Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Review Film Netflix Leave No Trace (2018)

Sinopsis dan Review Film Netflix Leave No Trace (2018)

Ditulis oleh - Diperbaharui 25 Desember 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave No Trace adalah film dengan kisah nyata berdasarkan sebuah novel berjudul My Abandonment, yang ditulis oleh Peter Rock pada tahun 2009. Plotnya sendiri mengikuti seorang ayah sekaligus veteran militer, yang mengalami gangguan stres pasca trauma (PTSD) seusai menjalani perang di Irak. Ia lalu mengasingkan diri, dan tinggal di hutan bersama putrinya yang masih remaja bernama Tom.

Film ini ditayangkan perdana di Festival Film Sundance 2018, dan secara teatrikal dirilis oleh Bleecker Street di Amerika Serikat pada tanggal 29 Juni 2018. Leave No Trace menerima pujian kritis universal, dengan memuji penampilan pemerannya yakni, Ben Foster dan Thomasin McKenzie, serta film ini juga memegang peringkat terbaik 100% di Rotten Tomatoes.

Sinopsis

Leave No Trace (2018)

*https://www.theupcoming.co.uk/2018/05/29/sundance-london-2018-leave-no-trace-review/

  • Tahun rilis: 2018
  • Genre: Drama
  • Rumah produksi: Bron Studios dan Topic Studios
  • Sutradara: Debra Granik
  • Pemeran Utama: Ben Foster dan Thomasin McKenzie

Will, seorang veteran Perang Irak yang menderita PTSD, tinggal bersama putrinya yang berusia 13 tahun, Tom, di taman hutan dekat Portland, Oregon. Mereka hidup dalam isolasi, menggunakan keterampilan bertahan hidup di hutan, dan hanya sesekali memasuki kota untuk membeli makanan, serta obat-obatan.

Ia menghasilkan uang dengan menjual obat penghilang rasa sakit, yang dikeluarkan oleh Veterans Health Administration (VHA) kepada para veteran lainnya. Suatu hari, keberadaan Tom diketahui oleh seorang pelari. Atas kejadian itu, Tom beserta ayahnya ditangkap oleh penjaga taman, dan ditahan oleh layanan sosial.

Oleh layanan sosial, keduanya lalu ditempatkan di sebuah rumah yang berada di perkebunan pohon natal di pedesaan Oregon. Di sana, Will bekerja di perkebunan tersebut, sementara Tom mendapatkan biaya pendidikan untuk pergi ke sekolah, yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Dengan rasa yang tidak bersemangat, Will mulai bekerja di bagian pengemasan pohon. Tetapi, ia terganggu oleh helikopter yang digunakan untuk memindahkan pohon-pohon tersebut. Suara helikopter membuat dirinya traumatik akan masa-masa kelam saat berperang di Irak. Di sisi lain, Tom berkenalan dengan seorang anak laki-laki yang mengajaknya untuk bergabung ke organisasi pemuda bernama 4-H.

Karena tidak betah, Will memutuskan untuk pergi, dan mengajak Tom untuk ikut. Keduanya kembali ke kamp mereka di taman hutan, tapi tempatnya itu telah dihancurkan. Mereka lalu bepergian dengan gerbong kereta api, dan mengejar tumpangan supir truk. Will dan Tom lalu pergi ke Washington, dan turun di dekat sebuah kawasan hutan terpencil.

Mereka kemudian membangun tempat perlindungan sementara di hutan untuk malam itu. Namun, keesokan harinya, Will dan Tom menemukan sebuah kabin kosong, dan keduanya pindah ke tempat tersebut.

Saat Will hendak mencari makanan di tengah hutan, ia mengalami sebuah kecelakaan, dan tak sadarkan diri. Keesokan paginya, Tom menemukan ayahnya itu tengah tergeletak di dasar jurang. Keduanya kemudian mendapat bantuan dari quad bikers lokal, yang membawanya ke komunitas rumah mobil mereka.

Tom menolak jika ayahnya harus dibawa ke rumah sakit. Oleh karena itu, Dale, seorang perempuan setempat, menelepon seorang teman yang merupakan mantan tenaga medis Angkatan Darat, dan sesama penderita PTSD. Dia merawat kaki Will, dan meminjamkan anjing pelayannya untuk membantu mengatasi mimpi buruknya.

Keduanya lalu diberi tempat tinggal di sebuah rumah trailer oleh komunitas tersebut agar luka Will bisa cepat sembuh. Tom menyukai rumah barunya itu, dan mencoba membuat perjanjian sewa dengan Dale, pemilik trailer.

Setelah luka kakinya membaik, Will bersikeras pergi lagi, tapi kali ini Tom tidak ingin mengikuti ayahnya, dan ingin tetap tinggal di komunitas tersebut. Mereka berpelukan sambil menangis dan berpisah. Tom kembali ke komunitasnya, dan Will menuju hutan untuk tinggal di sana.

Film yang Sangat Berkesan dan Sederhana

Film yang Sangat Berkesan dan Sederhana

*http://beautyrockin.blogspot.com/2018/12/leave-no-trace-2018.html

Seperti air yang mengalir, film ini begitu menghanyutkan, dan tenang. Alur penceritaannya sederhana, tidak ada hal-hal yang berlebihan. Semuanya dirangkai serba natural, hingga menjadi sebuah tontonan apik yang kisahnya menarik untuk dinikmati. Di balik hal itu, film ini cukup provokatif dalam mempertanyakan kehidupan serba modern yang berbanding terbalik dengan kehidupan para veteran.

Ben Foster yang memerankan Will sebelumnya tampil baik di film Lone Survivor bersama Mark Wahlberg. Di sini ia begitu mendominasi sebagai seorang veteran perang yang mengasingkan diri ke hutan akibat gangguan PTSD yang dialaminya.

Selain itu, penampilan Thomasin McKenzie sebagai Tom menarik perhatian sekali lewat bakat aktingnya yang tidak bisa diremehkan. Keduanya menunjukan hubungan ayah dan anak yang begitu emosional, dan pendalamanan mereka patut diberikan apresiasi terbaik.

Meski begitu, keduanya tidak menampilkan tangisan-tangisan yang berlebihan. Will tetap tegar, dan kuat walaupun hidup terasing dengan segala trauma yang ia miliki. Begitu juga dengan Tom, sang anak pun sangat pintar, dan mandiri, meski pada akhirnya ia merasa lelah harus berpindah terus-terusan mengikuti sang ayah tinggal di hutan.

Hubungan ayah dan anak di film ini menjadi nilai utama dalam Leave of Trace, dan apa yang mereka tunjukan begitu berkesan bagi siapa saja yang menyaksikannya. Sementara itu, gangguan PTSD sangat mengganggu kehidupannya Will. Kita bisa melihat bahwa dirinya tak bisa bersosialisasi dengan orang lain, dan hanya bisa dekat bersama putrinya semata wayangnya saja.

Di sisi lain, film ini setidaknya cukup menyentil pemerintah Amerika Serikat dalam kurang baiknya memperlakukan para veteran perang yang terkena PTSD. Tidak ada bantuan-bantuan secara psikis yang dijelaskan di film ini untuk Will, bahkan para veteran lainnya. Will memang menerima obat penenang dari Departemen Veteran, tapi teman-teman sejawatnya tidak memperoleh layanan yang sama seperti dia.

Oleh karena itu, ia lantas menjual obat-obatan tersebut kepada veteran yang membutuhkannya, dan uang yang didapatkannya digunakan untuk kebutuhan hidup bersama Tom. Will nampaknya memendam kekecewaan pada negara tempat dia mengabdi. Selepas berperang atas nama negaranya, ia pulang dalam keadaan traumatik, terganggu secara psikis, tapi tidak ada solusi yang signifikan kepada dirinya dari pemerintah itu sendiri.

Sutradaranya Menggarap Film Ini dengan Baik

Sutradaranya Menggarap Film Ini dengan Baik

*https://thedeathofcinema.com/2018/07/31/tdoc-episode-50-unfriended-dark-web-leave-no-trace/

Debra Granik selaku sutradara film ini rasanya cukup berhasil membuat Leave No Trace sebagai film yang tidak biasa. Karena mengadaptasi dari sebuah novel kisah nyata, ia menggambarkan penderitaan PTSD yang dialami oleh Will begitu meyakinkan. Ben Foster pun mampu memerankannya dengan baik, dan ia tidak perlu banyak gimmick untuk memperlihatkan bagaimana tersiksanya saat mengalami PTSD itu.

Will begitu menyedihkan dalam artian ia selalu menyendiri dengan tatapan kosongnya. Suara helikopter, bunyi pesawat, dan bahkan suara gergaji mesin pun nampak selalu mengganggu dirinya. Traumatik yang ia alami begitu hebat sehingga kita yang menontonnya sangat iba melihat Will yang seperti itu.

Sementara itu, Tom memang tidak seperti ayahnya yang mengalami PTSD. Ia layaknya sebagai gadis remaja yang tertarik kepada dunia luar, dan ingin sekali bersosialisasi dengan lingkungan baru. Karena ia begitu sayang terhadap ayahnya, ia pun sangat menurut dan sabar tinggal bersamanya di hutan.

Meski begitu, di satu momen ia mengakui, dan menolak untuk mengikuti ayahnya yang bersembunyi di hutan. Tom pun sadar jika kehidupan bersama ayahnya tidak wajar, dan berbeda dengan keluarga “sehat” lainnya. Di balik keadaannya itu, Tom selalu membela ayahnya, dan ia merasa nyaman bersama Will, serta tidak pernah merasa malu jika memang tinggal di sebuah hutan.

Lewat hal-hal seperti itu, Granik mengungkap sebuah hubungan keluarga yang kuat diantara mereka. Tom selalu menguatkan ayahnya, dan Will pun terus mendidiknya dengan caranya sendiri. Ikatan keduanya sangat dominan, dan tidak pernah sekalipun film ini menyinggung sosok ibunya Tom, ataupun latar belakangnya.

Leave No Trace nampaknya hanya ingin membuat hubungan Will serta Tom lebih intim lagi sebagai sebuah pasangan ayah dan anak. Tapi, bisa jadi juga di novel aslinya sosok ibu dari Tom memang tidak diceritakan. Tapi terlepas dari itu, film ini begitu menggugah lewat interaksi di antara keduanya. Kedekatan mereka terlihat sederhana, namun mendalam dengan beberapa dialog, dan pelukan yang berarti.

Patut untuk Ditonton

Patut untuk Ditonton

*https://www.brightwalldarkroom.com/2020/07/23/home-and-help-in-leave-no-trace/

Sepanjang film ini kita tidak akan pernah melihat adegan Will memarahi Tom dengan lantang, begitu juga sebaliknya. Tidak ada adegan saling memaki, apalagi tindakan kekerasan yang terjadi di dalam film ini. Momen krusial yang dibilang seperti itu mungkin terjadi di bagian akhir, itu pun Tom “terpaksa” berbicara keras agar ayahnya mengerti bahwa dia tidak bisa tinggal bersamanya lagi di hutan.

Leave No Trace justru lebih banyak memperlihatkan momen intim keduanya sebagai ayah dan anak. Semuanya terlihat dari bagaimana mereka berbicara, berpelukan, hingga harus menangis di babak akhir film karena mereka mesti berpisah. Foster dan McKenzie yang memainkan peran tersebut sungguh sangat mengesankan dalam menjiwai karakternya masing-masing.

Film ini memang memiliki alur yang lambat, dan tenang, tapi justru kita yang menontonnya akan merasa bosan. Setiap momen dan perjalanan yang mereka lalui serasa menjadi hal yang menarik untuk diikuti. Maka, tak salah jika Leave No Trace adalah sebuah film drama yang layak untuk kalian tonton.

Dengan langsung menontonnya, kalian setidaknya bisa langsung merasakan perasaan mendalam yang dialami oleh Will, dan Tom yang begitu menyayangi ayahnya. Film ini membangun rasa emosi secara sabar, dan perlahan, hingga semuanya akan terasa klimaks ketika sudah mulai memasuki babak akhir. Lewat durasi kurang lebih dari dua jam, tidak ada salahnya untuk kalian mencoba menonton film ini.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *