bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Surat dari Praha, Kisah Menyentuh Hati

Ditulis oleh Erfah Nanda SW - Diperbaharui 7 Mei 2021

Banyak kejadian yang terjadi sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 silam. Salah satunya tentang perubahan politik di Indonesia. Pada tahun 1966, pasca Gerakan 30 September, banyak pelajar Indonesia yang tidak bisa kembali ke Tanah Air akibat adanya perubahan politik.

Berangkat dari kejadian yang cukup menyedihkan itu, Angga Dwimas Sasongko terinspirasi untuk membuat sebuah karya film. Ya, dirinya yang duduk di bangku sutradara di bawah rumah produksi Visinema Pictures membuat film berjudul Surat Dari Praha.

Surat Dari Praha menjadi salah satu film Indonesia yang mengangkat momen-momen tentang politik Tanah Air. Tak heran jika film Surat Dari Praha ini berhasil menyentuh hati para penonton. Tanpa basa-basi lagi, mari simak sinopsis dan review film Surat Dari Praha di bawah ini!

Sinopsis film Surat dari Praha

review surat dari praha_Sinopsis
  • Tahun rilis: 2016
  • Genre: Drama
  • Produksi: Visinema Pictures, Tinggikan Production, 13 Entertainment
  • Sutradara: Angga Dwimas Sasongko
  • Pemeran: Julie Estelle, Tio Pakusadewo, Widyawati, dan Rio Dewanto

Film Surat Dari Praha mengisahkan tentang seorang anak perempuan bernama Larasati yang dimainkan oleh Julie Estelle untuk memenuhi wasiat ibunya, Sulastri, diperankan oleh Widyawati. Sebelumnya, Sulastri dan Larasati mempunyai hubungan yang kurang baik sebagai ibu dan anak.

Larasati berpendapat bahwa ibunya sangat cuek kepadanya. Namun, dalam hati Sulastri itu tidaklah benar. Sampai suatu ketika, sebagai anak satu-satunya, Larasati meminta rumah milik ibunya untuk diberikan kepadanya, tapi Ibunya yang terbaring di rumah sakit tak bisa berkata apa-apa.

Usai ibunya wafat, Larasati diberikan tugas untuk memenuhi wasiat jika ingin memiliki rumah ibunya itu, Larasati diberikan tugas untuk mengantar sebuah kotak yang isinya adalah surat-surat untuk Jaya (Tio Pakusadewo) di Praha.

Sesampai di tempat Jaya, Larasati tidak disambut dengan baik. Jaya bahkan menolak menerima surat dari Sulastri dan menandatangi bukti wasiat sudah diselesaikan. Pertemuan Jaya dan Sulastri bahkan berujung pada pertengkaran.

Larasati akhirnya menyadari bahwa Jaya adalah mantan tunangan ibunya yang tidak bisa menikahinya dan kembali ke Indonesia. Hal itu karena adanya perubahan situasi politik di Indonesia yang membuat Jaya menetap selamanya di Praha.

Mengetahui kenyataan itu, Larasati menuding bahwa Jaya dan surat-suratnya yang dikirim kerumahnya sebagai penyebab keluarganya tidak harmonis. Larasati dengan emosinya mengatakan bahwa Jaya yang membawa hal buruk di kehidupannya. Termasuk almarhumah sang ayah Larasati yang sudah meninggal lebih dulu.

review surat dari praha_Sinopsis 3Sumber: liputan6.com

Jaya pun tak mau dituduh seperti itu oleh anak mantan tunangannya ini. Dirinya menjelaskan kejadian sebenarnya kenapa dia tak bisa pulang. Jaya sebagai salah satu mahasiswa ikatan dinas di Praha yang menentang pemerintahaan Orde Baru, keputusannya ini membuat Jaya kehilangan kewarganegaraan.

Jaya berusaha untuk berdamai dengan masa lalu, memaafkan dan mengikhlaskan semua yang terjadi. Akhirnya Jaya menandatangi bukti wasiat telah selesai. Meski begitu di hidup Jaya, Sulastri tetap jadi satu-satunya perempuan yang dia cintai.  Bahkan di masa tuanya, Jaya pun masih mencintai Sulastri dan tidak menikah dengan perempuan lain.

Mempunyai Cerita yang Unik

Film Surat Dari Praha merupakan karya ke tujuh Angga Dwimas Sasongko sebagai sutradara. Sudah berpengalaman membuat film sebelumnya, maka tak heran jika Angga mampu menghadirkan cerita yang unik di film Surat Dari Praha.

Walau mengisahkan tentang sejarah politik di Indonesia, namun Angga tetap mengemas dengan sangat kreatif. Pria kelahiran 11 Januari 1985 ini mengambil angle dari para pelajar Indonesia di Praha. Salah satu dampak dari itu adalah tentang kisah cinta.

Ya, karena adanya perubahan situasi politik di Indonesia, para pelajar jadi tak bisa pulang ke Tanah Air. Menetap di Praha membuat banyak pelajar tak bisa mewujudkan impiannya untuk menikah dengan kekasihnya di Indonesia, seperti yang dirasakan tokoh Jaya.

Tak hanya unik, Angga berhasil membuat film Surat Dari Praha mempunyai cerita yang ringan untuk ditonton. Meski demikian, film ini tetap menyuguhkan poin-poin penting dari kejadian sejarah pasca Gerakan 30 September itu.

Para Tokoh Dapat Meningkatkan Kompleksitas Cerita 

review surat dari praha_Tokohnya Sedikit Membuat Film Semakin KompleksSumber: historia.id

Diketahui film ini hanya mempunyai empat tokoh penting saja. Mereka adalah Julie Estelle, Tio Pakusadewo, Widyawati, dan Rio Dewanto sebagai Dewa, barista di Praha asal Indonesia. Menariknya keempat tokoh ini saling berhubungan, jika kurang satu saja maka bisa berdampak bagi alur cerita fim Surat Dari Praha.

Misalnya saja Dewa yang selama ini jadi teman curhatnya Jaya di Praha. Bahkan hubungan mereka terlihat seperti bapak dan anak. Di saat Larasati datang dan berpikir negatif tentang Jaya, Dewa langsung mengatakan yang sebenarnya.

Angga mampu membuat empat tokoh ini jadi saling berhubungan. Karakter-karakter tersebut sama kuatnya, membuat fim Surat Dari Praha semakin kompleks. Hal tersebut juga jadi kekuataan film yang diproduksi Visinema Pictures, Tinggikan Production, dan 13 Entertainment ini.

Dilengkapi dengan Soundtrack yang Ciamik

review surat dari praha_Dilengkapi dengan Soundtrack yang CiamikSumber: wowkeren.com

Untuk memperkuat cerita Surat Dari Praha, Angga menjadikan musik sebagai salah satu elemen utama cerita. Lagu tersebut milik mendiang Glenn Fredly berjudul Sabda Rindu. Lagu ini seperti mengisahkan percintaan Jaya dan Sulastri.

Kurindu lebih baik katakan apa adanya bila memang rindu. Kurindu karena waktu takkan mampu berpihak pada perasaan yang meragu.”

Seperti itulah penggalan lirik lagu Sabda Rindu. Tampak sederhana tapi lagu ini mempunyai makna yang mendalam. Bahkan tampak related dengan alur cerita yang ada di film Surat Dari Praha. Tak heran selain alur cerita, lagu Sabda Rindu bikin menyentuh hati penonton juga.

Mempunyai Dialog-Dialog yang Romantis

Meski di awal pertemuaan Jaya dan Larasati berujung pertengkaran. Akan tetapi, setelah berjalannya ceritanya, Jaya menjelaskan siapa dirinya dan disitulah mulai banyak dialog-dialog yang menyentuh hati para penonton.

“Sebelum berangkat ke Praha, saya berjanji pada ibumu dua hal. Bahwa saya akan pulang secepatnya untuk menikahinya. Bahwa saya akan mencintainya seumur hidup saya. Takdir hanya mengizinkan saya untuk menepati janji yang kedua,” ucap Jaya kepada Larasati.

Singkat, padat, dan jelas tapi ucapan Jaya seakan bisa menghipnotis para penonton. Tentu tak heran jika ada penonton yang meneteskan air mata. Dialog-dialog Jaya menunjukkan bahwa dirinya idealisme dan setia dengan Sulastri. Itu jadi poin penting dalam film Surat Dari Praha.

 "Tidak ada tempat untuk penyesalan, saya tidak pernah menyesal menolak Soeharto, jika pun ada hal yang saya sesali, saya telah mengecewakan ibumu,” kata Jaya.

Nah, itulah tadi sinopsis dan review film Surat Dari Praha yang mengisahkan tentang kehidupan Jaya yang kehilangan kewarganegaraannya. Akibat itu dirinya tak bisa pulang ke Indonesia dan gagal menikahi tunangannya, Sulastri. Banyak pesan yang bisa kamu ambil dari film Surat Dari Praha, bukan?

Surat Dari Praha
7.5 / 10 Bacaterus.com
Rating

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram