Sinopsis & Review Film Netflix The Social Dilemma (2020)

Ditulis oleh Desi Puji Lestari
The Social Dilemma
4
/5
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Sebagai pengguna media sosial, berapa banyak waktu yang Anda butuhkan untuk berselancar di sana dalam sehari? Apakah media sosial tidak bisa lepas dari kehidupan Anda? Apakah pernah merasa kecanduan hingga berpengaruh pada kesehatan jiwa dan mental? Jika jawaban dari semua pertanyaan tersebut adalah iya, Anda perlu menyaksikan sebuah film dokumenter tentang media sosial berjudul The Social Dilemma.

Tayang di Netflix, ia menjabarkan secara jelas  mengenai sisi baik dan buruk sebuah platform media sosial bagi kehidupan manusia modern. Bagaimana media sosial tersebut bekerja hingga memberikan keuntungan bagi perusahaan, juga turut dibahas.

Seperti apa persisnya film dokumenter yang disutradarai oleh Jeff Orlowski ini? Yuk, baca lebih dahulu sinopsis serta ulasannya berikut ini sebelum menontonnya!

Sinopsis

Sinopsis

Diawali sebuah kutipan dari Sophocles, “Nothing vast enters the life of mortals without a curse,” atau “Tidak ada hal besar yang memasuki kehidupan manusia tanpa kutukan,” film drama dokumenter berjudul The Social Dilemma dimulai. Film kemudian menampilkan para profesional yang punya pengalaman berkecimpung di dunia media sosial, bukan sebagai pengguna melainkan orang-orang di balik layar.

Mereka bekerja untuk Google, Instagram, Facebook, Mozilla Firefox, Twitter, Pinterest dan lainnya. Jabatan orang-orang ini tidak main-main, dari mantan Google Design Ethicist hingga mantan President of Pinterest. Semuanya memulai pembicaraan dengan raut muka yang tidak bisa ditebak. Mereka terlihat gelisah dan kurang nyaman.

Salah satunya mengatakan bahwa pembuatan media sosial pada dasarnya dirasa demi kebaikan, tapi dia juga tidak tahu apakah yang dirasakannya tersebut masih sama. Joe Toscano sebagai mantan Experience Design Consultant Google menyatakan dirinya berhenti pada 2017 lalu karena masalah etika, bukan hanya di Google, melainkan industri sosial media secara umum.

Hal senada disampaikan oleh Justin Rosentein (Google Engineer, mantan Facebook Engineer, co-founder Asana), bahwa dirinya khawatir. Pendapat lain disampaikan oleh mantan President of Pinterest, Tim Kendall, menurutnya saat ini mudah melupakan fakta bahwa alat-alat ini (media sosial) telah menciptakan hal-hal indah di dunia.

Tim menyampaikan bahwa melalui alat tersebut, seseorang dapat bertemu dengan keluarganya yang hilang atau dapat menemukan pendonor organ yang dibutuhkan. Hal-hal tersebut menurutnya menunjukkan ada perubahan sistemik yang terjadi di seluruh dunia karena platform-platform ini. Namun, kita juga terlalu naïf jika tidak sampai melihat sisi lain dari hal ini.

Jeff Seibert mantan Eksekutif di Twitter menuturkan pendapatnya bahwa mengenai hal ini, dia percaya bahwa tidak ada siapa pun berniat menimbulkan konsekuensi. Namun, ketika sebuah pertanyaan diajukan mengenai apa masalahnya? Mengapa media sosial bisa memungkinkan konsekuensi-konsekuensi itu terjadi, Jeff  terlihat perlu waktu lebih lama untuk menjawabnya, begitu pun dengan yang lain.

Film dokumenter ini berlanjut dengan beberapa potongan narasi dalam berita yang kurang lebih memuat isu terkait media sosial termasuk hubungannya dengan kesehatan mental. Sementara itu di sebuah rumah tampak seorang ibu sedang menyiapkan makan sementara anak gadisnya sibuk bermain handphone. Sang ibu berulang kali meminta bantuan, tapi seolah tidak didengar.

Di sisi lain, sang kakak terlihat memprotes bahwa menurutnya di usia belasan tahun, adiknya belum membutuhkan handphone. Namun sang ibu menjelaskan dia tidak punya pilihan karena anak-anak lain di kelas juga memilikinya. Suara berita di televisi masih terus menjadi backsound yang mempertegas kegelisahan.

Pasalnya berita-berita tersebut berisi campuran informasi yang mengkhawatirkan, mulai dari hoax seputar Covid-19 yang tersebar melalui media sosial hingga lainnya. Seseorang di dalam televisi berpendapat bahwa alat (media sosial) yang telah diciptakan hari ini mulai mengikis struktur sosial dan cara kerja masyarakat. Benarkah sudah sampai separah itu? Anda bisa menyaksikan film dokumenter ini melalui Netflix.

Dua Sisi Dunia Media Sosial

Sebagai pengguna media sosial dewasa, kita sebenarnya sudah bisa merasakan bahwa “alat” yang kita pakai saat ini bagai sebuah koin dengan dua sisi, yaitu sisi yang membawa manfaat dan sisi lain yang bersifat melemahkan dan menghancurkan diam-diam. Para pengguna media sosial bisa melakukan apa pun untuk kebaikan hidupnya, missal mencari keluarga yang sudah lama tidak bertemu atau menjual sesuatu.

Sementara itu, sisi buruk media sosial, seperti yang disampaikan Tristan Harris, antara lain skandal, pencurian data, kecanduan teknologi, hoax, polarisasi, dan beberapa pemilu yang diretas. Hal-hal ini diperlihatkan melalui The Social Dilemma. Ketika menontonnya pastikan pikiran Anda terbuka dan mau menerima fakta-fakta mengejutkan soal ini.

Mengulik Seluk-beluk Media Sosial

Mengulik Seluk-beluk Media SosialSumber: gritdaily.com

Informasi mengenai sisi baik dan buruk media sosial menjadi bahasan utama dalam film dokumenter ini. Namun, di sini Anda juga akan mendapatkan informasi lain yang berguna. Termasuk apa yang menyebabkan hal-hal tersebut dapat terjadi. Tristan ingin mencoba memperlihatkan pada banyak orang bahwa ada masalah yang terjadi di industri teknologi.

1 2»
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram