bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film Drama Kriminal Monster (2021)

Ditulis oleh Dhany Wahyudi - Diperbaharui 11 September 2021

Seorang remaja penyuka film yang cerdas dari Harlem merasakan dunianya runtuh ketika dia dituduh melakukan pembunuhan lewat pertarungan dramatis di meja hijau yang sangat rumit. Monster adalah original film Netflix yang dirilis pada 7 Mei 2021 setelah sebelumnya ditayangkan perdana di Sundance Film Festival pada 22 Januari 2018 silam.

Merupakan adaptasi dari novel karya Walter Dean Myers yang terbit pada tahun 1999, tiga penulis naskah, yang salah satunya adalah Radha Blank, menyusun jalan ceritanya dengan alur non-linear dimana ditampilkan beberapa adegan flashback di sela-sela persidangan.

Apakah film ini akan menampilkan ketegangan tensi khas film bertema persidangan? Simak review kami berikut sebelum menontonnya.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun: 2021
  • Genre: Crime, Drama
  • Produksi: BRON Studios, Tonik Productions, Charlevoix Entertainment, Get Lifted Film Company
  • Sutradara: Anthony Mandler
  • Pemeran: Kelvin Harrison, Jennifer Ehle, Jeffrey Wright, Jennifer Hudson

Steve Harmon adalah remaja yang cerdas dan sangat menyukai film. Seketika hidupnya berubah menjadi kelam saat dia ditangkap atas tuduhan pembunuhan terhadap pemilik kios.

Di dalam penjara, dia merasa ketakutan karena tekanan dari tahanan lain juga karena rasa bersalah atas kejadian di kios tersebut. Steve akan menghadapi rangkaian persidangan setelah setahun dalam penjara diwakili oleh Maureen O’Brien.

Persidangan dimulai dengan menampilkan bukti-bukti forensik dari TKP dan beberapa saksi yang tidak sama sekali meringankan tuduhan pembunuhan atas Steve. Ditambah lagi dengan ketegasan tuduhan “monster” kepadanya dan terdakwa lain, James King, oleh jaksa penuntut Anthony Petrocelli menambah kesan negatif di depan para juri.

Petrocelli memanggil salah satu rekan mereka dalam kejadian itu, Osvaldo Cruz, sebagai saksi yang menyatakan bahwa Steve adalah pengintai yang memberikan isyarat kepada King dan Bobo untuk beraksi. Cruz sendiri tidak dihukum karena telah bersedia menjadi saksi. Dia berkata hanya ikut rencana mereka karena rasa takutnya kepada Bobo.

Di sela-sela masa persidangan, Steve mendapat kunjungan dari ayahnya yang mendukungnya meski sedikit kecewa karena Steve terlibat dalam kasus ini. Ahli forensik dan detektif dipanggil sebagai saksi, tetapi masih tidak ada celah bagi O’Brien untuk melepaskan Steve dari jerat dakwaan. Bobo dimajukan sebagai saksi yang membuat King marah karena merasa dikhianati.

Bobo menyatakan jika Steve adalah anak buah King yang tidak ada hubungan dengannya dan ditugaskan sebagai pemberi sinyal sebelum mereka melakukan aksi perampokan. George Sawicki, guru Steve di sekolah, maju sebagai saksi dan menyatakan bahwa Steve adalah anak yang baik dan cerdas yang gemilang dalam pendidikannya di SMA terbaik di kota New York itu.

Meski sempat tersudut oleh ucapan-ucapan Petrocelli, Sawicki tetap bisa mempertahankan argumennya bahwa dia tidak yakin Steve terlibat dalam kasus ini, apalagi membantu kedua pelaku dalam beraksi. Setidaknya pandangan juri kepada Steve agak sedikit berubah karenanya. O’Brien mendesak Steve untuk bersaksi dan menceritakan peristiwa yang sebenarnya.

Akhirnya di persidangan berikutnya Steve bersaksi bahwa dirinya masuk ke kios itu untuk membeli minuman karena haus dan panas, bukan untuk menyelidiki situasi kios dan memberi sinyal kepada King dan Bobo. Meski didesak oleh Petrocelli, Steve tidak bergeming. Di jadwal persidangan berikutnya, juri akan memberikan hasil pandangan mereka terhadap kedua terdakwa.

Di hari penentuan, King dinyatakan bersalah dan ditahan di dalam penjara. Sedangkan Steve dinyatakan tidak bersalah yang disambut suka cita oleh ayah dan ibunya serta orang-orang yang mendukungnya, termasuk guru sekolahnya.

Di epilog, diperlihatkan bahwa Steve bertemu dengan King dan Bobo yang menyuruhnya untuk mengintai kios dan memberikan isyarat jika keadaan aman. Steve terpaksa masuk ke kios dan membeli minuman, karena sepedanya ditahan oleh mereka berdua dan di ujung jalan diawasi oleh Cruz. Setelah keluar kios, Steve menggerakkan tangannya ke arah matahari seolah sedang mengarahkan kamera film.

Deretan Cast Mentereng yang Tersia-siakan

Deretan Cast Mentereng yang Tersia-siakan

Hal pertama yang mencolok dari film Monster ini ialah deretan aktor dan aktris yang berperan di dalamnya. Nyaris seluruh karakternya disesaki oleh para bintang, yang uniknya, lebih sukses setelah berperan di film ini. Mengingat film ini tertunda selama tiga tahun membuat kita seperti berada di kapsul waktu ketika melihat akting mereka dalam film yang baru dirilis ini.

Kelvin Harrison, Jr. yang bermain paling apik di film ini kemudian tampil lebih cemerlang lagi dalam film-film setelahnya, seperti di film Luce (2019) dan Waves (2019). Harrison membawakan karakter Steven yang cerdas dengan baik, apalagi ketika dia merasa khawatir di dalam penjara dan selama persidangan berlangsung. Terlihat sekali kecemasan itu di dalam matanya.

Dua aktor lain yang juga memiliki karir lebih baik setelah film dengan durasi 1 jam 38 menit ini ialah Jharrel Jerome yang tampil baik di dua original film Netflix, First Match (2018) dan Concrete Cowboy (2020), dan miniseri Netflix When They See Us (2019). Tapi sayangnya, perannya sebagai Osvaldo Cruz disini tidak tergali dengan baik dan hanya tampil dalam dua adegan saja.

Sedangkan John David Washington memiliki filmography yang lebih mentereng lagi lewat film sukses BlacKkKlansman (2018) dan Tenet (2020). Sama seperti Jerome, penampilannya sebagai Bobo tidak maksimal dan terkesan menyia-nyiakan talenta aktingnya saja dengan karakter yang tidak banyak menampilkan dialog dan emosi.

Sementara itu, aktor dan aktris senior, seperti Jeffrey Wright, Jennifer Ehle, Tim Blake Nelson dan Jennifer Hudson tampil secukupnya karena karakter mereka hanyalah pelengkap cerita saja. Khusus untuk Ehle, dia berhasil mencuri perhatian di setiap adegan yang menampilkan dirinya dalam situasi persidangan sebagai pengacara yang kokoh dan tegas dalam membela kliennya.

Dan sepertinya tim kasting tidak jeli dalam memilih Hudson sebagai ibu dari Harrison, karena jarak usia mereka hanya 13 tahun saja sehingga terlihat sedikit timpang ketika Hudson memerankan sosok ibu yang memiliki anak remaja, ditambah aktingnya yang terkesan biasa saja seolah-olah menyia-nyiakan titelnya sebagai aktris peraih Oscar.

Alur Non-Linear yang Tampil Acak

Alur Non-Linear yang Tampil Acak

Naskah yang ditulis oleh trio Radha Blank (yang kemudian sukses dengan film The 40-Year-Old Version), Cole Wiley dan Janece Shaffer sepertinya tetap setia dengan alur non-linear yang disuguhkan di dalam novelnya.

Hanya ada sedikit perbedaan kronologi saksi persidangan dimana Steven menjadi saksi terakhir, sedangkan di dalam novel justru pak guru Sawicki yang menjadi saksi terakhir. Dengan banyaknya flashback yang ditampilkan tidak sesuai kronologis, kita mungkin akan dibuat berpikir lebih untuk menyusunnya di dalam benak kita, seolah bermain puzzle.

Belum lagi ditambah dengan berbagai macam kesaksian yang berbeda, meski tipis-tipis saja, seperti ingin meniru plot film klasik Jepang Rashomon (1950) yang menjadi salah satu film referensi di dalam kelas yang diampu pak Sawicki.

Rasanya terlalu berat jika ingin menyamakannya dengan plot Rashomon atau Hero (2002) yang memang sangat membingungkan, puzzle yang akan kita susun lewat cerita di film ini terbilang ringan, seolah seperti membuka satu persatu kabut dari peta yang belum terbuka dalam game real time strategy saja yang di akhir film ditampilkan kesimpulannya secara menyeluruh. Jadi tidak akan meninggalkan tanda tanya lagi.

Sinematografi Khas Video Klip

Sinematografi Khas Video Klip

Monster adalah film debut penyutradaraan Anthony Mandler setelah sebelumnya dia gagal menyutradarai film Tokyo Vice yang tidak jadi diproduksi. Mandler dikenal sebagai sutradara video klip dari banyak penyanyi dan band terkenal, seperti Rihanna, The Killers, Black Eyed Peas, dan masih banyak lagi yang sudah dijalaninya sejak tahun 2000.

Mandler menyajikan permainan warna yang baik sesuai dengan situasi adegannya, warna abu-abu membuat nuansa suram pada seting masa kini dan warna yang lebih ceria ditampilkan di banyak adegan flashback yang menggambarkan rasa riang dari sebuah kebebasan remaja dalam diri Steven sebelum peristiwa perampokan terjadi.

Disini terlihat kehandalannya sebagai veteran sutradara video klip. Alur non-linear yang ditampilkan di film Monster ini memang tidak seberat film dengan alur serupa lainnya, apalagi dibuat satu adegan sebagai kesimpulan akhir, sehingga kita tidak akan terlalu berat juga dalam berpikir.

Selain itu, adegan persidangan yang biasanya penuh ketegangan baru mulai naik tensinya menjelang akhir film, sebelumnya di setengah awal film hanya tampil sepintas dalam potongan adegan. Faktor penentu kualitas film ini ialah performa akting Kelvin Harrison, Jr. yang mampu membuat film ini tampil berbobot dengan emosi terpendam dari karakternya.

Sebagai salah satu film lulusan Sundance Film Festival yang biasanya menyuguhkan film dengan tone berbeda, rasanya tidak rugi untuk menontonnya. Langsung ditonton aja ya filmnya!

Monster
Rating: 
3/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram