Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Review Film Dunkirk tentang Perang Dunia II

Sinopsis dan Review Film Dunkirk tentang Perang Dunia II

Ditulis oleh - Diperbaharui 14 Oktober 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Naskah dalam film ini ditulis oleh sang sutradaranya sendiri, Christopher Nolan, dan ceritanya berdasarkan kejadian Perang Dunia II pada peristiwa evakuasi Dunkerque di Prancis selama tanggal 26 Mei 1940 hingga 4 Juni 1940. Dunkirk ditayangkan secara perdana di Odeon Leicester Square, London, Inggris, pada tanggal 13 Juli 2017.

Film Dunkirk lalu mendapatkan review positif dalam Rotten Tomatoes dengan meraih rating 92% dari 390 ulasan, dan mendapatkan nilai 8,7/10. Film ini meraup keuntungan yang besar dan sukses menghasilkan pendapatan lebih dari 527 juta dollar Amerika, melebihi anggaran produksinya yang hanya sebesar 100 juta dollar.

Sinopsis

Film Dunkirk

  • Tahun rilis: 2017
  • Genre: History, Action, War
  • Rumah produksi: Warner Bros. Pictures
  • Sutradara: Christopher Nolan
  • Pemeran Utama: Fionn Whitehead, Tom Glynn-Carney, Jack Lowden, Harry Styles, dan Tom Hardy

Pasukan dari Prancis dan ratusan ribu tentara sekutu terdesak oleh serangan Jerman, dan mereka pun mundur ke kota pelabuhan Dunkerque. Sementara itu, Tommy adalah seorang prajurit asal Inggris yang selamat dari serbuan pasukan Nazi tersebut.

Di pesisir pantai, Tommy lalu bertemu prajurit lain bernama Gibson, dan keduanya kemudian berusaha untuk menuju sebuah kapal yang berada di pantai.

Sesampainya di sana, kapal tersebut tiba-tiba dibombardir oleh pasukan musuh. Tommy lalu berhasil menyelamatkan seorang prajurit bernama Alex. Ketiganya kemudian mencoba menaiki kapal lain untuk melarikan diri.

Lagi-lagi, kapal yang mereka naiki diserang oleh musuh secara masif. Alex, Tommy, dan Gibson lalu naik sekoci menuju daratan agar bisa terhindar dari serangan tersebut.

Sementara itu, Angkatan Laut Inggris meminta kepada kapal-kapal sipil agar berlayar ke lautan untuk menyelamatkan prajurit-prajurit yang terdampar di sana.

Seorang ayah yang bernama Dawson beserta anaknya, Peter, kemudian berangkat dengan kapal miliknya, Moonstone. Di tengah lautan, mereka lalu menyelamatkan seorang tentara tanpa nama yang trauma akibat peperangan di Dunkerque.

Tentara tersebut lalu panik saat mengetahui Dawson akan berlayar ke Dunkerque untuk menyelamatkan prajurit lainnya. Ia lalu berusaha mengambil kendali kapal secara paksa dari tangan Dawson. Mereka lalu bertikai di tengah peperangan antara tentara sekutu melawan pasukan Jerman.

Tommy, Alex dan Gibson kemudian bergabung dengan kelompok tentara Skotlandia dan bersembunyi di sebuah kapal yang terdampar di pesisir laut.

Pasukan Jerman ternyata mengetahui mereka, dan mulai menembaki kapal tersebut hingga terdapat banyak celah berlubang. Saat air pasang naik, kapal terseret ke tengah laut dan hampir tenggelam karena jumlah penumpang yang lumayan banyak.

Mereka kemudian berusaha meninggalkan kapal tersebut sebelum tenggelam. Namun, Gibson tidak bisa menyelamatkan diri karena terjerat rantai yang ada di kapal. Beberapa saat kemudian, Kapal Moonstone yang sudah kendalikan oleh Dawson berhasil mengevakuasi mereka, termasuk salah satunya adalah Tommy dan Alex

Di tempat yang lain, Farrier adalah seorang pilot pesawat tempur spitfire dari pasukan sekutu yang sedang terbang di udara. Ia kini harus mengambil alih komando setelah pesawat tempur yang dinaiki oleh pimpinannya, Collins, tertembak jatuh oleh pesawat musuh.

Farrier berusaha untuk mencapai Dunkerque, namun bahan bakar pesawatnya hampir habis. Ia lalu terbang melintasi pantai untuk menghancurkan pesawat pengebom Jerman yang sedang mengintainya.

Setelah berhasil melumpuhkannya, Farrier mendaratkan pesawatnya di luar zona aman sekutu. Dirinya membakar pesawat tempurnya itu, dan ia lalu ditangkap oleh tentara Jerman sebagai tahanan perang.

Tiga Sudut Pandang yang Saling Terhubung

Tiga Sudut Pandang Yang Saling Terhubung

Alur cerita Dunkirk terbagi ke dalam 3 bagian yang masing-masing diantaranya memiliki sudut pandang kejadian yang berbeda. Namun, ketiga babak tersebut mempunyai benang merah yang sama dan akhirnya terhubung secara utuh saat menuju adegan terakhir.

Selain itu juga, ketiga cerita tersebut mempunyai waktu kejadian yang berbeda satu sama lain. Perbedaan waktu tersebut membuat Dunkirk membawa konsep alur maju-mundur di dalam narasinya.

Babak pertama dalam Dunkirk disebut dengan The Mole dengan memperkenalkan sosok bernama Tommy yang diperankan oleh Fionn Whitehead. Seperti yang sudah dijelaskan dalam sinopsis, ia bertemu dengan Gibson (Aneurin Barnard), dan Alex yang dilakoni oleh mantan personil One Direction, Harry Styles

Pengenalan awal dari ketiga sosok tersebut disajikan dengan cara yang langsung berhasil menarik simpati. Penonton nampaknya akan cepat tertarik dengan mereka, dan seolah-olah akan diajak untuk mengikuti perjalanan ketiganya dalam menyelamatkan diri dari Kota Dunkerque.

Setelah dari mereka, Dunkirk lalu lanjut masuk ke bagian kedua, yakni The Sea. Di babak ini, fokus cerita akan menyoroti Dawson dan Peter yang berlayar ke tengah lautan untuk menyelamatkan para tentara sekutu.

Cerita di bagian ini menawarkan narasi dan konflik yang sangat menarik dengan sudut pandang seorang penduduk lokal. Dawson beserta anaknya, Peter, tentunya cukup bernyali besar untuk ikut membantu tentara-tentara sekutu yang terdampar di tengah lautan.

Konflik yang disajikan di dalam babak ini tetap sama menegangkannya, dan cenderung lebih mengedepankan permasalahan psikologis.

Memasuki bagian ketiga, The Air, cerita dalam Dunkirk jauh lebih memainkan rasa emosi yang berfokus pada seorang pilot pesawat tempur bernama Farrier. Sosok karakter tersebut dimainkan dengan baik oleh Tom Hardy.

Lewat sorot matanya, dan dialognya di dalam pesawat tempur, Tom mampu memberikan kesan yang campur aduk, mulai dari rasa cemas, tegang, hingga superior. Semuanya itu ia berhasil lakukan untuk menguatkan karakter Farrier dan memberikan atmosfer pertempuran di udara yang begitu menegangkan.

Begitulah persisnya tiga babak penting yang disajikan dalam keseluruhan cerita film Dunkirk. Film ini juga merupakan sebuah film perang yang bagus karena menawarkan berbagai macam elemen yang berbobot.

Dunkirk sendiri bukanlah sebuah film perang biasa, di dalamnya kita akan melihat berbagai gambaran manusia yang masing-masing ingin selamat dari peristiwa perang yang menguras emosi dan perasaan.

Cerita Menarik dari Menit Awal Hingga Akhir

Menarik Dari Menit Awal Hingga Akhir

Film ini cukup banyak menghadirkan momen-momen dramatik dari prajurit-prajurit sekutu yang berupaya untuk bertahan hidup. Situasi dan kondisi tersebut lalu digambarkan sangat pelik oleh Tommy, Alex, Gibson, Farrier, hingga seorang prajurit tanpa nama yang traumatik.

Para aktor yang memerankannya pun tidak terlihat overacting dalam mengembangkan setiap karakter yang dilakoninya. Semuanya disajikan sangat pas, dan sewajarnya, bahkan Harry Styles pun tidak nampak canggung dalam memerankan sosok Alex di film ini.

Karakternya itu memang digambarkan jarang berbicara, dan berdialog dengan Tommy serta Gibson. Namun, hal tersebut tidak membuat adegan ketiganya hampa dan kosong, justru semakin kuat karena diekspresikan lewat gimmick kecemasan, ketakutan, hingga ketenangan.

Selain itu juga, Nolan nampaknya tidak bertele-tele dalam menggarap Dunkirk, dan membuatnya terlihat serealistis mungkin dengan sajian peperangan yang menawan sekaligus menakutkan.

Nolan menyajikan Dunkirk ke dalam tiga sudut pandang yang setidaknya berhasil membuat film ini tidak membosankan untuk ditonton. Semuanya lalu diikat dalam urutan yang apik sehingga menimbulkan ending yang klimaks lewat pendekatan sejarah Perang Dunia II.

Dunkirk begitu menarik dari awal karena menampilkan beberapa properti film yang asli, mulai dari kapalnya, pesawat tempur, hingga lokasi tempatnya pun tidak ada sentuhan greenscreen. Di menit pertama hingga selanjutnya, kita langsung tercengang untuk mengikuti kisah Alex, Tommy, dan Gibson di tengah-tengah medan perang.

Selanjutnya, mereka langsung terjun ke dalam konflik dan masalah yang ada di film ini. Secara cepat, mereka membuka cerita Dunkirk dengan lugas lewat momen-momen yang menarik perhatian. Tensi pun sedikit menurun ketika memasuki babak ke dua di bagian ‘The Sea’, dan mulai naik kembali ketika Tom Hardy mengambil alih di bagian ketiga.

Dunkirk sebenarnya tidak menyajikan ledakan-ledakan yang bombastis, dan intens layaknya film-film bergenre perang lainnya. Film ini terlihat begitu otentik dengan caranya sendiri, dan berupaya menampilkan aspek realistis yang ditawarkan dari sudut pandang prajurit sekutu hingga penduduk lokal.

Karena menawarkan hal tersebut, ditambah dengan alur yang lugas, kita yang menontonnya akan diajak langsung menikmati Dunkirk tanpa basa basi. Adegan peperangan memang tidak terlalu teatrikal seperti Saving Private Ryan, namun film ini tetap melibatkan penontonnya untuk merasakan kengerian dan kecemasan yang terjadi di medan perang.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *