bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Film Western The Hateful Eight (2015)

Ada momen-momen tertentu di dalam hidup yang mengharuskan kita mengobrol dengan orang asing. Semakin lama waktu dihabiskan bersamaan dengan orang asing, maka topik pembicaraan akan semakin melebar. Malah bukan nggak mungkin, ada ketidaksengajaan saling membuka rahasia karena terlalu seru mengobrol.

Ketika pertama mengobrol, kita akan menebak-nebak karakter dari lawan bicara kita. Semakin lama mengobrol, semakin jelas juga karakternya.

Tapi bukan nggak mungkin, yang dibicarakan bukanlah sesuatu yang benar adanya. Seperti delapan orang yang terjebak dalam sebuah ruangan di film The Hateful Eight. Yuk kita bahas lebih jauh lewat sinopsis dan review filmnya berikut ini.

Sinopsis

hateful-eight-2_
  • Tahun Rilis: 2015
  • Genre: Crime, Drama, Mystery
  • Produksi: Shiny Penny, FilmColony
  • Sutradara: Quentin Tarantino
  • Pemain: Samuel L. Jackson, Kurt Russell, Jennifer Jason Leigh, Walton Goggins, Demian Bichir

Di tahun 1877, Major Marquis Warren, seorang veteran perang saudara yang menjadi pemburu bayaran, tengah dalam perjalanan menuju Red Rock, Wyoming.

Dia membawa tiga mayat buronan. Kudanya nggak mampu melanjutkan perjalanan sehingga dia kesulitan sampai di tempat tujuan. Warren pun mencari kendaraan yang lewat untuk menumpang.

Warren mencegat kereta kuda yang dikendarai oleh O.B. Di dalam kereta itu ada John Ruth yang juga berprofesi sebagai pemburu bayaran. Dia membawa buronan buruannya, Daisy Domergue, dengan kedua tangan diborgol.

Ruth hendak membawa Daisy ke Red Rock karena Daisy akan dieksekusi dengan cara digantung. Ruth langsung saja menerima kehadiran Warren tapi kecurigaannya mereda setelah Warren menyatakan pernah mendapat surat khusus dari Abraham Lincoln.

Warren, Ruth dan Daisy bertemu dengan Chris Mannix. Mannix menyatakan bahwa dirinya adalah sheriff Red Rock yang baru. Ruth mencurigai Mannix yang nggak percaya bahwa perang saudara yang baru saja terjadi bukan karena ingin menghilangkan perbudakan.

Begitu juga pada Warren yang dianggap nggak akan begitu saja membiarkannya membawa Daisy. Ruth memilih untuk bekerja sama dengan Mannix dan mempersilahkannya ikut untuk pergi ke Red Rock.

Badai salju menghadang sehingga menyebabkan Warren beserta tiga penumpang lain dalam kereta kuda berhenti di Minnie’s Haberdashery. Di tempat itu ada Bob, orang Meksiko. Bob mengaku sebagai orang kepercayaan Minnie. Dia mengelola selagi Minnie pergi ke luar kota.

Tamu lainnya adalah Oswaldo Mobray yang merupakan seorang algojo, koboi bernama Joe Gage dan Sanford Smithers, mantan jenderal Konfederasi yang tengah mencari anaknya yang hilang.

Ruth menaruh kecurigaan pada semua penghuni, terlebih dia sedang membawa Daisy yang bisa ditukar dengan harga 10.000 USD. Dia pun meminta semua orang untuk menyerahkan senjata kecuali Warren.

Ketika sedang makan malam, Mannix mengatakan bahwa surat dari Lincoln pada Warren adalah palsu. Warren mengakui bahwa Mannix benar karena surat itu digunakannya untuk mendapat kelonggaran pada orang-orang kulit putih.

Ruth kecewa pada pengakuan Warren. Sementara Warren menyimpan pistolnya di samping Sanford. Dia kemudian memancing amarah Sanford dengan mengatakan bahwa Warren-lah yang menyiksa, memperkosa serta menghabisi anak dari Sanford.

Ketika Sanford mengambil pistol, Warren terlebih dahulu mengambil pistol miliknya dan menembak Sanford sebagai balas dendam pernah mengeksekusi orang kulit hitam.

Ketika keadaan memanas, Daisy menyatakan melihat seseorang memasukan racun ke dalam kopi. Kopi itu diminum oleh Ruth dan O.B.. Keduanya pun muntah darah bahkan O.B harus meregang nyawa. Ruth yang susah payah bertahan, mencoba menyerang Daisy. Tapi Daisy terlebih dulu menghabisi Ruth dengan menggunakan pistol.

Warren mengamankan situasi dengan mengambil pistol yang dipegang Daisy dan membiarkan tangan Daisy terikat pada mayat Ruth. Warren mempercayai Mannix yang dilihatnya nyaris meminum kopi beracun.

Warren mengeksekusi Bob yang dicurigai membunuh Minnie karena Minnie membenci orang Meksiko. Siapakah yang punya niat mengambil keuntungan dengan terjebaknya Warren dan tamu lain di Haberdashery?

Penggunaan Satu Set

hateful-eight-3_

The Hateful Eight secara sekilas merupakan film yang sederhana. Ceritanya hanya tentang delapan orang yang saling mencurigai satu sama lain. Pasalnya, mereka semua nggak benar-benar saling mengenal.

Terlebih masing-masing memiliki motif-motif tertentu untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Set yang digunakan hampir di seluruh film pun praktis hanya di sebuah pondok.

Kehebatan film ini adalah delapan orang dalam satu set bisa dikemas dengan menarik. Para karakter melafalkan dialog-dialog panjang, bahkan terhitung terlalu cerdas untuk dibagi secara merata. Apakah menjadi tontonan yang membosankan? Bagi yang nggak terbiasa menonton film Tarantino, mungkin akan merasa bosan.

Dialog-dialog itu menjadi senjata utama untuk menciptakan klimaks dari konflik yang disembunyikan sampai akhir. Penggunaan satu set juga menjadi keunggulan dalam film ini. Badai salju yang menerpa di luar disajikan dengan maksimal secara sinematografi. Nuansa dingin yang menusuk ditampilkan dengan baik.

Keberhasilan sinematografi film ini juga terasa valid ketika kita melihat betapa kopi yang diminum terkesan bisa mengobati dari rasa dingin. Kengerian semakin dilengkapi dengan scoring buatan Ennio Morricone yang dikenal pernah membuat musik pengiring dalam trilogy film Western buatan Sergio Leone.

Penampilan Menakjubkan Para Pemain

hateful-eight-4_

Sebuah film yang menampilkan banyak dialog serta satu set akan sulit terasa hidup apabila para pemainnya nggak bisa tampil optimal. The Hateful Eight secara pintar berhasil memberikan pendalaman pada setiap karakternya, lengkap dengan segala motif untuk meruncingkan konflik dalam plot.

Cerita yang diambil pasca perang saudara di Amerika pun bukan hanya menjadi latar tapi juga digunakan untuk membuat cerita tetap hidup.

Sebagian pemain di film ini pernah bermain dalam film Tarantino sebelumnya. Samuel L. Jackson, Michael Madsen, Kurt Russell dan Tim Roth kembali menunjukan betapa lihainya kerja sama mereka dengan sang sutradara.

Tapi apresiasi lebih layak diberikan pada Jennifer Jason Leigh yang berperan sebagai Daisy Domergue. Leigh bisa menjadi Daisy yang mengundang simpati padahal menyembunyikan fakta-fakta mengerikan dalam karakternya.

Adegan Berdarah-Darah

hateful-eight-5_

Cetak biru dalam film yang disutradarai Quentin Tarantino adalah banyaknya adegan yang menampilkan kekerasan. Dalam The Hateful Eight, adegan-adegan tersebut disimpan di momen yang tepat untuk dimunculkan.

Setelah menghabiskan durasi cukup panjang dengan dialog antar karakter, Tarantino seperti memberi imbalan untuk kesabaran kita dengan adegan-adegan yang brutal.

Tarantino membagi The Hateful Eight ke dalam enam babak. Dua babak terakhir digunakannya untuk adegan berdarah-darah. Tembak-menembak sampai otak tercecer ditampilkan di film ini.

Selain ciri khas tersebut, ada juga penggunaan flashback untuk memecahkan misteri bagaimana kedelapan orang bisa terjebak di Haberdashery yang juga menjadi kebiasaan Tarantino untuk nggak menggunakan alur linear.

The Hateful Eight merupakan film yang membutuhkan kesabaran dalam menontonnya. Kita harus menyimak dialog-dialog panjang tapi ketika itu selesai maka sajian berupa adegan berdarah-darah diberikan sebagai hadiah.

Durasi selama 167 menit bukanlah durasi yang panjang mengingat betapa pintarnya film ini menyembunyikan karakter serta motifnya. Film Tarantino favoritmu apa nih guys? Tulis di kolom komentar, yuk!

Hateful Eight
Rating: 
4/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram