bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Shaft, Aksi yang Melibatkan Tiga Generasi

Ada sebuah anggapan bahwa garis keturunan ikut menentukan bakat dan kemampuan seseorang. Misalkan ketika ada orang tua yang berkecimpung di dunia kesenian, anaknya akan mendapatkan bakat seni.

Pendapat itu belum bisa dibuktikan secara ilmiah walau bisa jadi anak terpengaruh dari pola hidup serta bidang yang ditekuni orang tuanya sehingga memiliki bakat atau kemampuan yang sama.

Cerita bakat seorang anak yang mengikuti jejak orang tuanya sudah sering diangkat dalam film. Contoh paling terkenalnya adalah The Godfather.

Ada juga film yang lebih kekinian dan mengangkat tema serupa. Film ini merupakan sekuel dari film blaxpoitation di tahun 70-an yaitu franchise Shaft. Bagaimana Shaft yang terbaru? Simak sinopsis dan review filmnya berikut ini.

Sinopsis

shaft-2_
  • Tahun Rilis: 2019
  • Genre: Crime, Comedy
  • Produksi: Davis Entertainment, Khalabo Ink Society, New Line Cinema, Netflix
  • Sutradara: Tim Story
  • Pemain: Samuel L. Jackson, Jesie T. Usher, Regina Hall, Alexandra Shipp, Richard Roundtree

Pada tahun 1989, John Shaft yang merupakan anggota NYPD, bersama istrinya, Maya, selamat dari upaya pembunuhan yang dilakukan oleh gembong narkoba Pierro “Gordito” Carrera.

Merasa nasibnya dan anaknya terancam, Maya memutuskan untuk bercerai dari Shaft. Dia pun memilih keluar dari New York demi bisa membesarkan anaknya tanpa harus berurusan dengan bahaya.

Berselang 25 tahun kemudian, Shaft memutuskan untuk keluar dari NYPD dan menjadi detektif swasta. Anak Shaft, JJ Shaft sudah tumbuh besar dan menjadi analis FBI.

JJ menggeluti keamanan dunia siber setelah menyelesaikan studinya di Massachusetts Institute of Technology. Walau berada di bidang yang nyaris sama dengan ayahnya, JJ memilih untuk berdiri sendiri tanpa embel-embel atau bantuan dari Shaft.

Karim, teman masa kecil JJ sekaligus mantan tentara Amerika, dinyatakan tewas karena overdosis. JJ nggak percaya pada penyebab kematian tersebut dan menduga Karim tewas karena dibunuh.

Dia pun pergi ke wilayah Harlem untuk menanyai Manuel, seorang bandar narkoba. Sayangnya upaya JJ nggak berjalan mulus, dia malah mendapat perlawanan sebelum mendapat informasi yang cukup.

JJ yang terluka diobati oleh Sasha, seorang dokter yang juga teman masa kecil JJ sekaligus orang yang diam-diam JJ sukai.

Sasha menunjukan laporan kematian Karim pada JJ yang menyatakan kandungan heroin dalam tubuh JJ sangatlah tinggi sehingga dia akan tewas sebelum mengonsumsi narkoba lebih banyak. Sasha pun mencurigai bahwa Karim memang dibunuh.

JJ nggak memiliki banyak koneksi untuk menyelesaikan kasus kematian Karim, dia pun meminta bantuan pada Shaft yang sudah nggak ditemuinya selama 25 tahun. Shaft akhirnya setuju membantu sang anak setelah menyadari bahwa kasus ini bisa memberi petunjuk yang akan membawanya menemukan keberadaan Gordito.

JJ dan Shaft mulai menginvestigasi Brothers Watching Brothers, sebuah klinik rehab yang didirikan oleh rekan-rekan Karim sesama tentara yaitu Cutworth, Williams dan Dominguez.

Mereka memberikan informasi pada JJ dan Shaft bahwa Karim sudah nggak pernah mengunjungi rehab tempat mereka, melainkan sering mengunjungi sebuah masjid. Masjid itu bukan masjid biasa, melainkan masjid yang sedang diawasi FBI karena dianggap menjadi tempat penyebaran terorisme.

JJ dan Shaft yang ditemani Sasha nggak mendapat informasi tentang Karim di masjid tersebut malah diusir oleh Imam karena ketahuan sebagai anggota FBI.

JJ dan Shaft kemudian menyelidiki Bennie Rodriguez, seorang pemilik toko yang memberikan donasi sebesar 100 ribu USD pada masjid. Maya mengatakan akan datang ke New York sementara itu JJ dan Shaft lolos dari upaya pembunuhan yang dilakukan oleh Bennie.

Maya meminta Shaft untuk nggak menyertakan JJ dalam aktivitas yang berbahaya. Imam masjid ditangkap berkat bukti yang dikumpulkan JJ.

Tindakan FBI membuat mereka dituduh bertindak islamophobia. JJ pun dipecat oleh atasannya, Vietti. Sementara itu Brothers Watching Brothers ternyata bukanlah klinik rehab biasa. John Shaft Sr. pun dipanggil untuk membantu meringkus Gordito. Berhasilkah tiga generasi Shaft menjalankan misinya?

Mengangkat Isu Sosial

shaft-3_

Ada dua isu sosial yang coba diangkat dalam Shaft. Isu sosial pertama yang diangkat adalah tentang peredaran narkoba yang tentu sudah bukan barang baru dalam dunia film.

Isu ini dikemas dengan ringan hanya saja sebenarnya bisa dieksplor lebih jauh. Kenyataan bahwa Brothers Watching Brothers bukan klinik rehab merupakan kejutan yang terasa kurang efektif.

Isu sosial kedua yang diangkat adalah mengenai Islamophobia dan radikalisme. Dua isu tersebut merupakan isu yang hangat dibahas sejak Donald Trump menjadi Presiden Amerika.

Keberanian film ini mengangkat isu itu sayangnya nggak dibuat lebih berimbang. Keberadaan isu tersebut hanya dibahas di permukaan dan malah terasa memperumit plot utama.

Benturan Dua Generasi Berbeda

shaft-4_

Poin menarik dari Shaft 2019 adalah kehadiran anggota keluarga Shaft yang baru yaitu JJ. Secara pendalaman karakter, JJ diberikan kesempatan untuk memperlihatkan bahwa dia bukanlah tipikal garis keturunan Shaft.

Alih-alih berani melakukan konfrontasi, JJ malah enggan menggunakan senjata yang menjadi andalan utama keluarga Shaft dalam menyelesaikan masalah. Untungnya Jessie Usher mampu menghidupkan karakter JJ yang berbeda dengan Ayah dan Kakeknya.

Secara sinematografi, film ini nggak menyajikan sesuatu yang spesial. Visualisasi New York dan sudut-sudutnya berhasil ditangkap dengan baik. Adegan aksinya pun dikemas apik.

Jumlah adegan aksi di film ini lebih banyak dan lebih efektif dibandingkan penyampaian komedinya. Keunikan lain adalah bagaimana keluarga Shaft mengenakan jas yang warnanya terasa membedakan mereka dari orang lain.

Komedi yang Sensitif

shaft-5_

Shaft yang dirilis 2019 lalu merupakan sekuel dari film dengan judul sama yang dirilis tahun 2000. Kedua film ini merupakan bagian dari franchise Shaft yang pertama kali dirilis di dekade 70-an.

Shaft yang dirilis pada tahun 70-an dianggap sebagai salah satu film blaxpoitation paling populer. Nggak mengherankan kalau dalam satu dekade, tiga judul Shaft sudah dirilis.

Mempertahankan unsur Blaxploitation, Shaft 2019 banyak menggunakan komedi yang berpotensi mengganggu bagi sebagian pihak. Contohnya adalah dialog Shaft dengan JJ yang menyatakan bahwa pekerjaan sang anak di FBI terlalu mirip pekerjaan orang kulit putih.

Kita tahu sama tahu kalau hal-hal yang berkaitan dengan warna kulit masih jadi topik yang sensitif, terutama di Amerika sana.

Cara film ini menggambarkan karakter wanita pun dianggap terlalu seksis. Ada adegan JJ nggak diperbolehkan memukul Bennie karena Bennie adalah seorang perempuan.

Ada pula adegan Sasha yang bersiap menggunakan pistol tapi nggak diperbolehkan menembak serta harus menyerahkannya pada pria. Adegan-adegan seperti ini sebenarnya bisa dihilangkan, tapi mungkin berguna untuk memperkuat karakter sebagaimana Shaft adalah orang kulit hitam.

Komedi-komedi ofensif itu merupakan cara yang dipilih dalam Shaft. Mungkin ditujukan agar mempertahankan karakter franchise-nya yang dirilis pada zaman dahulu. Sebagaimana film Blaxploitation, film ini pun akhirnya oleh sebagian orang dianggap melestarikan stereotip buruk tentang orang kulit hitam.

Shaft tetap hadir dengan banyak aksi mulai tembak-tembakan sampai umpatan dalam dialognya. Sayangnya, sebagaimana sekuel sebelumnya, film action ini nggak punya cukup tenaga untuk menyampaikan cerita yang rapi.

Durasi 112 menit nggak akan terasa panjang kalau kamu menurunkan ekspektasi dan menganggap film ini sebagai hiburan biasa saja. Menurutmu, film Shaft terbaik yang rilisan tahun berapa nih?

Shaft
Rating: 
3/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram