bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review I Don’t Feel at Home in This World Anymore

Ditulis oleh Dhany Wahyudi - Diperbaharui 23 Mei 2021

Ketika seorang wanita yang mengalami depresi dirampok, dia menemukan tujuan baru dengan melacak para pencurinya bersama tetangganya yang eksentrik, tapi kemudian mereka berada dalam bahaya yang besar saat harus berhadapan dengan sekelompok penjahat biadab. I Don’t Feel at Home in This World Anymore adalah original film Netflix yang dirilis pada 24 Februari 2017.

Film comedy thriller ini sebelumnya ditayangkan perdana di Sundance Film Festival pada 19 Januari 2017 dan berhasil meraih Grand Jury Prize di kompetisi film-film drama produksi Amerika. Unik dan sangat kental dengan nuansa khas film indie, judul film ini berasal dari lagu gospel klasik yang dipopulerkan oleh musisi country seperti Carter Family dan Woody Guthrie.

Berikut review kami tentang film I Don’t Feel at Home in This World Anymore yang mengambil lokasi syuting di Portland, Oregon yang menuai banyak pujian dari para kritikus film ini.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun: 2017
  • Genre: Comedy, Crime, Drama, Thriller
  • Produksi: Film Science, XYZ Films
  • Sutradara: Macon Blair
  • Pemeran: Melanie Lynskey, Elijah Wood, David Yow

Ruth, seorang asisten perawat di sebuah rumah sakit, pulang ke rumah dalam kondisi depresi akibat hari yang buruk dimana seorang pasien wafat di dalam pengawasannya. Saat di dalam rumah, ada pencuri yang masuk rumahnya dan mengambil beberapa barang, yaitu obat-obatan, laptop dan perangkat makan dari perak milik neneknya. Ruth pun kemudian melaporkannya ke polisi.

Setelah mendapat respon yang tidak menyenangkan, karena justru dirinya yang disalahkan yang lalai mengunci pintu, Ruth mulai menghampiri para tetangganya dan menanyakan jika ada hal-hal yang mencurigakan saat waktu pencurian. Salah satu yang ditanya adalah Tony, seorang pria dengan sikap yang aneh.

Sebelumnya, Ruth pernah memarahi Tony karena membiarkan anjing peliharaannya buang air besar di halaman rumah Ruth yang sudah dipasang tanda larangan. Respon Tony sungguh diluar dugaan ketika dia diberitahu ada pencurian di lingkungannya. Malam itu, Ruth iseng menghidupkan pelacak laptop di ponselnya yang ternyata menunjukkan sebuah alamat. Dia menghubungi polisi tapi direspon negatif.

Ruth meminta bantuan Tony untuk mendatangi rumah itu. Dengan membawa senjata ala ninja, Tony berhasil merubuhkan seorang yang berdiri di depan rumah secara tidak sengaja dan merangsek masuk. Ruth mengambil laptopnya dengan baik-baik dari orang di dalam rumah itu yang juga memberikan alamat dimana dia membeli laptop curian itu.

Esok harinya, Ruth dan Tony mendatangi toko barang bekas tersebut dan menemukan perangkat makan perak milik neneknya. Saat hendak keluar, Ruth berpapasan dengan orang yang menggunakan sepatu yang cocok dengan jejak yang ada di halaman belakang rumahnya. Berusaha mengejar, justru dia juga dikejar oleh pemilik toko dimana mereka bertengkar dan Ruth mengalami patah jari.

Mereka kemudian melacak plat mobil van itu di internet dan menemukan sebuah alamat. Mereka mendatangi rumah itu menyamar sebagai polisi. Ternyata mobil van itu dipakai oleh anak dari seorang pengusaha yang memiliki sikap yang kasar. Mereka pun diusir keluar dari rumah itu dan Ruth mengambil hiasan di halaman rumah yang tidak disetujui oleh Tony. Setelah sampai di rumah, mereka pun berpisah.

Ternyata Chris dan teman-temannya mengetahui kedatangan Ruth dan Tony ke rumah ayahnya. Mereka segera mendatangi rumah Ruth untuk mengintimidasinya yang berakhir dengan perkelahian dimana Chris terluka di leher dan tewas tertabrak bus saat keluar ke jalan. Kedua teman Chris menculik Ruth sebagai ganti Chris untuk merampok rumah ayah Chris.

Mereka berhasil masuk ke dalam rumah dan menyandera istri serta bodyguard ayah Chris. Terjadi baku tembak mematikan di dalam rumah dimana Tony datang untuk menyelamatkan Ruth yang justru terluka parah karena perutnya tertusuk pisau berkali-kali. Ruth membawa Tony yang terluka lari dari kejaran Marshall menyeberang sungai.

Setelah sempat menyembunyikan Tony, Ruth mencari cara untuk mengalahkan Marshall. Dia lalu menimpuki Marshall dengan batu hingga terjatuh ke dalam rawa dimana dia langsung digigit oleh sejenis ular rawa berbisa. Ruth hampir putus asa karena tidak menemukan Tony, hingga dia melihat arwah neneknya yang menunjukkan lokasi Tony berada.

Ruth melapor ke polisi ketika sudah kembali ke rumahnya dan Meredith, istri ayah Chris, tidak melaporkan Ruth sebagai salah satu dari penjahat yang masuk ke rumahnya. Saat pesta barbeque di rumah temannya, Ruth memandang Tony dengan latar belakang penuh asap. Ternyata Tony masih hidup dan berhasil sembuh dari luka-lukanya.

Kental Nuansa 1990’an

Kental Nuansa 1990’an

Menyaksikan I Don’t Feel at Home in This World Anymore terasa seperti menonton film produksi 1990an, lebih karena nuansa yang diciptakan dan hampir seluruh aspek yang ditampilkan oleh sutradara Macon Blair ini. Jika boleh membandingkan, film ini merupakan perpaduan Falling Down [1993] yang dibintangi Michael Douglas dengan franchise Death Wish yang dibintangi Charles Bronson.

Kisah depresi Ruth dalam menjalani kehidupan sehari-harinya yang kemudian diperparah dengan adanya pencurian di rumahnya nyaris sama dengan yang terjadi pada tokoh utama di dalam film Falling Down, dimana mereka sama-sama terjepit oleh arus kehidupan modern yang sepertinya membuat mayoritas orang melupakan adab terhadap orang lain.

Sekilas kita diperlihatkan bagaimana kehidupan yang dijalani Ruth, seperti pekerjaannya sebagai asisten perawat, berpapasan dengan pembeli yang cuek saat menjatuhkan barang dari raknya, berebut antrian di depan kassa dan hal-hal kecil lainnya yang memang sepele tapi terasa menyebalkan. Ditambah lagi ketika Ruth bertemu dengan seorang pria yang membocorkan jalan cerita novel yang sedang dibacanya.

Kisah Balas Dendam dengan Karakterisasi yang Dalam

Kisah Balas Dendam dengan Karakterisasi yang Dalam

Dengan karakter yang penuh tekanan batin seperti itu, I Don’t Feel at Home in This World Anymore bergerak maju dalam bercerita dengan masalah yang menimpa Ruth yang membuatnya nekat melakukan hal yang sebenarnya diluar kemampuannya. Pencurian kecil di rumahnya memunculkan hasrat baru untuk berbuat lebih jauh ketika tindakan polisi dianggap tidak membantu sama sekali.

Nuansa balas dendam mulai terasa, tetapi bukan keinginan untuk membunuh dan sejenisnya. Seperti yang dinyatakan oleh Ruth sendiri di hadapan ayah Chris, bahwa dia hanya ingin menasihati pelaku pencurian agar tidak melakukan tindakan kriminal itu lagi, karena dia benci dengan orang-orang yang memiliki sikap buruk dan tidak peduli dengan orang lain.

Ketika Ruth berada dalam situasi berbahaya, dia berhasil mengatasi keadaan dengan cara-cara yang unik dan heroik. Lewat film ini, kita diperlihatkan bahwa orang biasa sekalipun bisa melakukan hal yang tadinya tidak terpikirkan dan diluar batas kemampuannya yang kemudian berhasil mengatasi masalah itu meski harus berada pada situasi yang sangat tidak nyaman. Kuncinya adalah berani di atas kebenaran.

Akting Eksentrik Penuh Chemistry

Akting Eksentrik Penuh Chemistry

Satu lagi faktor yang membuat film ini berkualitas ialah chemistry antara dua pemeran utamanya, yaitu Melanie Lynskey dan Elijah Wood. Meksi Lynskey sudah memulai karirnya di era 1990an, tetapi baru kali ini dia mendapat peran utama yang diembannya dengan sangat baik. Kegalauan pemikiran dan hati Ruth tampak terlihat lewat matanya, yang sempat diungkit oleh salah satu penjahat saat menculiknya.

Sedangkan Elijah Wood yang sejak kesuksesan trilogy The Lord of the Rings justru lebih banyak berkecimpung di perfilman indie yang bisa dilihat di dalam filmography-nya. Bukan berarti dia tidak laku di industri perfilman mainstream, tetapi Wood lebih bebas berekspresi di ranah indie demi meningkatkan kualitas aktingnya. Hal ini bisa dilihat lewat karakter yang diperankannya di film ini.

Tony yang eksentrik dengan gaya berpakaian ala punk-rock yang selalu memakai kacamata hitam ternyata memiliki keahlian bela diri ala ninja yang sebenarnya tidak dia kuasai. Ketika diminta membantu Ruth dalam mengatasi masalahnya, Tony langsung setuju dan mempersiapkan segalanya, mulai dari peralatan, rencana, hingga doa. Tony adalah pemicu berbagai kelucuan di film ini.

Ruth dan Tony adalah dua sosok yang sepertinya tidak memiliki kehidupan sosial yang normal layaknya orang lain. Karena kesamaan itulah, dan beberapa kesamaan lain yang muncul di sepanjang jalan cerita, Tony mulai tertarik pada Ruth, awalnya sebagai teman, karena dia merasa memiliki teman pada diri Ruth, begitupun sebaliknya. Lynskey dan Wood berhasil menampilkan chemistry itu.

I Don’t Feel at Home in This World Anymore memang adalah film yang unik, seunik judulnya. Tetapi film indie ini masih bisa kita nikmati dan kita cerna dengan baik berkat jalan cerita yang menarik dan akting yang padu dari para pemerannya. Film ini seolah adalah hasil pengamatan mendalam tentang norma sosial yang terdapat di Amerika dan pengaruhnya terhadap sosok seperti Ruth.

Langkah tepat Netflix mengambil film ini untuk pendistribusian secara streaming, membuat film ini lebih dikenal luas di dunia internasional. Dengan menyandang penghargaan dari Sundance Film Festival, tentunya film ini pun turut mengatrol posisi Netflix sebagai perusahaan film terdepan di era digital. Bagi yang belum sempat menontonnya, tidak usah ragu. Film ini sangat kami rekomendasikan.

I Don’t Feel at Home in This World Anymore
7 / 10 Bacaterus.com
Rating

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram