Sinopsis dan Review Film Netflix Malcolm & Marie (2021)

Ditulis oleh Dhany Wahyudi
Malcolm & Marie
3
/5
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Ikatan cinta seorang sutradara film dan kekasihnya diuji  setelah mereka pulang ke rumah dari penayangan perdana filmnya dan menunggu ulasan dari kritikus. Malcolm & Marie adalah original film Netflix yang hanya dibintangi oleh John David Washington dan Zendaya yang diarahkan oleh Sam Levinson dimana mereka bertiga juga bertindak sebagai produser film yang dirilis pada 5 Februari 2021 ini.

Film ini menjadi film Hollywood pertama yang ditulis dan diproduksi saat pandemi COVID-19 melanda Amerika. Bahkan lokasi syutingnya pun dirahasiakan selama proses produksi sehingga tidak menimbulkan banyak pemberitaan. Tapi kemudian diketahui jika film ini melakukan syuting di kawasan pantai California, Carmel-by-the-Sea.

Film ini ditampilkan dalam presentasi tanpa warna alias hitam-putih yang langsung menciptakan nuansa kelam dan suram. Bagaimana performa film sederhana ini? Simak review kami berikut ini.

Sinopsis

YouTube video

Malcolm, seorang sutradara film, baru saja pulang dari penayangan perdana film terbarunya bersama kekasihnya, Marie. Saat dia berdansa sendiri, Marie membuatkannya makanan. Malcolm melihat ada raut kemarahan di wajah Marie, tapi Marie mencoba menyembunyikannya dan ingin membahasnya di keesokan hari saja.

Tapi Malcolm bersikeras ingin tahu, lalu Marie meluapkan kekecewaannya selama acara yang baru saja mereka hadiri, terutama karena Malcolm tidak menyebutkan nama Marie dalam ucapan “terima kasih”-nya saat berada di podium. Marie merasa kesuksesan film itu berdasarkan kisah hidupnya yang dituangkan ke dalam naskah dan film oleh Malcolm.

Tapi Malcolm menampiknya dengan tidak kalah keras pula. Dia membuka semua pengalaman masa lalunya dengan beberapa wanita yang bagian cerita bersama mereka menjadi inspirasi karakter utama filmnya. Perdebatan semakin melebar dengan emosi yang semakin memuncak. Tetapi tensi kemudian menjadi turun setelah Malcolm membaca ulasan tentang filmnya dari seorang kritikus.

Marie memberikan motivasi selagi Malcolm marah-marah tidak karuan ketika membaca ulasan itu dan mencaci-maki penulisnya yang dianggapnya tidak tahu-menahu tentang dunia sinema yang sangat dikuasainya. Padahal ulasan itu bernada positif. Suasana romantis kembali tercipta seiring obrolan positif di antara mereka berdua. Bahkan mereka tertawa bersama.

Tetapi itu tidak lama. Sesaat kemudian Marie meluapkan rasa kecewa lainnya, yaitu perihal kenapa Malcolm tidak memilihnya sebagai aktris utama film itu. Mereka memiliki argumentasi masing-masing yang kuat yang membuat perdebatan kembali panas bahkan mereka saling berteriak dan meninggikan suara. Lalu Marie mengambil pisau di dapur dan mulai bertingkah aneh, sepeti psikopat.

Tentu saja Malcolm kaget dan tegang ketika Marie berceloteh tentang hal-hal yang tidak diketahui oleh Malcolm selama ini tentang dirinya. Disaat Malcolm semakin ketakutan, Marie menyudahi tingkahnya yang ternyata adalah akting belaka untuk menunjukkan kemampuan aktingnya. Malcolm kemudian meminta maaf dan mencurahkan isi hatinya. Dan emosi mereda saat mereka menerima satu sama lain.

Sederhana tapi Sarat Makna

Sederhana tapi Sarat Makna

Malcolm & Marie adalah film yang sederhana. Sesuai judulnya, pemerannya hanya dua orang saja dimana mereka berdua mendapat porsi waktu yang setara untuk menampilkan performa akting mereka. Lokasinya pun hanya di satu tempat saja yaitu di sebuah rumah mewah berinterior modern dengan pekarangan yang luas. Seting waktunya juga sesuai dengan durasi film.

Meski terkesan minimalis, tapi film seperti ini membutuhkan kekuatan naskah dan akting yang kuat dari para bintangnya. Dan untungnya, John David Washington dan Zendaya berhasil tampil dalam kualitas yang baik. Untuk naskahnya sendiri, di 30 menit awal kita akan dibuat sangat terikat dengan apa yang mereka luapkan lewat perdebatan yang sangat cepat dan keras.

Tapi sayangnya, masalah yang diutarakan sebenarnya tidak beranjak dari situ, hanya berputar dan melebar untuk kembali ke topik di awal. Padahal kita tentunya mengharapkan klimaks emosi di antara mereka berada pada topik yang belum diungkapkan yang membuat titik didih perdebatan berada pada batas maksimal. Tapi ternyata bukan begitu yang terjadi.

Penuh dengan Monolog

Penuh dengan Monolog

Film yang diisi hanya oleh dua pemeran saja mengingatkan kita dengan trilogi Before dengan Ethan Hawke dan Julie Delpy. Mau tidak mau, Malcolm & Marie, meski berbeda tema, pasti akan dibandingkan dengan ketiga film tersebut. Seting cerita seperti ini membutuhkan banyak hal untuk dijadikan bahan obrolan dan dialog sepanjang durasi film, ditambah dengan topik utama antara mereka tentunya.

Karena film ini menceritakan ungkapan rasa kecewa, maka dialog yang dimunculkan pun lebih banyak bernada penuh emosi. Perasaan tidak nyaman dan kerapuhan Marie ditimpali dengan sikap egois dan narsis dari Malcolm. Dengan sifat yang dimiliki keduanya ini, sudah pasti akan menghadirkan masalah panjang yang tidak akan berakhir jika tidak ada dari salah satunya yang mengalah.

Meski terkesan rapuh, justru di sepanjang film Marie berhasil membuat Malcolm diam berkali-kali, tapi kemudian Malcolm bisa membalasnya hanya untuk dibuat diam lagi oleh Marie. Sifat narsis dan egois Malcolm yang tampil saat di acara dengan tidak mengucapkan “terima kasih”-nya untuk Marie membuatnya selalu bisa membalas, meski beberapa kali dalam kalimat yang tidak masuk akal.

1 2»
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram