bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review The Autopsy of Jane Doe, Mayat Pembawa Kutuk

Istilah Jane Doe diambil pada tahun 1834 guna mengarah pada sebuah kasus yang melibatkan kematian seseorang yang tidak dikenal. Apabila mayatnya adalah perempuan makan akan dinamakan Jane Doe sebelum nantinya diganti dengan nama asli setelah pihak penyelidik berhasil mengetahui identitasnya. Sedangkan untuk pria, nama yang dipakai adalah John Doe.

Nama ini yang dipakai oleh sang sutradara, André Øvredal, dalam film besutannya yang rilis di tahun 2016 silam berjudul The Autopsy of Jane Doe. Film dengan genre supernatural-horror ini sukses membuat para penontonnya menjerit hebat dengan alurnya yang apik dan mencekam. Penasaran dengan apa yang sebenarnya pada mayat tersebut? 

Sinopsis

The Autopsy of Jane Doe_Poster (Copy)
  • Tahun Rilis: 2016
  • Genre: Supernatural, Horror
  • Produksi: 42, IM Global, Impostor Pictures, Lionsgate, IFC Midnight
  • Sutradara: André Øvredal
  • Pemain: Emile Hirsch, Brian Cox, Olwen Catherine Kelly

Tommy Tilden (Brian Cox) dan anak lelakinya Austin (Emile Hirsch) bekerja sebagai tim koroner untuk kepolisian di sebuah daerah pinggiran Amerika Serikat. Satu waktu, ada sebuah kasus pembunuhan massal yang masih membuat para kepolisian kebingungan akibat polanya yang acak dan juga atas penemuan mayat lain yang terkubur di rubahan lokasi TKP yang sama sekali tak beridentitas dan tak ada kaitannya dengan semua korban di lantai atas rumah tersebut.

Serif Sheldon Burke (Michael McElhatton) lantas mengirim mayat misterius tersebut ke rumah koroner dan meminta Tommy untuk segera menyelidiki kematiannya, penyebab juga kemungkinan identitas yang harus segera dilaporkan pada publik. Seluruh tugas itu harus selesai malam itu juga karena keesokan paginya, laporan sudah harus diterima kepolisian pusat.

Austin yang semula sudah akan pulang dan akan berkencan dengan kekasihnya, Emma (Ophelia Lovibond) lantas kembali lagi ke ruang autopsi untuk membantu Ayahnya. Awalnya Ayahnya menyuruh anaknya tersebut pergi namun Austin keras kepala untuk membantunya, mengingat ada 3 mayat lain yang sudah mereka autopsi jadi 1 mayat lagi tidak jadi masalah.

Awal mula melihat mayat tanpa identitas tersebut alias Jane Doe, baik Tommy dan Austin sudah merasa ada yang aneh. Pasalnya, mayat yang diperkirakan sudah tertimbun tanah yang cukup lama memiliki tekstur tubuh yang masih bisa dibilang sangat baik. Tidak ada cacat, lebam atau pembusukan yang biasanya umum terjadi pada mayat-mayat yang biasa mereka terima.

Mengenyampingkan pertanyaan tersebut, Tommy dan Austin lantas memulai untuk autopsi. Mulai dari membedah perut untuk melihat isi perut dan memberikan saluran pencernaan mayat wanita itu. Begitu dibedah, perut mayat tersebut mengeluarkan darah; padahal seharusnya mayat sudah tidak mengeluarkan darah sebanyak itu karena pendarahan sudah berhenti.

Meski heran, Tommy dan Austin tetap terus meneliti mayat. Kebingungan benar-benar melanda mereka berdua. Setelah tidak menemukan adanya trauma atau lebam di tubuh mayat tersebut, warna mata yang berubah jadi abu, gigi geraham bawah sebelah kiri hilang, lidah terputus, tulang engsel kaki dan tangan yang remuk, kulit pucat mulus; kini mereka berdua menemukan kejanggalan lain setelah membelah perut mayat itu.

Begitu berhasil membuka tulang rusuk, Tommy dan Austin dikagetkan kembali oleh paru-paru yang gosong berikut semua organ dalamnya, jantung yang tersayat.

Saat ia membuka usus mayat tersebut, Austin juga menemukan sebuah bunga jenis datura stramonium atau yang dikenal dengan bunga jimson weed atau kecubung di dalam saluran pencernaan mayat itu. Tommy dan Austin mulai berpikir keras apa yang sebenarnya terjadi pada mayat misterius yang kini sedang mereka autopsi. 

Mereka juga menemukan sebuah kain yang digulung dan diikat berisikan gigi geraham yang hilang. Saat Austin membukanya, ia juga menemukan adanya angka romawi, huruf dan bentuk diagram yang aneh dalam kain tersebut. Begitu kain itu terbuka, keanehan mulai terjadi. Lampu-lampu mulai berkedip tak berhenti, saluran radio mulai terdengar kacau. 

Meski demikian mereka tetap melanjutkan autopsi sampai akhirnya mereka menemukan banyak tanda-tanda aneh yang berpola sama dengan pola di kain di bawah kulit mayat wanita itu. Saat itu terbuka, keanehan kembali terjadi dan semakin parah. Lampu meledak dan membuat ruangan gelap gulita. Tommy dan Austin akhirnya memutuskan untuk meninggalkan ruang koroner, namun mereka terjebak.

Mereka pun kembali ke ruang autopsi dan kembali memeriksa mayat. Tiba-tiba saja ruangan terkunci, Austin segera mencoba membuka pintu itu dengan kapak. Namun saat ada celah terbuka, Austin melihat salah satu mayat yang hilang berkeliaran di lorong. Mereka segera sadar bahwa keanehan tersebut berasal dari mayat wanita tersebut. Mereka segera memutuskan untuk membakar mayat itu. Namun tak berhasil malah semakin menjadi-jadi.

Tommy dan Austin lantas berhasil kabur, begitu lift kembali aktif mereka masuk untuk melarikan diri. Namun belum berhasil naik, lift kembali berhenti. Pintu lift jadi macet, Tommy melihat mayat muncul tiba-tiba di depan lift, panik, Tommy segera merebut kapak dari Austin lantas menebas mayat itu. Sialnya, itu hanya pandangan Tommy saja, mayat yang ia lihat adalah Emma, kekasih Austin yang kembali ke ruang koroner karena Austin tak kunjung mengunjunginya.

Tak ada pilihan lain, mereka kembali ke ruang koroner. Mereka ingin segera memecahkan kasus Jane Doe. Austin kembali memeriksa potongan nomor dan huruf juga pola dalam kain. Lantas mereka berhasil menemukan sesuatu. Kain itu mengacu pada ayat alkitab yakni Imamat 20:27, tentang mengutuk penyihir.

Ternyata, pada zaman dulu, wanita tersebut bukanlah penyihir tapi malah dituduh sebagai penyihir dan dibunuh, ini kenapa mayat itu ingin balas dendam dan sasarannya adalah Tommy yang sempat memohon pada mayat itu untuk tidak menyakiti Austin.

Saat itu juga pergelangan kaki dan tangan Tommy remuk, organ dalam Tommy hangus terbakar persis seperti luka pada mayat. Saat luka-luka itu terjadi pada Tommy, mayat wanita itu sembuh. Austin yang melihat Ayahnya seperti itu lantas segera mengakhiri hidup Ayahnya supaya tidak lebih menderita. Merasa semua sudah selesai, Austin naik ke atas namun ternyata ia pun masih terjebak di rubanah ruang koroner hingga tewas. 

Keesokan paginya, polisi datang dan seperti biasa, Serif Sheldon kembali dibuat bingung oleh TKP yang tidak dapat dijelaskan, persis seperti TKP sebelumnya dimana mayat wanita itu ditemukan. Akhirnya mayat itu dikirim ke Virginia Commonwealth University untuk kembali di investigasi. Dalam perjalanan, jari kaki mayat itu bergerak.

The Hidden Gems

The Autopsy of Jane Doe_Movie (Copy)

The Autopsy of Jane Doe ini tidak bisa kalian temukan di bioskop Indonesia. Film ini hanya tayang di beberapa layanan film berbayar favorit kalian atau dalam bentuk digital video. Tapi ini bukan karena film karya André Øvredal jelek, sama sekali tidak! Layaknya hidden gem, film ini seperti film horror bagus yang tersembunyi akibat film-film horror lain yang lebih beken karena menggandeng nama kebesaran dan rumah produksi juga distributor kelas kakap.

Jamin banget saat kalian nonton film ini, kalian bakal dibuat ngeri. Lepas dari jumpscare yang menjadi basic signature dari tiap film-film horor yang beredar. Alur ceritanya yang super misterius membuat para penontonnya juga jadi berpikir dan menerka-nerka sebenarnya apa yang terjadi pada mayat tersebut sebelum akhirnya tahu kalau mayat yang diberi nama Jane Doe ini mayat pembawa kutuk.

Cantik Nan Mematikan

The Autopsy of Jane Doe_Dead Body (Copy)

Olwen Catherine Kelly yang memerankan tokoh Jane Doe ini berhasil membuat para penonton terkesima dengan parasnya yang cantik namun jadi sumber petaka. Wajahnya yang misterius dan terlihat seperti sedang menyimpan sesuatu, lagi-lagi sukses membuat kita jadi tidak nyaman untuk menatapnya lama-lama. 

Model sekaligus artis yang lahir pada tanggal 30 Maret 1987 ini berasal dari Dublin, Irlandia. Menjadi pilihan bagus untuk menggaetnya untuk bergabung dalam film milik André Øvredal ini. Tak mudah bagi Olwen untuk memerankan tokoh mayat, karena persiapannya cukup lama; ia harus berlatih yoga dan meditasi. Saat pengambilan gambar pun ia harus berbaring selama 8 jam tanpa bergerak! Salut deh!

Banyak Pujian

The Autopsy of Jane Doe_Rating (Copy)

Tak hanya Bacaterus yang berani memberi skor 3.5/5 untuk film ini, beberapa situs lain yang doyan membahas tentang film pun sama-sama memberi skor cukup bagus; sebut saja Rotten Tomatoes yang memberi rating sebesar 87%, Metacritic 6/10 dan situs lainnya. Tidak sampai disana saja, para kritikus film juga menyebut film yang terinspirasi dari film The Conjuring ini sebagai film André Øvredal yang ‘pintar’.

Bahkan penulis sekelas Stephen King yang terkenal dengan karya-karya horornya pun ikut nimbrung memberi komentar bagus untuk film ini. Apakah kalian berani menontonnya? Serius, film ini bisa jadi bahan rekomendasi tontonan kalian bersama teman-teman. Selamat jerit-jerit dan mimpi buruk bareng! Cheers

The Autopsy of Jane Doe
Rating: 
3.5/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram