Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Review Atonement (2007), Romansa yang Perih

Sinopsis dan Review Atonement (2007), Romansa yang Perih

Ditulis oleh - Diperbaharui 14 Oktober 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Calon penulis berbakat berusia 13 tahun, Briony Tallis, mengubah jalan hidup dua sejoli ketika dia menuduh kekasih kakaknya berbuat kejahatan yang tidak pernah dia lakukan.

Drama dengan seting tahun 1930an-1940an ini dibintangi oleh Keira Knightley dan James McAvoy yang mengantarkan film ini masuk nominasi Oscar di tujuh kategori termasuk Best Picture.

Atonement adalah film drama romantis berlatar belakang perang yang diadaptasi dari novel karya Ian McEwan yang terbit di tahun 2001. Tayang perdana di Vancouver International Film Festival dan Venice International Film Festival menjadikan Joe Wright sebagai sutradara termuda yang filmnya membuka festival film di Venice tersebut di usia 35 tahun.

Film ini kemudian menuai banyak pernghargaan dari festival film dunia, termasuk Oscar. Kami akan paparkan ulasan menarik tentang film yang diproduksi oleh tiga negara ini, yaitu Inggris, Prancis, dan Amerika.

Sinopsis

Review Atonement

  • Tahun: 2007
  • Genre: Drama / Mystery / Romance / War
  • Produksi: StudioCanal, Working Title Films
  • Sutradara: Joe Wright
  • Pemeran: James McAvoy, Keira Knightley, Saoirse Ronan

Inggris tahun 1935, Briony Tallis (Saoirse Ronan), anak gadis berusia 13 tahun, sedang menyusun naskah drama untuk dipentaskan di acara pertemuan keluarga. Ketika itu dia melihat kakaknya, Cecilia (Keira Knightley), sedang berada di air mancur bersama Robbie (James McAvoy). Briony menyimpan rasa suka kepada Robbie meski usia mereka terpaut jauh.

Dari balik jendela, Briony melihat Robbie berteriak kepada Cecilia dan kemudian Cecilia melepas pakaiannya dan menyeburkan diri ke air mancur.

Setelah keluar dari air mancur dalam keadaan basah, Cecilia masuk ke dalam rumah sambil bersikap marah kepada Robbie. Briony mengira Robbie berteriak itu menyuruh Cecilia untuk melepas pakaiannya. Padahal kejadian sebenarnya bukan seperti itu.

Robbie menulis surat untuk Cecilia sebagai permintaan maaf. Berkali-kali dia mencoba menyusun surat yang formal dan bagus, tetapi berkali-kali pula dia gagal. Dia menulis surat dengan nada seksual hanya sekedar iseng saja.

Dan selesailah surat yang dia tulis dan akan dibawa olehnya pada malam pertemuan keluarga. Robbie bertemu Briony di jalan dan menitipkan surat itu untuk Cecilia.

Kemudian Robbie teringat jika isi amplop itu bukanlah surat yang formal, tetapi surat yang dia buat dengan iseng. Dan tak disangka, Briony membacanya sebelum memberikan kepada Cecilia.

Setelahnya, Briony menceritakan isi surat kepada sepupunya, Lola, yang menganggap Robbie adalah “sex maniac”. Robbie meminta maaf kepada Cecilia atas kesalahan surat itu, tapi ternyata respon Cecilia sangat mengejutkan.

Cecilia ternyata menyimpan rasa suka kepada Robbie dan kemudian mereka bercinta di perpustakaan yang tidak disangka terlihat oleh Briony yang menyangka Robbie memperkosa Cecilia.

Ketika sedang makan malam, adik Lola yang kembar menghilang. Kemudian mereka pun berpencar untuk mencarinya. Dalam kegelapan itu, Briony melihat Lola digerayangi oleh seorang pria yang kemudian kabur.

Briony yakin jika pria itu adalah Robbie, meski Lola ragu untuk mengatakannya. Dengan persaksian kedua gadis itu dan surat mesum Robbie untuk Cecilia, Robbie ditahan oleh polisi atas tuduhan pemerkosaan.

Empat tahun kemudian, Robbie dibebaskan dari penjara dengan syarat harus bergabung dengan militer dan terjun ke kancah Perang Dunia II dan bertempur di Prancis.

Terpisah dari pasukannya, Robbie dan temannya akhirnya sampai di Dunkirk. Dalam sakitnya karena infeksi luka yang dideritanya, dia berusaha berisirahat sambil menunggu kapal datang untuk menjemput para tentara.

Dalam pikirannya, dia teringat kejadian sebelum berangkat berperang, enam bulan sebelumnya, dimana Robbie sempat bertemu Cecilia yang kini bekerja sebagai perawat.

Briony juga menjadi perawat meninggalkan kuliahnya di Universitas Cambridge. Briony menulis surat kepada Cecilia tetapi tidak dibalas karena Cecilia masih kesal dengan peristiwa kebohongan Briony yang mengubah jalan hidup dia dan Robbie.

Kemudian Briony mendapat kabar pernikahan Lola dengan Paul Marshall, pengusaha coklat yang dulu pernah hadir di pertemuan keluarganya.

Briony menghadiri pernikahan Lola, dan di sana dia sadar jika ternyata yang berusaha memperkosa Lola dahulu bukanlah Robbie, tapi Paul. Briony datang ke rumah tempat Cecilia mengontrak.

Di sana dia bertemu Robbie yang masih kesal dengan kehadiran Briony dan peristiwa kebohongannya dahulu. Briony meminta maaf dan mencoba untuk memperbaiki kesalahannya.

Robbie dan Cecilia meminta Briony untuk membuat pernyataan jika dahulu dia berbohong untuk membersihkan nama Robbie. Cecilia menyebut nama Danny Hardman sebagai pemerkosa, tetapi Briony yakin jika pemerkosa itu adalah Paul Marshall yang baru saja menikahi Lola.

Mereka semakin kesal karena tidak akan dapat pernyataan dari Lola, apalagi Paul sekarang kebal hukum karena berjasa untuk negara. Beberapa dekade kemudian, Briony di usia tua sudah menjadi penulis novel terkenal dan sedang mempromosikan novel terbarunya sekaligus terakhirnya berjudul Atonement.

Briony mengaku jika novel ini semuanya murni kisah nyata tentang dirinya, Robbie, dan Cecilia. Dia menyatakan bahwa potongan cerita dimana dia bertemu Robbie dan Cecilia itu hanyalah imajinasi belaka.

Robbie dan Cecilia tidak pernah bersatu. Robbie wafat di malam penjemputan tentara di Dunkirk karena infeksi luka yang sangat parah. Sedangkan Cecilia tewas beberapa bulan kemudian dalam peristiwa pemboman stasiun bawah tanah yang membuat para pengungsi yang berlindung disana tenggelam. Spoiler alert!

Sebagai persembahan terakhirnya, dan permintaan maafnya, Briony menyatukan mereka kembali dalam penuh kebahagiaan di dalam novelnya, meski hanya fiktif belaka.

Di akhir film, terlihat Robbie dan Cecilia berlarian di tepi pantai menuju rumah mereka yang dimana tempat itu adalah lokasi yang ingin mereka singgahi ketika nanti mereka bersama kembali.

Jalan Cerita yang Sulit Ditebak

Jalan Cerita yang Sulit Ditebak

Kekuatan sebuah film drama tidak hanya terletak pada ceritanya saja, tetapi juga pada performa akting para pemerannya. Atonement berhasil menyatukan kedua unsur pokok ini dan Joe Wright menyajikannya dengan sangat cerdik. Dari sisi cerita, kita akan diberikan beberapa pengulangan adegan dilihat dari perspektif berbeda selain dari sudut pandang Briony.

Setelah peristiwa penangkapan Robbie, cerita berjalan terus seperti terlepas dari kejadian malam itu dan kita sangat susah untuk menyambungkannya kembali. Yang ada, kita terus menerus disajikan visualisasi nuansa perang, yang meski minim action, tetapi sangat menakjubkan. Tidak hanya di medan perangnya saja, tetapi juga situasi di Kota London pada masa itu.

Di medan tempur, ada sebuah adegan panjang yang menakjubkan. Selama 5 menit lebih kita akan dibuat terpaku dengan adegan yang diambil dalam satu kali take saja.

Mulai dari penembakan kuda hingga tampilan secara luas Pantai Dunkirk yang dipenuhi oleh ribuan tentara yang sudah pasti akan membuat mata kita terbelalak. Kerja yang sangat bagus dari juru kamera!

Kemudian, cerita berpindah ke Briony remaja sebagai perawat perang. Kita sudah pasti paham apa motivasi gadis ini menjadi perawat, yaitu berharap bertemu Robbie dan merawatnya.

Tetapi semua itu tidak pernah terjadi. Jalan cerita semakin menjauh dari konflik di awal film. Tetapi semua direkatkan kembali dengan sebuah adegan di kontrakan Cecilia dengan dialog penuh emosi antara mereka bertiga.

Jangan berpikir dulu itu adalah awal dari solusi semua konflik, ternyata jalan cerita dipelintir ke beberapa dekade kemudian yang menyatakan jika pertemuan itu hanya imajinasi dan kedua pasangan itu tidak pernah bersatu kembali hingga kematian menjemput mereka.

Sedih ya, guys! Di sinilah letak kualitas yang tinggi dari film yang juga berjaya di Golden Globe Awards dan BAFTA ini.

Performa Akting yang Menawan

Performa Akting yang Menawan

Unsur yang kedua adalah performa akting para pemerannya. James McAvoy dan Keira Knightley tampil gemilang dan mampu membawakan karakter masing-masing dengan sangat baik.

Knightley menjadi pilihan utama Joe Wright setelah mengarahkannya dalam film Pride & Prejudice [2005]. Ketika dipertemukan dengan James McAvoy, chemistry mereka ternyata bisa terjalin dengan sangat baik.

Tetapi yang paling memukau di film ini ialah Saoirse Ronan. Ketika melakukan audisi untuk mencari aktris cilik yang akan memerankan karakter Briony, Joe Wright tertarik dengan Ronan yang sangat fasih dalam berbicara dengan aksen tahun 1920an.

Ketika mengundangnya ke London untuk audisi lanjutan, Wright terkesima dengan kemampuan akting yang unik dari Ronan. Bahkan Romola Garai yang memerankan Briony remaja dan Vanessa Redgrave sebagai Briony tua harus mengikuti segala hal yang dilakukan Ronan dalam membentuk karakter Briony.

Garai menghabiskan banyak waktunya bersama dengan Ronan hanya untuk menangkap cara Ronan berjalan dan bergerak. Mereka bertiga dilatih oleh voice coach agar memiliki gaya pengucapan yang sama.

Maka tidak heran jika Ronan kemudian masuk nominasi sebagai Best Supporting Actress di berbagai ajang pernghargaan film, salah satunya adalah Academy Awards.

Dan setelahnya, karir Ronan langsung melejit dan menjadi salah satu aktris muda papan atas saat ini yang memiliki deretan film berkualitas dalam filmography-nya, tentu saja dengan kualitas akting yang baik pula.

Penantian Romantis Berujung Perih

Penantian Romantis Berujung Perih

Biasanya, kisah romantis yang berujung tragis memang mampu menguras emosi dan air mata. Ada yang salah satu dari mereka meninggal dunia, ada yang terpisah selamanya tanpa mengetahui kabar pasangannya lagi, dan Atonement menyajikan kisah pasangan yang tidak pernah bertemu lagi hingga akhir hayatnya yang masing-masing mengalami kematian yang sangat mengiris hati.

Atonement menjadi film adaptasi novel karya Ian McEwan yang paling sukses, dengan dukungan chemistry ciamik dari James McAvoy dan Keira Knightley, kekuatan akting Saoirse Ronan, eksekusi cinematography yang brilian, dan ditambah dengan iringan musik yang tidak biasa, yaitu memasukkan suara mesin ketik sebagai salah satu instrumennya.

Penggubah musik ini, Dario Marianelli, didapuk sebagai peraih Oscar di kategori Best Original Score atas karya jeniusnya, satu-satunya Oscar yang berhasil diraih Atonement.

Bagi kalian yang belum menonton film ini, segera simak di layar Netflix. Setelahnya, boleh kok kirim komentarnya ke kami tentang apa yang kalian rasa setelah menonton peraih Best Film di BAFTA dan Golden Globe ini. Ditunggu ya!

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *