bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Looks That Kill, Muka Tampan yang Membunuh

Dikaruniai sebuah muka super rupawan sudah pasti jadi dambaan banyak orang ya? Meski tidak semua menjadi sukses, setidaknya dengan muka yang oke, masa depan juga jadi ikut oke. Entah berakhir jadi model, aktor atau aktris dan pekerjaan lainnya yang memang mengandalkan wajah super mulus.

Tapi semua hal tersebut tidak bisa dinikmati oleh seorang remaja pria. Meski dia terlahir dengan muka aduhai, nyatanya tidak semulus apa yang dikata orang. Saking tampannya, muka remaja lelaki ini bisa membunuh siapapun yang melihat secara langsung; menjadikan dirinya sebagai ‘mesin’ pembunuh untuk banyak orang sehingga dikucilkan.

Sinopsis

Looks That Kill_Poster (Copy)

Max (Brandon Flynn) merupakan seorang remaja berumur 16 tahun yang sedang dalam masa pertumbuhan, pencarian jati diri dan perkembangan ilmu. Di saat remaja seusianya bersekolah, bergaul dan bermain bersama rekan-rekan sebaya, Max malah harus menghabiskan hampir seluruh waktunya di dalam rumah bersama Ayah dan Ibunya saja.

Kegiatan Max hanya terbatas sampai di halaman depan rumah, tidak ada yang bisa ia lakukan dengan bebas. Max sedih karena tidak bisa menjadi normal.

Bukan tanpa sebab Max mengalami hal seperti itu. Sejak ia lahir, keanehan mulai terjadi; begitu Max lahir ke dunia, ketiga dokter dan suster yang saat itu bertugas untuk persalinan lantas takjub akan muka Max saat bayi. Tak lama kemudian, ketiga petugas kesehatan tersebut tumbang dan meninggal bersamaan membuat Aya dan Ibu Max kebingungan.

Semenjak Max menjadi remaja, banyak hal buruk yang terjadi; kematian banyak orang semakin meningkat. Ini membuat orang tua Max akhirnya berusaha untuk pindah ke tempat tinggal di wilayah yang memiliki jumlah penduduk sedikit. Selain lebih aman, Max juga bisa leluasa keluar rumah tanpa harus dilihat banyak orang yang lalu lalang.

Di tempat baru itu ia memiliki teman dekat bernama Dan (Ki Hong Lee) yang selalu ada untuk Max. Ayah dan Ibu Max pun sudah menganggap Dan sebagai anak mereka. 

Max dan Dan selalu bersama, mulai dari menghabiskan waktu hingga menghabiskan akhir pekan bersama. Beruntung Dan adalah teman yang baik, ia mengerti tentang kondisi Max, ini yang membuat Max nyaman berada di dekatnya. Satu kali saat hari Valentine tiba, Dan mengajak Max untuk kencan buta karena Dan ingin Max bisa mendapatkan teman wanita untuk berkencan.

Apa yang terjadi berikutnya adalah rasa malu dan sakit hati. Dan yang meninggalkan Max untuk bisa berbicara dengan seorang gadis cantik bernama Erica malah membuat Max jadi bahan rundungan beberapa orang jahil. Tak hanya jadi bahan rundungan, Erica pun tidak mau lagi bertemu dengan Max karena menganggap Max aneh, pria dengan perban di seluruh muka.

Merasa tidak akan ada yang bisa mengerti dan paham akan perasaan Max, Max akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Ia merasa apa yang ia dapatkan di hidupnya hanyalah kutukan. Ia bahkan merasa seperti monster.

Semua tetangganya tidak ada yang mau berteman dengannya. Bahkan tukang listrik sekalipun ketakutan untuk membenahi instalasi listrik untuk penghangat di rumah mereka karena mendengar kabar tentang Max yang mampu membunuh hanya dalam sekali lihat.

Begitu akan terjun dari jembatan, seorang gadis manis menghampiri Max, ia adalah Alex (Julia Goldani Telles). Alex bertanya alasan Max ingin bunuh diri. Max akhirnya terdistraksi, ia pun mengurungkan niatnya untuk mengakhiri hidupnya setelah berbicara dengan Alex yang ia anggap sebagai penyelamatnya. Alex lantas mengajak Max untuk pergi dengannya guna menghibur diri. Max dibawa ke sebuah rumah panti dimana Alex bekerja secara sukarela.

Di rumah panti, Max dikenalkan dengan seorang wanita tua renta yang adalah penulis populer pada masanya bernama Esther (Priscilla Lopez) yang mengidap alzheimer dan juga teman baik Esther, Rosemary (Susan Berger). Saat para wanita tua itu melihat Max, mereka tidak mempermasalahkan bagaimana rupanya yang terbungkus perban. Ini membuat Max menjadi nyaman dan bisa jadi dirinya sendiri.

Hubungan Max dan Alex jadi semakin dekat. Max merasa nyaman dekat dengan Alex yang bisa menerima dan tidak peduli bagaimana ‘buruk’ dan terkutuknya Max bagi orang-orang disekitarnya, ia sama seperti orang tua dan teman dekatnya, Dan. Meski awalnya canggung namun kelamaan Max dan Alex akhirnya memiliki perasaan satu sama lain. Max jadi suka menghabiskan waktu dengan Alex.

Satu waktu Max mengetahui tentang keadaan Alex sebenarnya. Alex mengalami kelainan jantung dimana organ vitalnya itu akan mengembang apabila Alex terlalu senang dan sedih membuat Alex tidak bisa mengungkapkan kebahagiaan dan melampiaskan emosinya (Sekilas mirip sekali dengan film The Fault in Our Stars).

Namun demikian, Max tidak mempedulikannya; sama seperti Alex tidak mempedulikan rupa Max yang seperti frankenstein. Ia malah mengajak Alex untuk pesta dansa prom di sekolah Dan. (Max tidak bersekolah mengingat kutukan yang ada padanya, ia homeschooling bersama Ibunya)

Baca Juga: Sinopsis & Review Film The Fault in Our Stars

Saat pesta dansa, seorang anak bengis merundung Max dan ingin membuktikan apakah kutukan yang dibicarakan orang-orang benar adanya, ia sengaja membuka perban Max yang akhirnya membuat seorang siswi sekolah itu tewas setelah melihatnya. Disaat yang sama penyakit Alex kambuh membuat ia dilarikan ke rumah sakit ketika Max dan yang lainnya dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.

Hubungan Max dan Alex kian longgar. Max mencoba banyak cara untuk bisa bertemu dengan Alex lagi. Ia terakhir bertemu dengan Alex saat di rumah panti ketika Rosemary meninggal atas permintaannya sendiri dengan cara melihat muka Max dan di pesta prom ketika Alex kambuh dan ia ditangkap.

Setelah mencari keberadaan Alex, akhirnya ia mendapat kabar kalau Alex dirawat di rumah sakit setelah ia menolak pengobatan karena keadaannya yang semakin parah.

Max dan Alex berdebat hebat ketika Alex meminta untuk Max memperlihatkan wajahnya supaya Alex meninggal karena ia tidak sanggup lagi untuk menahan sakit. Setelah berhasil dibujuk, Max menunjukan wajah tampannya namun tidak terjadi apa-apa, Alex justru meninggal jauh setelah Max membuka perban. Akhirnya Max tahu kalau kutukannya tidak bekerja pada orang-orang yang menyayanginya tanpa syarat seperti orang tua Max dan Dan juga Alex.

Kepergian Alex membuat Max sadar bahwa dirinya bukanlah orang yang terkutuk. Ia akhirnya menjadi ‘malaikat maut’ yang mengabulkan permintaan euthanasia bagi orang-orang yang memintanya. Film berakhir ketika anak bengis yang sempat menganggunya datang meminta maaf namun harus tewas ketika melihat Max yang membuka pintu rumahnya tanpa perban.

Plot Mengejutkan

Looks That Kill_Plot (Copy)

Melihat dari posternya, film ini pasti mengingatkan kita dengan film-film komedi remaja seperti I Love You Beth Cooper atau Miss March yang mengisahkan seorang pria bisa jadi begitu bodoh kalau sudah kepincut namanya cinta. Namun begitu menonton filmnya, plot yang disuguhkan cukup mengejutkan. Alih-alih drama boring tentang cinta monyet remaja yang kelewat unyu, film ini menyuguhkan cerita lain.

Seorang pria super rupawan namun tidak bisa menunjukkannya pada semua orang mengingat siapapun yang melihat wajahnya akan tewas mendadak. I mean, who’s the one that comes up with ideas? Ide cerita yang dibawakan oleh Kellen Moore sukses membuat film ini lumayan ‘fresh’.

Tak hanya cerita bagaimana sang tokoh menderita akibat rupanya tersebut, cerita juga mengingatkan kita bahwa cinta tak bersyarat benar-benar ada dan tidak selamanya hal buruk selalu membawa petaka. 

Kurangnya Penjelasan

Looks That Kill_Explanation (Copy)

Selama menonton film ini, sang sutradara benar-benar membuat muka sang tokoh utama tidak bisa terlihat. Kita hanya bisa melihat sekilas saja mata dari Max yang super manis. Itu saja. Dari awal hingga akhir film kita tidak diperbolehkan untuk melihat wajah Max secara full; ya mungkin untuk tetap membuat karakter Max tetap misterius dan kita tidak ikut ‘tewas’ juga akibat melihat rupa tokoh protagonis tersebut.

Film berdurasi satu jam setengah ini pun tidak menjelaskan kenapa dan bagaimana Max bisa memiliki wajah yang tampan nan mematikan itu. Padahal yakin sekali akan banyak penonton juga ingin tahu alasan juga sumber dari segala ‘kutukan’ tersebut. Sayang sekali ya? Padahal film ini lumayan bagus dan juga punya banyak pesan yang seharusnya bisa membuat film ini jadi terasa lengkap dengan adanya ya penjelasan tersebut.

An Angel of Death

Looks That Kill_Angel of Death (Copy)

Menjadi malaikat maut merupakan langkah terakhir paling bagus yang bisa Max lakukan. Ide ini datang dari Alex yang sebelumnya meminta dirinya untuk menolong Rosemary yang kesakitan akibat penyakit yang dideritanya. Rosemary yang sudah renta tidak bisa lagi ‘bangun’ dalam keadaan semula, ia sudah harus ditopang oleh banyak alat supaya tetap hidup dan Alex yakin itu malah menyiksanya. 

Berangkat dari hal itu lah Max menggunakan kekurangannya untuk membantu sesama. Thanks to Alex yang meyakinkan bahwa ada alasan mengapa Max dijadikan seperti itu dan Max hanya perlu tahu bagaimana membuat kekurangannya jadi sebuah kelebihan. Overall, film ini bisa banget jadi salah satu rekomendasi film untuk kalian saksikan akhir pekan ini. Bacaterus memberi skor 3.2/5 untuk film Looks That Kill.

Looks That Kill
Rating: 
3.2/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram