bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film The Wandering Earth (2019)

Ditulis oleh Dhany Wahyudi - Diperbaharui 1 Juni 2021

Matahari sekarat, Bumi menjadi dingin dan permukaannya diliputi oleh es yang tebal. Umat manusia membuat pemukiman di bawah tanah sementara Bumi dipindahkan ke galaksi lain. Perjalanan panjang ini penuh dengan bahaya yang senantiasa mengancam dan warga Bumi saling bahu-membahu menyelamatkan planetnya dari kehancuran.

The Wandering Earth, yang judul aslinya Liulang Diqiu, adalah sebuah film science-fiction produksi China yang termasuk ke dalam salah satu film dengan biaya produksi termahal di negaranya. Kisahnya sendiri diadaptasi dari novella karya Liu Cixin. Qu Chuxiao, Wu Jing, Ng Man-Tat, dan Zhao Jinmai membintangi film yang diarahkan oleh Frant Gwo ini.

Dirilis tepat pada tahun baru China 5 Februari 2019 oleh China Film Group Corporation film ini kemudian didistribusikan secara internasional oleh Netflix, sehingga kita bisa menonton perjuangan umat manusia dalam menyelamatkan planet ini dari kehancuran yang salah satu lokasinya di dalam cerita adalah berada di Sulawesi. Bagaimana mereka bisa sampai ke sana? Simak review kami terlebih dahulu.

Sinopsis

The Wandering Earth (2019)
  • Tahun: 2019
  • Genre: Action, Sci-Fi
  • Produksi: Beijing Dengfeng International Culture Communications Company, Base FX
  • Sutradara: Frant Gwo
  • Pemeran: Qu Chuxiao, Wu Jing, Ng Man-Tat

Pada tahun 2061, Matahari yang sekarat semakin panas dengan banyaknya ledakan yang bisa membahayakan Bumi. United Earth Government yang bertindak selaku pemerintahan di Bumi menyusun rencana untuk memindahkan Bumi ke sistem bintang Alpha Centauri demi menyelamatkan kelangsungan hidup umat manusia.

Permukaan Bumi yang tertutup es membuat umat manusia harus hidup di bawah tanah dengan ditunjang oleh mesin-mesin canggih. Dan di beberapa titik Bumi, mereka membangun mesin pendorong raksasa dengan tenaga fusi untuk menggerakkan Bumi dari posisinya. Sementara itu, beberapa astronot mempersiapkan semuanya di stasiun luar angkasa, salah satunya adalah Liu Peiqiang (Wu Jing).

Di Bumi, putranya yang telah ditinggalkan sejak 17 tahun yang lalu, Liu Qi (Qu Chuxiao), tumbuh menjadi remaja pintar. Hidup bersama adik angkat dan kakeknya, Han Ziang (Ng Man-Tat), Liu nekat pergi ke permukaan Bumi dan mencuri truk proyek milik kakeknya bersama adik angkatnya, Han Duoduo. Tidak lama kemudian mereka ditangkap polisi karena ketahuan mencuri dan memakai identitas palsu.

Bumi mendekati planet Jupiter dan terkena gravitasinya sehingga menimbulkan gempa bumi dahsyat. Liu Qi dan Han Duoduo beserta Han Ziang berhasil keluar dari penjara dan pergi dengan truk proyek hingga akhirnya truk mereka diambil alih oleh kesatuan khusus militer untuk membawa komponen penting bagi mesin pendorong Bumi yang akan dibawa ke stasiun di Hangzhou.

Ketika melewati Shanghai, mereka terperangkap di sebuah gedung dan komponen itu hilang jatuh ke jurang penuh magma serta memakan banyak korban dari mereka. Tidak disangka ternyata mereka menemukan komponen lainnya yang masih utuh dari reruntuhan pesawat yang seharusnya dibawa ke stasiun di Sulawesi dimana stasiun tersebut adalah pusat dari seluruh mesin pendorong Bumi.

Sementara itu di stasiun luar angkasa, Liu Peiqiang berusaha untuk menyelamatkan anaknya dan umat manusia lainnya dengan mengambil alih kendali stasiun meski dihalangi oleh MOSS, sebuah komputer pintar di dalam sistem stasiun. Dengan segala cara, bahkan hingga merenggut nyawa rekannya, dia berhasil meyakinkan pemerintahan di Bumi supaya dia bisa mengendalikan stasiun itu.

Sesampai di Sulawesi, mereka berhasil mengembalikan mesin pendorong Bumi untuk beroperasi, tapi gravitasi Jupiter terlalu besar dan Bumi sudah terhisap mendekati planet raksasa itu. Di tengah keputusasaan, Liu Qi memiliki ide untuk menembakkan tenaga fusi ke planet Jupiter yang atmosfernya terdiri dari gas hidrogen agar terjadi ledakan yang membuat Bumi menjauh dari planet itu.

Setelah mereka berusaha bersama dengan kru dari berbagai negara lainnya, dengan membalikkan sistem operasi mesin agar menghasilkan tembakan, ternyata jarak tembak tidak sampai ke planet Jupiter. Liu Peiqiang yang menyadari jika dirinya adalah kunci dari usaha mereka di Bumi, mengorbankan dirinya beserta pesawat yang dikendarainya agar berada pada titik tembak sehingga bisa membuat ledakan.

Pengorbanannya tidak sia-sia, Bumi bergerak menjauh dari Jupiter. Tapi aksi heroiknya ini meninggalkan kesedihan mendalam bagi Liu Qi yang baru saja ditinggal mati oleh kakeknya. Tiga tahun kemudian, Liu Qi sudah resmi menjadi kru proyek yang melanjutkan perjalanan Bumi ke Alpha Centauri selama 2500 tahun yang akan dilakukan oleh 100 generasi setelahnya.

Berdasarkan sebuah Novella

Berdasarkan sebuah Novella

The Wandering Earth berdasarkan novella karya Liu Cixin yang terbit pada tahun 2000. Bagi yang belum mengenal penulis asal China ini, dia telah menghasilkan novel trilogi bergenre sci-fi dengan judul Remembrance of Earth’s Past yang terdiri dari The Three-Body Problem (2006), The Dark Forest (2008), dan Death’s End (2010). Untuk versi bahasa Inggrisnya terbit secara runut di tahun 2014 hingga 2016.

Trilogi ini sukses besar dan menarik banyak perhatian. Sekedar bocoran info, Netflix sudah memegang lisensi ketiga novel ini dan sedang merancangnya untuk ditayangkan dalam bentuk serial. Tentu saja, nama besar penulis novella ini turut mempengaruhi kesuksesan film yang berhasil memecahkan rekor box-office di China dengan pendapatan sebesar 2 milyar yuan dalam waktu seminggu saja!

Meski kisahnya tidaklah orisinil, karena mengambil banyak nukilan dari novel dan film bertema serupa, seperti novel A World Out of Time karya Larry Niven yang diterbitkan pada 1976. Novel ini menceritakan latar belakang yang sama dengan The Wandering Earth. Selain itu, kisah Matahari yang sekarat sudah pernah diangkat lewat film Sunshine (2007).

Untuk tambahan informasi saja, teori tentang memindahkan Bumi menjauh dari Matahari sudah banyak dirumuskan oleh beberapa ilmuwan, terutama dari Universitas Cornell. Efek yang terjadi apabila teori ini berhasil diwujudkan adalah sama dengan yang ditampilkan di dalam film, yaitu permukaan Bumi membeku karena Bumi berhenti berotasi, tertarik gravitasi planet lain, dan tabrakan dengan asteroid.

Special Effects Setara Hollywood

Special Effects Setara Hollywood

Sepanjang kita menonton film The Wandering Earth, kita akan dibuat terpukau dengan pameran special effects yang ditampilkan. Menciptakan Bumi dalam liputan es, adegan aksi yang penuh dengan polesan CGI, dan berbagai teknologi canggih ditampilkan dengan sangat baik. Bisa dibilang, kerja keras 7 studio visual effects dalam mewujudkannya terbayar dengan hasil yang memuaskan.

Di dalam film ini, kita akan banyak menemukan referensi dari beberapa film Hollywood bergenre sci-fi. Contohnya antara lain jenis truk yang digunakan hampir menyerupai truk yang ada di Total Recall (1990), dan kehadiran MOSS menyerupai HAL 9000 dalam 2001: A Space Odyssey (1968). Rumus mudahnya ialah untuk menciptakan karya yang sukses harus mengambil dari sumber yang sukses pula.

Sulawesi Sebagai Pusat Penyelamatan Bumi

Sulawesi Sebagai Pusat Penyelamatan Bumi

Sebagai orang Indonesia, tentunya kita bangga jika negara kita atau salah satu daerah di Indonesia disebut di dalam sebuah film berskala internasional. Dalam The Wandering Earth, Sulawesi diceritakan sebagai stasiun pusat mesin pendorong Bumi karena letaknya di tengah garis khatulistiwa. Jika melihat peta, bisa jadi daerah yang diceritakan terletak di provinsi Sulawesi Tengah.

Meski hanya dalam film, kita dibuat bangga dengan sosok sentral penyelamat Bumi yang terdapat di Indonesia selama menontonnya. Bagaimana caranya mereka bisa sampai di Sulawesi dari China juga dijelaskan secara ilmiah, karena seluruh lautan di Bumi membeku akibat dari berhentinya rotasi Bumi, sehingga mereka bisa mengendarai truk dari Shanghai ke Manila dan sampai ke Sulawesi.

Sebagai film produksi Asia yang kuat dengan sisi melankolis, tentunya The Wandering Earth menyimpan banyak adegan yang menyentuh hati. Dari awal kisah saja karakter utamanya sudah memendam pilu karena harus ditinggal ayahnya. Selanjutnya, siapkan saja tisu untuk menghapus air mata terutama di adegan heroik ala Armageddon (1998) menjelang akhir film.

Meski belum bisa menyaingi kualitas film sci-fi Hollywood, The Wandering Earth menyimpan banyak potensi dan faktor kuat untuk menjadi film sci-fi berkualitas, terutama dengan kekuatan special effects yang menjanjikan. Tentunya, hal inilah yang membuat kita tertarik untuk menontonnya di layar Netflix mulai sekarang dan langsung ikut berjuang bersama menyelamatkan Bumi. Jangan dilewatkan ya!

The Wandering Earth
6 / 10 Bacaterus.com
Rating

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram