bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Tribhanga – Tedhi Medhi Crazy (2021)

Ditulis oleh Desi Puji Lestari - Diperbaharui 9 Agustus 2021

Nayan memutuskan meninggalkan suami dan membawa dua anaknya, Anu dan Robin, keluar dari rumah setelah pertengkaran hebat terjadi. Nayan merasa tidak mendapat kenyamanan serta ketentraman di rumah mertuanya karena setiap hari mendengar omelan dan sindiran akibat hanya sibuk menulis dan tidak menelantarkan anak-anaknya.

Peristiwa ini mengubah hidup Anu dan Robin sepenuhnya. Dua anak itu terluka, terutama Anu, putri tertua mereka. Selain dirisak karena menghilangkan nama ayah di belakang namanya, Anu juga mengalami pelecehan seksual saat remaja oleh ayah tirinya. Ketika dewasa, Anu mengalami kekerasan fisik dari pasangannya.

Penderitaan yang bertubi-tubi tersebut, sedikit banyak membuat perempuan ini trauma. Sepotong cerita itu bisa Anda saksikan secara keseluruhan melalui film Tribhanga – Tedhi Medhi Crazy (2021).

Sebuah film karya sutradara Renuka Shahane yang dibintangi Kajol, Tanvi Azmi dan Mithila Palkar bisa disaksikan di Netflix, tapi sebelum itu tidak ada salahnya untuk baca sinopsis dan ulasannya lebih dulu. Mari simak bersama uraiannya di bawah ini!

Sinopsis

Sinopsis
  • Tanggal/Tahun Rilis: 18 Januari 2021
  • Genre: Family Drama
  • Produksi: Ajay Devgn FFilms, Banjay Asia, Alchemy Productions
  • Sutradara: Renuka Shahane
  • Pemeran: Kajol, Tanvi Azmi, Mithila Palkar, Kunaal Roy Kapur

Saat sedang proses pembuatan biografinya, novelis senior, Nayantara Apte atau Ny. Nayan (Tanvi Azmi) tiba-tiba terserang stroke otak. Sang putri yang merupakan seorang artis terkenal di India, Anuradha Apte atau Anu (Kajol) terpaksa membatalkan pertunjukannya dan bergegas pergi ke rumah sakit tanpa sempat mengganti kostum.

Di sana wartawan sudah banyak berkumpul, mereka menyinggung soal hubungan Anu dan Nayan yang renggang, termasuk pakaian Odissi yang dikenakannya saat datang. Dokter yang memeriksa keadaan Ny. Nayan mengatakan bahwa saat ini dia tengah koma tapi Anu tak perlu cemas karena tidak ditemukan komplikasi penyakit lain.

Anu bersama putrinya, Masha (Mithila Palkar) dan Milan (Kunaal Roy Kapur), penyusun biografi sang novelis, hanya boleh melihat kondisi Ny. Nayan dari balik kaca di luar ruangan. Begitu keluar ruangan, Milan mengatakan bahwa Ny. Nayan tidak ingin mayatnya dibakar.

Mendengar hal ini, Anu tentu geram karena sang ibu belum meninggal. Dia juga keberatan dengan penggunaan kata “dibakar” karena yang benar adalah dikremasi. Esoknya berita mengenai busana Odissi yang dipakai ke rumah sakit dan dianggap mewah oleh wartawan sampai ke telinga Anu.

Anu yang kesal bertambah kesal karena di rumah sakit dia bertemu lagi dengan Milan. Perempuan itu bahkan sempat-sempatnya membentak Milan di depan tenaga medis yang sedang memindahkan ibunya ke ruang perawatan lain. Milan kembali berujar kalau perkataan Ny. Nayan mengenai Anu yang kasar dan tidak berperasaan itu benar.

Ketika diingatkan untuk diam oleh perawat yang membawa ibunya, Anu malah balik membentak dan bertanya, apakah ibunya yang koma bisa dengar? Kebencian Anu terhadap Milan rupanya karena dia berprasangka bahwa lelaki itu hanya berniat mengincar copyright buku-buku sang ibu. Cerita berlanjut saat Anu bertemu Robindro (Vaibhav Tatwawaadi) di loby rumah sakit.

Berbeda dengan Milan, Anu tampak antusias bertemu Robin, adik lelakinya yang sudah lama tidak bertemu. Robin pula yang meminta Anu lebih tenan, setelah berdebat dengan Milan, karena kekacauan sebenarnya hanya ada di kepala.

Dua orang kakak beradik itu kini sudah ada di ruang perawatan Ny. Nayan. Dokter menjelaskan pada Robin bahwa pihaknya juga tidak bisa memprediksi kapan pasien akan siuman. Scene kembali ke masa lalu saat Anu dan Robin masih kecil.

Diperlihatkan di sana bahwa Nayan membawa anak-anaknya pergi meninggalkan sang ayah. Peristiwa itu menjadi salah satu yang membekas di ingatan Anu. Hingga dewasa Anu hanya mengingat bahwa Nayan bukan ibu yang baik karena sudah merusak hidupnya dan Robin. Perempuan ini hanya mengharapkan maaf dari ibunya.

Robin dengan tenang mengingatkannya untuk memaafkan semua kesalahan sang ibu. Namun, sepertinya Anu terlalu sakit hati dan kembali mengungkit kehidupannya yang sulit bersama Nayan. Sebagai manusia dan anak, Anu merasa tidak pernah punya pilihan.

Scene berpindah saat Milan membuka kembali video ketika Nayan masih bugar. Di dalam video terlihat Nayan juga menyinggung soal pilihan. Di biografinya nanti Nayan ingin memberi anak-anaknya peluang untuk menyalahkan dia semaunya.

Dia mengatakan bahwa ingatan manusia sangat selektif. Ingatan menyembunyikan kesalahan dan membesar-besarkan kebaikan diri sendiri. Oleh karena itu, untuk mengetahui sifat asli manusia, sudut pandang orang lain menjadi penting. Nayan lalu mengingat masa mudanya yang sangat bersemangat menulis walau hanya bermodalkan pena dan kertas karena imajinasinya yang tidak terbatas.

Semua mulai berubah karena Nayan merasa terganggu dan butuh ketentraman sebab mendengar sindiran mertua yang keberatan melihatnya terus menulis hingga tidak sempat mengurus anak-anak. Perselisihan dengan suaminya, Vinayak, mulai sering terjadi karena hal ini. Ketika Nayan menerima kedatangan teman-teman untuk merayakan kesuksesannya dalam menulis, keributan kembali terdengar.

Di dapur sang mertua lagi-lagi memperlihatkan ketidaksukaannya. Dia mengatakan bahwa Nayan boleh saja dipuji banyak orang tapi rumah berantakan. Nayan bahkan tak bisa masak atau melakukan apa pun di rumah. Nayan dan Vinayak kembali bertengkar mengenai perkara ini.

Nayan ingin keluar dan pindah dari rumah karena tidak tahan lagi sebab merasa dipenjara dan tidak bebas. Sementara itu, suaminya juga tidak bisa pergi sebab dia merupakan satu-satunya anak lelaki. Nayan bertambah kecewa karena keputusannya untuk pindah tidak didukung Vinayak. Dia juga merasa kebahagiaannya dianggap sepele. 

Cerita berlanjut saat Anu dan Milan kembali ribut di ruang perawatan Nayan. Lelaki itu menyinggung soal ayah Anu dan Robin. Dari sana rupanya diketahui bahwa hubungan antara anak dan ayah tersebut tak kalah renggang. Robin bahkan sependapat untuk tidak ingin menemui ayahnya, sama seperti Anu. Lalu apakah keluarga ini dapat menyelesaikan kesalahpahaman di antara mereka?

Alur Maju Mundur

Alur Maju Mundur

Tribhanga – Tedhi Medhi Crazy (2021) disusun atas alur maju dan mundur. Anda beberapa kali akan diajak kembali ke masa lalu Nayan atau Anu kecil ketika sumber konflik dalam hidup keduanya dimulai. Penonton diperlihatkan potongan-potongan cerita di masa lalu agar bisa ikut merasakan emosi Nayan dan Anu dalam dalam film ini.  

Perpindahan antara scene di masa lalu dan masa kini cukup halus, Anda tidak akan bingung dengan hal ini. Selain itu tone-nya pun cukup berbeda, begitu halnya dengan tampilan kostum dan elemen lain. Alur maju-mundur dalam Tribhanga – Tedhi Medhi Crazy dibungkus dalam bentuk narasi oleh karakter Nayan yang diceritakan sedang membuat biografi pribadinya.

Singgung Masalah Tradisi Patriarki Kuno

Singgung Masalah Tradisi Patriarki Kuno

Film yang dibintangi Kajol ini sedikit banyak menyinggung isu tradisi patriarki kuno di India sana. Scene ketika Nayan dan suaminya berpisah bukan sekadar mempertontonkan kegagalan dalam berumahtangga, lebih lanjut ia menjadi bentuk perlawanan tradisi patriarki kuno di masyarakat setempat yang bisa dilakukan oleh seorang istri.

Dalam film, Nayan diceritakan mengganti nama belakang Anu dan Robin, yang semula menggunakan nama ayahnya menjadi nama dirinya. Dia menceritakan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk memperjuangkan itu kurang lebih 10 tahun. Nayan juga kerap mendapat pertanyaan mengenai keputusannya tersebut.

Tersirat dalam film bahwa secara tradisi nama belakang ayah tampak lumrah ada di belakang nama anak. Oleh karena itu, menghapus dan mengganti nama ayah sama dengan mendobrak tradisi tersebut. Di dalam film Tribhanga diperlihatkan bahwa hal ini jadi masalah tersendiri, khususnya bagi anak-anak Nayan yang harus menerima olok-olok dari teman bahkan guru.

Perempuan, Antara Mimpi, Tanggung Jawab dan Kewajiban

Perempuan, Antara Mimpi, Tanggung Jawab dan Kewajiban

Memasang tiga aktris sebagai pemeran utama, film Tribhanga – Tedhi Medhi Crazy (2021) memang fokus terhadap perempuan, konflik yang terjadi pada perempuan dan sudut pandang kaum perempuan terhadap konflik tersebut.

Melalui karakter Nayan dan Anu, Anda akan diingatkan bahwa selain punya mimpi dan harus berjuang sekuat tenaga mempertahankan mimpi yang dimiliki, perempuan juga punya tanggung jawab serta kewajiban terkait takdirnya sebagai perempuan.

Karakter Nayan dalam film ini paling menarik perhatian. Nayan muda tidak bisa lepas dari menulis. Hidupnya didedikasikan untuk menulis, sayang, hal tersebut sedikit banyak membuatnya lupa dengan tanggung jawab dan kewajibannya sebagai istri, ibu dari dua anak sekaligus menantu.

Nayan menuntut kebebasan dan pengertian orang-orang di sekitar untuk menghargai mimpinya, tetapi lupa memenuhi peran sebagai ibu dan istri.

Anak-Anak Korban Keegoisan Orangtua

Anak-anak Korban Keegoisan Orangtua

Dilengkapi scoring yang pas, musik instrument yang menghentak-hentak, luka masa lalu Anu dalam film Tribhanga terasa bertambah dramatis. Masalah mengenai trauma anak, bahwa mereka adalah satu-satunya korban dari keegoisan orang tua turut disampaikan dengan baik melalui scene per scene di masa lalu. 

Perpisahan antara Nayan dan suaminya lalu membawa pergi Anu dan Robin adalah contoh keegoisan yang bisa dilakukan para orangtua. Apalagi ketika Nayan menghilangkan nama suaminya di belakang nama anak-anak.

Hal yang diketahui ketika melakukan itu hanya kepuasan, merasa sombong karena mampu menghidupi anak seorang diri, tapi Nayan tidak mempertimbangkan bullying yang diterima Anu dan Robin di sekolah.

Sedihnya film ini juga turut mengangkat trauma pada anak akibat pelecehan seksual yang dilakukan orang terdekat. Karakter Anu yang digambarkan begitu kasar, ternyata sebenarnya trauma. Dia mengalami peristiwa kelam di masa lalu akibat pelecehan seksual oleh ayah sambungnya.

Luka tersebut diperparah karena Anu merasa tidak diinginkan oleh ayah kandungnya. Anu kecil tidak mendapat perlindungan dari orang-orang yang dia pikir bisa melindunginya. Kekecewaan tersebutlah yang akhirnya dia bawa hingga dewasa. Saat dewasa, Anu pun kembali mengalami trauma karena memiliki pasangan yang sering memukulinya.

Film berdurasi kurang lebih 95 menit ini sarat dengan  isu-isu sensitif terkait kekerasan yang terjadi pada wanita, baik kekerasan yang menyerang psikis atau fisik. Konfliknya cukup padat, alurnya juga cepat. Film ini tidak disarankan untuk Anda yang punya trauma akibat kekerasan dari orang-orang terdekat.

Namun, film ini juga menangkap kerja keras seorang ibu yang berjuang menafkahi anak hingga tidak memedulikan kesehatannya. Secara keseluruhan, Tribhanga – Tedhi Medhi Crazy (2021) adalah sebuah tontonan yang mengingatkan kita terhadap banyak hal, terutama tentang luka dan kehidupan yang tak pernah mudah, juga mengenai manusia sebagai makhluk bebas tapi tetap punya tugas.

Penasaran? Sebagai informasi, film ini bisa disaksikan secara resmi melalui Netflix! Selamat menonton!

Tribhanga – Tedhi Medhi Crazy
8 / 10 Bacaterus.com
Rating

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram