bacaterus web banner retina

Review The Last Samurai, Kisah Tentara Amerika yang Membelot

The Last Samurai merupakan sebuah film drama yang dikatakan mirip dengan Dance with Wolves. Film yang rilis tahun 2003 ini disutradarai serta diproduksi bersama oleh Edward Zwick, John Logan juga Marshall Herskovitz.

Bintang utama film ini di antaranya Tom Cruise, yang juga bertindak sebagai produser film ini, Ken Watanabe, Timothy Spall, Billy Connolly, Tony Goldwyn dan yang lainnya.

Film ini tak hanya sukses meraup keuntungan tapi juga mendapatkan pujian untuk akting, penulisan, penyutradaraan, musik, visual, dan kostum.

Namun di Jepang film ini dikritik karena penggambaran tentang samurai yang terlalu diromantiskan. The Last Samurai masuk dalam nominasi Academy Awards, Golden Globe Awards, dan National Board of Review Awards. Berikut ini review filmnya.

Baca juga: Inilah 20 Film Tom Cruise Terbaik Sepanjang Masa

Sinopsis

sinopsis

Tokoh utama film ini adalah Kapten Nathan Algren yang diperankan oleh Tom Cruise. Dia merupakan pecandu alkohol disebabkan oleh traumanya semasa dia menjadi tentara.

Dia menyaksikan banyak korban saat terjadinya perang antara penduduk asli Amerika dengan tentara Amerika. Tujuannya minum adalah untuk melupakan kenangan yang menghantuinya itu.

Suatu hari mantan komandannya, Colonely Begley (Tony Goldwyn), mendekatinya dan menawarkan dia kesempatan untuk menjadi pelatih bagi tentara kekaisaran Jepang baru. Tentara ini merupakan bentukan seorang pengusaha Jepang kaya yang bernama Omura (Masato Harada).

Omura ingin menghentikan pemberontakan yang dilakukan oleh para samurai terhadap kaisar muda Jepang yang baru. Karena butuh uang, dia terima tawaran tersebut meski dia tak suka dengan Begley.

Bersama Sersan Zebulon Gant (Billy Connolly), Algren menuju ke Tokyo dan di sana mereka bertemu dengan Simon Graham (Timothy Spall), seorang penerjemah bahasa Inggris.

Ketika bertemu dengan para tentara yang akan dilatihnya, Algren mendapat kejutan. Ternyata tentara tersebut adalah petani yang direkrut dari ladang yang tidak punya pengetahuan tentang perang, strategi maupun persenjataan.

Pada awal pelatihan, para tentara itu sudah dipertemukan dengan para samurai atas keinginan Omura. Walaupun Algren sudah memberitahukan bahwa pasukannya belum siap, Omura tetap bersikeras. Tentu saja hasilnya sudah bisa ditebak, mereka kalah. Dalam pertempuran itu Gant terbunuh dan Algren berhasil dikepung dan ditangkap.

Terbalik dari harapannya, para samurai itu tidak membunuh Algren. Mereka malah membawanya ke desa asal pemimpin mereka, Katsumoto (Ken Watanabe). Di sana dia tinggal bersama keluarga Katsumoto.

Meski mendapatkan tentangan dari adik perempuannya, Taka (Koyuki Kato), Katsumoto tetap menempatkan Algren di rumah adiknya tersebut.

Perlahan para pria yang berbeda budaya itu akhirnya  mulai menghormati satu sama lain sampai terbentuk persahabatan. Algren berhasil mengatasi masa lalu yang menghantuinya dan selain itu dia juga belajar budaya dan bahasa Jepang. Yang menjadi gurunya adalah anak Katsumoto, Nobutada Katsumoto (Shin Koyamada).

Suatu malam ketika penduduk desa sedang menonton pertunjukkan, pasukan ninja menyerbu untuk membunuh Katsumoto. Algren tidak tinggal diam. Dia berhasil menyelamatkan nyawa Katsumoto. Sesudah penyerangan itu, Katsumoto meminta audiensi dengan Kaisar dan permintaan itu dikabulkan. Dia pun membawa Algren ke Tokyo.

Keduanya terkejut saat melihat tentara kekaisaran yang sudah siap tempur. Mereka dipersenjatai dengan baik. Saat bertemu dengan kaisar Meiji (Shichinosuke Nakamura), Katsumoto merasa sedih karena muridnya itu tak lebih dari bonekanya Omura. Omura jugalah yang memerintahkan penangkapan Katsumoto karena alasan membawa pedang di tempat umum.

Tak hanya itu, Omura juga membujuk Algren untuk mengkhianati Katsumoto, tapi Algren menolak. Ini membuat Omura marah dan berusaha untuk membunuhnya. Algren berusaha membebaskan Katsumoto dari penjara.

Sayangnya dalam usahanya itu, Algren harus kehilangan gurunya, Nobutada yang mengorbankan dirinya agar Algren dan para samurai bisa melarikan diri.

Akhirnya pertempuran di antara para samurai dan tentara Kekaisaran tak terelakkan lagi. Algren memutuskan bergabung dengan Katsumoto dan pasukannya. Katsumoto dan pasukannya berhasil menghancurkan tentara kekaisaran dengan membuat perangkap dan memotong dukungan artileri mereka.

Namun Katsumoto sadar bahwa ini hanya sementara karena tentara kekaisaran pasti akan mendapatkan bala bantuan dan pasukannya akan kalah jumlah.

Dalam pertempuran selanjutnya Algren berhasil membunuh Begley saat garis pertahanannya ditembus oleh Samurai, tapi senjata Gatling tentara terlalu banyak untuk para samurai dan mereka pun dibantai di sana.

Di akhir pertempuran Katsumoto melakukan Seppuku, yaitu mengakhiri hidup dengan memotong perut, dengan bantuan Algren. Meski terluka parah, Algren berhasil menyerahkan pedang Katsumoto pada sang kaisar dan memintanya untuk mengingat tradisi negaranya.

Kaisar menyadari walaupun dia ingin modernisasi di Jepang, tapi dia tak boleh mengorbankan tradisi lama dan sejarah negara.

Koreografi yang Apik

Koreografi yang Apik

Disutradarai oleh Edward Zwick yang juga menyutradarai Legends of the Fall dan Courage Under Fire, The Last Samurai memiliki koreografi yang apik. Itu semua berkat Edward Zwick. Dia berhasil membuat koreografi yang hebat untuk kedua adegan besar yang melibatkan ratusan pemain ekstra serta momen kedekatan antara karakter utama.

Walaupun skenario yang dibuat oleh Zwick, Marshall Herskovitz dan John Logan, isinya berupa tiga urutan pertempuran utama, sebenarnya ceritanya mengenai perjalanan spiritual yang dialami oleh pejuang Amerika saat dia menghabiskan beberapa waktu di sebuah desa Jepang yang berada di pegunungan.

Di desa tersebut cara samurai sudah berkembang jadi budaya disiplin, keindahan, rasa hormat, dan komunal yang indah. Latihan yang dilakukan Algren adalah perpaduan antara latihan umum yang biasa dilakukan seorang pejuang umumnya dengan praktik meditasi dan seni yang biasanya dihubungkan dengan Zen Buddhisme.

Bagian menariknya, film ini memotret secara detail mengenai pesona hidup. Terdapat jawaban yang jelas dalam pertempuran terakhir, yaitu Amerika sudah lama jadi pedagang senjata terbesar di dunia.

Drama yang Dipoles dengan Kuat dan Penuh Wawasan Lintas Budaya

Drama yang Dipoles dengan Kuat dan Penuh Wawasan Lintas Budaya

Zwick dan Cruise berhasil membuat drama dengan sentuhan yang kuat serta penuh dengan pertunjukan yang menarik. Film ini juga berisi wawasan lintas budaya. The Last Samurai berisi kombinasi yang langka, yaitu film full action tapi juga mempunyai banyak momen magis kecil, seperti adegan saat Katsumoto membicarakan tentang bunga sakura.

Adegan-adegan singkat dan lembut seperti ini bertambah manis jika dibandingkan dengan kekerasan yang terjadi dalam perang. Perpaduan antara bunga sakura yang manis dengan kematian yang mengerikan membuat The Last Samurai jadi film yang keren yang dibuat dengan indah.

Menjadikan Selandia Baru sebagai Lokasi Syuting

Menjadikan Selandia Baru sebagai Lokasi Syuting

Film ini pembuatannya dilakukan di Selandia Baru. Kebanyakan adegan dilakukan di daerah Taranaki. Kru produksinya dari Amerika Serikat sementara anggota pemeran berasal dari Jepang. Pemilihan Gunung Taranaki dikarenakan gunung ini mirip dengan Gunung Fuji. Selain itu, di daerahnya memiliki banyak hutan serta lahan pertanian.

Charlie Harrington, seorang Manajer Lokasi dari Amerika, pernah melihat gunung tersebut dalam sebuah buku perjalanan, kemudian dia meminta produser agar mengirimnya pergi ke Taranaki untuk pencarian lokasi film.

Taranaki menjadi latar untuk banyak adegan dalam film ini. Backlot Warner Bros Studios di Burbank, California jadi lokasi untuk pengambilan adegan desa. Ada juga beberapa adegan yang diambil di Kyoto serta Himeji, Jepang.

Secara keseluruhan terdapat 13 lokasi syuting. Untuk film The Last Samurai, Tom Cruise melakukan semua adegannya tanpa bantuan stuntman.

Berdasarkan pada Kisah Jules Brunet

Didasar pada Kisah Jules Brunet

Yang menjadi dasar untuk film ini adalah kisah Jules Brunet mengenai seorang kapten tentara Prancis yang ikut berperang dengan Enomoto Takeaki pada Perang Boshin serta kisah Frederick Townsend Ward, yaitu tentara bayaran Amerika yang membantu membentuk Tentara Kemenangan dengan memodernisasikan tentara Qing.

Dalam film ini peran historis negara-negara Eropa lainnya yang terlibat dalam usaha memodernisasikan Jepang sebagian besar dihubungkan dengan Amerika Serikat walaupun film tersebut juga mengaitkan keterlibatan negara Eropa.

Aktris Pendukung yang Luar Biasa

Aktris Pendukung yang Luar Biasa

Koyuki Kato yang berperan sebagai janda dari seorang samurai yang memiliki ketertarikan seksual terhadap tokoh Algren, namun dia berusaha keras menekan perasaannya. Ada juga Tony Goldwyn, sebagai tentara bayaran Amerika yang terlihat meyakinkan saat berperang melawan para samurai.

Ada juga Timothy Spall yang jadi penerjemah bahasa Inggris sekaligus juru foto yang mengabadikan peperangan serta Sichinosuke Nakamura yang menjadi kaisar.

Sang kaisar muda digambarkan sebagai pria pemalu dan tersiksa. Dia berseberangan dengan Katsumoto dan setuju dengan Omura kalau pemberontakan harus diberantas tapi dia mengagumi nilai-nilai yang dimiliki Katsumoto

Itulah review mengenai The Last Samurai yang ternyata mendapat kritikan dari penonton Jepang. Salah satunya saya baca di iMDB yang mengatakan terdapat banyak kesalahpahaman dan kesalahan pada budaya Jepang.

Misalnya, film ini mencoba overlapping Samurai dengan penduduk asli Amerika. Dalam satu adegan, Samurai bertarung di hutan padahal Jepang tak punya hutan.

Menurut saya penggambaran dan setting film ini memang bagus, tapi untuk cerita bagi saya biasa saja. Mungkin karena saya tidak terlalu suka dengan penggambaran Amerika yang selalu menonjolkan diri dan selalu keluar sebagai penyelamat yang hebat dalam film-film.

The Last Samurai
Rating: 
3.5/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram