bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film Netflix The Silence (2019)

Ditulis oleh Dhany Wahyudi - Diperbaharui 10 September 2021

Ketika dunia diserang oleh makhluk mengerikan yang memburu mangsa mereka dengan suara, Ally Andrews yang berusia 16 tahun, yang kehilangan pendengarannya pada usia 13 tahun, dan keluarganya mencari perlindungan di tempat yang terpencil. The Silence adalah original film Netflix yang merupakan adaptasi dari novel karya Tim Lebbon yang terbit pada tahun 2015.

Film yang mengusung premis serupa dengan film A Quiet Place (2018) ini dirilis oleh Netflix pada 10 April 2019. Lalu muncul banyak pertanyaan dan keraguan, apakah film ini ingin mengekor kesuksesan A Quiet Place, atau ingin menampilkan hal lain? Ingin tahu jawabannya? Simak review kami terlebih dahulu sebelum menontonnya.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun: 2019
  • Genre: Drama, Horror, Sci-Fi, Thriller
  • Produksi: Constantin Film, EMJAG Productions
  • Sutradara: John R. Leonetti
  • Pemeran: Stanley Tucci, Kieman Shipka, Miranda Otto

Sebuah gua dibuka oleh para peneliti. Tidak disangka, ribuan makhluk seperti pterodactyl merangsek keluar, membunuh mereka dan mencari daerah yang bising. Ally, gadis remaja yang tidak bisa mendengar karena sebuah kecelakaan pada usia 13 tahun, pulang sekolah bersama temannya, Rob. Ally tinggal bersama kedua orang tuanya, adik laki-laki dan neneknya.

Malam itu Ally dibangunkan dari tidurnya dan bersama keluarganya menonton berita tentang serangan makhluk dalam jumlah besar, yang kemudian disebut vesps, dan menyebar dengan cepat ke setiap wilayah di Amerika. Bersama dengan Glenn, sahabat ayahnya, mereka melakukan perjalanan keluar kota demi menghindari serangan vesps yang mencari mangsa berdasarkan pendengaran saja.

Mereka sempat hendak dibajak di pom bensin, tapi berhasil pergi dari situ setelah Glenn menembak si pembajak. Kemudian mereka terjebak macet di jalan raya dan mengambil jalan kecil di tepian hutan yang membuat mobil yang dikendarai Glenn masuk kejurang karena menghindari seekor rusa dan membuatnya luka berat serta tidak bisa bergerak. Glenn kemudian meminta Hugh untuk mengambilkan pistolnya.

Saat hendak pergi mencari bantuan, anjing peliharaan mereka menggonggong dan memancing sekelompok vesps itu datang. Glenn segera menembakkan pistolnya agar perhatian mengarah kepadanya. Glenn mengorbankan nyawanya dan Hugh harus rela melepas anjing peliharaan mereka keluar dari mobil. Mereka kemudian berjalan kaki setelah membakar mobil Glenn sebagai umpan.

Dalam perjalanan, sang nenek Lynn, kesulitan bernapas yang membuat mereka terpaksa berhenti sesaat. Kemudian mereka menemukan sebuah rumah terpencil. Saat hendak membuka pagar, lonceng pagar berbunyi dan pemilik rumah keluar dengan membawa senapan yang langsung diserbu oleh sekelompok vesps. Hugh menempuh sebuah lorong untuk masuk ke dalam rumah yang diikuti oleh lainnya.

Tidak disangka di dalam lorong itu ada ular berbisa yang membuat si adik, Jude, berteriak. Tentu saja salah satu vesps masuk ke dalam lorong dan memangsa ular tersebut. Sialnya, salah satu vesps lain berhasil menggigit kaki Kelly. Untung saja Hugh segera menghidupkan mesin pemotong kayu yang segera disambut oleh sebagian vesps untuk masuk kesana dan direncah olehnya.

Ally menghubungi Rob yang menceritakan jika kedua orang tuanya sudah tewas. Lynn memberitahu Hugh bahwa kondisi Kelly bisa bertambah parah apabila tidak diberi antibiotik. Hugh dan Ally keluar dari rumah menuju kota untuk mencari antibiotik. Ally menemukan telur-telur vesps yang tumbuh di dalam bangkai manusia. Setelah berhasil keluar dari apotik itu, mereka bertemu dengan seorang pendeta.

Mereka berdua tidak menanggapi permintaan pendeta itu untuk bergabung bersamanya. Kondisi Kelly mulai membaik setelah diberi antibiotik. Ally menemukan berita tentang aliran sesat yang memotong lidah mereka dan juga berita bahwa vesps tidak tahan dengan udara dingin yang membuat mereka memiliki tujuan baru, yaitu menuju wilayah utara yang lebih dingin.

Sore itu, pendeta aneh dan para pengikutnya datang ke rumah dan meminta Ally untuk bergabung ke dalam kelompoknya yang disambut dengan todongan senapan oleh Hugh. Tapi karena tidak mau membuat suara, Hugh hanya menyuruh mereka pergi. Tengah malam mereka menemukan seorang gadis kecil berdiri di depan pintu. Mereka segera membawa anak yang lidahnya terpotong itu masuk ke rumah.

Ternyata anak itu membawa banyak ponsel yang direkatkan di badannya yang berbunyi untuk memancing vesps datang menyerang. Mereka panik dan Hugh segera memasukkan seluruh ponsel itu ke dalam bejana air. Ketika hendak bersembunyi di basement, mereka diserang dan Ally diculik. Lynn segera mengejar dan berhasil membebaskan Ally dengan mengorbankan nyawanya dengan berteriak.

Hugh, Kelly dan Jade terpaksa harus melawan kelompok aliran sesat ini demi menyelamatkan Ally dan mereka berhasil melumpuhkan mereka semua. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju utara dan beberapa minggu kemudian Ally bersama Rob sedang berburu vesps dengan panah. Ally berpikir tentang apakah vesps akan bisa beradaptasi dengan dingin seperti manusia beradaptasi dengan diam.

Kesamaan Premis dengan A Quiet Place

Kesamaan Premis dengan A Quiet Place

Kehadiran The Silence mau tidak mau akan selalu disamakan dengan A Quiet Place yang dirilis setahun sebelumnya. Apakah The Silence meniru A Quiet Place? Jika dilihat dari tahun terbit novelnya, yaitu tahun 2015, film ini lebih dahulu secara materi.

Dan ternyata, proses produksi kedua film ini berada pada waktu yang sama, yaitu di tahun 2017. Lalu kenapa rilis film ini baru di tahun 2019?

Bukan bermaksud ingin mengekor kesuksesan A Quiet Place, ternyata proses distribusi film produksi bersama Jerman dan Kanada ini mengalami masalah dengan bangkrutnya Global Road Entertainment yang sejatinya menjadi distributor mereka. Baru di akhir 2018 Netflix membeli hak distribusi film ini dan segera merilisnya di tahun 2019.

Uniknya, meski tidak berasal dari sumber yang sama, kedua film ini memiliki beberapa elemen yang serupa. Sebagai contoh, tokoh utamanya berusaha untuk selamat bersama keluarganya, salah satu anggota keluarga menderita kesulitan pendengaran dan makhluk menyeramkan itu juga tidak bisa melihat, hanya mengandalkan pendengarannya saja.

Bedanya, makhluk dalam film The Silence ini seperti mutasi dari jenis pterodactyl, beda dengan alien di A Quiet Place. Tim special effect film ini sudah berusaha maksimal untuk menampilkan sosok makhluk ganas ini dengan melakukan berbagai riset, mulai dari bentuk fisik hingga kebiasaan insting kehewanannya. Lalu, kekurangan pendengaran Ally tidak menjadi senjata dan tidak mempengaruhi cerita.

Pengarahan yang Tidak Konsisten dengan Cerita yang Tipikal

Pengarahan yang Tidak Konsisten dengan Cerita yang Tipikal

John R. Leonetti adalah sutradara film Annabelle (2014) yang seharusnya menjadi jaminan kisah horror yang mencekam. Tetapi pengarahannya di film berdurasi 1 jam 30 menit ini sangat lemah sehingga memunculkan kurangnya konsistensi antar adegan.

Salah satu yang paling terlihat adalah karakter Abby yang beberapa kali terlihat berbicara tanpa menggunakan bahasa isyarat. Selain itu, naskah yang ditulis oleh Carrie dan Shane Van Dyke dari novel karya Tim Lebbon sangat tipikal dan tampak seperti pengulangan kisah-kisah dari film berjenis sama.

Contohnya, salah satu dari mereka terluka, mereka harus mencari obat-obatan dan bertemu dengan sosok misterius. Tiga poin itu saja sudah cukup menempatkan kemalasan dari cerita novelnya yang tidak bisa diperbaiki di dalam film.

Netflix dan Film-Film Bertema Akhir Dunia

Netflix dan Film-Film Bertema Akhir Dunia

Dengan kehadiran The Silence sebagai original film, Netflix sepertinya keranjingan dengan film-film bertema akhir dunia dan sejenisnya. Bisa dibuka lagi di aplikasinya dan akan muncul deretan film ini: Bird Box (2018), How It Ends (2018) dan Cargo (2017). Masih belum jelas juga kenapa Netflix sepertinya sedikit terobsesi dengan film-film bertema ini.

Meski The Silence nyaris serupa dengan A Quiet Place, tapi nyatanya film ini memiliki cerita tersendiri dimana asal mula bencana diceritakan dengan jelas, tidak ada misteri yang masih tersimpan. Di atas segala kekurangannya, setidaknya performa akting Stanley Tucci menjadi aspek penyelamat film. Memang, aktor ini selalu total dalam berakting meski di dalam sebuah film yang buruk secara kualitas.

Jika ingin menonton film ini, cobalah untuk tidak membanding-bandingkannya dengan A Quiet Place, meski memang tidak mudah. Nikmati saja ketegangan yang muncul ketika vesps hadir di layar, dimana sosok makhluk ini ditampilkan dengan special effect yang cukup rapih. Bagaimana, apakah kalian siap dan berani menghadapi vesps? They’re listening!

The Silence
Rating: 
2/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram