bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Samson, Perjuangan Melawan Penjajahan

Ditulis oleh Dhany Wahyudi
Samson
2
/5

Hidup di masa penjajahan bangsa Filistin terhadap bangsa Israel, Samson yang memiliki tenaga yang sangat kuat, menjadi sosok yang sangat ditakuti oleh bangsa penjajahnya, sehingga mereka melakukan berbagai cara untuk menangkap, menjebak dan menghukumnya.

Samson adalah film drama religius karya Bruce Macdonald yang dirilis oleh Pure Flix Entertainment pada 16 Februari 2018. Mengangkat salah satu kisah perjuangan bangsa Israel yang tertulis di Alkitab, film ini menjadi versi terbaru setelah sebelumnya pernah hadir lewat film klasik Samson and Delilah (1949).

Apakah film yang mengaku lebih mendekati cerita dalam Alkitab dan fakta sejarah ini akan tampil lebih baik? Simak review berikut untuk mengetahuinya secara jelas.

Baca juga: Review dan Sinopsis Film The Book of Eli (2010)

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun Rilis: 16 Februari 2018
  • Genre: Action, Drama
  • Produksi: Pure Flix Productions, Boomtown Films
  • Sutradara: Bruce Macdonald
  • Pemeran: Taylor James, Billy Zane, Caitlin Leahy

Pada tahun 1170 SM, bangsa Israel sedang dibawah penjajahan bangsa Filistin karena mengingkari perjanjian Tuhan.

Dari mereka lahirlah Samson yang diramalkan akan menjadi penyelamat bangsa. Namun hingga beranjak dewasa, Samson masih belum menyadari tugasnya dan hanya senang bermain teka-teki serta berkelahi saja.

Meski begitu, kabar ini telah sampai ke telinga Balek, Raja Filistin, yang menitahkan putranya untuk menyelidiki kebenaran kabar tersebut.

Rallah, putra sang raja, mengadakan sayembara berupa pertandingan yang digelar oleh penguasa setempat untuk memancing Samson keluar.

Akhirnya Samson pun hadir mengalahkan orang terkuat yang ada disana sambil memperhatikan Taren, putri sang penguasa.

Samson melacak keberadaan Taren dan membujuknya untuk pergi bersamanya. Namun, Pangeran Rallah justru memperbudak sang penguasa dan putrinya.

Samson dan Taren saling jatuh cinta dan ingin menikah. Delilah, selir sang pangeran, meyakinkan Rallah bahwa menikahkan mereka berdua adalah cara terbaik untuk mengontrol Samson.

Di pesta pernikahan, Rallah menipu Samson agar mau meminum anggur, yang merupakan larangan baginya. Samson kemudian memberikan teka-teki kepada Rallah dengan taruhan 30 tunik Filistin.

Tak mampu menjawabnya, Rallah memaksa Taren untuk mendapatkan jawabannya dari Samson. Delilah yang menguping pembicaraan mereka mendengar jawabannya dan memberitahu Rallah.

Saat Rallah menjawabnya dengan benar, Samson kecewa kepada Taren yang dituduh membocorkan jawabannya kepada Rallah dan pergi. Samson bertarung dan membunuh pasukan Filistin yang ada di hadapannya untuk membela diri, akibtanya dia melanggar larangan lagi.

Samson mengumpulkan 30 tunik dan kembali hanya untuk mendapati bahwa Rallah telah menikahi Taren menggantikan Samson. Murka, Samson membakar tempat itu dan ladang gandum milik bangsa Filistin.

Rallah melemparkan Taren dan ayahnya ke dalam api di tengah ladang yang kemudian membuat mereka tewas terbakar. Samson merasa kalah dan mengasingkan diri ke sebuah gua.

Bangsa Filistin memasuki desa Samson dan menangkap ayah Samson agar Samson mau menyerahkan diri. Meski Samson sudah menyerahkan diri, Rallah tetap membakar desa, membunuh ayah Samson, dan menitahkan untuk membunuh Samson juga.

Samson berdoa kepada Tuhan agar diberikan kekuatan dan dikabulkan, hingga bisa membunuh seribu tentara Filistin hanya dengan menggunakan sebilah tulang.

Samson diangkat sebagai pemimpin bangsanya dan beberapa tahun kemudian dia mengunjungi pusat pemerintahan Kerajaan Filistin untuk menawarkan perdamaian dengan Raja Balek yang menahan pasokan pangan bagi mereka.

Sang Raja menolak. Rallah mengutus Delilah untuk mencari tahu kelemahan Samson yang ditipu sehingga masuk ke rumah bordil.

Delilah memberi tahu bahwa hidup Samson dalam bahaya dan membantunya melarikan diri. Mereka berjanji akan bertemu di rumah Delilah.

Kemudian keduanya saling jatuh cinta. Kepergian Samson menimbulkan keributan di desa, dimana beberapa warga menghubungi Rallah untuk menangkap Samson. Caleb, saudara Samson, berusaha melindunginya.

Sementara itu, Samson dan Delilah ingin pergi dari Filistin dan keliling dunia. Delilah bertanya kepada Samson tentang kelemahannya yang dijawab oleh Samson adalah rambutnya.

Delilah membuat Samson pingsan dan memotong rambutnya, tepat di saat Rallah datang. Samson ditangkap dalam kondisi tidak berdaya. Caleb yang berusaha menolong, ikut ditangkap.

Samson dibawa ke hadapan Raja Balek. Rallah tidak setuju dengan perintah sang raja untuk membunuh Samson dan kemudian membunuh Raja Balek serta merebut kekuasaannya.

Delilah datang membawa uang untuk menebus Samson, tapi Samson justru meminta Delilah untuk menebus Caleb saja, karena Samson sudah memiliki rencana dari Tuhan.

Apakah rencana itu? Sanggupkah Samson membalaskan semua dendam atas penjajahan terhadap bangsanya?

Meski kita sudah tahu akhir dari kisah ini, tapi tetap saksikan terus film ini hingga selesai, karena nanti kita akan melihat perjuangan Samson akan diteruskan oleh seorang pemuda yang kelak akan menjadi raja bangsa Israel, Daud.

Serpihan Kisah Perjuangan Bangsa Israel

Serpihan Kisah Perjuangan Bangsa Israel

Dalam Alkitab, Samson dikisahkan adalah Hakim terakhir bagi bangsa Israel sepeninggal Nabi Musa sebelum kedatangan Nabi Daud yang kelak akan membawa bangsa Israel menjadi sebuah kerajaan yang besar.

Diceritakan memiliki tubuh yang sangat kuat, Samson termasuk orang shaleh yang tidak pernah melanggar janjinya untuk tidak meminum anggur, membunuh orang dan memotong rambutnya.

Sering dianggap legenda atau mitos belaka yang sering disamakan dengan sosok Hercules, Samson adalah sosok nyata yang pernah hidup di masa bangsa Israel sedang berada dibawah jajahan bangsa Filistin.

Di film berdurasi 1 jam 50 menit ini, dicantumkan perkiraan tahun terjadinya kisah Samson ini, yaitu sekitar tahun 1170 SM.

Efek Bujet Produksi yang Minim

Efek Bujet Produksi yang Minim

Untuk memerankan Samson, haruslah dipilih aktor yang bertubuh besar dan kuat, dan sosok Taylor James cukup pantas untuk memerankannya.

Hanya saja, aktingnya tidak terlalu istimewa dan tidak bisa menyampaikan dengan baik apa yang ada di dalam pikiran karakternya dalam mengemban misi suci dari Tuhan.

Tidak hanya Taylor James saja yang tampil dalam performa di bawah standar, nyaris semua pemeran tidak tampil maksimal dan kaku dalam berakting.

Caitlin Leahy tidak bisa membuat kita terpesona dengan rayuan khas Delilah yang membius, sedangkan Jackson Rathbone yang tampil penuh amarah awalnya terlihat meyakinkan tapi lama kelamaan menjadi menyebalkan sebagai Pangeran Rallah.

Aktor senior Rutger Hauer sebagai Manoah, ayah Samson, tampil sedikit lebih baik dibanding yang lainnya, tapi sayangnya dia tidak mendapat porsi adegan yang cukup.

Dan yang paling mengejutkan adalah penampilan Billy Zane sebagai Raja Balek, dimana akting eksentriknya bisa mengingatkan kita kepada Marlon Brando di film Apocalypse Now (1979).

Di sepanjang film, terlihat jelas bahwa film ini diproduksi dengan biaya yang minim. Melakukan syuting sepenuhnya di Afrika Selatan, khususnya di Cape Town dan Stellenbosch, tim produksi sepertinya tidak begitu memperhatikan secara detail, contohnya adalah janggut palsu yang dikenakan beberapa aktornya terlihat sangat tidak meyakinkan.

Kisah Familiar yang Dibuat Kurang Menggigit

Kisah Familiar yang Dibuat Kurang Menggigit

Pure Flix selama ini memang dikenal sebagai studio film yang memproduksi film-film drama dengan tema religi. Namun baru kali ini mereka menggarap film dengan konsep kolosal, tidak drama modern yang sederhana seperti biasanya.

Mengangkat sebuah kisah populer dari Alkitab adalah pilihan yang tepat, sayangnya terlalu banyak kekurangan yang mereka tampilkan.

Jalan ceritanya sudah pasti tidak akan bisa diubah, karena mereka sangat berkomitmen untuk setia kepada kisah aslinya dari Alkitab.

Hanya saja eksekusi di layar, dengan tempo yang lambat, performa akting yang lemah, desain produksi seadanya, hingga adegan action yang tidak mengesankan, membuat film dengan sinematografi yang tidak istimewa ini tampil kurang menggigit.

Jika dibandingkan dengan versi klasik karya Cecil B. DeMille produksi tahun 1949, film ini sangat jauh berada di bawah level film tersebut.

Cenderung membosankan, kita dibuat kecewa dan lebih baik menonton film versi tahun 1949 yang memiliki sosok Delilah dengan pesona yang menyihir pada diri Hedy Lamarr yang sangat cantik. Jadi kita pun paham, mengapa Samson rela membuka kelemahannya.

Dengan segala kekurangan yang terlihat, Samson bukanlah sebuah film drama religius dengan kualitas yang baik. Bahkan nyaris saja pesan agama dan moralnya tidak tersampaikan karena sudah dibikin bosan dengan penampilan yang datar.

Jika hanya ingin mengisi waktu luang sekaligus membasahi hati dengan siraman rohani yang ringan, mungkin film ini bisa menjadi pilihan untuk ditonton. Selamat menyaksikan!

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram