bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Film The Ballad of Buster Scruggs (2018)

The Ballad of Buster Scruggs merupakan film dengan konsep antologi yang disutradarai, ditulis, dan juga diproduseri oleh sepasang saudara, Joel Coen, dan Ethan Coen. Ada enam cerita yang coba disajikan dalam film ini, tetapi semuanya tidak saling berhubungan satu sama lain.

Satu-satunya aspek yang membuat keenam sketsa tersebut saling terkoneksi adalah tema tentang kematian yang menjadi pokok ceritanya.

Film ini bisa dibilang mewah karena beberapa aktor Hollywood yang populer ikut berpartisipasi seperti James Franco, Tom Waits, Liam Neeson, Zoe Kazan, hingga Harry Melling.

The Ballad of Buster Scruggs pun memenangkan Golden Osella Award untuk Skenario Terbaik dalam ajang Festival Film Internasional Venesia ke – 75.

Selain itu, The National Board of Review memasukan film ini ke dalam sepuluh film terbaik di sepanjang tahun 2018.

The Ballad of Buster Scruggs juga meraih tiga nominasi di ajang Oscar alias Academy Award mulai dari Best Adapted Screenplay, Best Costume Design, dan Best Original Song untuk soundtracknya yang berjudul When a Cowboy Trades His Spurs for Wings.

Baca juga: Mau Kenalan Sama Dave Franco? Ini 10 Film Terbaiknya!

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun rilis: 2018
  • Genre: Western anthology
  • Rumah produksi: Annapurna Pictures, dan Mike Zoss Productions
  • Sutradara: Joel Coen, dan Ethan Coen
  • Pemeran utama: Tyne Daly, James Franco, Brendan Gleeson, Bill Heck, Grainger Hines, Zoe Kazan, Harry Melling, Liam Neeson, Tim Blake Nelson, Jonjo O'Neill, Chelcie Ross, Saul Rubinek, Tom Waits

Sketsa pertama pada film ini mempunyai judul The Ballad of Buster Scruggs. Aktor Tim Blake Nelson berperan sebagai Buster Scruggs, seorang koboi yang pandai menyanyi, dan juga jago menembak dengan cepat.

Lewat kemampuannya itu, ia menjadi koboi yang sombong, hingga akhirnya sikapnya tersebut membawa dirinya ke dalam sebuah kematian yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Pada sketsa kedua, James Franco berperan sebagai seorang koboi muda tanpa nama dalam judul Near Algodones. Suatu waktu, ia berusaha merampok sebuah bank, namun usahanya itu mengalami kesulitan karena sang Teller bank mampu melawan hingga menangkapnya.

Meski bisa diselamatkan oleh seorang pencuri, nasib sang koboi semakin memburuk karena para penegak hukum bersiap mengeksekusinya.

Di sketsa ketiga ini, Liam Neeson mengambil alih cerita dengan berperan menjadi seorang pemilik usaha teater, dan hiburan. Lewat judul Meal Ticket, Neeson bermain bersama dengan Harry Melling sebagai seorang artis disabilitas bernama Harrison.

Pertunjukan teaternya mulai tidak diminati, dan ia cukup putus asas karena hanya bisa mengandalkan Harrison yang tidak punya lengan, dan juga kaki.

Selanjutnya, sketsa keempat berjudul All Gold Canyon, dan diperankan oleh Tom Waits sebagai seorang penambang yang ambisius dalam mencari emas.

Usahanya dalam menemukan emas memang pada akhirnya bisa membuahkan hasil. Namun, aktivitasnya tersebut diketahui oleh seorang pengelana yang berniat mengambil emasnya dengan segala cara, termasuk membunuhnya jika itu diperlukan.

Sketsa kelima mempunyai judul The Gal Who Got Rattled, dimana Zoe Kazan berperan sebagai Alice yang harus kehilangan kakaknya karena penyakit kolera saat menuju ke Oregen.

Dalam perjalanan panjangnya itu, Alice bertemu dengan cintanya, yakni seorang pria bernama Billy Knapp (Bill Heck). Pertemuannya dengan Billy kemudian membawa dirinya ke dalam kenyataan hidup yang paling tragis.

Sketsa keenam berjudul The Mortal Remains. Dikisahkan bahwa Nyonya Betjemen (Tyne Daly), Clarence (Brendan Gleeson), orang Irlandia, Thigpen (Jonjo O'Neill), orang Inggris, Rene (Saul Rubinek), orang Perancis, dan seorang pemburu hewan liar (Chelcie Ross) bersama-sama pergi menuju ke Colorodo menaiki kereta.

Di dalam kereta, kelimanya berada di ruangan yang sama, dan mereka pun mencoba mengenal satu sama lain. Pengenalan mereka selanjutnya kemudian berujung menjadi sesuatu yang mengancam, dimana salah satu diantara kelimanya merupakan seorang bounty hunter alias pembunuh bayaran.

Balada tentang Kematian

Balada tentang Kematian

Keenam sketsa cerita dalam The Ballad of Buster Scruggs menampilkan visual pemandangan yang liar di wilayah Wild West Amerika.

Lanskap sinematografi yang coba diperlihatkan memang terasa indah, dan luas, namun juga menyimpan kesuramannya tersendiri lewat tema kematian yang disajikan dalam semua sketsanya.

Keindahan lanskap dalam film The Ballad of Buster Scruggs diselimuti oleh berbagai alur cerita mulai dari kebrutalan, keputusasaan, komedi gelap, hingga drama romantis berujung tragis.

Semua cerita memang tidak saling berhubungan, dan setiap sketsa mempunyai polemiknya masing-masing. Tetapi, semuanya disatukan oleh premis yang berpusat pada kekejaman, dan kekerasan yang mematikan di Wild West.

Selain itu juga, para karakter dalam keenam sketsa secara tidak langsung saling terhubung oleh peristiwa kematian yang absurd, dan juga mengenaskan.

Film ini kemudian lebih tepatnya dibilang sebagai sebuah balada tentang kematian, dan pembunuhan. Akan tetapi, The Ballad of Buster Scruggs tidak secara khusus mengisahkan tentang pembunuhan asal-asalan saja, karena kematian di sini menghasil makna tertentu.

Peristiwa kematian dalam The Ballad of Buster Scruggs bisa terjadi karena adanya takdir naas yang harus menimpa setiap karakter, dan rasanya itu bukanlah sebuah kematian yang kebetulan.

Lalu, ada juga kekejaman, dan keserakahan manusia yang menyebabkan satu diantara mereka harus tewas, hingga kondisi sosial, dan alam liar Amerika yang tidak berperasaan hingga merenggut nyawa mereka.

Para Karakter di Setiap Sketsa Tampil Impresif

Para Karakter di Setiap Sketsa Tampil Impresif

Selama lebih dari dua jam, film ini benar-benar berjalan memuaskan, baik dari segi cerita maupun para karakternya. The Ballad of Buster Scruggs memang terasa sangat kuat dalam dari segi jajaran pemainnya, dan mereka pun harus diakui memainkan karakternya masing-masing dengan sangat mempesona.

Pada sketsa pertama, kita melihat karakter Buster Scruggs (Tim Blake Nelson) yang merupakan seorang kobol bernasib sial karena tewas akibat kesombongannya.

Di bagian yang lain, seorang koboi muda, yang diperankan oleh James Franco, terlihat memiliki nasib buruk karena tewas digantung di alun-alun kota, dan saksikan oleh masyarakat setempat.

Kemudian, ada Liam Neeson sebagai pemilik teater keliling, dan artis Harrison (Harry Melling) yang berkeliaran dari satu kota ke kota lainnya untuk membacakan karya Shakespeare, dan menyairkan cerita-cerita di Alkitab.

Di sketsa lainnya, Tom Waits sebagai seorang penambang tua, yang tidak terawat, dan juga kasar, mesti menghadapi kekejaman duniawi akibat ambisinya dalam mencari emas.

Sementara itu, dalam sketsa yang berjudul The Mortal Remains, Brendan Gleeson, menjadi seorang Irlandia bernama Clarence, yang tidak disangka-sangka adalah seorang pembunuh bayaran alias bounty hunter.

Lalu, Zoe Kazan yang memerankan karakter Alice Longabaugh mendapat sebuah jalan cerita yang cukup dramatis, dimana ia harus menghadapi segala macam kemalangan dalam perjalanannya ke Oregon.

Walaupun semua sketsa dalam film ini terkesan suram, namun unsur humor selalu ada di setiap ceritanya. Meski tidak terlalu kentara, bagian humor tersebut setidaknya cukup mampu membuat film The Ballad of Buster Scruggs lebih sedikit berwarna, dan tidak terlalu kelam.

Sebuah Antologi yang Memuaskan

Sebuah Antologi yang Memuaskan

Semua cerita yang ada dalam keenam sketsa tidak dapat diprediksi dengan pasti, dan semuanya berjalan penuh lika-liku serta kompleks. Tapi yang pasti, semua sketsa selalu ada seseorang yang meninggal dengan cara yang tidak terduga.

Kita yang menontonnya pun rasanya bakal benar-benar terpuaskan secara materi ceritanya, apalagi ditambah dengan kualitas para pemainnya yang sangat berkualitas.

Dengan konsep antologi ini, setiap sketsa dari The Ballad of Buster Scruggs bisa dibilang menjadi sebuah “folklore” alias cerita rakyat yang kemungkinan bisa saja terjadi di wilayah liar Wild West Amerika ratusan tahun yang lalu.

Balada kematian, dan pembunuhan memang menjadi tema cerita yang tepat untuk menggambarkan keseluruhan cerita dalam film ini.

The Ballad of Buster Scruggs pada akhirnya tampil mempesona di keenam sketsanya. Format antologi umumnya memang membuat beberapa kedalaman karakter terlalu sedikit tergali, dan polemik ceritanya pun kurang banyak dieksplorasi.

Akan tetapi, film ini mampu memberikan porsi yang pas untuk segmen ceritanya, dan fokus utamanya pun tidak kehilangan arah serta tetap terjaga dari awal hingga akhir.

The Ballad of Buster Scruggs singkatnya adalah sebuah film yang memuaskan, dan tentunya menjadi sebuah rekomendasi yang sangat layak untuk ditonton.

The Ballad of Buster Scruggs
Rating: 
3.8/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram