Bacaterus / Review Film Barat / Review & Sinopsis Film Maleficent: Mistress of Evil (2019)

Review & Sinopsis Film Maleficent: Mistress of Evil (2019)

Ditulis oleh - Diperbaharui 26 Agustus 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Maleficent adalah sosok penyihir jahat dalam film Sleeping Beauty yang diproduksi oleh Walt Disney Pictures pada tahun 1959. Karakter antagonis yang dikenal pembawa kutukan jarum pintal ini memang cukup ikonis hingga layak untuk diangkat ke dalam sebuah film layar lebar.

Nah, setelah sukses meraih perhatian penonton pada tahun 2014 silam. Disney kembali merilis sekuel Maleficent yang diberi judul Maleficent: Mistress of Evil pada tahun 2019. Berhasilkah film garapan Joachim Ronning ini menarik perhatian penonton dengan racikan terbarunya?

So, biar kamu mengetahui tentang itu. Simak ulasan yang akan Bacaterus bahas tentang film ini dalam artikel sebagai berikut.

Sinopsis

Sinopsis Maleficent Mistress of Evil

* sumber: cinemags.co.id

  • Rilis: 2019
  • Genre: Drama Keluarga, Fantasi, Petualangan, Action
  • Produksi: Walt Disney Pictures
  • Sutradara: Joachim Ronning
  • PemeranAngelina Jolie, Elle Fanning, Michelle Pfeiffer, Sam Riley, Chiwetel Ejiofor, Harris Dickinson

Kisah Maleficent: Mistress of Evil bermula ketika Aurora (Elle Fanning) berusaha dipersunting oleh pangeran Philip (Harris Dickinson). Maleficent (Angelina Jolie) yang dikenal sangat membenci umat manusia selain Aurora pun sangat menentang pernikahan yang akan dilaksanakan oleh keduanya.

Menurutnya mencintai tak selalu harus berakhir dalam sebuah pernikahan. Perbedaan pandangan itulah yang pada akhirnya menimbulkan konflik panas diantara mereka. Permasalahan tersebut semakin rumit ketika sosok Ratu Ingrith (Michelle Pfeiffer), yang tak lain ibu dari pangeran Philip hadir di tengah-tengah mereka.

Sang Ratu yang memiliki dendam masa lalu pada bangsa peri yang hidup di Moors mencoba memanfaatkan ketegangan yang sedang terjadi antara Maleficent dan Aurora untuk memecah kedamaian yang telah tercipta antara manusia dan bangsa peri dengan peperangan besar antara kedua kaum.

Eksplorasi Maleficent “Mistress of Evil” ala Disney

Eksplorasi Maleficent Mistress of Evil ala Disney

* sumber: www.thetimes.co.uk

Kembalinya sang peri penyihir ke layar lebar memang cukup menyita perhatian penonton, khususnya bagi para penggemar film Disney. Munculnya Maleficent dengan perspektif baru memang mendapatkan respon yang cukup beragam dari para penonton.

Bagi sebagian penggemar fanatik dengan kisah-kisah Disney, karakter Maleficent terbaru dianggap menyimpang dan berbeda dari versi aslinya. Meski demikian antusias masyarakat terhadap sosok Maleficent yang baru pun mendapat respon yang cukup baik.

Bagi sebagian orang perubahan jalan cerita maupun karakter dalam film Maleficent memang dirasa wajar, mengingat tokoh utama yang menjadi highlight dalam film ini bergeser dari sang putri tidur menjadi sosok peri penyihir.

Kreativitas Disney menyajikan cerita lama dengan gagasan-gagasan baru yang lebih segar memang harus diapresiasi dengan baik. Mengingat cerita-cerita lama yang kemudian diangkat menjadi lebih realistis, berwarna serta mampu menghadirkan kejutan menarik yang diharapkan oleh para penonton. Hal itu pula yang dirasakan penonton pada film ini.

Permasalahan Lebih Kompleks dari Sebelumnya

Permasalahan Lebih Kompleks dari Sebelumnya

* sumber: rovylicious.blogspot.com

Menyusul kesuksesan film pertamanya, Mistress of Evil pun telah berhasil menjadi film box office dunia pada tahun 2019 silam. Dengan pendapatan global mencapai $758 juta USD. Film yang menelan biaya produksi sebesar hampir $180 juta USD ini berhasil menggeser posisi film Joker yang telah bercokol di posisi puncak box office dunia.

Di luar dari pencapaian yang mengagumkan. Mistress of Evil sendiri masih betah menyajikan konflik antara manusia dan kaum peri yang hidup di Moors. Bagi sebagian orang hal tersebut memang cukup membosankan. Meski sebenarnya permasalahan yang coba dibangun di Mistress of Evil jauh lebih kompleks dibandingkan dengan jalan cerita pada film sebelumnya.

Kemunculan karakter-karakter baru dalam film ini pun membawa tensi film semakin menarik. Meski motivasi kemunculannya sendiri dirasa tidak terlalu penting, bahkan sekilas terlihat sebagai usaha sutradara untuk membuat persoalan semakin kompleks.

Visual Mengagumkan Khas Disney

Visual Mengagumkan Khas Disney

* sumber: www.cbr.com

Sudah bukan rahasia umum bila Disney kerap membuat para penonton kagum dengan sinematografi untuk setiap karyanya. Disney berhasil membawa imajinasi penonton larut ke dalam jalan cerita  melalui setting tempat serta karakter-karakter unik yang dimunculkan dalam film ini.

Hal tersebut pun diperkuat dengan spesial efek yang sangat halus hingga membuat penonton semakin dimanjakan dengan visualnya hingga akhir film. Meski estetik yang ditampilkan tampak sempurna, akan tetapi bukan tanpa cacat.

Di luar dari itu, Mistress of Evil memiliki plot cerita yang jauh lebih berkembang dan eksekusi yang jauh lebih baik dibanding film pertamanya. Dengan berbagai respon yang muncul terhadap film ini. Disney sendiri memang cukup berhasil mengangkat kisah Mistress of Evil menjadi tontonan yang sangat menghibur bagi keluarga.

Perang Dingin Antara Jolie dan Pfeiffer

Perang Dingin Antara Jolie dan Pfeiffer

* sumber: www.disney.id

Selama kurang lebih 118 menit, penonton akan dihibur oleh penampilan ikonis dari aktris cantik Angelina Jolie sebagai Mistress of Evil. Kemampuannya dalam memerankan sosok penyihir bertanduk dengan tulang pipi menonjol memang cukup mengesankan bagi penonton.

Meskipun banyak sebagian orang yang berpendapat bahwa karakter yang dibawakannya sangat labil, tidak konsisten dan bertentangan dengan karakter aslinya yang kejam seperti pada versi lawas, namun Jolie sendiri mampu mempresentasikan tokoh peri penyihir yang populer dengan kalimat “You poor simple fools. Thinking you could defeat Me! Me, The Mistress of All Evil!” Ini dengan sangat sempurna.

Begitu pun dengan kehadiran Michelle Pfeiffer yang berperan sebagai Ratu Ingrith, tokoh  penguasa yang anggun, namun memiliki ambisi jahat untuk melenyapkan bangsa peri yang hidup di Moors. Kedua aktris papan atas tersebut memang telah berhasil menghidupkan suasana panas dalam porsi yang pas.

Di samping pengaruh yang kuat dari para seniornya,  kemampuan Elle Fanning dalam membawa emosi para penonton dengan karakternya yang baik dan lemah lembut sebagai sosok putri Aurora memang tidak dapat dipungkiri memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat, terutama anak-anak yang tumbuh besar bersama dengan kisah Sleeping Beauty.

Soundtrack Pamungkas “You Can’t Stop The Girl


Suara unik Bebe Rexha dipercaya untuk membawakan lagu “You Can’t Stop The Girl”. Berbeda dengan Maleficent pertama yang lebih memilih mengaransemen lagu klasik yang pernah muncul dalam film Sleeping Beauty tahun 1959, “Once Upon A Dream”, film keduanya ini lebih memilih untuk menggunakan lagu baru yang ditulis sendiri oleh Bebe Rexha dan beberapa musikus lain.

Penasaran dengan lagunya? Coba deh dengarkan lagu “You Can’t Stop The Girl” lewat video klip yang ada di atas ini! Liriknya penuh dengan kata-kata semangat, lho.

Nah, itulah Review Maleficent: Mistress of Evil, ketika Disney mengubah persepsi tentang penyihir jahat. Kemampuan Disney menyajikan cerita lawas dengan konsep baru yang menarik memang mampu menumbuhkan ketertarikan para penonton.

Hal itu pun telah dibuktikan oleh Disney dalam setiap karya-karyanya. Maleficent sendiri merupakan satu dari sekian karakter antagonis yang sukses menjadi idola baru di tengah dominasi karakter protagonis seorang putri kerajaan.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *