bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Gangs of New York, Film Gangster yang Berbeda

Ditulis oleh Aditya Putra
Gangs of New York
3.8
/5

Kehidupan kita yang sekarang nggak bisa dilepaskan dari peristiwa-peristiwa di masa lalu. Contohnya adalah kemerdekaan yang sudah melalui proses panjang sehingga bisa kita nikmati saat ini.

Demi mendapatkan kemerdekaan itu orang-orang yang berjasa di masa lalu rela melewati perjuangan yang nggak mudah.

Ketika zaman sebelum modern seperti sekarang, perebutan kekuasaan itu lebih sering diselesaikan melalui peperangan.

Nggak terkecuali kota New York yang terkenal, juga melewati proses panjang bahkan melewati peperangan antar dua kelompok. Cerita itu diangkat dalam film Gangs of New York. Yuk, kita bahas sinopsis dan review filmnya berikut ini!

Baca juga: 20 Film Tentang Gangster yang Paling Seru dan Menegangkan

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun Rilis: 2002
  • Genre: Historical Drama
  • Produksi: Touchstone Pictures, Miramax Films, Alberto Grimaldi Productions
  • Sutradara: Martin Scorsese
  • Pemain: Leonardo DiCaprio, Daniel Day-Lewis, Cameron Diaz, Jim Broadbent, John C. Reilly

Di tahun 1846, wilayah Five Points merupakan kawasan yang padat penduduk. Ada dua kelompok yang memegang wilayah tersebut yaitu kelompok pribumi Amerika di bawah pimpinan William “Bill the Butcher” Cutting dan Dead Rabbits, imigran Irlandia beragama Katolik pimpinan Vallon.

Imigran asal Irlandia merasa bahwa mereka sering diperlakukan dengan nggak layak oleh para pribumi. Vallon muncul di jalanan diikuti oleh anggota Dead Rabbits yang lain. Nggak lama kemudian, kelompok pribumi di bawah pimpinan Bill datang ke tempat yang sama.

Peperangan pun nggak terhindarkan. Amsterdam, anak Vallon, menjauh dari kerumunan tapi tetap menyaksikan peristiwa tersebut. Lebih mengerikannya lagi, dia melihat sang ayah tewas di tangan Bill.

Pisau yang membunuh Vallon dibiarkan menancap. Bill mendeklarasikan bahwa wilayah itu merupakan teritori kekuasaannya. Amsterdam diselamatkan oleh anak buah Monk, orang yang dibayar Vallon untuk ikut serta dalam peperangan.

Amsterdam kemudian mengambil pisau yang menghabisi nyawa ayahnya, kemudian menguburnya dalam tanah. Dia pun kemudian ditangkap oleh anak buah Bill.

Berselang 16 tahun kemudian, Amsterdam sudah tumbuh besar di panti asuhan di sebuah pulau seberang New York. Dia kembali ke Five Points dengan niat menuntaskan balas dendam pada Bill dan mengambil pisau yang pernah di kuburnya.

Lewat bantuan Johnny Sirocco, orang yang mengenal Amsterdam ketika kecil, Amsterdam akhirnya masuk ke geng yang dipimpin oleh Bill tapi tetap menyembunyikan identitasnya sebagai anak dari Vallon.

Setiap tahun, Bill mengadakan upacara perayaan kemenangan atas Dead Rabbits. Amsterdam berniat menghabisi Bill di depan umum pada perayaan itu. Amsterdam berkenalan dengan seorang pencopet, Jenny Everdeane, perempuan yang juga disukai oleh Sirocco.

Amsterdam mulai mendapat posisi sebagai orang kepercayaan Bill. Dia bahkan dilibatkan dalam transaksi dengan politisi korup, William M. Tweed.

Amsterdam bukan satu-satunya orang yang ingin menghabisi Bill. Ketika Bill nyaris terbunuh, Amsterdam menjadi orang yang menyelamatkannya sehingga dia lebih dipercaya oleh Bill.

Johnny yang cemburu pada kedekatan Jenny dan Amsterdam, berniat memberi tahu Bill mengenai siapa Amsterdam sebenarnya. Bill pun menyiapkan rencana untuk memancing Amsterdam.

Bill menjadikan Jenny sebagai target acara lempar pisau. Emosi Amsterdam terpancing ketika Bill bersulang atas kematian Vallon. Amsterdam mencoba melempar pisau ke arah Bill tapi Bill berhasil menyerang balik Amsterdam.

Bill menghajar Amsterdam kemudian membakar dahi Amsterdam menggunakan logam panas. Jenny membawa kabur Amsterdam untuk bersembunyi ke San Fransisco.

Amsterdam kembali ke Five Points dan langsung memberikan tanda kedatangannya dengan menggantung kelinci yang sudah mati di Paradise Square.

Bill mengirim anggota kepolisian, Mulraney untuk menyelidiki kabar tersebut. Amsterdam yang terlampau marah, menghabisi Mulraney dan menggantung mayatnya di tempat yang sama.

Bill kembali memancing Amsterdam dengan menyiksa Johnny. Amsterdam membalas dengan menghabisi McGloin, salah satu rekan Bill di kepolisian. Bill dan gengnya menghampiri Dead Rabbits tapi mengatakan bahwa dia akan kembali.

Persaingan mereka makin memanas karena melibatkan perebutan kekuasaan berupa posisi sheriff yang akan memuluskan tindakan salah satu kelompok. Bisakah akhirnya Amsterdam membalaskan dendam atas kematian ayahnya?

Menyertakan Banyak Elemen dalam Cerita

Menyertakan Banyak Elemen dalam Cerita

Gangs of New York menyajikan banyak elemen dalam ceritanya. Mengangkat tema utama konflik antara dua orang serta kelompok yang berbeda, tapi ada banyak yang faktor lain yang berpengaruh. Ada nuansa politis tentang pemilihan sheriff yang kelak akan berpihak pada pihak yang menang.

Ada juga korupsi yang dilakukan pihak berwajib. Ada juga sentimen pribumi dan imigran yang menjadi identitas pembeda antara dua kelompok yang bertikai.

Banyaknya elemen cerita yang masuk ke dalam film, membuat konflik terasa lebih rumit. Elemen-elemen tersebut sebenarnya bukan barang baru bagi penikmat film mafia atau Scorsese, tapi Gangs of New York berlatar di abad ke-19. Belum lagi, cerita yang diangkat pun berdasarkan cerita nyata beserta karakter-karakternya.

Secara pendalaman karakter, karakter-karakter utama di film ini mendapat porsi yang kuat. Jenny yang seperti hanya tempelan, diberikan kesempatan menghubungkan plot utama tentang Amsterdam dan Billy. Motif-motif mereka dalam bertindak pun dikemas dengan masuk akal.

Visualisasi Abad ke-19 yang Meyakinkan

Visualisasi Abad ke-19 yang Meyakinkan

Bukan pekerjaan mudah untuk membuat film berdasarkan peristiwa bersejarah. Perbedaan waktu kejadian dengan masa kini bisa menjadi hambatan utama. Gangs of New York berhasil mengatasi masalah itu dengan berhasil membuat visualisasi abad ke-19 yang meyakinkan.

New York tempo dulu digambarkan seperti lukisan dengan interior minim warna, jalanan dipenuhi debu serta asap serta malam hari yang minim pencahayaan.

Secara sinematografi, film ini bisa merekam visualisasi dengan pintar. Nuansa muram serta ketegangan bisa disajikan dengan pergerakan kamera dinamis dengan banyak menggunakan mid shot serta wide shot ketika adegan peperangan.

Film ini pun bukan tipikal film yang melakukan banyak editing untuk mencapai tontonan yang apik, melainkan dibuat seorganik mungkin dengan membuat studio guna menciptakan latar Amerika di abad ke-19.

Penampilan Leonardo DiCaprio dan Daniel Day-Lewis

Penampilan Leonardo DiCaprio dan Daniel Day-Lewis

Leonardo DiCaprio berperan sebagai Amsterdam Vallon di Gangs of New York. Setelah tampil di Catch Me if You Can, film ini menjadi batu loncatan dalam karir DiCaprio yang dilirik sebagai aktor yang bisa tampil luar biasa.

Dia bisa menjadi sosok Amsterdam yang penuh amarah tapi di satu sisi perlu menunggu waktu yang tepat untuk mengeksekusi rencananya.

Apresiasi lebih perlu diberikan pada Daniel Day-Lewis yang berperan sebagai Bill the Butcher. Aktor yang dikenal sebagai method actor yang baik itu benar-benar bisa membuat sosok Bill sebagai seseorang yang bengis.

Dia berbisnis mulai dari perjudian sampai prostitusi bahkan bekerja sama dengan polisi. Belum lagi, dia bisa membawakan narasi pribumi yang xenophobic melawan imigran dengan membara.

Gangs of New York berjalan dengan tempo yang cukup pelan walau ketika intensitas tinggi berhasil dikemas dengan apik. Durasi panjang selama 167 menit mungkin akan terasa lama bagi yang nggak terbiasa menonton film yang seperti bertele-tele.

Tapi rasa bosan bukan halangan untuk menonton salah satu masterpiece Scorsese ini. Kalau kamu mau merekomendasikan karya Scorsese yang lain, langsung tuliskan di kolom komentar ya, teman-teman!

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram