bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film Thailand The Whole Truth (2021)

Berbeda dengan kebanyakan film horor buatan Thailand, The Whole Truth (2021) membuat penonton terkesan di akhir. Film yang disutradarai oleh Wisit Sasanatieng dan ditulis oleh Abhishek J. Bajaj ini mungkin terasa kosong, ternyata mereka memberikan banyak kejutan di bagian akhir.

Premisnya sangat sederhana, dua bersaudara yang mendapatkan penglihatan dari dimensi lain lewat lubang tembok. Ternyata semua yang mereka lihat bukanlah kisah mengenai tetangganya, hal ini membuat Pim dan Putt dianggap sebagai anak pembohong.

Akting yang memukau dari Punpun Sutatta sebagai Pim dan Mac Nattapat Nimjirawat sebagai Putt, menjadi duo yang paling berkesan di sini. Sayangnya, The Whole Truth (2021) hanya mendapatkan rating 5.1/10 dan kebanyakan komentar negatif.

Kira-kira bagaimana cara Pim dan Putt mencari jawaban mengenai siapa gadis kecil yang dilihat mereka melalui lubang kecil di tembok itu? Jawaban lebih lengkapnya bisa kamu dapatkan hanya di bawah ini.

Sinopsis

sinopsis_
  • Tahun Rilis: 2021
  • Genre: Horor, Mystery, Drama
  • Sutradara: Wisit Sasanatieng
  • Pemeran: Punpun Sutatta, Mac Nattapat Nimjirawat
  • Produksi: Transformation Films

Pim dan Putt adalah saudara kandung yang hanya tinggal bersama dengan ibu mereka yang bernama Mai. Hari itu, ibu mereka mengatakan bahwa akan mengadakan pesta, pasalnya Mai mendapatkan promosi di kantornya. Tapi hingga malam hari Mai belum juga datang, sampai-sampai keduanya tertidur di ruang tengah. 

Suara ketukan pintu tiba-tiba saja membangunkan Pim. Dengan rasa takut, gadis itu berjalan ke arah pintu. Ia melihat seorang pria paruh baya yang mengetuk pintu rumah mereka.

Pim dan Putt terkejut ketika pria itu mengaku sebagai kakek mereka. Kehadiran pria paruh baya ini membawa berita buruk mengenai ibu mereka, Mai yang mengalami kecelakaan dan sedang koma. 

Kejadian ini membuat keduanya terpaksa tinggal dengan sang kakek dan nenek, sampai ibu mereka sadar. Jujur saja kehadiran kakek Pong dan nenek Wan penuh dengan keanehan.

Pasalnya, ibu mereka tidak pernah sekali pun menyinggung keberadaan keduanya. Benar saja, kehidupan mereka bersama kakek dan neneknya menimbulkan banyak kejutan yang tidak terduga. Hal ini dimulai dengan sikap aneh yang diperlihatkan oleh nenek Wan, yang ternyata mengalami demensia akut.

Setiap hari nenek Wan memasak sarapan yang sama, bahkan memaksa Putt untuk minum susu yang katanya baik untuk kesehatan. Sementara sang kakek Pong, pria ini sangat mudah sekali tersulut emosinya dan marah besar dengan hal kecil. 

Tapi keanehan lainnya dirasakan oleh Putt. Saat itu, ia melihat ada lubang di tembok rumah kakek dan neneknya. Putt kaget, pasalnya saat ia mengintip lewat lubang itu ada seorang gadis kecil yang terluka dan memuntahkan darah cukup banyak.

Ia memberitahukannya pada Pim, dan sejak saat itu keduanya sering dihantui dengan suara-suara ketukan dan seretan yang aneh. 

Keduanya sempat mengadu dan bertanya pada kakek mereka, sayangnya hal ini malah membuat pria itu emosi besar. Baik kakek Pong dan nenek Wan tidak bisa melihat lubang besar yang dilihat oleh mereka. sampai-sampai kakek Pong mengatakan keduanya anak-anak yang suka berbohong dan mencari masalah. 

Nenek Wan meminta Pim dan Putt untuk menjaga emosi kakek Pong agar tidak marah lagi. Tapi semakin mereka berusaha mengabaikan lubang dan suara-suara aneh itu, kehidupan keduanya mengalami banyak perubahan. Pim dan Putt dilema, mereka ingin menyelamatkan gadis yang disangka sebagai tetangganya itu. 

Namun menurut penuturan kakek mereka, rumah itu telah lama tidak berpenghuni dan tidak ada siapa pun di sana. Hingga kedua anak ini menyadari sesuatu, bahwa rumah yang dilihat keduanya ternyata mirip dengan rumah yang mereka tempati.

Putt berpikir, apakah hal yang mereka lihat ini semacam lubang cacing yang memperlihatkan kejadian di dimensi lain? Sebenarnya apa yang terjadi, siapakah gadis kecil yang mereka lihat lewat lubang cacing itu? Apakah benar, semua hal yang mereka lihat itu terjadi di rumah yang ditempati sekarang?

Tampil Lebih Cerah, The Whole Truth Penuh Plot Twist

tampil lebih cerah_

The Whole Truth (2021) mungkin menjadi salah satu film Thailand yang berkesan di tahun ini. Pasalnya, film ini digadang-gadang merupakan film horor.

Nyatanya, film ini jauh dari kata menyeramkan. Setelah menontonnya, saya pikir film ini lebih layak disebut film bergenre psikologis, misteri dan crime. Kenapa bisa begitu? Jawabannya adalah plot twist yang disuguhkan berhasil membuat penonton tertipu. 

Sejak awal, The Whole Truth (2021) tidak memberikan kesan horor, film ini malah terasa lebih cerah. Pembukanya sangat monoton, mengisahkan kejadian tragis yang membawa mereka bertemu dengan kakek dan neneknya. Plot-nya berjalan sangat alot, belum lagi bagi saya jalan ceritanya terasa cukup random dan tidak rapi. 

Jadi jangan heran jika kamu merasa sangat bosan dan berpikir, “Film ini sangat remeh dan membosankan”. Jujur saja saya pun berpikiran demikian.

Tapi, setelah memasuki sesi kedua, mulai sedikit intense menunjukkan sisi horor. Dalam tanda kutip, saya mengatakan sisi horornya malah terasa hilarious. Saya akan menjelaskan alasannya di bawah. 

Memasuki bagian ketiga atau akhir, dari sini saya mulai bisa menikmati jalan ceritanya. Alasannya karena kini saya bisa melihat benang merah dari keseluruhan cerita yang monoton ini. Akhirnya semua hal yang terasa kurang logis, remeh dan acak-acakan ini memiliki makna.

Semua ini adalah konflik keluarga ibu mereka dengan kedua orang tuanya di masa lalu. Lalu konflik kecil lainnya, apa yang dialami Pim di sekolah hingga hubungan Putt dengan temannya.

Sejujurnya, konflik ini lebih baik ditiadakan saja, pasalnya bagian ini tidak memiliki impact besar. Justru saya lebih penasaran dengan latar belakang Pinya, yang sayangnya tidak diceritakan. Padahal Pinya menjadi fokus utama, tapi dibuat seakan gadis kecil ini tidak berguna dan berpengaruh di film ini.

Sangat Disayangkan Spesial Efeknya Buruk

spesial efek_

Ada salah satu hal yang paling saya nantikan ketika menonton film Thailand bergenre horor, yaitu sensasi thrilling yang diberikannya. Sayangnya saya tidak mendapatkan hal ini saat menonton The Whole Truth (2021). Ada beberapa alasan yang mendasari hal ini, pertama kualitas filmnya yang benar-benar kurang maksimal.

Animasi di bagian pembukanya cukup menarik, meski kualitas dari pembuatan animasi ini masih terlihat amatir. Contohnya patung-patung manusia dibalut dengan sesuatu yang terlihat seperti pembuluh darah berwarna merah.

Dari sini orang akan mengira ceritanya pasti akan dark dan thrilling. Ketika sedang menikmati openingnya, tiba-tiba saja terputus dan disambungkan dengan ilusi optik spiral sebagai pembatasnya. 

Jujur saja hal ini agak mengganggu. Pasalnya, transisinya kurang smooth dan terasa agak kagok. Hal lainnya, saya sangat terganggu dengan bagaimana mereka membuat karakter Pinya dalam dua versi yang dibuat dengan efek khusus dan art makeup.

Saya tidak memiliki masalah soal art makeup-nya, karena yang dengan makeup sederhana saja karakter hantu Pinya sudah sempurna. 

Namun, saya sangat menyayangkan bagian spesial efeknya, benar-benar terasa sangat low budget. Inilah alasan kenapa saya mengatakan unsur horornya terasa agak hilarious, pasalnya hantu Pinya tidak terlihat menakutkan.

Hantunya malah terlihat manis. Pinya benar-benar hanya terlihat seperti hantu anak kecil yang gelisah karena kematiannya terjadi secara misterius.

Hal yang paling parah, mereka memakai efek khusus yang murah ini ketika hantu Pinya memuntahkan banyak darah. Sudah jelas sekali terlihat amatir karena transisinya sangat buruk, malah kartun tahun 90-an terasa jauh lebih baik. makanya, jangan heran jika saat menonton kamu tidak akan merasa ketakutan meski dihadapkan dengan jumpscare.

 Mengorek Pandangan Soal Ambisi Orang Tua

ambisi_

Ada satu hal paling melekat di pikiran saya setelah menonton film ini, yakni bagaimana cinta keluarga bisa berubah menjadi malapetaka. Hal ini secara gamblang diperlihatkan dalam The Whole Truth (2021). Film ini mengangkat kisah kematian seorang anak yang dianggap musibah.

Selama 15 tahun keberadaan anak ini tidak pernah disinggung siapa pun, bahkan penyebab kematiannya pun ternyata penuh tanda tanya. Pinya si anak yang terlahir dalam keadaan cacat, malah menjadi korban dari ambisi orang dewasa disekitarnya. Anak ini menjadi korban dari ambisi neneknya.

Wanita ini tidak rela putrinya melahirkan anak cacat dan buruk rupa. Apalagi kelahirannya membuat karir putrinya yang cemerlang berakhir begitu saja, karena kelahirannya dan ayahnya. 

Tragisnya, Pinya diam-diam diracun oleh neneknya, lalu kematiannya membuat sang ayah yang tidak bersalah jadi kambing hitam. Jujur saja ini sangat menyakitkan, bukan kesalahan Pinya jika ia terlahir cacat dan kurang sempurna. Alih-alih mendapatkan dukungan, nyatanya semua orang di lingkungannya memang kurang peduli padanya. 

Saya tidak hanya ingin menyalahkan neneknya saja, tapi ayah dan ibu Pinya juga memiliki andil besar di sini. Mereka lalai untuk menjadi orang tua yang baik, ketika mereka gagal mengesampingkan masalah pribadinya dihadapan sang anak.

Namun orang yang memiliki andil paling besar adalah nenek Wan, wanita ini bahkan melakukan praktek yang sama pada Putt. Sedangkan Pim yang cantik, menjadi anak yang begitu dibanggakannya, seperti saat ia membanggakan sang putri, Mai.

Dari sini mungkin bisa diambil kesimpulan, menjadi orang tua ternyata bukanlah perkara yang mudah. Salah-salah, kejadian yang dialami oleh Pinya, Pim dan Putt mungkin bisa benar-benar terjadi di kehidupan nyata. 

Inilah review saya setelah menonton The Whole Truth (2021), film yang bagi saya lebih terasa bergenre misteri dan psikologis. Film ini mungkin terasa membosankan di awal, tapi bagian akhir dan benang merahnya tersampaikan dengan baik. Kamu juga bisa menemukan review film-film Thailand dan Asia lainnya, hanya di Bacaterus.

The Whole Truth
Rating: 
3.5/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram