Bacaterus / Review Film Barat / Review & Sinopsis We Are Marshall, Drama Olahraga Realistis

Review & Sinopsis We Are Marshall, Drama Olahraga Realistis

Ditulis oleh - Diperbaharui 15 Agustus 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Ketika kecelakaan pesawat terbang merenggut nyawa sebagian besar pemain dan staf dari tim football Marshall University dan juga merenggut semangat hidup seisi kotanya, pelatih barunya dan pemain yang tersisa mencoba untuk tetap menghidupkan program football ini. Historical drama biopic ini menyuguhkan kisah drama olahraga yang realistis.

Film arahan sutradara McG dan dibintangi oleh duo Matthew ini, Matthew McConaughey dan Matthew Fox, menampilkan sisi yang sangat manusiawi dalam perjuangan manusia dalam mengobati sakit atas kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Ada hal yang unik dan membedakan film ini dengan film-film drama olahraga serupa. Apakah keunikan itu? Mari kita simak di review-nya berikut ini.

Sinopsis

Review Film We Are Marshall (2006)

  • Tahun: 2006
  • Genre: Drama, Sport
  • Produksi: Warner Bros., Thunder Road Pictures, Legendary Entertainment, Wonderland Sound and Vision
  • Sutradara: McG
  • Pemain: Matthew McConaughey, Matthew Fox, Ian McShane, Anthony Mackie, David Strathairn

Di malam setelah kekalahan tim football Thundering Herd, tepatnya pada 14 November 1970, mereka pulang ke kotanya dengan menyewa sebuah pesawat. Malang tidak dapat ditolak, pesawat mengalami kecelakaan ketika hendak landing dan terjatuh di hutan dekat dengan bandara. Seluruh 75 penumpangnya tidak bisa diselamatkan. Pemain, pelatih, staf klub, dan kru pesawat semuanya tewas.

Rektor universitas yang awalnya ingin menghentikan program football ini, dengan berat hati tetap melanjutkan karena desakan dari para mahasiswanya. Hal ini tentu saja melukai perasaan para orang tua dan keluarga dari mereka yang menjadi korban dari kecelakaan tersebut. Jack Lengyel hadir sebagai pelatih baru setelah banyak pelatih yang ditawarkan posisi tersebut menolak.

Kesulitan untuk merekrut pemain untuk memenuhi tim dalam waktu singkat sebelum musim baru dimulai, Donald Dedmon, sang rektor, diminta oleh Lengyel untuk meminta keringanan kepada NCAA (National Collegiate Athletic Association, organisasi yang menaungi liga football mahasiswa di Amerika) untuk mengizinkan mereka memainkan para mahasiswa baru. Dan permintaan ini diizinkan.

Tim baru kini terdiri dari 3 pemain lama dan 15 pemain mahasiswa baru serta beberapa rekrutan dari kegiatan olahraga lainnya di kampus, seperti sepakbola, basket, dan baseball. Tetapi karena kurangnya persiapan dan pengalaman, mereka kalah dalam pertandingan pertama dengan skor yang sangat telak, 26-6, dari Morehead State Eagles.

Tentu saja kekalahan ini semakin memperdalam luka yang dirasakan oleh para fans-nya, termasuk seluruh warga kota. Tetapi semangat untuk terus melanjutkan perjuangan tetap mengudara dari motivasi setiap pemain, pelatih, dan beberapa warga kota. Hingga akhirnya mereka berhasil menang tipis di pertandingan kedua yang diselenggarakan di kandang sendiri dengan skor 15-13 dari Xavier University.

Kemenangan ini membawa angin harapan bagi seluruh pemain dan warga kota. Kepercayaan rasanya telah tertanam kepada tim untuk meraih kemenangan demi kemenangan yang mungkin nanti bisa menghapuskan luka mereka dan menjaga nama baik tim demi menghormati rekan-rekan mereka yang tewas dalam peristiwa kecelakaan tersebut.

Luka yang Mendalam

Luka yang Mendalam

Dalam dunia olahraga, peristiwa kecelakaan yang membuat banyak anggota tim tewas dan mereka harus membangun kembali setelahnya dari awal, beberapa kali pernah terjadi. Yang paling teringat adalah peristiwa serupa yang menimpa tim sepakbola Inggris Manchester United di tahun 1958. Saat itu, tim yang dikenal dengan gelar “Busby Babes” baru saja pulang dari Belgrade, Yugoslavia.

Bayangan semi-final European Cup setelah mereka mengalahkan Red Star Belgrade menjadi duka yang mendalam. Sama halnya dengan yang dialami oleh tim football Thundering Herd ini. Seluruh anggota tim tewas dan hanya menyisakan tiga orang yang tidak ikut bertanding karena cedera. Tentunya, para orang tua yang putranya tewas bisa jadi berduka sepanjang hidup mereka jika terus mengingatnya.

Perasaan ini bisa dilihat ketika menjelang pertandingan perdana tim baru Thundering Herd. Banyak warga, terutama para orang tua dari mendiang para pemain, merasa luka mereka yang belum sembuh disakiti kembali dengan membentuk tim baru. Seolah-olah para pemain baru ini tidak menghormati dan berduka atas peristiwa menyakitkan tersebut.

Tapi hal ini ditegaskan kembali oleh Lengyel sebagai pelatih kepada para pemainnya untuk menghormati mereka-mereka yang tewas dalam peristiwa itu dan bertanding untuk menjunjung tinggi nama tim dan kampus. Karenanya, di pertandingan kedua, semakin banyak warga yang datang ke stadion untuk menyemangati “The Young Thundering Herd” ini.

Ada satu peristiwa kecelakaan pesawat juga yang terjadi pada tim football lainnya, Wichita State University, tepat enam minggu sebelum hal serupa terjadi kepada tim Thundering Herd ini. Nasib mereka dalam mengarungi sisa musim pun sama seperti Thundering Herd, dengan menggunakan pemain tersisa dan rekrutan baru secara mendadak.

Tidak seperti Drama Olahraga Lainnya

Tidak seperti Drama Olahraga Lainnya

Apa yang membedakan We Are Marshall ini dengan film drama olahraga lainnya? Coba kita lihat sedikit elemen-elemen yang biasanya ada di film-film serupa, antara lain adanya pemain yang kurang pengalaman, konflik yang terjadi antara pemain atau dengan pelatih, dan menjadi tim underdog yang berusaha untuk berhenti menjadi tim yang suka dipecundangi.

Beberapa elemen itu hadir di dalam film ini, tetapi semuanya terjadi karena kabut duka yang masih menggumpal dalam pikiran mereka dan luka dalam hati mereka karena kehilangan orang-orang yang mereka cintai dalam tragedi yang sangat tragis. Jadi, nuansa duka selalu hadir di sepanjang durasi film yang memakan waktu dua jam lebih ini.

Dan jika dalam film lain, tim yang tadinya berstatus underdog kemudian menjadi tim kuat dan menjuarai turnamen atau liga, tetapi tidak dengan tim Thundering Herd. Kemenangan di akhir film hanyalah awal dari beberapa kekalahan berikutnya yang mereka alami dalam sisa pertandingan hingga akhir musim. Tercatat, mereka hanya berhasil mencatat dua kemenangan saja di musim tersebut.

Prestasi Jack Lengyel sebagai pelatih juga tidak terlalu mengesankan. Selama tiga musim dia membesut tim Thundering Herd, dia hanya bisa mencatatkan 9 kemenangan saja. Sangat berbeda dengan prestasi para pelatih dalam film-film lainnya. Bisa jadi, akan lebih bagus dibuatkan film yang menceritakan biografi Carlo Ancelotti, Jose Mourinho atau Pep Guardiola yang memang prestasinya sudah diakui dunia.

Semangat yang Menginspirasi

Semangat yang Menginspirasi

Kekuatan film ini terletak pada kekuatan akting para aktornya yang dikomandoi oleh Matthew McConaughey yang tampil sangat mengesankan. Bahkan aktor yang sering tampil biasa saja dalam film lain, yaitu Matthew Fox, disini dia bisa membuat kita merasakan betapa pedihnya luka yang dialami lewat lirih suaranya, tangisan dan emosinya yang meledak ketika menegur salah satu pemainnya.

Anthony Mackie, yang saat itu termasuk aktor pendatang baru, merupakan salah satu aktor dengan performa terkuat. Semangatnya untuk membangkitkan tim di sepanjang film terasa natural, dan hal inilah yang membuatnya menjadi salah satu aktor yang diperhitungkan di perfilman Hollywood saat ini.

Intinya, film ini bisa menginspirasi kita untuk bangkit dari luka dan berbuat sesuatu yang positif untuk menghormati mereka yang telah meninggalkan kita. Sejak 1 Agustus 2020, film ini bisa disimak melalui layar Netflix, sehingga bisa kita tonton berkali-kali.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *