bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review The One, Mencari Pasangan Lewat Tes DNA

“Temukan pasanganmu melalui The One.” Kira-kira begitu bunyi kampanye yang diangkat oleh Rebecca Webb (Hannah Ware) dalam serial Netflix Original The One.

Rebecca Webb dan timnya akan membantu menemukan belahan jiwa. Cukup kirimkan sampel DNA-mu dan pasanganmu, maka The One akan membantu mencari tahu apakah kalian pasangan yang cocok atau bukan.

The One memang bukan tontonan yang mengandung unsur romantisme pasangan, melainkan lebih banyak unsur misteri. Film ini merupakan sebuah karya kolaborasi sutradara Catherine Morshead dengan Ronan Benett dan Jeremy Lovering.

Kisah sepanjang delapan episode masing-masing akan diarahkan oleh tiga sutradara ini. Penasaran dengan jalan ceritanya? Simak sinopsis dan sekilas ulasannya berikut ini!

Baca juga: Sinopsis & Review Film Netflix The Social Dilemma (2020)

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun Rilis: 2021
  • Genre: Drama, Crime, Sci-Fi, Thriller
  • Produksi: StudioCanal
  • Sutradara: Jeremy Lovering, Cathereine Morshead, Ronan Bennett
  • Pemeran: Hannah Ware, Dimitri Leonidas, Amir el-Masry, Diarmaid Murtagh, Zoe Tapper, Lois Chimimba, Eric Kofi-Abrefa, Jana Perez, Stephen Campbell Brown

The One merupakan serial yang mengangkat tema fiksi ilmiah karya Howard Overman yang terkenal dengan karya Misfits. Premis dalam film ini bukanlah hal yang baru: pencarian belahan jiwa dengan menggunakan tes DNA. Beberapa film dan TV series sebelumnya mengangkat tema yang sama.

Serial yang diangkat dari kisah novel karya John Marrs yang terbit tahun 2017 ini berlatar masa depan di mana The One disebut-sebut sebagai perusahaan startup yang sukses memasangkan banyak pasangan dengan akurasi tinggi. Berkat adanya inovasi ini, banyak pasangan yang mengaku terbantu. 

The One dibuka dengan kisah seseorang yang sedang menyelam di sungai Thames. Di salah satu sudut dasarnya, ia melihat sesosok jenazah yang sudah hampir menjadi tengkorak. Setelah itu, kisah bergulir menampilkan Rebecca Webb yang tengah menjadi pembicara di sebuah seminar perusahaannya.

Tokoh sentral dalam series ini terdiri dari tiga orang, Rebecca Webb, si founder The One, James Whiting (Dimitri Leonidas) dan Ben Naser (Amir El-Masry). Mereka bertiga adalah teman yang menghabiskan waktu bersama sejak kuliah.

Ben dan Rebecca menyewa apartemen bersama, sedangkan James adalah teman sekaligus otak di balik terciptanya The One. James dan Rebecca berusaha keras bertahun-tahun membuktikan lewat berbagai penelitian bahwa DNA bisa membantu menemukan pasangan sejatimu.

Rebecca berpendapat bahwa orang yang kamu cintai belum tentu menjadi pasanganmu sebab di luar sana, mungkin orang lain lebih cocok dipasangkan berdasarkan DNA yang mereka miliki.

Tak peduli ia berasal dari negara mana, pria atau wanita, berasal dari ras mana pun, usia atau apa pun, melalui tes DNA kita bisa mengetahuinya.

Siapa saja bisa jatuh cinta tanpa perlu ada alasan yang mendasarinya. Penemuan yang dicapai James kemudian dikembangkan lebih jauh lagi oleh Rebecca. Ia yang memang ambisius, nekat dan impulsif berhasil mengembangkan The One menjadi sebesar sekarang.

Tapi ada tragedi besar di balik terciptanya inovasi ini. Satu nyawa melayang demi terciptanya The One. Dialah Ben Naser, teman serumah Rebecca yang jatuh cinta pada CEO penuh ambisi ini.

Namun, demi The One tercipta, Rebecca rela kehilangan Ben. Ia bahkan sanggup mengkhianati Ben dan beberapa kali bermain curang di belakang pria yang jelas-jelas menyimpan perasaan padanya. Persahabatan mereka dinodai dengan saling sikut demi mensukseskan penelitian The One.

Kini, tinggal Rebecca yang dihantui rasa takut kerja keras dan pengorbanannya selama bertahun-tahun akan hancur. Ia juga berusaha menggagalkan penyelidikan Kate Saunders (Zoe Tapper) dan Nick Gedny (Gregg Chillingirian) yang menyelidiki kasus kematian Ben.

Kecocokan DNA yang Menyatukan Tapi Juga Memisahkan Pasangan

Kecocokan DNA yang Menyatukan Tapi Juga Memisahkan Pasangan

Dalam kisah serial ini, The One adalah penemuan luar biasa yang penting bagi umat manusia. Sejak perilisannya, penemuan ini mendapat banyak puja-puji dari penggunanya yang merasa terbantu lewat adanya inovasi yang dikembangkan Rebecca.

Beberapa pihak merasakan dampak positif dari adanya The One sehingga mereka bisa yakin dan hidup bahagia dengan pasangannya.

Pengguna yang bermaksud menemukan pasangannya bisa mendaftar melalui aplikasi, lalu mengirimkan DNA yang nantikan akan dicocokkan dengan bank data yang dimiliki The One. Setelah itu, pengguna hanya harus menunggu sampai hasilnya. Keluar.

Namun, kemunculan The One tidak disambut oleh seluruh masyarakat Inggris sepenuhnya. Sebagian menganggap The One ikut berperan dalam meningkatnya angka perceraian di Inggris dan banyak lembaga yang menuntut The One ditutup.

Kondisi ini terjadi pada Mark Bailey (Eric Kofi-Abrefa) dan Hannah (Lois Chimimba). Pasangan ini ibarat dipertemukan oleh takdir. Keduanya merupakan pasangan yang harmonis dan saling menyayangi. Namun, masalah timbul tatkala Hannah ingin menguji apakah mereka memang pasangan yang cocok.

Sialnya, hasil yang diberikan The One menyebutkan bahwa pasangan Mark Bailey bukanlah Hannah, melainkan Megan Chapman (Pallavi Sharda), teman yoga Hannah. Hasil ini jelas mempengaruhi situasi hubungan Mark dan Hannah.

Di sisi lain, Kate Saunders, polisi yang menyelidiki kematian Ben mendapatkan kebahagiaan dari The One. Ia menemukan Sophia Rodriguez (Jana Perez), DNA Kate dan Sophia cocok. Namun, kisah keduanya tidak berjalan lancar sebab masa lalu Sophia begitu rumit dan gadis itu menyimpan banyak rahasia. 

Dialog yang Sangat Ilmiah dan Ambisi Rebecca Mendominasi

Dialog yang Sangat Ilmiah dan Ambisi Rebecca Mendominasi

Mungkin ini menjadi bagian menarik bagi kalangan tertentu di mana narasi dan dialog dalam The One berisi tentang penjelasan yang njelimet bagaimana penelitian tersebut dikembangkan oleh duo Rebecca dan James.

Namun, saya lebih berharap The One lebih menyajikan bagaimana kondisi manusia pasca ditemukannya inovasi tersebut. Sayangnya bagian ini nyaris tidak ditampilkan sama sekali.

Banyaknya cuplikan masa lalu yang ditampilkan dalam The One membuat kisahnya berjalan lambat dan rasa ingin meng-fastforward serialnya semakin tinggi. Proses penyelidikan kasus kematian Ben yang menjadi misteri dalam jalan cerita pun dibuat sedikit lambat.

Hubungan Kate dengan Shopia seolah menjadi selingan yang membuat side story dalam serial ini terisi. Namun, justru ini sedikit membuat kisahnya berbelit-belit. Yang sedikit membingungkan adalah, misteri dalam The One yang memfokuskan pada penyelidikan kematian Ben tidak begitu menonjol.

Sisi ambisius Rebecca yang dibutakan oleh ambisi dan ketakutannya akan masa jayanya hilang lebih ditonjolkan.  Dengan adanya kondisi seperti ini seolah alur cerita The One mengkhianati genre yang diusung serial ini: Crime.

Menunggu Pengembangan Cerita yang Lebih Fokus

Menunggu Pengembangan Cerita yang Lebih Fokus

Premis unik dari The One membuat saya tertarik untuk menonton serial ini. Siapa yang tidak menyukai hal-hal berbau romantisme manusia? Pasalnya hal-hal seperti ini selalu menyajikan kisah menarik yang berbeda, meski tema yang diangkatnya sama.

Namun, untuk The One, saya cukup menonton dan mengikuti kisahnya saja. Kisah dalam The One seperti tidak fokus. Setiap kisah yang dialami oleh masing-masing karakter seolah berjalan sendiri-sendiri dan tidak ada hubungan dengan aplikasi yang dibuat oleh Rebecca.

Saya sudah mengesampingkan harapan bahwa cerita akan bergulir pada hal-hal yang menggali lebih dalam mengenai Ben, namun rupanya ini juga tidak begitu dalam. Adegan pengembangan penelitian yang dikerjakan Rebecca dan James pun hanya ditampilkan sekilas.

Selain berupa dialog, tidak ada gambaran yang menunjukan bahwa The One diciptakan melalui serangkaian penelitian rumit yang menghabiskan biaya jutaan seperti yang disebutkan oleh Rebecca, apalagi mengingat ada kisah tragis di balik pembuatannya.

Dari segi visualnya pun, The One tampil dengan sederhana. tidak banyak hal-hal dan unsur menarik dari pengambilan gambar yang dilakukan oleh sang sutradara. Nah, yang satu ini cukup nyaman dilihat. Sebab semua scene ditampilkan dengan lugas.

Tapi ada satu yang menggelitik perasaan saya. Seandainya The One benar-benar ada di kehidupan nyata, apakah kamu akan mengikuti tes tersebut dan menunggu hasil yang menyatakan apakah kamu dan pasanganmu merupakan pasangan yang dipersatukan oleh takdir?

Atau kamu lebih menyukai cara lama di mana kamu menikmati momen-momen yang membuat jantungmu berdebar sambil menunggu waktu memberikan jawaban apakah kekasihmu benar pasanganmu?

Jawaban dari pertanyaan ini disimpan dalam hati saja sembari berharap jodohmu adalah orang yang benar-benar dikirimkan Tuhan untuk menjadi pendamping hidupmu.

The One
Rating: 
2.5/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram