bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film Judas and The Black Messiah (2021)

Perjuangan revolusi bagi warga Afrika-Amerika yang diinisiasi oleh organisasi Black Panther mengalami cobaan terbesarnya ketika Fred Hampton, pemimpin di Chicago, ditembak mati dalam sebuah penyerbuan mendadak yang dilakukan oleh FBI dan Kepolisian Chicago yang selama ini mendapat informasi dari William O’Neal, kepala keamanan organisasi.

Judas and the Black Messiah adalah sebuah film drama biografi yang menceritakan sekelumit kejadian yang memuncak pada penyerbuan yang merenggut nyawa Fred Hampton.

Film yang dirilis pada 12 Februari 2021 setelah sebelumnya tayang perdana di Sundance Film Festival pada 1 Februari 2021 ini disutradarai oleh Shaka King yang juga bertindak selaku penulis naskah bersama Will Berson.

Banyak menuai pujian dan mendulang penghargaan, film ini menampilkan kualitas terbaik dari kedua aktor utamanya, Daniel Kaluuya dan Lakeith Stanfield, yang berhasil menggawangi apiknya pengarahan film secara keseluruhan dari sang sutradara. Ingin tahu lebih jauh tentang film ini? Simak review kami berikut ini.

Baca juga: 20 Film Biografi Terbaik di Dunia yang Wajib Ditonton

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun: 2021
  • Genre: Biography, Drama, History
  • Produksi: BRON Creative, MACRO, Participant, Proximity
  • Sutradara: Shaka King
  • Pemeran: Daniel Kaluuya, Lakeith Stanfield, Jesse Plemons

Chicago, 1968. William “Bill” O’Neal ditangkap oleh polisi karena mencuri mobil di sebuah bar dengan mengaku sebagai agen pemerintah. Agen FBI Roy Mitchell menawarkan kebebasan dengan sebuah syarat kerjasama, yaitu Bill menjadi informan mereka di dalam organisasi Black Panther yang dipimpin oleh aktivis kharismatik, Fred Hampton.

Bill berhasil dekat dengan Fred setelah beberapa kali mengikuti kegiatannya terutama dalam menggalang koalisi dengan organisasi-organisasi lain untuk menolong warga miskin lewat program Free Breakfast for Children.

Kharisma dan kehandalan berpidato Fred nyatanya mampu menarik hati organisasi lain, tidak hanya dari warga Afrika-Amerika saja, tetapi dari warga imigran lainnya.

Perkembangan pesat Black Panther sangat mengkhawatirkan FBI yang ingin menjatuhkannya. Lewat informasi-informasi kecil dari Bill, yang dibayar setiap kali memberikan informasi, Fred ditangkap dan dipenjara karena sebuah tuduhan kejahatan kecil, yaitu mencuri es krim seharga $71.

Ditinggal pemimpinnya, Black Panther tetap berdiri dan bergerak. Bill naik jabatan menjadi kepala keamanan organisasi yang membuatnya leluasa dalam mendapat informasi untuk FBI.

Ketika Kepolisian Chicago menyerbu markas dengan menembak dan membakar tempat itu, Bill yang berhasil kabur dari pintu belakang marah dan berniat untuk berhenti jadi informan, tetapi ditolah oleh Roy.

Tiga bulan kemudian Fred dibebaskan karena dalam proses naik banding. Deborah, istri Fred, menyambut dengan suka cita dan memberikan berita kehamilannya. Markas organisasi kembali berdiri dengan bantuan rekan-rekan mereka dari organisasi lain yang simpati kepada Black Panther.

Terjadi sebuah peristiwa pembunuhan yang disinyalir dilakukan oleh Kepolisian Chicago dan FBI kepada anggota Black Panther, Jimmy Palmer, saat proses pemindahannya ke rumah sakit. Jake Winter, teman Jimmy, mencium kebusukan pembunuhan ini dan melakukan baku-tembak dengan beberapa polisi hingga dirinya tewas.

Fred dan organisasi berduka. Ketika Fred mendapat sejumlah uang dari rekan mereka yang awalnya akan digunakan untuk Fred pergi ke luar negeri karena naik bandingnya ditolak dan mengharuskannya kembali ke penjara, justru Fred berikan kepada salah satu anggotanya untuk membangun sebuah klinik kesehatan atas nama Jake.

Malam itu, Bill memasukkan obat yang diberikan oleh seseorang misterius ke dalam minuman Fred yang membuatnya tidak sadarkan diri pada saat penyerbuan yang dilakukan oleh Kepolisian Chicago dan FBI atas perintah direktur FBI, J. Edgar Hoover. Tetapi pada akhirnya, Fred dibunuh dengan ditembak berkali-kali dalam keadaan tidak sadar.

Sebagai imbalan atas informasinya selama ini, Roy memberikan sejumlah uang dan kunci pom bensin kepada Bill untuk memulai usaha barunya yang resmi. Berusaha menolak karena merasa bersalah, akhirnya Bill menerima semua itu.

Film ditutup dengan beberapa footage asli dari kejadian-kejadian pasca tewasnya Fred, tentang kelangsungan Black Panther, Deborah dan anaknya, hingga kehidupan Bill yang akhirnya tewas bunuh diri setelah melakukan wawancara untuk sebuah program dokumenter yang mengungkap jati dirinya dan pengkhianatannya kepada organisasi.

Akting Penuh Tenaga Kaluuya dan Stanfield

Akting Penuh Tenaga Kaluuya dan Stanfield

Makna Judas and the Black Messiah mengambil referensi dari kisah pengkhianatan di dalam Alkitab yang dilakukan oleh Judas kepada Yesus. Judas di dalam film ini tentu adalah Bill dan Messiah-nya adalah Fred.

Dua karakter inilah yang menjadi tulang punggung film secara keseluruhan yang dibawakan dengan powerful oleh Daniel Kaluuya dan Lakeith Stanfield.

Secara prestasi, kedua aktor ini sudah beberapa kali meraih penghargaan karena akting mereka. Stanfield tampil gemilang di film Short Term 12 (2013) dan Straight Outta Compton (2015), dan pernah terlibat di dalam film biografi Martin Luther King, Jr. di Selma (2014).

Sebagai Bill, Stanfield mampu membawakan karakter yang penuh kebimbangan tentang motivasi dalam hidupnya, terutama pengkhianatannya.

Sedangkan Kaluuya memiliki karir yang tidak kalah gemilang. Sejak tampil memukau di film Get Out (2017), Kaluuya kemudian bergabung dalam Marvel Cinematic Universe lewat Black Panther (2018) dan mampu mengimbangi akting para seniornya di Widows (2018).

Sebagai Fred, kita dibuat percaya bahwa sosok aktivis muda ini memang kharismatik dan mampu menghujam hati siapapun lewat pidatonya. Ada hal yang unik dari kedua aktor ini, ternyata mereka pernah tampil dalam satu film, yaitu Get Out.

Selain itu, di ajang Academy Awards, mereka berdua masuk nominasi di kategori yang sama, yaitu Best Supporting Actor, yang dimenangkan oleh Kaluuya. Yang kemudian menjadi pertanyaan, jika mereka adalah supporting actor di film ini, lalu siapa aktor utamanya?

Beberapa Kelemahan dalam Film

Beberapa Kelemahan dalam Film

Akting kedua aktor utamanya, dan juga beberapa pemeran lainnya, memang menjadi faktor paling kuat dari film berdurasi 2 jam 6 menit ini. Tetapi ada beberapa hal juga yang menjadi kelemahan yang cukup mengganggu saat kita menontonnya.

Salah satunya adalah penampilan Martin Sheen sebagai direktur FBI, J. Edgar Hoover. Penampilannya yang dibalut dengan make-up tebal, mungkin agar mirip dengan wajah tokoh aslinya, justru terlihat seperti lilin yang meleleh.

Ditambah lagi dengan ucapannya tentang Perang Korea, tidak bisa dimengerti apa korelasinya dengan masalah yang mereka hadapi.

Lalu di awal film, Bill sempat berujar di dalam wawancaranya jika sosok Roy adalah orang yang menjadi panutannya dan sangat dia percaya. Tetapi di dalam film ini, meski ada beberapa adegan yang melibatkan Bill dan Roy, tidak ada satupun hal yang bisa membuat mereka akrab dan menjadikan sosok Roy sebagai panutan yang terpercaya bagi Bill.

FBI sebagai Antagonis

FBI sebagai Antagonis

Federal Bureau of Investigation, atau yang lebih kita kenal dengan singkatannya FBI, adalah salah satu badan keamanan pemerintah Amerika Serikat yang bertanggung jawab dalam menyelesaikan kasus-kasus kriminal di negaranya.

Seringnya kita melihat FBI sebagai sosok protagonis yang dengan metode dan teknologinya mampu memecahkan kasus kriminal sesulit apapun.

Tetapi nyatanya, di masa lalu FBI memiliki banyak catatan kelam, salah satunya adalah menghentikan pergerakan warga Afrika-Amerika yang memasukkan mereka ke dalam kancah rasisme.

Istilah “Black Messiah” yang disematkan kepada Fred Hampton, nyatanya bukanlah pertama kali. Sudah ada beberapa Black Messiah sebelumnya yang sukses mereka bunuh, yaitu Malcolm X dan Martin Luther King, Jr.

Uniknya, ketiga sosok Black Messiah ini memiliki pemahaman yang berbeda tetapi punya satu tujuan yang sama, yaitu kesetaraan hak bagi warga Afrika-Amerika.

Malcolm X yang dibunuh pada 21 Februari 1965 membawa pemahaman Islam yang moderat, sedangkan Martin Luther King, Jr. yang dibunuh pada 4 April 1968 membawa pemahaman Kristen dalam pergerakannya.

Sementara itu, Fred Hampton yang dibunuh pada 4 Desember 1969 mengusung pemahaman Sosialis dan lebih dekat dengan golongan sayap kiri, bukan keagamaan seperti dua pendahulunya.

Kharismanya mampu menyatukan Black Panther dengan organisasi lainnya, yaitu Young Patriot Organization yang anggotanya warga kulit putih dan Young Lords yang anggotanya dari warga etnis Latin.

Bergabungnya mereka menjadi Rainbow Coalition meresahkan pihak otoritas pemerintah Amerika Serikat yang saat itu dipenuhi oknum yang melakukan diskriminasi kepada warga kulit berwarna.

Dan film dengan sinematografi yang mampu menampilkan keotentikan seting waktunya ini hanyalah salah satu dari sekian banyak film bertema serupa.

Judas and the Black Messiah masuk nominasi di 6 kategori dalam penyelenggaraan Academy Awards dan berhasil menang di kategori Best Supporting Actor untuk Daniel Kaluuya dan Best Original Song untuk lagu “Fight for You” dari H.E.R. ciptaan Gabriella Sarmiento Wilson, Dernst Emile II, dan Tiara Nicole Thomas.

Dengan kualitas yang baik secara keseluruhan, sayangnya film ini gagal di box-office dengan hanya mengumpulkan $5 juta saja dari bujet produksi sebesar $26 juta. Tetapi dengan cap certified fresh dari Rotten Tomatoes dan pujian dari mayoritas kritikus film dunia, maka film ini sangatlah layak menjadi film yang wajib kalian tonton, terutama bagi penyuka film biografi.

Judas and the Black Messiah
Rating: 
4/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram