bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Gods of Egypt, Perebutan Tahta Dewa Mesir

Horus yang sedianya menjadi penerus tahta Osiris dikudeta oleh Set, pamannya. Seorang pencuri ulung mengambil salah satu mata Horus yang menjadi kekuatannya dan membantu Horus merebut kembali tahta kerajaan.

Janji Horus untuk menghidupkan kembali sang kekasih adalah motivasi terkuatnya. Ditemani beberapa dewa lagi, mereka menempuh petualangan yang penuh tantangan.

Gods of Egypt adalah film fantasy action karya Alex Proyas yang dirilis oleh Lionsgate pada 26 Februari 2016. Menampilkan para dewa Mesir dalam jalinan cerita perebutan kekuasaan dan pengkhianatan, kisah film ini bukanlah berdasarkan sejarah maupun nukilan hikayat mitologi Mesir Kuno.

Masuk nominasi di lima kategori pada ajang Golden Raspberry Awards sudah menggambarkan bagaimana kualitas film ini sebenarnya. Masih mau menontonnya? Simak review berikut terlebih dahulu.

Sinopsis

Gods of Egypt_
  • Tanggal Rilis: 26 Februari 2016
  • Genre: Action, Adventure, Fantasy
  • Produksi: Pyramania, Summit Entertainment, Le Vision Pictures, Mystery Clock Cinema, TIK Films, Thunder Road Pictures
  • Sutradara: Alex Proyas
  • Pemeran: Brenton Thwaites, Nikolaj Coster-Waldau, Gerard Butler

Mesir Kuno, para dewa memimpin Kerajaan Mesir dengan Osiris sebagai rajanya. Saat hendak menyerahkan tahtanya kepada Horus, sang putra mahkota, Set datang dengan membawa pasukan. Adik dari Osiris ini kemudian membunuh kakaknya sendiri dan mengalahkan Horus. Kedua mata Horus diambil dan Set menyatakan diri sebaga Raja Mesir.

Setahun berlalu, bangsa Mesir menjadi budak bagi Set untuk mendirikan berbagai macam bangunan megah. Bek menjanjikan akan mengajak Zaya pergi dari Mesir. Ia diberikan denah piramida tempat penyimpanan mata Horus. Bek kemudian melakukan aksi pencurian yang sukses. Tapi tindakan Zaya ini diketahui oleh tuannya, Urshu sang arsitek kerajaan.

Zaya tertusuk panah saat melarikan diri dan tewas. Bek kemudian membawanya ke tempat pengasingan Horus di luar kota. Bek menawarkan bantuan untuk menemukan satu mata lagi asalkan Horus berjanji untuk bisa menghidupkan Zaya kembali. Horus setuju dan mereka langsung menyusun rencana.

Horus mengunjungi Ra, kakeknya sang dewa tertinggi, di kapalnya. Ra bersikap netral tentang pertikaian kedua putranya. Dia juga tidak mengembalikan kekuatan Horus, tapi tidak menolak keinginan Horus untuk mengambil air ilahi yang akan digunakan untuk menyerang Set.

Horus dan Bek menjalani petualangan yang penuh bahaya dengan ancaman dari berbagai makhluk mengerikan. Ditambah lagi mereka juga diburu oleh pasukan khusus kiriman Set. Mereka harus melompat dari air terjun yang sangat tinggi dan menghindari monster gurun saat mereka berada di padang pasir.

Hathor, sang dewi dari Barat, diminta oleh Set untuk membawanya ke Dunia Bawah. Tapi Hathor menolaknya dan memilih bergabung bersama Horus.

Dalam perjalanan, Bek menceritakan motivasinya membantu misi balas dendam Horus, yaitu agar Zaya bisa hidup kembali. Hathor menyadari bahwa itu tidak bisa dilakukan oleh dewa manapun dan memberikan nasihat kepada Horus.

Mereka kemudian mendatangi Thoth untuk mengajaknya menembus piramida yang penuh teka-teki dari Sphinx. Meski awalnya menolak, namun ketika kecerdasannya ditantang oleh Bek, Thoth kemudian memilih bergabung. Setelah berhasil mencapai sumber kekuatan Set, mereka diserang oleh Set dan pasukannya.

Otak Thoth diambil oleh Set dan digabungkan dengan kekuatan para dewa lainnya yang telah dia kumpulkan untuk dijadikan baju perisai olehnya.

Hathor memanggil Anubis untuk mengizinkan bek menyerahkan gelang miliknya sebagai jaminan bagi Zaya agar bisa melewati timbangan akhirat. Sebagai gantinya, Hathor mengorbankan dirinya terasing di Dunia Bawah.

Merasa sudah memiliki kekuatan yang cukup, Set menyerang Ra di kapalnya. Ra bilang kepada Set bahwa dia menyiapkan Set sebagai penggantinya di kapal ini dalam menghalangi serangan Apophis ke dunia. Set yang sudah terbakar cemburu karena perbedaan sikap Ra kepada Osiris kemudian membunuh Ra dan mengambil tombaknya.

Set bermaksud menghancurkan dunia dan akhirat dengan memanggil Apophis untuk melakukannya. Pintu akhirat harus ditutup karena serangan Apophis. Zaya meminta Bek membawa kembali gelang itu dan membantu Horus menyelamatkan umat manusia.

Bagaimana cara Horus menaklukkan Set yang memiliki kekuatan semua dewa di tangannya? Bagaimana pula cara Bek membantu Horus? Apakah Bek dan Zaya akan bersatu kembali? Di dunia atau di akhirat? Semua jawaban ini akan kita temukan dengan menonton film ini sampai selesai.

Penuh Adegan Aksi yang Lesu

Penuh Adegan Aksi yang Lesu_

Bayangan film dengan petualangan seru dan pertarungan kolosal sudah tergambar di benak kita sebelum menonton film Gods of Egypt. Apalagi karakter-karakternya adalah para dewa Mesir Kuno. Sebuah premis yang cukup menjanjikan sekaligus menjadi pesaing kisah-kisah mitologi Yunani Kuno yang lebih populer.

Tapi sayangnya, imajinasi kita langsung terpatahkan sedari awal. Saat Set datang menghadiri upacara penyerahan tahta dengan ribuan pasukan, kita sudah berasumsi akan terjadi peperangan besar yang tidak seimbang antara tentara dan rakyat jelata.

Tapi ternyata, hanya Set sendiri yang beraksi membunuh Osiris dan menaklukkan Horus lalu merebut tahta kerajaan. Seharusnya Set tidak perlu membawa pasukan dalam jumlah besar jika tidak digunakan.

Akankah lebih baik apabila dia melakukan aksinya dengan mendadak tanpa harus membuat gentar lawannya terlebih dahulu? Dan di dalam film berdurasi 2 jam 7 menit ini, masih ada beberapa hal-hal tidak penting yang dimasukkan ke dalam cerita yang tampak seperti kompilasi dari film-film kolosal sebelumnya ini.

Kemudian, adegan aksinya pun tidak berkesan sama sekali. Koreografi perkelahiannya sungguh sangat menjemukan diimbuhi efek visual yang terlihat receh dengan warna-warni ilmu kanuragan dari senjata-senjata para dewa ini.

Tampilan skala fisik manusia dengan para dewa awalnya terlihat cukup baik, tapi semakin diperhatikan pengaturan skala ini tidak berjalan secara konstan.

Bahkan sinematografi yang penuh polesan CGI yang seharusnya menggambarkan nuansa Mesir Kuno dengan segala keindahannya, tampak seperti potongan adegan dari sebuah video game strategi tentang kerajaan-kerajaan kuno.

Semua latar belakang di film ini murni polesan efek visual karena keseluruhan syuting dilakukan di dalam studio besar milik Fox di Australia.

Terselip Kisah Cinta yang Kering

Terselip Kisah Cinta yang Kering_

Layaknya film-film kolosal sejenis, penulis naskah tentu memasukkan kisah romantis ke dalam jalan ceritanya sebagai bumbu pemikat. Paling tidak ada dua kisah cinta di dalam film ini, yaitu Bek dan Zaya, juga Horus dan Hathor.

Tapi kedua kisah cinta ini tidak diolah dengan baik, sehingga terasa kering. Apalagi tidak adanya chemistry yang padu antara mereka.

Padahal sebenarnya, niatan Bek membantu Horus adalah untuk menghidupkan kembali Zaya yang sangat dicintainya. Sebenarnya kisah cinta ini menyimpan potensi yang bagus, hanya saja duet penulis naskah Matt Sazama dan Burk Sharpless kurang tajam dalam mengolahnya.

Ada ketegangan ketika Zaya tidak membawa apapun untuk diletakkan di timbangan akhirat dan Bek datang membawa gelang milik Hathor. Sebenarnya kesan romantis bisa dimunculkan di adegan ini, tapi justru dialog klise yang muncul dan membuat kesan yang diharapkan memuai pudar.

Tidak perlu lagi bicara kisah cinta Horus dan Hathor. Selain kurang chemistry, akting mereka kurang pas sehingga perasaan itu tidak terlihat dan tidak cukup menyampaikan pesan bermakna kepada penonton.

Mesir Kuno dalam Dunia Fantasi

Mesir Kuno dalam Dunia Fantasi_

Gods of Egypt memang mengambil inspirasi dari para dewa mitologi Mesir Kuno. Namun, sutradara Alex Proyas sendiri sudah menekankan dari awal bahwa film ini tidak menempatkan cerita pada sejarah Mesir Kuno, juga bukan mengambil salah satu hikayat mitologinya.

Pernyataan Alex Proyas ini dikarenakan banyak cibiran kepadanya tentang seting waktu dalam film ini. Hal yang sama pernah menimpa film 10,000 BC (2008) yang membuat para ahli sejarah gemas dengan campur-aduknya sejarah dalam film tersebut.

Ditegaskan sekali lagi, bahwa seting waktu dalam film ini tidak berada pada garis sejarah dan murni hanya berupa kisah fantasi yang tidak pernah terjadi. Gods of Egypt tidak bisa memaksimalkan potensi yang dimiliki dan membuat film ini terjatuh menjadi salah satu film terburuk yang pernah diproduksi.

Kontroversi pun muncul karena pemakaian pemeran yang mayoritas berkulit putih mengundang kecaman yang dianggap sebagai “Hollywood whitewashing”. Juga penggambaran bumi datar yang terlihat dari kapal Ra sempat memicu polemik.

Masuk nominasi Golden Raspberry Awards di kategori Worst Picture, Worst Director, Worst Actor untuk Gerard Butler, Worst Screen Combo, dan Worst Screenplay, sudah cukup mempelihatkan sejauh mana kualitas film ini.

Tapi anehnya, secara teknis, film ini juga masuk sebagai nominasi di lima kategori AACTA Awards, penghargaan film sekelas Oscar untuk perfilman Australia.

Terlepas dari beberapa kekurangan film ini secara keseluruhan, Gods of Egypt sebenarnya memiliki kisah petualangan yang lumayan seru.

Penikmat film petualangan tentunya tidak boleh melewatkan film yang satu ini, meski akan dibuat kecewa dari kelemahan elemen-elemen lainnya. Pilihan dikembalikan kepada kalian. Jika minat, langsung ditonton saja, ya!

Gods of Egypt
Rating: 
2/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram