bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Film Suspiria, Sekolah Tari Para Penyihir

Setiap orang lahir di dunia dengan dibekali bakat yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Bakat itu nggak akan mencapai potensi terbaiknya apabila nggak diarahkan dan dimaksimalkan dengan baik.

Untuk mengembangkan bakat di bidang non-formal, ada tempat-tempat yang menyediakan pelatihan dengan bimbingan para ahli di bidang tertentu.

Untuk orang-orang yang merasa tertarik dan berbakat di bidang seni tari, biasanya akan mengasah bakatnya di sekolah tari. Hal itulah yang menjadi tujuan Susanna Bannon untuk rela jauh-jauh pergi ke Berlin di film Suspiria.

Tapi sekolah tari yang dimasukinya dicurigai menjadi tempat praktek supranatural. Sinopsis dan review filmnya bisa kamu nikmati di sini.

Sinopsis

suspiria-1_
  • Tahun Rilis: 2018
  • Genre: Horror
  • Produksi: K Period Media, Frenesy Film Company, Videa, Mythology Entertainment, First Sun
  • Sutradara: Luca Guadagnino
  • Pemain: Dakota Johnson, Tilda Swinton, Mia Goth, Angela Winkler, Chloe Grace Moretz

Patricia Hingle adalah seorang perempuan muda yang mencoba berkonsultasi dengan seorang psikoterapi, Dr. Josef Klemperer. Patricia datang dengan merasa ketakutan.

Dia curiga bahwa sekolah tari yang dia ikuti menyimpan rahasia besar yaitu tempat praktik sihir. Sekolah tari itu menyembah Three Mothers yang terdiri dari Mother Tenebraum, Mother Lachrymarum dan Mother Suspiriorum.

Di tahun 1977, Susanba “Susie” Bannon memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya di Ohio dan pindah ke Berlin untuk ikut sekolah tari bernama Markos Dance Academy.

Dia meninggalkan sang ibu yang merupakan orang yang konservatif dan dianggap sedang menebus dosanya di masa lalu. Kedatangan Susie bersamaan dengan hilangnya salah satu murid di sekolah tari itu, Patricia.

Susie langsung mendapat teman yaitu Sara Simms. Dia juga mendapat perhatian khusus dari salah satu pengajar di Markos Dance Academy, Madame Blanc.

Ketika sedang latihan, Olga Ivanova, teman dari Patricia menuduh para petinggi Markos Dance Academy bertanggung jawab atas hilangnya Patricia. Dia pun secara berani menuduh sekolah tersebut sebagai tempat praktik sihir.

Olga ditenangkan ke dalam sebuah ruangan latihan tari berbeda dibanding teman-temannya. Madame Blanc mulai meminta Susie untuk menari.

Setiap tarian Susie membuat tubuh Olga rusak dengan tulang-tulangnya yang bergerak ke arah-arah yang nggak seharusnya. Para pengajar di Markos Dance Academy pun menyingkirkan mayat Olga supaya nggak diketahui oleh murid yang lain.

Markos Dance Academy hendak melakukan pemilihan pemimpin sekolah tari. Pilihannya ada dua yaitu Mother Helena Markos yang sudah menjalankan sekolah tari sejak lama dan Madame Blanc. Markos sendiri berniat untuk mencari tubuh baru dari para murid yang belajar di sekolah tari.

Para pengajar yang taat pada Markos berencana menggunakan tubuh Susie sebagai tempat Markos bersemayam. Ketika sedang makan malam, Miss Griffith tiba-tiba menyayat lehernya sendiri dan tewas.

Susie mulai mendapat peran penting dalam pertunjukan tari di bawah arahan Madame Blanc. Klemperer meminta Sara, salah satu murid, untuk bekerja sama membuktikan kecurigaan terhadap Markos Dance Academy.

Sara berhasil menemukan tempat para pengajar melakukan ritual, mengambil kail yang dicurigainya berhubungan dengan hilangnya Patricia dan memberikannya pada Klemperer.

Malam diselenggarakannya Volk, pertunjukan tari para murid Markos Dance Academy tiba. Sara berhasil menemukan Patricia yang berada dalam kondisi mengerikan.

Tindakan Sara itu diketahui oleh para pengajar yang langsung mencederai kakinya. Sara pun dibuat tampil dalam keadaan kerasukan. Di hadapan para penonton, Sara tiba-tiba pingsan dan diamankan oleh murid lain dan para pengajar.

Keanehan yang disaksikan pada pertunjukan Volk membuat Klemperer meyakini bahwa Markos Dance Academy merupakan kedok para penyihir.

Para pengajar di Markos Academy pun sudah bisa mencium gelagat Klemperer. Sementara itu, ritual Mother Markos untuk mempunyai tubuh yang baru sudah dipersiapkan dan Susie yang akan menjadi tumbalnya. Akankah Susie selamat?

Berbeda dengan Versi Asli

suspiria-3_

Suspiria merupakan remake dari film dengan judul serupa yang dirilis tahun 1977. Lucas Guadagnino selaku sutradara versi 2018 mengubah pengemasan film dari yang dulunya lebih condong ke arah slasher menjadi kental dengan drama dan unsur supranatural. Hasilnya adalah tempo film garapan Guadagnino jauh lebih lambat daripada versi aslinya.

Berbeda dengan versi asli bukan berarti Guadagnino nggak mempertahankan nuansa menyeramkan. Cerita yang dibangun dengan lambat tetap bisa menyajikan adegan-adegan yang bisa bikin penonton nggak nyaman.

Tulang-tulang di badan bergeser serta kulit yang hancur merupakan beberapa cara sutradara asal Italia itu mengemas kembali salah satu film horor paling ikonik tersebut.

Plot dalam Suspiria terasa rumit dengan alur yang sedikit non-linear walau di third act sudah secara jelas menjadi linear. Secara sinematografi, film ini tampil dengan nuansa 70-an yang kental bahkan nggak melakukan pewarnaan ulang sama sekali.

Alhasil, kita dibuat menyaksikan sebuah tontonan dengan warna yang begitu dingin untuk menguatkan ada misteri di balik Markos Dance Academy.

Banyak karakter dalam film ini, terutama dari posisi pengajar. Walau begitu, mereka diberi pendalaman karakter yang cukup kuat dengan diperlihatkan lebih condong ke pihak Mother Markos atau Madame Blanc. Begitu juga dengan sosok Susie yang diperlihatkan polos tapi menyimpan berbagai rahasia dalam gerak-geriknya.

Sarat Unsur Politik

suspiria-4_

Suspiria versi 2018 mengambil cerita di tahun 1977. Ketika kondisi politik dan pemerintahan sedang memanas, Markos Dance Academy bisa berjalan dengan tenang.

Hal itu seperti menciptakan kontradiksi dengan dunia luar dengan peperangan dan dunia politik yang didominasi oleh laki-laki. Di sekolah tari, para wanita yang berkuasa. Bahkan para lelaki yang datang dijadikan bahan olok-olok.

Nuansa politik bukan hanya dikemas dalam dialog-dialog dalam Suspiria tapi juga praktik pemilihan pemimpin Markos Dance Academy.

Menuju waktu yang ditentukan, para murid dan pengajar harus menentukan apakah akan memilih Mother Markos atau Madame Blanc. Markos digambarkan sebagai sosok bijaksana. Padahal, Markos punya niat jahat.

Penampilan Tilda Swinton

suspiria-5_

Tilda Swinton menampilkan wujud aslinya dalam Suspiria dengan memerankan karakter Madame Blanc. Kita akan dibuat merasa percaya bahwa Madame Blanc merupakan sosok pengajar yang kompeten dengan caranya memberikan arahan dengan meyakinkan.

Begitu juga dengan segala rasa sensitifnya yang menunjukkan betapa dia peduli dengan murid-muridnya.

Tilda sebenarnya bukan hanya memerankan karakter Madame Blanc di film ini, melainkan juga dua karakter lain.

Klemperer yang di kredit diperankan oleh Luiz Ebersdorf adalah tokoh fiksi dan sebenarnya karakter itu dimainkan oleh Tilda dengan makeup prostetik. Secara meyakinkan dia bisa menjadi seorang psikoterapi pria.

Karakter Mother Helena Markos pun diperankan oleh Tilda. Walau porsi kemunculannya paling sedikit, tapi kemunculannya sangat penting membawa puncak dari konflik yang dibangun. Muncul dengan fisik yang menjijikan dan suara yang dibuat berbeda, Tilda bisa membuat sosok Markos terasa begitu jahat dan hanya mementingkan dirinya sendiri.

Suspiria merupakan tipikal film horror slow burn. Ia nggak begitu saja melempar adegan-adegan mengerikan melainkan terlebih dahulu membangun ceritanya.

Durasi yang panjang selama 153 menit bisa jadi terasa lama bagi yang nggak biasa menikmati film dengan tempo lambat. Apa kamu bisa menikmati film sejenis ini? Bagikan pendapatmu di kolom komentar, yuk!

Suspiria
Rating: 
4/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram