Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis & Review The Scorpion King (2002), Film di Netflix

Sinopsis & Review The Scorpion King (2002), Film di Netflix

Ditulis oleh - Diperbaharui 14 Oktober 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Seorang ksatria gurun bangkit melawan penguasa jahat yang menghancurkan kampung halamannya. Dia menangkap penyihir yang menjadi kunci kemenangan musuhnya, membawanya ke tengah gurun, dan mempersiapkan penyerangan besar. Dibintangi oleh Dwayne “The Rock” Johnson, prequel The Mummy ini sempat berada di puncak box-office mingguan di Amerika.

The Scorpion King merupakan film pertama Dwayne Johnson sebagai pemeran utamanya, dimana dia membangkitkan kembali karakter yang dibawakannya dalam The Mummy Returns (2001). Kisah film ini mengambil waktu 5.000 tahun sebelum cerita dalam The Mummy (1999) yang menceritakan awal mula kekuasaannya di tanah Mesir.

Tentu film ini menampilkan adegan aksi dan pertarungan yang seru, apalagi dibintangi oleh mantan atlet smackdown terkenal. Simak ulasan kami berikut tentang film bernuansa padang pasir dengan latar belakang sejarah Mesir Kuno yang sudah tayang di Netflix ini.

Sinopsis

Review The Scorpion King

*

  • Tahun: 2002
  • Genre: Action / Adventure / Fantasy
  • Produksi: WWF Entertainment, Alphaville Films
  • Sutradara: Chuck Russell
  • Pemeran: Dwayne Johnson, Michael Clarke Duncan, Kelly Hu

Mesir, sebelum adanya piramida, sepasukan prajurit dari Timur yang dipimpin oleh Memnon, seorang penguasa bengis, menginvasi dan menaklukan beberapa suku untuk meluaskan kekuasaannya. Seluruh kemenangan yang diraihnya berkat ramalan dari penyihir wanita di sisinya. Beberapa suku yang tersisa bersekutu untuk mengakhiri penaklukan ini.

Mathayus (Dwayne Johnson) dan dua saudaranya dari suku Akkadia disewa oleh mereka untuk membunuh sang penyihir. Mereka bertiga menyusup ke kamp dimana Memnon dan pasukannya sedang berisitirahat setelah bertempur. Malang bagi kedua saudaranya, mereka tewas di tangan Memnon dan Takmet yang mengkhianati ayah dan sukunya.

Mathayus dihukum dengan cara badannya dikubur di gurun dan hanya kepalanya saja yang ada dipermukaan untuk dikerubungi oleh semut merah nantinya. Atas bantuan rekan sesama terhukum, Mathayus berhasil lolos dan menuju Gomorrah, kota dimana Memnon berada.

Atas bantuan anak kecil dan ilmuwan kerajaan, Mathayus hampir saja berhasil membunuh Memnon. Misi pembunuhannya gagal karena dia memilih untuk menyelamatkan anak kecil yang menunjukkan jalan kepadanya dari hukuman sang raja.

Setelah berhasil lepas dari kejaran prajurit Memnon, Mathayus menculik sang penyihir dan keluar dari kota menuju Lembah Kematian. Di tengah perjalanan, pasukan Memnon menyerang Mathayus di tengah badai gurun hingga masuk ke dalam gua.

Meski berhasil mengalahkan pasukan itu, Mathayus terkena racun kalajengking yang ditancapkan di kakinya oleh panah komandan pasukan. Cassandra (Kelly Hu), sang penyihir, menyelamatkan nyawa Mathayus dengan sihirnya. Kemudian mereka bertemu Philos, ilmuwan kerajaan yang kabur dari kota, yang telah berhasil membuat peledak dari bubuk mesiu dan garam.

Mereka kemudian ditangkap oleh suku yang dipimpin oleh Balthazar (Michael Clarke Duncan) dan bertarung melawannya. Mathayus mendapat respek dari Balthazar atas kemenangannya dan membolehkan mereka tinggal di tempat itu. Cassandra mendapatkan mimpi tentang penyerangan Memnon terhadap mereka. Untuk menghindari itu, Cassandra kembali ke kota sendirian.

Sementara itu, Mathayus dan teman-temannya serta para kesatria Nubia pimpinan Balthazar menyusun rencana untuk menyusup ke kota Gomorrah. Dalam pertempuran itu, Mathayus bertarung dengan Memnon, Balthazar dengan Takmet, dan Philos menyiapkan bahan peledak untuk meledakkan pondasi istana itu.

Mathayus tertusuk panah, sesuai dengan ramalan Cassandra, tetapi tidak mati. Dia sempat menembakkan panahnya kepada Memnon yang terlempar ke tepian istana yang saat itu sedang meledak sehingga dia mati terbakar. Saat itu, Mathayus langsung dinobatkan sebagai raja baru mereka, berjuluk The Scorpion King, sesuai ramalan para tetua mereka sebelumnya.

Film Pengatrol Karir Dwayne Johnson

*

Penampilan mengesankan Dwayne Johnson di The Mummy Returns (2001) mencuri perhatian publik dan ini dimanfaatkan oleh Stephen Sommers, sutradara film The Mummy (1999) dan sequel-nya. Tapi untuk The Scorpion King, Stephen Sommers hanya bertindak sebagai produser dan penulis naskah, sedangkan kursi sutradara diserahkan kepada Chuck Russell.

Meski belum bisa menampilkan akting yang sempurna, lebih kepada penampilan fisik dan aksi yang juga tidak begitu keras, Dwayne Johnson tampak nyaman dengan karakternya yang memang tampil dalam satu dimensi saja. Selain melakukan adegan aksi, Johnson juga cukup pintar dalam menampilkan humor dan sentilan yang cukup menggelitik, meski terkadang terasa datar di beberapa adegan.

Dianggap sebagai pewaris tahta yang ditinggalkan Arnold Schwarzenegger, Dwayne Johnson meniti jejak karir seniornya itu dalam urutan film yang hampir sama persis. Kalau dulu Arnold naik namanya dalam film Conan the Barbarian (1982), Johnson pun memiliki film serupa dalam The Scorpion King. Memiliki fisik yang besar dan berotot, Johnson memang sangat cocok menggantikan Arnold.

Menilik Sekilas King Scorpion dalam Sejarah

Menilik Sekilas King Scorpion dalam Sejarah

*

The Scoprion King memang bukanlah film dengan sejarah yang akurat. Apalagi mengenai sejarah Mesir Kuno sebelum munculnya era dinasti yang biasa kita kenal dengan gelar Fir’aun. Tapi apa yang selintas dipaparkan di awal film memang mengutip sedikit dari fakta sejarah yang ditemukan oleh ahlinya, meski fakta akuratnya masih samar.

King Scorpion pernah memerintah di Mesir sekitar tahun 3200 SM – 3000 SM di periode proto-dinasti Mesir Kuno. Asal usul sang raja, bahkan nama asli dan jati diri beliau masih tetap samar dan hanya melahirkan banyak spekulasi dari para ahli sejarah. Melihat peninggalan di zamannya yang terinspirasi budaya Mesopotamia, King Scorpion dianggap berasal dari daerah sana atau sekitarnya.

Di dalam film, King Scorpion berasal dari suku Akkadia yang memang faktanya dalam sejarah berada di daerah Mesopotamia saat itu. Tetapi ada kesalahan sejarah di sana, dimana suku Akkadia baru dikenal sekitar tahun 2334 SM – 2154 SM, yaitu masa setelah kekuasaan King Scorpion. Jadi, seharusnya suku Sumeria lebih tepat karena berada di periode yang sama.

Satu fakta sejarah lagi yang melenceng adalah disebutkan kota Gomorrah yang dikenal di Injil dan Al-Qur’an sebagai salah satu kota yang penuh dengan perbuatan zina. Jika kota Gomorrah di dalam film mengambil referensi dengan kota yang sama disebutkan dalam dua kitab suci itu, maka ini jauh sekali dari fakta sejarah yang sudah ditemukan oleh para sejarawan.

Kota Gomorrah sendiri baru ada sekitar tahun 1900 SM di masa kenabian Luth dan berada di perbatasan Yordania dan Israel saat ini. Jarak Gomorrah dengan Mesir cukup jauh sehingga sangat tidak mungkin bisa dicapai dalam waktu semalam dengan menggunakan unta atau kuda.

Sebaiknya memang tidak perlu pusing dengan fakta sejarah yang salah di dalam film ini, toh ini hanyalah film fiksi penuh aksi saja.

Kelanjutan Franchise yang Suram

Kelanjutan Franchise yang Suram

*

The Scorpion King hanyalah film action petualangan yang menjadi kendaraan awal Dwayne Johnson dalam meniti karir suksesnya di perfilman Hollywood. Film ini memang diproyeksikan untuk menyambut summer movies yang biasanya dipenuhi film-film dengan bujet besar dan family-oriented.

Tetapi pada kenyataannya, film ini hampir saja masuk ke dalam kategori film action kelas B. Jika saja bukan karena adanya Dwayne Johnson, tentu film ini sudah terjun bebas ke dalam ranah video dan tidak akan pernah tayang di layar bioskop.

Benar saja, ini terbukti dengan beberapa film sequel-nya yang tidak pernah menjumpai penonton di bioskop. The Scorpion King 2: Rise of a Warrior (2008) menampilkan Michael Copon sebagai Mathayus yang bertindak selaku prequel film pertamanya.

The Scorpion King 3: Battle for Redemption (2012) melanjutkan kisah dari film pertamanya dengan Victor Webster sebagai Mathayus yang juga meneruskan perannya dalam The Scorpion King 4: Quest for Power (2015). Dan yang terakhir adalah The Scorpion King: Book of Souls (2018) dimana Zach McGowan memerankan Mathayus kali ini.

Pada intinya, jangan melihat fakta buruknya deretan sequel The Scorpion King, yang penting film ini layak ditonton dan abaikan film-film lanjutannya. Nikmati saja film aksi penuh semangat heroik ini yang juga diiringi oleh musik alternative metal dari Godsmack, System of a Dawn, Creed, dan Hoobastank dalam deretan soundtrack-nya.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *