bacaterus web banner retina
Bacaterus / Review Film / Review & Sinopsis Just Mercy (2019), Drama Pengacara Muda

Review & Sinopsis Just Mercy (2019), Drama Pengacara Muda

Ditulis oleh Dhany Wahyudi - Diperbaharui 18 Februari 2021

Pengacara pembela hak asasi manusia terkenal di dunia, Bryan Stevenson, berusaha untuk membebaskan seorang narapidana yang akan menjalani hukuman mati. Film biografi salah satu pengacara terkenal di dunia pada awal karirnya ini mungkin bisa menambah satu lagi deretan film bertema persidangan dengan pesan moral bahwa tidak semua pengacara berorientasi pada uang saja.

Just Mercy dibintangi oleh deretan cast yang tampil cukup solid. Di antara mereka adalah Michael B. Jordan, Jamie Foxx, Rob Morgan, Tim Blake Nelson, Rafe Spall, dan Brie Larson. Sutradara Destin Daniel Cretton mengerahkan kemampuannya dalam proyek besar pertamanya ini setelah tiga film sebelumnya adalah film berskala independent.

Film yang pertama kali ditayangkan di Toronto International Film Festival ini kemudian dirilis secara terbatas pada 25 Desember 2019, lalu dirilis secara luas pada 10 Januari 2020 dibawah distribusi Warner Bros. Pictures. Tentunya, ada banyak kelebihan dari film yang menjadi kerjasama ketiga kalinya antara sutradara Destin Daniel Cretton dan aktris Brie Larson ini, dan kami akan ulas secara tuntas semuanya.

Sinopsis

Sinopsis Just Mercy

  • Tahun: 2019
  • Genre: Biography / Crime / Drama
  • Produksi: Warner Bros. Pictures, Endeavor Content, One Community
  • Sutradara: Destin Daniel Cretton
  • Pemeran: Michael B. Jordan, Jamie Foxx, Brie Larson

Di tahun 1989, seorang pengacara lulusan sekolah hukum Harvard, Bryan Stevenson (Michael B. Jordan), pergi ke Alabama untuk memberikan bantuan hukum untuk orang-orang miskin. Bersama Eva Ansley (Brie Larson), dia mendirikan Equal Justice Initiative dan mendatangi penjara untuk mencari klien yang sedang menunggu hukuman mati.

Dia bertemu dengan Walter “Johnny D.” McMillian (Jamie Foxx), seorang warga Afrika-Amerika yang dituduh melakukan pembunuhan terhadap wanita kulit putih pada tahun 1986. Bryan menilai kasus ini tidak kuat karena hanya berdasarkan kesaksian seorang narapidana demi mengurangi masa tahanannya. Bryan berniat untuk membuka kembali kasus ini.

Langkah pertama yang dilakukannya adalah menemui jaksa yang menolak permintaannya tanpa melihat dokumen yang dibawanya sama sekali. Kemudian dia menemui keluarga besar Walter dan mendapatkan seorang calon saksi pada teman dari salah satu anggota keluarga, Darnell Houston. Bryan mengajukan kasus ini dengan menjadikan Darnell sebagai saksinya.

Tapi kemudian Darnell ditahan oleh polisi atas tuduhan sumpah palsu. Bryan berhasil melepaskan Darnell tetapi Darnell tidak mau memberikan kesaksiannya lagi karena intimidasi yang dia dapatkan di penjara. Bahkan kemudian Bryan pun sempat diberhentikan di jalan dan digeledah mobilnya oleh polisi tanpa alasan yang jelas.

Just Mercy

* sumber: indianexpress.com

Sementara itu, Bryan juga menangani kasus lain yang mengalami kekalahan dan kliennya, Herbert Lee Richardson, dihukum mati di kursi listrik. Bryan kemudian menemui sendiri Ralph Myers dan berhasil membujuknya untuk berkata jujur dan bersaksi di persidangan. Pengajuan Bryan untuk sidang ulang kasus Walter kembali ditolak oleh pengadilan lokal.

Lewat pernyataan Eva tentang penolakan sidang ulang ini di acara 60 Minutes, dukungan untuk mereka menjadi kuat dan ditanggapi oleh Supreme Court of Alabama yang kemudian mengizinkan sidang ulang kasus Walter. Meski awalnya jaksa Tommy menolak ajakan mosi dari Bryan, tetapi di persidangan dia akhirnya mendukung mosi dan Walter dinyatakan bebas.

Di epilog, diperlihatkan bahwa Bryan dan Eva terus berjuang untuk keadilan hingga saat ini. Walter wafat di tahun 2013 dan masih berteman dengan Bryan hingga akhir hayatnya. Penyidikan lanjutan atas kasus Walter menemukan bukti jika pembunuhnya adalah pria berkulit putih, meski kasus kemudian ditutup tanpa ada yang diadili.

Akting Menggigit Meski Minim Dialog

Akting Menggigit Meski Minim Dialog

* sumber: www.imdb.com

Jamie Foxx sekali lagi membuktikan jika dia adalah seorang aktor drama yang baik, meski seringkali diremehkan. Di Just Mercy, dalam perannya sebagai Walter McMillian, Foxx lebih banyak diam dan hanya mengucapkan sepatah dua patah kata saja. Tetapi, dengan melihatnya saja, kita tahu jika dia sedang mengalami hati yang tersiksa karena ketidakadilan yang dialaminya.

Dalam diamnya, kita bisa merasakan getaran keresahan jiwa yang cenderung menjadi gila karena terlalu lama di dalam penjara atas tuduhan yang tidak cukup kuat buktinya. Bahkan dalam momen ketenangannya, kita bisa merasakan penderitaannya. Sudah seharusnya Foxx berakting dalam film-film drama dengan karakter yang kuat seperti ini, sehingga dia tidak dipandang sebelah mata lagi.

Sedangkan Michael B. Jordan sebagai sang pengacara muda penuh semangat, Bryan Stevenson, sosoknya tidak terlalu mencolok. Sebagai tokoh utama, dia mampu menampilkan kesan frustrasi yang nyata bahkan hingga meneteskan air mata, tapi dia kurang meyakinkan saat membawakan karakternya di ruang sidang. Kalimat dan penekanan ucapannya masih kurang bernyawa dan kurang berkesan.

Dan Brie Larson, sebagai aktris peraih Oscar, hanya menjalani karakter yang tidak bisa berkembang dan hanya menjadi pelengkap cerita saja. Bahkan kostum dan gaya rambutnya pun tampaknya salah era. Mode celana panjang berpinggang tinggi seperti yang dikenakannya baru populer di awal 1990-an, sedangkan setting waktu film ini di tahun 1989. Tampaknya dia mendahului zamannya.

Akting yang mengejutkan justru datang dari Tim Blake Nelson sebagai Ralph Myers, seorang narapidana yang akhirnya menjadi saksi kunci yang membuat Walter dinyatakan tidak bersalah. Dia berhasil menjadi scene stealer dengan sikapnya yang gugup dan cemas dan dibawakan olehnya dengan sangat baik.

Kehandalan Arahan Sang Sutradara

Kehandalan Arahan Sang Sutradara

* sumber: www.imdb.com

Destin Daniel Cretton adalah sutradara yang terbilang masih baru dalam industri perfilman Hollywood. Pria kelahiran Hawaii pada tahun 1978 ini dikenal karena kolaborasinya dengan aktris Brie Larson dalam tiga film, Short Term 12 (2013), The Glass Castle (2017), dan Just Mercy.

Short Term 12 juga adalah salah satu film yang mengangkat karir Brie Larson dan menjadi salah satu film independent terbaik hingga saat ini. Maka tentu saja Brie Larson bersedia untuk berakting kembali dalam proyek Cretton berikutnya, The Glass Castle, yang juga cukup sukses secara kualitas. Dan Just Mercy menjadi kolaborasi ketiga mereka, meski Brie Larson hanya mendapat peran yang kecil.

Cretton cukup piawai dalam mengolah cerita biografi ini dan menerjemahkannya ke dalam film. Tema rasis tersistem yang diusungnya, nyatanya masih terjadi hingga saat ini di Amerika. Cretton tidak ragu-ragu menampilkan ketimpangan hukum dan diskriminasi, baik di dalam penjara, di persidangan, hingga di luar dua wilayah itu.

Jika Walter merasakan semua itu di dalam penjara, Bryan pun mengalami hal serupa di luar penjara. Sebagai warga Afrika-Amerika, Bryan sempat ditelanjangi oleh sipir penjara yang rasis, hanya untuk mempermalukan diri sendiri saja. Dan dia pun sempat diberhentikan di jalan raya hanya untuk membuatnya gentar supaya mundur dari kasus yang tengah dijalaninya.

Review Just Mercy

* sumber: www.newyorker.com

Adegan-adegan penting ini ditampilkan oleh Cretton dengan sangat baik, sehingga kesannya sangat terasa ke penonton. Oleh karena kehandalannya dalam membesut film inilah, Cretton kemudian direkrut oleh Marvel Studios untuk mengarahkan Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings yang menampilkan karakter superhero Marvel berdarah Asia.

Just Mercy adalah salah satu film yang menceritakan diskriminasi dalam dunia hukum, dan melalui perspektif modern, nuansa yang ditampilkan terasa lebih nyata. Memang masih kalah kelas jika dibandingkan dengan Malcolm X (1992), tapi film ini memiliki pondasi cerita yang kokoh.

Setelah perilisan di bioskopnya selesai, film ini kemudian ditayangkan di berbagai media streaming oleh Warner Bros. Pictures sepanjang bulan Juni 2020 sebagai respon mereka atas peristiwa pembunuhan George Floyd sebulan sebelumnya. Hal ini ditujukan sebagai pendidikan bagi masyarakat tentang tindakan rasis tersistem.

Tentunya Just Mercy wajib ditonton oleh pencinta film persidangan dan film-film bertema penegakan hukum. Banyak sekali hal yang bisa kita dapat dari film ini tentang tindakan diskriminasi dan rasis di dunia hukum. Harapan kita, semoga hal seperti ini tidak pernah terjadi lagi dan hukum bisa ditegakkan secara adil tanpa memandang warna kulit dan sentimen kedaerahan.

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram