bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Film Komedi Romantis Long Shot (2019)

Hubungan cinta yang dijalani oleh sepasang kekasih memerlukan perjuangan agar bisa tetap berjalan. Komunikasi dan kompromi perlu dijalin dengan baik sebagaimana hubungan melibatkan dua orang yang tentu memiliki perbedaan.

Beberapa perbedaan yang paling mencolok adalah latar belakang, sifat, gaya hidup sampai mimpi yang ingin dicapai. Perbedaan-perbedaan secara personal antar sepasang kekasih apabila nggak bisa disatukan dapat membuat hubungan menjadi hancur.

Maka dari itu, banyak orang mencari pasangan yang nggak berbeda terlalu jauh dengan dirinya. Tapi hal itu nggak berlaku dalam film Long Shot yang menceritakan dua orang dari dunia berbeda. Yuk, bahas lebih lanjut dalam sinopsis dan review filmnya.

Baca juga: 20 Film Komedi Romantis Terbaik Sepanjang Masa

Sinopsis

Sinopsis

Charlotte Field adalah seorang perempuan yang berkedudukan sebagai Sekretaris Negara. Presiden Amerika, Chambers yang dulunya adalah aktor, memutuskan nggak akan maju lagi dalam pemilihan presiden yang akan datang.

Dia akan lebih memfokuskan energinya untuk membuat film. Dengan begitu, Charlotte didorong untuk mencalonkan diri menjadi calon presiden.

Fred Flarsky adalah seorang jurnalis yang tinggal di New York. Media tempatnya bekerja baru saja dibeli oleh Parker Wembley. Parker berniat mengubah cara bekerja media yang dimilikinya menjadi nggak terlalu lantang bersuara.

Fred merasa hal itu berlawanan dengan ideologinya. Dia pun memutuskan untuk mundur. Setelah mundur, Fred kesulitan mendapat pekerjaan.

Merasa frustasi, Fred menemui sahabatnya, Lance. Lance yang sudah mapan mengajak Fred untuk hadir di acara penggalangan dana dengan Boyz II Men sebagai bintang tamunya. Fred dan Lance pun datang ke acara tersebut. Di sana, Fred bertemu dengan Charlotte dan keduanya saling mengenal.

Dulu, Charlotte bekerja sebagai pengasuh Fred untuk menambah uang jajan. Fred menyukai Charlotte dari dulu tapi nggak pernah mendekati apalagi mengungkapkan perasaan.

Ketika sedang asyik berbincang bersama Fred, Charlotte ditemui oleh Wembley yang akan menggelar rapat bersama Charlotte. Fred yang mengenali Wembley, langsung mencaci maki Wembley kemudian mencoba keluar dari tempat acara penggalangan dana berlangsung.

Fred yang tadinya terlihat gagah harus menanggung malu karena terjatuh dari tangga dan disaksikan orang-orang. Untuk mendapatkan lebih banyak suara, Charlotte diminta untuk menyuarakan isu-isu penting dengan pendekatan a la anak muda.

Charlotte membaca artikel-artikel buatan Fred dan merasa Fred bisa menjadi orang yang tepat untuk menuliskan pidatonya. Ide Charlotte sempat ditentang oleh Maggie, kepala staff pencalonan Charlotte, yang merasa cara Fred beropini terlalu brutal.

Tawaran untuk menjadi penulis pidato Charlotte sampai ke Fred. Fred yang menemui Charlotte, merasa Charlotte nggak punya komitmen yang sama dengan dirinya dalam hal mengangkat isu-isu yang ada.

Merasa nggak punya pekerjaan yang lain, Fred memilih untuk menerima tawaran dari Charlotte. Keduanya pun mulai sering menghabiskan waktu untuk berdiskusi.

Charlotte mendapat kesempatan untuk menyampaikan pidato dalam acara yang dihadiri berbagai kepala negara di dunia. Sebelum berpidato, Charlotte diminta untuk merevisi pidatonya karena akan menyinggung kepala-kepala negara yang banyak mengeksploitasi lingkungan.

Fred bersikeras enggan mengganti materi pidato Charlotte dan mengancam akan mengundurkan diri. Charlotte pun memutuskan untuk menggunakan materi yang ditulis oleh Fred dan mendapatkan sambutan hangat.

Maggie mengetahui bahwa Charlotte dan Fred berpacaran. Dia memperingatkan Charlotte bahwa masyarakat nggak akan menerima status mereka begitu saja, terlebih keduanya berada dari dua dunia yang berbeda.

Charlotte tertekan setelah Chambers didesak Wembley untuk mengubah janji kampanye Charlotte yang lebih ramah lingkungan. Akankah Charlotte berubah mengikuti tuntutan ataukah tetap memegang idealismenya sebagaimana yang didorong oleh Fred?

Mengangkat Isu Relevan

Mengangkat Isu Relevan

Long Shot bukan hanya mengeskplor percintaan Charlotte dan Fred, melainkan juga mengangkat isu yang relevan. Film ini dirilis tepat dua tahun setelah Trump diangkat sebagai Presiden Amerika yang disertai dengan banyaknya kontradiksi atas hal tersebut.

Terlebih rival Trump untuk menjadi kepala negara sekaligus pemerintahan itu juga merupakan wanita, persis seperti Charlotte.

Bukan hanya sosok Charlotte yang cukup relevan menjadi suara dari ketidakpuasan warga Amerika dalam dunia politik, tapi juga sosok Chambers dalam film.

Dia digambarkan nggak terlalu peduli pada isu-isu yang ada dan lebih banyak fokus menggunakan kamera demi membuat film. Begitu juga dengan cita-cita Charlotte yang menjaga lingkungan.

Film garapan sutradara Jonathan Levine ini secara berani menyelipkan unsur politik tapi dikemas dengan ringan dan menyenangkan. Kita nggak akan mengernyitkan dahi walau pertaruhan yang dilakoni Charlotte sangatlah besar. Untuk film bergenre romcom, keberanian ini menjadi daya tarik tersendiri.

Film dengan genre yang sama biasanya lebih terfokus untuk membuat dua pemerannya yang good looking bisa hidup bahagia.

Secara sinematografi, film ini banyak menggunakan mid shot untuk lebih banyak menangkap emosi para karakternya. Hal itu nggak menjadi kekurangan karena cukup pintar dalam menampilkan visualisasi Charlotte yang bekerja untuk pemerintah serta kehidupan biasa Fred.

Cara merekam sudut-sudut di Gedung Putih pun ditampilkan meyakinkan dengan membuat kamera menyoroti banyak ruangan serta interiornya yang megah.

Komedi Ala Seth Rogen

Komedi Ala Seth Rogen

Keberadaan nama Seth Rogen dalam film komedi akan langsung diasosiasikan dengan komedi-komedi yang liar. Hal yang sama pun terjadi di Long Shot.

Di awal film saja, diceritakan dia tengah menulis mengenai kelompok Neo-Nazi sehingga dia menyusup untuk berpura-pura menjadi anggota. Padahal karakter Fred memiliki keturunan Yahudi.

Selain candaan yang memiliki sangkut-paut dengan rasisme, komedi yang menampilkan pesta dan narkoba pun ada di film ini. Charlotte yang berpesta dan mengonsumsi narkoba dengan Fred merupakan representasi paling tepat dari komedi ala Rogen.

Walau terkesan berlebihan, tapi itu semua nggak membuat cerita keluar dari jalur. Seperti adegan ketika Charlotte harus dipaksa memilih keputusan penting sementara dirinya masih dalam pengaruh narkoba.

Penampilan Meyakinkan Charlize Theron

Penampilan Meyakinkan Charlize Theron

Dari segi pendalaman karakter, Long Shot berhasil memberi kesempatan pada Charlotte dan Fred untuk menjelaskan bagaimana keduanya berasal dari dua dunia berbeda. Charlotte bekerja di pemerintahan yang berarti citra, setiap ucapan dan tingkah lakunya akan berpengaruh pada suaranya.

Sedangkan Fred merupakan jurnalis yang kelewat brutal dalam menyampaikan opininya. Chemistry Rogen yang berperan sebagai Fred dan Charlize Theron sebagai Charlotte bisa terbina dengan unik.

Di awal, kita akan diberikan pemandangan bagaimana mereka begitu kikuk sebagaimana karakter mereka bertolak belakang. Tapi seiring dengan berjalannya cerita, kedunya bisa menampilkan chemistry selayaknya sepasang kekasih.

Apresiasi lebih layak diberikan pada Charlize Theron yang bisa tampil fleksibel. Di awal, kita akan diperlihatkan bagaimana dia mengikuti protokol pemerintahan yang mengharuskannya bersikap dengan baik.

Tapi ketika pacaran dengan Fred, Theron bisa menjadi Charlotte yang sebenarnya menyimpan bagian dari dirinya yang ingin bersenang-senang serta berpegang pada idealismenya.

Long Shot menjadi tontonan yang menghibur dengan kepiawaiannya mengemas romcom begitu menyenangkan tapi nggak klise. Durasi selama 124 menit mungkin terasa terlalu panjang tapi bukan masalah karena cerita di film ini relatif mudah untuk dicerna.

Ada penggemar Seth Rogen di sini? Coba tuliskan film terbaik Seth Rogen versi kamu di kolom komentar, teman-teman!

Long Shot
Rating: 
3.7/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram