliki cara yang berbeda untuk mendidik mereka. Menampilkan tema superhero, mungkin kamu akan berpikir bahwa The Umbrella Academy akan memiliki adegan-adegan laga yang epik. Tapi tidak juga. Kita malah bisa melihat kesan B movie di dalamnya. Tapi dalam level yang mengasyikan tentu saja.

Kita harus memuji Steve Blackman dan Jeremy Slater selaku pengembang serial ini. Keduanya seolah menghadirkan sesuatu yang diciptakan mendiang Stan Lee, menggarapnya ala Quentin Tarantino, kemudian membangun suasana yang biasa kita lihat dalam film-film garapan Tim Burton.

Unik memang. Meski dari segi cerita, tidak juga terlalu istimewa namun memiliki unsur drama yang menarik. Buat kamu yang lelah dengan tontonan-tontonan heroik yang begitu-begitu saja, dan ingin mencari sesuatu yang quirky, The Umbrella Academy adalah suguhan yang kamu cari.

Serial ini telah berjalan sejauh 2 season, dan bisa lihat reviewnya di link ini. Sementara, silahkan login ke akun Netflix kamu untuk menikmati season pertama serial ini.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *