bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Spiderhead, Eksperimen di Penjara Distopia

Para tahanan di sebuah penjara masa depan bersedia untuk dijadikan alat eksperimen medis. Mereka diberikan berbagai jenis serum yang disuntikkan ke tubuh dan membuat mereka mengalami berbagai macam perasaan.

Tapi yang tidak mereka tahu adalah agenda rahasia di balik eksperimen yang membuat nyawa bisa melayang.

Spiderhead adalah film thriller fiksi ilmiah karya Joseph Kosinski yang dirilis sebagai original film Netflix pada 17 Juni 2022.

Berdasarkan cerita pendek berjudul Escape from Spiderhead karya George Saunders, film ini melangsungkan syuting di tahun 2020 pada masa pandemi Covid-19 di Australia.

Setelah baru saja sukses dengan Top Gun: Maverick (2022), apakah duet aktor Miles Teller dan sutradara Joseph Kosinski kali ini memiliki kualitas serupa? Simak review berikut untuk mendapatkan ulasannya secara lengkap.

Sinopsis

Sinopsis

Spiderhead adalah sebuah fasilitas riset yang menggelar eksperimen dari beberapa serum atas alasan medis. Eksperimen ini diujicobakan kepada beberapa tahanan yang sudah membuat kesepakatan dengan imbalan pengurangan masa tahanan.

Salah satu tahanan bernama Jeff mendapat perlakuan berbeda dari yang lainnya. Dia menjadi fokus utama riset yang dijalankan oleh Steve Abnesti.

Jeff dibawa ke luar fasilitas yang ada di sebuah pulau di tengah lautan itu ke lokasi lain untuk melihat pemandangan. Sebenarnya keindahan alam yang dilihatnya hanyalah efek dari serum yang disuntikkan.

Jeff juga disuntikkan serum yang disebut oleh Steve dengan nama “love drug”. Serum ini membuat nafsu birahinya meninggi sehingga bercinta dengan dua tahanan wanita karenanya. Di luar berbagai macam eksperimen yang dijalaninya, Jeff dekat dengan tahanan wanita bernama Lizzy.

Di lain hari, dua tahanan wanita yang pernah bercinta dengan Jeff dipertemukan dalam satu ruangan. Jeff diminta oleh Steve untuk memilih salah satu dari mereka yang akan disuntikkan serum Darkenfloxx.

Mengetahui serum ini berbahaya bagi tubuh, Jeff tidak melemparkan pilihan. Steve memberikan Jeff waktu satu hari untuk menentukan siapa yang akan dipilihnya.

Keesokan paginya, Steve sudah memilihkan Heather sebagai tahanan yang akan disuntikkan Darkenfloxx. Jeff diminta memberikan persetujuan dan Heather pun sudah dimintai juga persetujuannya.

Steve berjanji Darkenfloxx hanya akan berlangsung selama 5 menit saja untuk melihat reaksinya. Dan ternyata, Heather terlihat resah dan merasa badannya sakit semua.

Heather membanting dirinya ke dinding sehingga kotak serum yang ditanam di pinggangnya pecah dan membuatnya menjadi lepas kendali.

Heather kemudian menusuk lehernya sendiri dengan patahan kaki meja hingga tewas. Steve memarahi asistennya atas kejadian ini. Sementara Jeff menemukan bukti rahasia eksperimen yang membuatnya terkejut.

Jeff menceritakan apa yang terjadi, bukti yang ditemukan olehnya dan juga peristiwa masa lalu yang menjebloskannya ke penjara.

Steve mulai resah dengan Jeff yang terlihat mulai penasaran dengan apa yang dia lakukan. Steve menemukan fakta bahwa Jeff mencintai Lizzy dan menggunakannya untuk menyakiti Jeff.

Tentu saja Jeff terkejut bahwa yang akan disuntikkan Darkenfloxx terakhir, sesuai janji Steve kepada Jeff, adalah Lizzy. Mark, asisten Steve, tidak hadir karena malam sebelumnya sudah pergi dari pulau.

Jeff menolak dengan tegas keinginan Steve, tapi Steve memaksa Jeff dengan membongkar masa lalu Lizzy. Jeff mulai bergeming mendapati fakta itu.

Apa yang akan menjadi pilihan Jeff? Melanjutkan eksperimen, atau menghentikannya? Terus tonton film yang semakin seru ini hingga akhir, sehingga kita akan menemukan jawabannya di penghujung film.

Premis Menarik yang Kurang Tergali

Premis Menarik yang Kurang Tergali

Spiderhead mengusung sebuah cerita yang sebenarnya cukup familiar. Sebagaimana mayoritas cerita fiksi ilmiah, selalu ada ilmuwan gila yang menggunakan kemampuannya di bidang sains demi kepentingan pribadi yang berujung petaka.

Film ini pun menawarkan premis serupa, hanya saja dalam kadar yang lebih ringan. Karakter ilmuwan gila yang biasanya tampil dengan jubah putih kini hadir dalam penampilan yang sangat rapi.

Wajah yang tampan membuat apa yang dikenakannya tampak fashionable. Dengan sifat terbuka dan murah senyum, tidak terlihat bahwa dia memiliki rahasia yang jahat.

Hal ini membuat para tahanan di fasilitas tersebut dengan rela hati terpesona dan patuh padanya. Eksperimen yang dilakukannya disebutkan untuk kepentingan di bidang medis.

Kita tidak diberitahu tujuan medis seperti apa yang hendak dicapai atau penyakit apa yang hendak disembuhkan dari hasil eksperimen ini. Justru kita melihatnya sebagai sebuah eksperimen psikologis untuk mengatur kebiasaan dan sikap manusia.

Dengan beberapa serum yang disimpan di dalam kotak yang ditanam di pinggang masing-masing tahanan, Steve dan Mark menjalankan eksperimen atas seizin para tahanan itu sendiri. Berdasarkan apa yang ditampilkan di film, setidaknya ada enam jenis serum yang disuntikkan.

Luvactin (N-40) mereka sebut dengan “love drug” karena dapat memicu hasrat birahi. Verbaluce (B-15) untuk memicu daya pikir dan artikulasi, sehingga bisa mendeskripsikan apa yang dilihatnya dengan jelas.

Laffodil (G-46) bisa membuat tertawa dalam berbagai keadaan. Phobica (I-27) bisa menimbulkan rasa ketakutan yang sangat pada sebuah objek.

Drakenfloxx (I-16) akan membuat rasa sakit dan membenci diri sendiri hingga membuat lepas kendali. Dan satu serum lagi yang masih diujicobakan ialah Obediex (B-6) yang bisa menimbulkan rasa patuh untuk melakukan apapun. Serum terakhir inilah yang menjadi pokok eksperimen yang mereka jalankan.

Tempo Lambat yang Memanipulasi Pemikiran

Tempo Lambat yang Memanipulasi Pemikiran

Dengan detail perangkat eksperimen seperti yang digambarkan, seharusnya film Spiderhead memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu film sci-fi yang menarik. Tapi sayangnya, film berdurasi 1 jam 46 menit ini bergerak sangat lambat di awal.

Di sepertiga film awal, kita hanya diperlihatkan rangkaian eksperimen dengan segala efeknya. Mungkin maksudnya untuk pondasi keyakinan kita bahwa eksperimen ini nyata, bahkan diantaranya berbahaya.

Namun dengan pergerakan yang lambat, apalagi diselingi dengan potongan adegan dari masa lalu, nyaris mendatangkan kebosanan bagi kita.

Tapi bagi yang memiliki rasa penasaran yang tinggi pasti sanggup untuk melangkah ke sepertiga film kedua. Di fase ini, cerita lebih menekankan pada sisi hubungan antar karakter.

Kita mulai melihat sifat asli Steve yang selalu meremehkan Mark, meski dalam bahasa yang sangat halus. Jeff mencoba membuka hati untuk Lizzy. Bahkan ada adegan kedekatan Steve dan Jeff saat menggunakan serum Laffodil.

Meski tempo masih belum berjalan lebih cepat, kita sudah merasakan peningkatan bangunan tensi untuk sepertiga akhir film. Pengungkapan masa lalu Jeff seolah memanipulasi pemikiran kita.

Di penggambaran awal, Jeff mengalami kecelakaan hanya bersama seorang teman saja. Namun di penggambaran kedua, ternyata mereka bertiga dengan Emma.

Menampilkan adegan ini sebagai twist, ternyata tidak bisa membuat kita kaget. Mencoba menghentak, tapi kita tidak dibuat terkejut. Semua karena tensi film yang sudah terlalu datar dari awal.

Entah kenapa, Joseph Kosinski tidak bisa mengatur ritme dengan apik seperti di Top Gun: Maverick atau Only the Brave (2017), dua film arahannya sebelum ini.

Dan puncak film yang kita harapkan menampilkan efek petaka yang dahsyat, ternyata hanya mengecewakan rasa penasaran kita.

Dengan solusi yang cenderung biasa, sosok protagonis dan kekasih hati selamat dengan mudah dan sosok antagonis celaka sendirian, bukanlah yang kita harapkan.

Kalau sudah begini, waktu yang kita investasikan seolah tersia-siakan. Tapi untuk kecewa sudah tidak berguna karena pikiran kita sudah dimanipulasi untuk terus bertahan dengan rasa penasaran demi mengikuti ceritanya.

Akting Apik Minim Chemistry

Akting Apik Minim Chemistry

Walau begitu, kita tidak akan terlalu sakit hati dengan konklusi film ini. Kita tetap disuguhkan akting memikat dari para pemerannya.

Miles Teller berhasil menampilkan akting menangis tanpa air mata dan terluka tanpa berdarah. Kita dibuat sangat penasaran dengan kisah masa lalunya yang membuat dia masuk ke penjara.

Saat adegan flashback itu hadir, raut kesedihan sangat terlihat jelas di wajahnya. Sementara itu Chris Hemsworth membawakan karakter ilmuwan gila yang rupawan. Ada misteri seputar dirinya.

Ketika setiap kali Jeff menolak pengajuan eksperimen, dia bilang itu sudah keputusan atasan Steve sebagai bahan evaluasi pembebasan Jeff. Padahal Steve adalah pemilik perusahaan pengelola fasilitas Spiderhead ini.

Meski tidak maksimal, performa Chris Hemsworth masih cukup baik. Sedangkan untuk Jurnee Smollett, karakter Lizzy yang dibawakannya tidak memiliki pengembangan yang bagus.

Dia seolah hanya menjadi love interest Jeff yang sudah pasti akan menjadi dilema baginya di adegan puncak. Tapi dalam satu adegan ketika masa lalunya dibongkar oleh Steve, kekuatan akting Jurnee Smollett baru terlihat.

Meski cukup berkesan, tapi terasa sudah terlambat. Apalagi chemistry antara dirinya dan Miles Teller terlihat kurang padu. Kita tidak merasakan desir-desir asmara yang diharapkan cerita. Sehingga ketika dilema Jeff di adegan puncak hadir, semua nyaris terasa hambar.

Spiderhead beruntung memiliki tiga pemeran utama yang menampilkan akting dalam kadar yang cukup baik. Jika bukan karena mereka, film ini akan menjadi sebuah sci-fi thriller yang membosankan.

Terlihat sekali jika kisah film ini berdasarkan cerita pendek yang dipanjang-panjangkan. Rhett Reese dan Paul Wernick sebagai penulis naskah tidak mampu mengolah ceritanya menjadi lebih baik lagi.

Tapi bagi penggemar Chris Hemsworth dan Miles Teller, film ini tidak boleh dilewatkan. Teruntuk juga bagi penikmat kisah fiksi ilmiah dengan pendekatan psikologis, maka film ini bisa dicoba untuk disimak. Sudah tersedia di Netflix, langsung ditonton saja, ya!

Spiderhead
Rating: 
2.5/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram