Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Review Film Rampage, Aksi The Rock & Gorilla

Sinopsis dan Review Film Rampage, Aksi The Rock & Gorilla

Ditulis oleh - Diperbaharui 14 Oktober 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Rampage adalah sebuah judul yang tidak asing karena sudah populer terlebih dulu di dekade 80an hingga 90an sebagai permainan video game. Pada tahun 2009, Warner Bros selaku perusahaan produser film berhasil memperoleh hak adaptasi dari game tersebut, dan menjadikannya sebuah film layar lebar yang rilis di tahun 2018 kemarin.

Film yang dibintangi oleh Dwayne Johnson alias The Rock ini meraup untung lebih dari 428 juta dollar di seluruh dunia. Rampage sendiri menerima tinjauan beragam dari para kritikus film, diantaranya mereka memuji untuk efek visual yang diciptakan, namun mengkritik tempo ceritanya.

Sinopsis

Film Rampage

  • Tahun rilis: 2018
  • Genre: Science fiction monster
  • Rumah produksi: New Line Cinema dan Access Entertainment
  • Sutradara: Brad Peyton
  • Pemeran Utama: Dwayne Johnson, Naomie Harris, Malin Åkerman, dan Jake Lacy

Athena-1 adalah sebuah stasiun luar angkasa milik perusahaan bioteknologi, Energyne, yang sedang melakukan eksperimen terhadap seekor tikus. Eksperimen menjadi fatal ketika tikus tersebut berubah menjadi monster, dan membunuh semua ilmuwan kecuali Dr. Kerry Atkins.

Di Bumi, CEO dari Energyne, Claire Wyden, meminta Dr. Atkins untuk mengambil tiga tabung berisikan patogen sebagai sampel dari eksperimen tersebut. Saat dirinya akan menyelamatkan diri ke Bumi, Athena-1 meledak hancur dan membunuhnya.

Ketiga tabung patogen kemudian jatuh di seluruh wilayah Amerika serikat. Satu tabung mendarat di sebuah rawa-rawa, dan ditelan oleh seekor buaya, serta yang kedua berada di hutan Wyoming dan menyebabkan seekor serigala bermutasi menjadi monster.

Sementara itu, Davis Okoye adalah mantan tentara Pasukan Khusus Angkatan Darat AS yang kini bekerja di Suaka Margasatwa, San Diego, sebagai primatologis. Di sana, ia mempunyai teman seekor gorila albino yang langka bernama George. Davis menggunakan bahasa isyarat untuk bisa berkomunikasi dengan George.

Tabung patogen ketiga ternyata mendarat di habitat tempat tinggal George, dan merubahnya perlahan-lahan menjadi seekor gorila yang sangat besar serta agresif. Davis sangat terkejut melihat kondisi dari temannya itu, dan ia tidak tahu harus berbuat apa

Seorang mantan ilmuwan dari Energyne, Dr. Kate Caldwell, menemui Davis dan menjelaskan bahwa George bermutasi akibat terkena patogen yang dikembangkan oleh perusahaan tempatnya bekerja dulu. Energyne ingin mengembangkan patogen lebih besar lagi dan menjadikan berbagai macam hewan sebagai senjata biologis.

George yang sedang berada di penangkaran lalu mengamuk tidak terkontrol, dan melarikan diri. Ia lalu ditangkap oleh tim pemerintah AS yang dipimpin oleh agen Harvey Russel. Di markas Energyne, Claire Wyden bersama saudaranya, Brett, mengawasi sebuah tim tentara bayaran untuk menangkap serigala yang bermutasi bernama Ralph.

Namun, tim tentara yang disewanya itu dibantai oleh Ralph, dan Claire gagal untuk menjinakan serigala monster tersebut. Claire kemudian mengetahui jika mantan ilmuwannya, yakni Dr. Kate Caldwell bekerjasama dengan Davis. Ia lalu mempunyai ide jahat dengan memanfaatkan George yang kini sudah bermutasi untuk membunuh Kate.

Claire lalu menggunakan sebuah pemancar yang berada di menara markas Energyne di Chicago untuk memanggil hewan-hewan yang bermutasi. Ia tidak memperdulikan jika hal tersebut akan menimbulkan kekacauan yang berakibat fatal bagi masyarakat.

George, Ralph, dan seekor buaya monster yang dinamai Lizzie kemudian merespon panggilan tersebut. Di sisi yang lain, Davis dan Kate dibantu oleh agen Russell mencuri sebuah helikopter militer untuk pergi ke Chicago, dan mereka berupaya mencegah ketiganya agar tidak melakukan kerusakan yang lebih besar lagi.

Film Standar, Namun Tetap Menyenangkan

Film Standar, Namun Tetap Menyenangkan

Di menit-menit awal kita akan langsung disuguhkan dengan nuansa film bergaya fiksi ilmiah yang cukup kentara. Elemen tersebut digambarkan oleh sebuah percobaan genetis yang dilakukan di dalam stasiun luar angkasa bernama Athena-1.

Kita yang menontonnya mungkin seperti merasa bahwa Rampage akan benar-benar membawa pendekatan science fiction yang cerdas, dan keren.

Setelah kejadian tersebut berakhir dengan hancurnya Athena-1, dan jatuhnya tiga tabung patogen ke Bumi, kesan yang disajikan pada bagian awal mulai luntur.

Rampage lalu bergerak cukup cepat dengan selanjutnya langsung memperkenalkan semua karakter. Film ini lalu mulai membawa jati dirinya sebagai tontonan bergaya action monster dengan menambahkan bumbu-bumbu fiksi ilmiah.

Karena hal itu pun, ekspektasi kita yang menontonnya tidak harus terlalu berat untuk memikirkan teori-teori ilmiah dalam film ini. Kita selanjutnya tidak harus dituntut untuk berpikir keras akan hubungan sains dengan jalan cerita yang disajikan dalam Rampage.

Di sini, kita cukup menyaksikannya secara santai, dan sembari sesekali tidak melupakan alurnya agar memahami proses konflik yang sedang dibangun.

Rampage menyajikan sebuah tontonan yang destruktif lewat ketiga hewan yang sudah bermutasi. Porsi tersebut kemudian semakin menyenangkan lewat hadirnya Dwayne Johnson yang nampaknya sudah terbiasa bermain dalam film-film bertemakan action seperti ini.

Lewat gayanya yang khas, Dwayne mampu membuat film ini lebih terlihat ‘gahar’ dan seru untuk ditonton rame-rame. Pembawaannya yang kocak saat bermain film Journey 2: The Mysterious Island hingga di dua film Jumanji, membuat Rampage terlihat jenaka di satu sisi, namun tetap tidak menghilangkan esensi menegangkan.

Walaupun di beberapa bagian ada lelucon dan gimmick yang terdengar aneh, film ini tidaklah terlalu buruk dalam menyajikan semua aspek yang dapat membuat penonton terhibur.

Kolaborasi yang Tercipta Sangat Apik

Kolaborasi yang Tercipta Sangat Apik

Sutradara film ini, Brad Peyton, tentu paham betul akan kualitas akting yang terdapat dalam diri Dwayne Johnson. Keduanya telah bekerjasama sejak film Journey 2: The Mysterious Island (2012) dan San Andreas (2015). Film Rampage ini kemudian menjadi kolaborasi ketiganya untuk bersama-sama menciptakan sebuah tontonan berkelas dan menghibur.

Brad memilih Dwayne kembali karena sang aktor mempunyai aura jenaka sekaligus tangguh supaya film ini semakin menarik untuk ditonton. Hasilnya, Dwayne tetap mempertahankan karakternya tersebut, dan kolaborasi keduanya lagi-lagi menciptakan film yang seru, serta menguntungkan dalam daftar box office.

Apa yang dilakukan oleh Brad ke dalam film ini kurang lebih mirip dengan apa yang ia terapkan di film San Andreas. Kedua filmnya tersebut sama-sama menyajikan elemen destruktif yang porak poranda.

Namun, perbedaannya terletak pada sudut pandang kehancuran dari filmnya masing-masing. Dalam San Andreas, unsur destruktif timbul dari tragedi bencana alam yang meluluhlantakkan perkotaan, sedangkan Rampage berasal dari para hewan monster yang mengamuk menghancurkan seluruh bangunan kota.

Dalam film lainnya di Journey 2: The Mysterious Island, Brad mengarahkan Dwayne untuk berperan sebagai sosok ayah bernama Hank Parsons yang jenaka dan tangguh. Ia digambarkan begitu bernyali besar saat menghadapi hewan-hewan liar dan buas di pulau yang misterius.

Karakter itu juga yang berusaha dibawa oleh Brad kepada Dwayne saat harus memerankan sosok Davis Okoye. Usaha sang sutradara nyatanya cukup berhasil dalam membangunkan kembali karakter jenaka dari Dwayne lewat sudut pandang yang lebih segar.

Selain dengan sang aktor utamanya, Brad terbilang cukup harmoni bersama Jaron Presant yang membuat sinematografi film ini terlihat solid dan meyakinkan. Efek destruktif yang digambarkan akibat ulah George, Ralph, dan Lizze nampak begitu menjanjikan dalam mempertunjukan suasana yang kacau balau penuh kepanikan.

Film ini juga semakin menarik ketika terdapat kolaborasi yang baik diantara Naomi Harris (Dr. Kate Caldwell), Jeffrey Dean Morgan (agen Harvey Russel), Malin Akerman (Claire Wyden), dan Jake Lacy (Brett Wyden). Semuanya tampil cukup mumpuni, dan berakting sesuai pada porsinya lewat perannya masing-masing.

Secara keseluruhan, film ini terasa menyenangkan, dan cukup menegangkan di sisi lainnya. Bagi yang pernah bermain game rampage di konsol klasik Arcade hingga Playstation 1, menonton film yang satu ini bisa menjadi sarana untuk bernostalgia kembali di masa-masa dulu.

Sebagai sebuah film hasil adaptasi dari video game, Rampage yang dibintangi oleh Dwayne Johnson tidak terlalu mengecewakan.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *