Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Review Film Netflix Lean On Pete (2017)

Sinopsis dan Review Film Netflix Lean On Pete (2017)

Ditulis oleh - Diperbaharui 14 Oktober 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Seorang remaja mendapatkan pekerjaan di istal kuda dan berteman dengan kuda pacu bernama Lean on Pete yang mulai menua. Lean on Pete adalah film drama produksi Inggris tetapi mengambil lokasi cerita di Amerika, tepatnya di Portland dan Wyoming. Film ini disutradarai oleh Andrew Haigh dan merupakan adaptasi dari novel karya Willy Vlautin.

Lean on Pete dirilis secara limited di bioskop-bioskop wilayah Amerika Utara pada 6 April 2018 dan saat ini sudah bisa ditonton di layar Netflix. Sebelum menyimak film berdurasi 2 jam ini, ada baiknya simak ulasan kami terlebih dahulu untuk mengetahui apa saja kelebihan film yang pernah ditayangkan di Venice International Film Festival ini.

Sinopsis

Lean On Pete

  • Tahun: 2017
  • Genre: Drama
  • Produksi: The Bureau, Film4 Productions, British Film Council
  • Sutradara: Andrew Haigh
  • Pemeran: Charlie Plummer, Steve Buscemi, Travis Fimmel

Charley Thompson (Charlie Plummer) adalah remaja berusia 15 tahun yang tinggal bersama ayahnya setelah ditinggal pergi oleh ibunya sejak kecil. Mereka baru saja pindah ke Portland setelah sebelumnya tinggal di Spokane.

Ketika sedang jogging di sekitar pacuan kuda, Charley membantu Del Montgomery (Steve Buscemi) mengganti ban mobilnya. Setelah itu, Del mempekerjakan Charley sebagai asistennya.

Keseharian Charley diisi dengan merawat kuda-kuda asuhan Del di istal, memberi mereka makan, membersihkan kandang, dan juga ikut melatih mereka agar siap untuk mengikuti perlombaan. Charley menyukai seekor kuda bernama Lean on Pete yang sudah menua tetapi sebenarnya merupakan kuda pacu yang memiliki kecepatan dan daya tahan tubuh yang kuat.

Di suatu malam, ayahnya diserang oleh seseorang di dalam rumah yang membuatnya harus masuk rumah sakit karena luka pecahan kaca di sekujur tubuhnya. Selama tidak ada ayahnya, Charley tinggal di istal kuda.

Beberapa hari di rumah sakit, ayah Charley wafat karena infeksi serpihan kaca di perutnya yang luput diangkat saat operasi. Charley kabur saat akan dipanggilkan layanan keluarga oleh perawat.

Dalam sebuah perlombaan, Lean on Pete berhasil menjadi juara lomba. Tetapi ternyata, Del menggunakan cara-cara licik untuk menang yang sedikit demi sedikit diketahui oleh Charley, antara lain memberi doping dan menggunakan alat kejut agar bisa berlari cepat. Di perlombaan berikutnya, Lean on Pete kalah dan siap dijual oleh Del kepada orang lain.

Karena rasa sayangnya, Charley nekat membawa kabur mobil Del beserta Lean on Pete di dalamnya. Di perjalanan, uang Charley semakin menipis karena harus mengisi bensin. Dan ketika uangnya habis, Charley nekat untuk makan di sebuah resto kecil dan berusaha kabur setelahnya. Meski sempat ditahan oleh pegawai resto, pada akhirnya dia dibolehkan pergi atas dasar rasa kasihan.

Kemudian mobil mereka kehabisan bensin di tengah gurun yang membuat mereka berjalan melintasi gurun. Selama diperjalanan, Charley bercerita banyak tentang dirinya kepada Lean on Pete. Suatu hari, mereka menemukan rumah yang dihuni oleh dua orang mantan tentara. Charley menumpang sementara sambil berusaha untuk menghubungi bibinya di Wyoming.

Setelah makan malam bersama kakek kedua orang itu, Charley pergi tanpa permisi untuk meneruskan perjalanannya. Di tengah jalan, Lean on Pete mendadak kaget dan berlari karena suara motor yang bising.

Ketika melintas di jalan, Lean on Pete tertabrak mobil dan mati saat itu juga. Polisi datang ke TKP dan menanyakan identitas diri Charley. Tetapi dia kembali kabur saat akan dipanggilkan layanan keluarga.

Charley sampai di sebuah kota dan menjadi gelandangan disana. Ketika bertemu dengan gelandangan bernama Silver, Charley mendapat pekerjaan harian sebagai tukang cat. Tetapi ternyata Silver bermasalah dengan kebiasaannya menenggak minuman alkohol dan sempat berseteru dengan Charley yang membuat Charley pergi dengan meninggalkan Silver dalam keadaan tidak sadar setelah memukulnya dengan besi.

Charley menuju Laramie, sebuah kota kecil di Wyoming, setelah mendapatkan kejelasan tentang bibinya dari tempat kerja lamanya dahulu. Charley menuju perpustakaan daerah dimana bibinya bekerja dan mereka bertemu. Bibinya mengizinkan Charley untuk tinggal di rumahnya, mengingat Charley tidak punya keluarga lain untuk mengurusnya. Charley memutuskan untuk tinggal di kota itu dan mulai sekolah lagi.

Charlie Plummer, Talenta Baru Hollywood

Charlie Plummer, Talenta Baru Hollywood

Charlie Plummer, pemeran Charley Thompson di Lean on Pete, adalah nama baru di peta perfilman Hollywood yang memiliki talenta akting yang baik dan diprediksikan akan menjadi aktor besar di masa depan. Prediksi ini bukanlah berdasarkan ramalan belaka, tetapi memang karirnya saat ini sedang menanjak pasti meski perlahan.

Charlie sudah memulai karir aktingnya sejak kecil dengan berperan di dua serial TV yaitu Boardwalk Empire dan Granite Flats. Film pertamanya adalah Not Fade Away (2012) dan baru mendapat peran utama di King Jack (2015), sebuah film indie yang bercerita tentang korban bully. Lean on Pete sendiri adalah film yang mulai mengangkat namanya di industri perfilman Hollywood.

Setelah penayangan film ini di Venice International Film Festival, Charlie menuai banyak pujian dari kritikus film atas performa aktingnya yang baik dan diganjar Marcello Mastroianni Award sebagai aktor pendatang baru terbaik di festival film bergengsi tersebut. Di tahun yang sama, Charlie tampil dalam film karya Ridley Scott, All the Money in the World, dan menunjukkan kualitas akting yang semakin bagus saja.

Efek Psikologis Ketidakhadiran Sosok Ibu dalam Hidup

Efek Psikologis Ketidakhadiran Sosok Ibu dalam Hidup

Lean on Pete merupakan satu film lagi yang bisa dijadikan studi kasus tentang psikologis manusia. Kasusnya kali ini adalah efek ketidakhadiran sosok ibu di keluarga. Dari cerita ayahnya, kita tahu jika ibu Charlie pergi meninggalkan mereka begitu saja. Dalam dialog itu, sekilas kita tahu jika ibu Charlie bukanlah sosok ibu yang sayang kepada keluarga dan lebih mementingkan kesenangan pribadi saja.

Efek buruk kehilangan ini terlihat sangat nyata yang membuat Charlie mudah meninggalkan begitu saja orang-orang di sekitarnya. Ketika dia tahu ayahnya sudah wafat di rumah sakit, dia lari dari perawat yang sedang menghubungi layanan keluarga. Hal yang sama terjadi lagi ketika polisi datang ke lokasi kecelakaan yang menewaskan kuda kesayangannya itu.

Sepertinya Charlie bukan hanya takut dimasukkan ke panti asuhan, tetapi ada sisi psikologis lain yang mengendap dalam dirinya. Bisa jadi itu karena sosok sang ayah juga bukanlah pria yang baik dan mapan, meski sangat sayang kepadanya. Dia sangat merindukan bibinya yang tinggal jauh dari mereka yang dia yakini bisa menyayanginya seperti orang tua baginya.

Memang dugaannya tidak salah. Bibinya sangat sayang kepadanya, itu bisa dilihat saat pertemuan mereka di perpustakaan. Kemudian beberapa dialog lanjutan di rumah yang menggambarkan jika bibinya menginginkan dia tinggal bersamanya dan sekolah di kota itu. Di akhir film, kita melihat sosok Charlie yang sudah tidak begitu kurus lagi, menandakan jika dia sudah menemukan kebahagiaan yang dicarinya.

Lean on Pete memang bukanlah drama yang bisa dengan mudah dicerna kandungan ceritanya, dan bisa saja kita mengantuk di tengah film karena tensi film cenderung datar. Tetapi yang membuat kita memaksa untuk tetap terjaga adalah rasa ingin tahu kita tentang apa lagi yang akan terjadi pada Charlie dan Lean on Pete. Apalagi setelah Lean on Pete mati tertabrak mobil.

Bagi kalian yang sedang mengalami rasa gundah karena ditinggal seseorang yang disayangi, dan ingin mencari inspirasi untuk bisa berdiri dengan tegak kembali, mungkin film ini bisa menjadi salah satu sarana yang layak untuk bisa menguatkan motivasi itu lagi. Catatan terakhir sebelum menonton Lean on Pete, pastikan kalian berada pada situasi dan pikiran yang tenang, agar inti cerita mudah dicerna.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *