Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Review Film The Red Sea Diving Resort

Sinopsis dan Review Film The Red Sea Diving Resort

Ditulis oleh - Diperbaharui 3 September 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

The Red Sea Diving Resort adalah sebuah film di bawah naungan Netflix yang dibintangi oleh pemeran Captain America, Chris Evans. Dalam film ini, ia memerankan sosok agen dinas rahasia Israel (Mossad) yang bernama Ari Levinson. Ia mempunyai misi melakukan operasi rahasia untuk membantu para pengungsi Ethiopia-Yahudi agar bisa melarikan diri ke tempat yang lebih aman di Israel.

Cerita dalam film ini ternyata didasarkan pada kisah nyata yang terjadi pada peristiwa Operation Moses dan Operation Joshua di tahun 1984-1985. The Red Sea Diving Resort sendiri ditayangkan secara perdana di Festival Film Yahudi San Francisco pada 28 Juli 2019, dan dirilis oleh Netflix di tanggal 31 Juli 2019.

Sinopsis

The Red Sea Diving Resort

  • Tahun rilis: 2019
  • Genre: Spy thriller
  • Rumah produksi: Bron Studios dan EMJAG Productions
  • Sutradara: Gideon Raff
  • Pemeran Utama: Chris Evans, Michael K. William, Haley Bennett, Michiel Huisman, Alessandro Nivola, Greg Kinnear, dan Ben Kingsley

Seorang Yahudi Ethiopia bernama Kebede Bimro bekerja sama dengan Ari Levinson untuk membantu mengevakuasi para pengungsi dari kaumnya agar bisa pergi ke Israel. Supaya rencana tersebut dapat terlaksana, Ari mempunyai sebuah ide dengan memiliki sebuah penginapan agar dirinya bisa berasalan untuk memiliki gedung dan kendaraan.

Idenya tersebut lalu diteruskan kepada perwira intelijen Israel Ethan Levin agar ia bisa menyelamatkan para pengungsi dengan jumlah yang lebih banyak. Ari lalu menyewa Red Sea Diving Resort, sebuah hotel kosong yang berada di pesisir Negara Sudan. Ia bersama Bimro menjalankan tempat tersebut sebagai markas untuk memfasilitasi para pengungsi ke Israel.

Agar misinya itu semakin berjalan mulus, Ari merekrut beberapa rekan kerjanya di Mossad. Rachel Reiter, Jake Wolf, Max Rose, dan Sammy Navon lalu bergabung bersama Ari dan Bimro untuk membantu keduanya mengoperasikan Red Sea Diving Resort.

Beberapa saat setelah dibuka, resort tersebut ternyata banyak diminati oleh para turis dan wisatawan. Kehadiran mereka tentunya bisa menyamarkan tujuan asli dari Red Sea Diving Resort yang sebenarnya digunakan untuk tempat tinggal para pengungsi Yahudi Ethiopia.

Sembari menjamu para wisatawan dan menjalankan resort sebagai bisnis yang legal, Ari dan yang lainnya secara bersamaan mengevakuasi para pengungsi tersebut ke kapal Israel yang selalu menunggu di lepas pantai. Awal-awalnya, rencana tersebut berjalan mulus hingga akhirnya tindakan mereka mulai dicurigai oleh angkatan militer Sudan.

Kolonel Abdel Ahmed mengetahui hal tersebut setelah menginterogasi sekelompok pengungsi hingga mereka dibuat tewas olehnya. Dari hasil interogasi itu, ia kemudian pergi mengunjungi Red Sea Diving Resort untuk melakukan penyelidikan. Namun, ia masih belum bisa menemukan jejak pengungsi Yahudi Ethiopia yang ada di sana.

Di suatu malam, Ari dan Sammy ditangkap oleh tentara Sudan, namun keduanya berhasil dibebaskan seketika juga. Keduanya lalu bertemu dengan Ethan Levin di resort, dan sang perwira intelijen Israel tersebut mengatakan kepada mereka bahwa misi evakuasi para pengungsi akan dibatalkan.

Beberapa waktu kemudian, Kolonel Abdel Ahmed datang lagi ke resort lagi untuk melakukan investigasi kembali. Situasi semakin memanas, Rachel lalu terpaksa membunuh salah satu anak buah dari Ahmed setelah pasukan militer berhasil menemukan sekelompok pengungsi yang sedang bersembunyi.

Detik-detik evakuasi terakhir berjalan cukup tegang, Ari kemudian memutuskan menyelamatkan mereka dengan menggunakan pesawat kargo lewat bantuan seorang perwira CIA bernama Walton Bowen. Ari bersama yang lainnya berhasil membawa para pengungsi ke lapangan terbang Inggris yang ditinggalkan. Mereka selanjutnya lolos dari kejaran Kolonel Abdel Ahmed, dan berhasil keluar dari negara tersebut.

Peran Setiap Karakter Kurang Dieksplorasi

Peran Setiap Karakter Kurang Dieksplorasi

Kehadiran Chris Evans dalam film ini menjadi daya tarik tersendiri, apalagi ia dipercaya berperan sebagai karakter utamanya. Chris nampaknya berusaha untuk lepas dari bayang-bayang Captain America yang telah melekat kepada dirinya.

Namun, saat melihat penampilannya yang masih brewokan di film ini, maka tak salah jika penonton masih belum move on dari sosoknya itu yang ada di film Avengers: Infinity War.

Usaha Chris untuk menghidupkan karakter Ari Levinson sebenarnya cukup berhasil ia lakukan. Namun, ada beberapa gestur tubuh, dialog, dan gimmick yang masih kental dengan kepribadian yang dimiliki oleh Steve Rogers.

Meski dirinya bisa mengembangkan sosok Ari Levinson, dan memerankannya dengan baik, ternyata ikatannya dengan para pemain lain kurang cukup kuat digali. Alhasil, setiap karakter yang ada dalam film ini kurang mengimbangi satu sama lain, dan tidak ada yang terlalu istimewa apalagi yang lebih menonjol.

Di satu sisi, Michael K. Williams yang berperan sebagai Kebede Bimro pun nampaknya tidak terlalu bersinar. Padahal, jika dilihat dari cerita filmnya sendiri, sosok ini sebenarnya mempunyai peran cukup penting sebagai seorang Yahudi Ethiopia yang ingin menyelamatkan kaumnya.

Sementara itu, sosok Kolonel Abdel Ahmed yang dilakoni oleh Chris Chalk tidak terlihat mengancam sama sekali. Entah apa yang salah, namun ia kurang berbahaya, superior dan intimidatif. Mungkin kesan tersebut hanya nampak dibeberapa bagian saja, selebihnya ia hanya hadir sebagai tokoh yang hanya ingin mengganggu operasi rahasia yang dilakukan oleh Ari dan teman-temannya.

Film The Red Sea Diving Resort sepertinya hanya ingin berfokus kepada setiap agen Mossad dalam usahanya untuk menyelesaikan misi. Lewat sudut pandang seperti itu, maka tak heran beberapa karakter yang harusnya terlihat antagonis tidak muncul sama sekali. Mereka hanya tergambarkan sebagai orang jahat pada umumnya, tidak ada hal lebih yang menguatkan karakteristik tersebut.

Jika film ini ditujukan untuk menjadi film bergenre spy thriller yang menakjubkan, maka buang jauh-jauh ekspektasi tersebut. Adegan action hingga baku tembak pun dibuat dengan secukupnya saja, tidak terlalu menegangkan dan spesial. Oleh karenanya, The Red Sea Diving Resort hanya menjadi sebuah film untuk hiburan semata yang bisa ditonton tanpa memikirkan konspirasi politik yang membingungkan.

Kurang Mendalam dan Tidak Cukup Menegangkan

Kurang Mendalam dan Tidak Cukup Menegangkan

The Red Sea Diving Resort sesungguhnya berusaha untuk membangun ketegangan yang intens saat menampilkan misi evakuasi dalam menyelamatkan para pengungsi. Tapi, Hal tersebut tidak tercerminkan secara maksimal sehingga nuansa tegang nan mencekam tak tersampaikan kepada yang menontonnya.

Adegan penyelamatan biasanya menawarkan rasa tegang yang menggigit, namun film ini seperti tidak memberikan perasaan tersebut. Dalam adegan evakuasi, semuanya berjalan datar, dan malah berubah menjadi sebuah drama yang tidak perlu terjadi. Emosi yang ditampilkan pun tidak terlalu ekspresif, dan kurang menimbulkan rasa simpati dalam menggugah rasa kemanusiaan.

Namun setidaknya, beberapa adegan evakuasi dapat divisualisasikan secara baik sehingga gambar yang disajikan pun cukup enak untuk dipandang. Selebihnya, film ini hanya sebuah hiburan semata yang ingin disuguhkan kepada para penonton setia Netflix.

Film bergenre spy thriller biasanya identik dengan permainan konspirasi politik yang menjadi salah satu konfliknya. Dalam film ini, unsur politis tidak dihadirkan sama sekali. Meski begitu, hal tersebut bisa dimaklumi karena The Red Sea Diving Resort sebenarnya hanya ingin menonjolkan cerita kemanusiaan lewat penyelamatan para pengungsi Yahudi Ethiopia.

Selain itu, film The Red Sea Diving Resort nampaknya ingin mengangkat sisi historikal dan kepahlawanan dari para agen Mossad. Hal itu sepertinya diyakini bakal memberikan rasa simpati kepada penonton, sebab ada Chris Evans yang notabenenya sangat heroik dalam memerankan sosok Steve Rogers/Captain America.

Sayangnya, angan-angan tersebut tidak berbuah manis karena nilai sejarah yang terjadi saat Operasi Solomon kurang begitu mendalam. Dalam film ini, penonton dikhawatirkan hanya akan kenal Chris Evans sebagai Superhero dari Marvel daripada sosok agen Mossad itu sendiri. Tapi apapun itu penilaiannya, The Red Sea Diving Resort tidak terlalu buruk sebagai sebuah tontonan di akhir pekan.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *