Bacaterus / Review Film Indonesia / Sinopsis & Review Film Guru-Guru Gokil yang Tayang di Netflix

Sinopsis & Review Film Guru-Guru Gokil yang Tayang di Netflix

Ditulis oleh - Diperbaharui 3 September 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Film ini secara eksklusif tayang perdana saat Hari Kemerdekaan RI ke-75 pada tanggal 17 Agustus 2020 kemarin.  Selain itu, Guru-Guru Gokil juga menjadi film kedua dari Indonesia yang tayang di Netflix, setelah sebelumnya ada film karya Timo Tjahjanto berjudul The Night Comes for Us (2018).

Guru-Guru Gokil atau di Netflix berjudul Crazy Awesome Teachers menjadi debut Dian Sastrowardoyo sebagai seorang produser. Di film ini juga, dirinya berperan sebagai seorang guru bernama Nirmala, dan beradu akting bersama Gading Marten sebagai tokoh utamanya.

Sinopsis

Guru-Guru Gokil

  • Tahun rilis: 2020
  • Genre: Drama komedi
  • Rumah produksi: BASE Entertainment
  • Sutradara: Sammaria Simanjuntak
  • Pemeran Utama: Gading Marten, Dian Sastrowardoyo, Faradina Mufti, Boris Bokir, dan Kevin Ardilova

Film ini berfokus pada seorang pemuda bernama Taat Pribadi yang diperankan oleh Gading Marten.  Dirinya bisa dibilang sangat menginginkan uang yang banyak, maka dari itu ia berharap bisa menjadi orang sukses suatu hari nanti. Taat mempunyai seorang ayah yang bekerja sebagai guru di SMA Gunung Asri.

Taat ternyata tidak menyukai pekerjaan sebagai seorang guru. Sewaktu kecil ayahnya sering memarahi dirinya karena selalu mendapatkan nilai jelek di pelajaran Bahasa Indonesia. Padahal, ayahnya sendiri adalah seorang guru yang mengajar di pelajaran Bahasa Indonesia.

Untuk membuktikan bahwa ia bisa sukses, Taat pergi dari kampung halamannya ke kota besar agar bisa mendapatkan uang banyak. Ia ingin membuktikan kepada ayahnya bahwa dirinya bisa sukses tanpa harus bekerja sebagai guru. Taat pergi tanpa pamit kepada ayahnya, dan setibanya di kota ia bekerja dengan melakukan jenis profesi apapun agar dirinya bisa meraih keberhasilan.

Apa daya, semua jenis pekerjaan yang ia kerjakan tidak membuahkan hasil manis apapun kepadanya. Tabungannya kini tinggal sedikit, dan Taat menanggung malu mesti pulang ke kampung halamannya karena sudah tidak mempunyai apa-apa lagi di kota. Rencananya untuk menjadi orang sukses dan kaya raya harus gagal total.

Di kampung halamannya, Taat lalu mendapatkan tawaran untuk bekerja lagi. Namun sialnya, ia mesti bekerja sebagai seorang guru pengganti di sekolah tempat ayahnya mengajar. Karena berada dalam situasi yang sulit, ia pun menerimanya dan mesti mengajar pelajaran sejarah yang tidak ia kuasai.

Baru beberapa hari mengajar di SMA Gunung Asri, Taat mulai akrab dengan guru-guru lainnya seperti Nirmala, Rahayu, Nelson, Gagah, hingga seorang murid bernama Ipang. Belum satu bulan bekerja, uang gaji dan pesangon milik guru-guru di tempatnya mengajar telah dirampok sekelompok pencuri.

Gagah kemudian memberitahu kepada Taat bahwa ada gambar tato yang melingkar di salah satu lengan milik perampok tersebut. Atas informasi yang diberikan oleh Gagah, Taat lalu meminta bantuan murid-muridnya untuk bersama-sama menemukan komplotan sang pelaku pencurian di sekolahnya.

Lumayan Jenaka, Namun Sedikit Kurang Memuaskan

Lumayan Jenaka, Namun Sedikit Kurang Memuaskan

Guru-Guru Gokil sebenarnya berupaya untuk menyajikan sebuah cerita tentang sistem pendidikan di Indonesia, kehidupan para guru, hingga hubungan antara ayah dan anak. Namun, film ini rupanya seperti kebingungan ingin menyampaikan pesan yang mana, dan seolah terjebak pada kasus pencurian uang yang terjadi di SMA Gunung Asri.

Lewat dimensi cerita yang menarik tersebut, film ini rasanya kurang memberikan sentuhan terbaiknya untuk menjadi tontonan yang segokil judul filmnya. Alur cerita yang disajikan pun terasa terburu-buru dan kurang memuaskan. Peralihan dari satu momen ke bagian lainnya tidak dituturkan secara tertata, sehingga ada beberapa adegan yang hanya lewat begitu saja.

Aspek komedi yang dihadirkan dalam film ini masih terasa nanggung seperti kurang matang. Karakter Gading Marten sebagai Taat Pribadi pun hanya tampil dengan menawarkan komedi receh, dibandingkan mempertontonkan lelucon yang fresh dan mengocok perut. Sementara itu, bagian dramanya pun tidak digali secara mendalam, sehingga tidak dapat menggugah rasa haru bagi yang menontonnya.

Sang sutradara, Sammaria Simanjuntak, serta penulis naskahnya, Rahabi Mandra dan Tanya Yuson sepertinya sudah berbuat sebaik mungkin dalam menghidupkan cerita film ini. Namun, beberapa karakter yang terlibat tidak cukup berkembang sepanjang durasi film ini berjalan.

Sebagai protagonis utamanya, Taat Pribadi mengalami perubahan karakter yang begitu cepat, dan terkesan tidak natural. Ia yang awalnya hanya ingin kaya raya, dan membenci pekerjaan guru, tiba-tiba secara tak terduga malah menjadi guru yang disukai oleh murid-muridnya. Proses tersebut dilakukan terlalu terburu-buru, dan kurang mengajak penonton untuk melihat pendewasaan karakternya.

Meski begitu, Gading Martin setidaknya cukup mampu menghidupkan karakter Taat Pribadi yang naif dan kurang berpendirian. Penampilan terbaiknya justru hadir ketika ia berada satu adegan dengan Faradina Mufti yang memerankan Rahayu Paramitha. Keduanya terlibat dalam hubungan romansa yang sekiranya mampu membuat penonton senyum-senyum sendiri.

Selain itu, Dian Sastrowardoyo yang hadir sebagai pemeran pendukung menjadi bagian yang membuat film ini lebih manis. Meski tidak memiliki waktu tampil yang banyak, kehadirannya di setiap adegan selalu mencuri perhatian. Ada juga Asri Welas, dan Boris Bokir yang mampu mengeluarkan gimmick jenakanya untuk membuat film ini sedikit lebih lucu.

Kurang Mengeksplorasi dari Segala Aspek

Kurang Mengeksplorasi dari Segala Aspek

Ketika pertama kali mendengar judulnya, kita mungkin bisa berasumsi bahwa film ini setidaknya akan mengeksplorasi kehidupan para guru di dunia pendidikan lewat balutan komedi. Nyatanya, film Guru-Guru Gokil sendiri tidak terlalu banyak memperlihatkan itu, dan cenderung menjadi film-film drama komedi Indonesia pada umumnya.

Di awal-awal film setelah Taat menjadi seorang guru, tema besar pendidikan dalam film ini masih terasa begitu kental. Ketika memasuki pertengahan cerita, film ini kemudian banyak menyajikan subplot yang menghadirkan beragam persoalannya masing-masing.

Namun sekali lagi, konflik untuk menemukan pelaku pencurian uang gaji para guru mendominasi hingga akhir film ini. Kehidupan guru yang pada awalnya diyakini memiliki porsi besar, nyatanya tidak terlalu banyak diperlihatkan dan seperti menjadi pelengkap tema cerita besarnya saja.

Adegan yang dihadirkan dari menit awal hingga selesai disajikan selayaknya film-film komedi yang serupa. Celetukan jenaka pun hanya dilontarkan oleh Taat dan Nelson Manulang yang diperankan oleh Boris Bokir. Tapi jika harus berkata jujur, penempatan lelucon keduanya terkesan seperti dipaksakan dan terlalu canggung.

Kurangnya menggali kehidupan para guru secara mendalam bukan hanya menjadi permasalahan satu-satunya. Munculnya sosok penjahat yang menjadi antagonis di film ini tidak diperkenalkan secara detail dan terstruktur. Ia hanya digambarkan secara kejam saja, bertampang seram, brewokan, dan memiliki jimat cincin berwarna merah yang selalu dikenakannya.

Sosok antagonis tersebut kemudian diceritakan menjadi lemah dan sangat ketakutan ketika cincinnya tidak berada ditangannya. Mungkin sekilas penggambarannya akan sangat sangar dan menyeramkan. Tapi apa dikata, Guru-Guru Gokil hanya sebuah film drama komedi yang terkadang tidak terlalu membuat sosok penjahatnya terlihat ikonik

Di menit awal, film ini sebenarnya berpotensi akan memiliki alur yang kuat hingga menit akhir. Namun, rasa antusias tersebut mulai menurun saat berada di pertengahan. Daya tarik itu seolah hilang dan terasa menjadi monoton. Namun di satu sisi, kita juga tetap digiring untuk mengolah rasa penasaran akan identitas asli pelaku perampokan yang terjadi di sekolah tempat Taat mengajar.

Saat film ini berakhir, kita akan benar-benar sadar bahwa penyelesain film ini kurang berbekas, dan tidak menimbulkan rasa istimewa. Lewat akhir seperti itu, Guru-Guru Gokil bukanlah film yang jelek, hanya saja masih kurang baik dalam mengeloh jalan cerita beserta komedinya. JIka semua aspek tersebut disusun dengan baik, bukan tidak mungkin film ini bisa hadir menjadi tontonan yang sangat segar.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *