bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Come to Daddy, Film Indie Penuh Darah

Ditulis oleh Dhany Wahyudi - Diperbaharui 19 September 2021

Norval adalah pria berusia 30an yang menempuh perjalanan jauh menuju sebuah kabin di tepian tebing pinggir laut hanya untuk bertemu dengan ayah yang sudah lama tidak pernah dijumpainya. Tapi ternyata semua yang dia hadapi penuh dengan kemisteriusan yang mencekam.

Come to Daddy mungkin adalah kali kesekian bagi Elijah Wood membintangi film indie dengan seting berskala kecil. Film yang pertama kali tayang di Tribeca Film Festival pada 25 April 2019 ini baru bisa menemui para penonton pada 7 Februari 2020, itu pun hanya di 29 layar bioskop saja di Amerika Utara.

Hanya diperankan oleh beberapa aktor saja, film ini sepertinya akan menawarkan cerita yang mendalam dan intim yang diliputi ketegangan, dan pastinya bakal ada twist menjelang ending-nya.

Apakah semua harapan tadi bisa disuguhkan dengan baik oleh sutradara Ant Timpson? Simak review kami tentang salah satu film indie terbaik Come to Daddy berikut ini ya!

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun: 2019
  • Genre: Comedy, Horror, Mystery, Thriller
  • Produksi: Scythia Films, Firefly Films, Blinder Films, Nowhere
  • Sutradara: Ant Timpson
  • Pemeran: Elijah Wood, Stephen McHattie, Martin Donovan

Norval adalah seorang musisi berusia 30an yang selama ini tinggal bersama ibunya di Beverly Hills. Norval datang ke sebuah kabin di tepian tebing laut demi mengunjungi ayah yang tidak pernah ditemuinya sejak usia lima tahun setelah menerima surat dari ayahnya. Berharap mendapat sambutan yang hangat, kedatangan Norval justru ditanggapi dengan dingin oleh ayahnya.

Menjadi bingung, Norval berusaha dekat dengan ayahnya lewat percakapan-percakapan yang justru malah memperuncing ketegangan diantara mereka. Tidak hanya lewat ucapan saja, ayah Norval menunjukkan ketidaksukaannya, bahkan ayahnya sudah mengancam secara fisik yang semakin membuat Norval tidak nyaman karena seperti ada yang disembunyikan oleh ayahnya.

Di sebuah sore, ayahnya berusaha memukul Norval dengan perencah daging, tetapi ayahnya terkena serangan jantung dan meninggal dunia. Norval kemudian menghubungi petugas medis yang kemudian menyuruh Norval untuk menyimpan jenazah ayahnya di rumah terlebih dahulu karena keterbatasan kamar mayat di rumah sakit setempat.

Norval kemudian menemukan album foto yang memperlihatkan foto-foto ayahnya yang membuat dia menyadari jika ternyata orang yang tewas di rumahnya itu bukanlah ayahnya. Norval kemudian terganggu dengan suara-suara dentuman dari ruang basement. Ternyata Norval menemukan ayahnya terantai di kursi dalam keadaan terluka.

Ayahnya kemudian menyuruh Norval untuk membunuh Jethro yang akan datang untuk menyiksanya. Dengan aksi dadakannya, Norval berusaha menjebak dan membunuh Jethro, tapi gagal dan Jethro berhasil melarikan diri dengan menebar ancaman kepada mereka. Ayah Norval bercerita tentang kejadian setelah dia meninggalkan Norval dan ibunya.

Brian, ayah Norval, pergi ke Thailand bersama Jethro, Gordon yang telah tewas (yang di awal film berpura-pura menjadi Brian) dan Dandy. Mereka menculik anak orang kaya dan meminta tebusan. Setelah mereka berhasil mendapat uang itu, Brian kabur dari mereka dan membawa semua uang itu yang sebagian besarnya dikirimkan kepada ibu Norval untuk kehidupan mereka.

Dandy datang untuk membunuh Norval, tapi Norval berhasil membunuhnya terlebih dahulu. Ketika mereka berdua hendak pergi dari rumah itu, Jethro datang dengan membawa panah api. Jethro menemukan tas Norval dengan alamatnya di Los Angeles dan sesumbar akan membunuh ibu Norval. Atas perintah Brian, Norval masuk ke dalam bagasi mobil Jethro yang menuju sebuah motel.

Ketika Jethro sedang di dalam kamar, Norval mencuri kunci motel, membuat ban mobil Jethro bocor lalu menyelinap ke kamar sebelah. Aksi Norval terlihat oleh Jethro yang membuatnya ditikam berkali-kali hingga terluka berat. Jethro segera pergi dari motel tetapi kemudian tewas karena mobilnya oleng dan menabrak papan reklame yang kemudian nyaris memenggal kepalanya.

Norval menghampiri Jethro yang sedang sekarat dimana Jethro bilang jika ibunya adalah pelacur yang dia dan ayah Norval pernah tiduri bersama. Norval kemudian membunuh Jethro dan kembali ke rumah kabin untuk menemui ayahnya. Mereka berdua berbaring di pantai saling meminta maaf atas semua masa lalu yang terlewat.

Cerita yang Penuh Twist Menegangkan

Cerita yang Penuh Twist Menegangkan

Come to Daddy memiliki nuansa kelam nan suram sepanjang film dengan seting lokasi di dalam rumah kabin yang seharusnya indah tapi mayoritas diliputi kesan gelap. Naskah yang ditulis oleh Toby Harvard dengan cerdas mengalirkan jalan cerita yang penuh twist berkali-kali yang bahkan tidak sempat terpikirkan oleh kita.

Awal cerita yang sepertinya adalah konflik antara ayah dan anak yang lama tidak bertemu dan saling mengenal tetapi tidak berjalan dengan baik, berubah menjadi drama pembunuhan penuh misteri dibaliknya. Begitu Norval menemukan foto-foto lama ayahnya, ternyata yang dia temui bukanlah ayahnya, tetapi orang yang berusaha menyiksa bahkan membunuh ayahnya.

Motif dibalik rencana orang-orang ini tidak serta merta terbaca dengan jelas, jika saja ayah Norval tidak menceritakan latar belakang kisahnya waktu di Thailand bersama orang-orang ini yang ternyata adalah teman-temannya dahulu. Pada akhirnya kita tahu jika motif mereka adalah menagih uang yang seharusnya menjadi hak mereka tetapi dibawa kabur oleh ayah Norval.

Adegan demi adegan penuh dengan teka-teki. Kita akan dibuat menduga-duga apa lagi yang akan dilakukan Norval dan ayahnya untuk mengakhiri rencana Jethro dan teman-temannya untuk menghabisi Norval sekeluarga. Pada akhirnya, tindakan kecil yaitu membocorkan ban mobil menjadi akhir hidup mengenaskan bagi Jethro sebagai orang terakhir yang harus diselesaikan oleh Norval.

Dialog Cerdas Nan Menjebak

Dialog Cerdas Nan Menjebak

Toby Harvard juga menyuntikkan dialog-dialog yang cerdas penuh jebakan ke dalam jalan cerita Come to Daddy. Terutama dialog antara Norval dan Gordon yang mengaku sebagai ayahnya yang penuh dengan intimidasi terselubung dan kebohongan tersembunyi.

Gordon yang memiliki sikap cuek dan bicara yang blak-blakan, membuat Norval yang ingin tampil “mewah” menjadi terkesan “miskin” karenanya. Satu dialog cerdas adalah ketika Norval bilang jika dia kerja di industri musik dan dekat dengan Elton John, Gordon kemudian bilang dia juga kenal dekat dengan Elton John waktu dia masih jadi sopir pribadi musisi asal Inggris itu.

Norval sedikit terkejut dan semakin tersudut ketika Gordon ingin menelpon Elton John dan menanyakan tentang Norval. Padahal itu hanya gertakan. Seketika itu kebohongan Norval pun terkuak.

Performa Akting Cemerlang Dibawah Arahan Sutradara Baru

Performa Akting Cemerlang Dibawah Arahan Sutradara Baru

Elijah Wood beberapa tahun belakangan ini tampaknya nyaman dengan berakting di dalam film-film indie. Kemampuan aktingnya justru lebih terlihat di dalam film-film produksi kecil dengan karakter-karakter yang unik dan anti-mainstream, seperti yang dia tampilkan di film I Don’t Feel at Home in This World Anymore (2017). Begitupun di dalam film ini dimana dia berperan sebagai pria kekanak-kanakan.

Perkembangan karakter Norval juga ditampilkan dengan baik, terutama di sisi psikologis yang mampu digambarkan dengan cermat oleh Wood dengan bantuan sutradara debutan, Ant Timpson. Apalagi ketika kebohongannya diketahui oleh Gordon dan dia merasa terintimidasi hingga menduga jika ayahnya menulis surat itu dalam keadaan mabuk dan dia ingin kembali ke Los Angeles saja.

Saat intimidasi Gordon yang berkembang ke arah fisik, Norval semakin rentan dan emosinya pun memuncak. Stephen McHattie yang berperan sebagai Gordon pun tampil dengan kesan misterius tingkat tinggi dan sangat menyebalkan ketika berbicara. Semua ini tidak lepas dari peran sutradaranya yang mampu menjaga tensi dan nuansa film yang berdurasi 1 jam 36 menit ini.

Maka tidak heran jika Come to Daddy berhasil meraih banyak penghargaan dari beberapa festival film independent, seperti Leo Awards, Molins Film Festival dan Toronto After Dark Film Festival yang menjadikan film ini sebagai salah satu film indie terbaik di tahun 2020.

Dengan segala kelebihannya ini, kita yang tidak terbiasa menonton film indie, memang harus bersabar untuk mengikuti jalan ceritanya yang terkesan lambat dan canggung. Tapi ketika misteri pertama mulai terbuka, dijamin kita tidak akan bergeser dari tempat duduk hingga ke akhir film. Meski mungkin akan sulit dimengerti, Come to Daddy bisa menjadi salah satu film pilihan yang layak ditonton.

Come to Daddy
Rating: 
3/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram