Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Review Film Netflix All the Bright Places

Sinopsis dan Review Film Netflix All the Bright Places

Ditulis oleh - Diperbaharui 25 Desember 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

All the Bright Places adalah sebuah film adaptasi Netflix dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Jennifer Niven. Kisahnya sendiri berpusat pada dua sosok remaja yang saling jatuh cinta, dan mereka sama-sama berjuang untuk mengatasi rasa kehilangan. Filmnya sendiri dirilis pada tanggal 28 Februari 2020 di Netflix.

Pada bulan Juni 2020, All The Bright Places memegang peringkat persetujuan 66% di situs web aggregator Rotten Tomatoes, berdasarkan 38 ulasan, dengan nilai 6,33/10. Untuk di Metacritic sendiri, film ini mendapatkan peringkat 61/100, berdasarkan 9 kritikus, dan menunjukkan “ulasan yang umumnya disukai”.

Sinopsis

sinopsis

*https://www.imdb.com/title/tt3907584/

  • Tahun rilis: 2020
  • Genre: Teen romantic drama
  • Rumah produksi: Echo Lake Entertainment, Mazur/Kaplan Company, dan Demarest Media
  • Sutradara: Brett Haley
  • Pemeran Utama: Elle Fanning dan Justice Smith

Violet Markey dan Theodore Finch merupakan dua orang pelajar yang bersekolah di tempat yang sama. Keduanya tengah menghadapi masalah yang cukup rumit dalam kehidupannya masing-masing. Violet diketahui sedang melalui masa traumatik, dan kesedihan karena sauadara perempuannya meninggal dalam kecelakaan mobil, sedangkan Finch masuk masa percobaan karena terancam tidak lulus.

Keduanya kemudian semakin dekat, dan mengenal satu sama lain saat dipasangkan untuk tugas sekolah, di mana mereka harus membuat tulisan tentang keindahan Indiana. Meski begitu, Violet pada awalnya menutup diri dari Finch, tapi ketika mereka melakukan perjalanan ke Indiana, Violet mulai terbuka padanya. Keduanya saling jatuh cinta, dan mulai di hari itu juga mereka berpacaran.

Selama dekat dengan Violet, Finch berusaha menghilangkan rasa traumatik yang dialami oleh pacarnya. Semua hal menyenangkan yang dilakukan oleh Finch ternyata perlahan-lahan membuat Violet tidak bersedih lagi. Akan tetapi, salah satu teman Violet mengatakan bahwa Finch adalah orang aneh yang sering membuat masalah, dan ia berharap agar Violet menjauhi pacar barunya itu.

Violet yang sudah merasa mengenal Finch mengabaikan perkataan temannya itu. Beberapa saat kemudian, sekolah menjadi heboh karena Finch berkelahi dengan seorang siswa lainya di sebuah lorong. Violet kaget melihat Finch yang menjadi emosi, dan tidak tahu harus berbuat apa. Dari kejadian itu, Finch tiba-tiba malah menjauh dari Violet, dan berubah menjadi orang yang berbeda.

Violet lalu mencoba berbicara dengannya, dan memberi tahu kepada Finch bahwa ia akan selalu ada untuknya. Namun sayangnya, upaya yang dilakukannya itu malah membuat Finch merasa tidak nyaman, dan ia menyuruh Violet untuk pergi. Perasaan Violet kembali sedih, dan patah hati, ia pun pulang sambil menangis.

Sementara itu, Finch pun merasakan hal yang sama, ia patah dan bersedih karena terpaksa harus berbuat seperti itu. Finch ternyata mengalami traumatik, dan kesehatan mental akibat permasalahan yang ada di keluarganya. Ia tidak bisa bangkit untuk menyembuhkannya, hingga pada akhirnya ia memilih bunuh diri dengan menenggelamkan diri di danau tempat ia dan Violet pernah berenang.

Suasana berubah menjadi duka dan haru, Violet lalu pergi ke tempat-tempat yang pernah dikunjungi bersama Finch saat sedang menyelesaikan tugas sekolah. Setiap tempat yang ia datangi, Violet mencoba mengenang rasa sayang yang pernah mereka bagikan.

Menyoroti Kesehatan Mental di Usia Remaja

menyoroti kesehatan mental

*https://www.nytimes.com/2020/02/28/movies/all-the-bright-places-review.html

All the Bright Places dengan sangat baik menyajikan tema kesehatan mental, dan memperlihatkan realitas itu lewat karakter yang dimainkan oleh Fanning serta Smith. Film ini pun di awal mungkin akan terlihat seperti film-film remaja pada umumnya, seperti Paper Town, Five Feet Apart, dan The Fault in Our Stars.

Namun, All the Bright Places rasanya berbeda dari contoh film sudah yang disebutkan tersebut, karena film ini memberikan kisah romantis lewat cara yang menarik. Di satu sisi juga, film ini pun memperlihatkan kita gambaran tentang bagaimana jadinya jika mengalami kesehatan mental, dan apa-apa saja tindakan yang mesti dilakukan.

Film ini juga berusaha menyampaikan kepada penonton tentang depresi, dan kesehatan mental lainnya yang dialami oleh anak-anak usia remaja. Di usia yang belum matang tersebut, kehilangan adalah momok yang sangat menyedihkan, dan jika tidak ditangani secara baik akan menimbulkan bahaya karena hal-hal buruk bisa saja terjadi.

Pesan tentang isu depresi dalam All The Bright Places disampaikan dengan cukup natural, dan tidak dilebih-lebihkan. Pesan kesehatan mentalnya sendiri tidak dijelaskan lewat sudut pandang kedokteran. Namun, di film ini pesan tersebut digambarkan lewat sisi psikologi, dan emosi yang sedang dihadapi oleh Violet serta Finch.

All the Bright Places menyajikan cerita yang tidak berlebihan, dan mungkin saja akan sangat relevan di kehidupan remaja di masa sekarang. Film ini dari awal memberikan visual gambar yang indah, dan penjelasan cerita yang mudah untuk diikuti. Semua aspek tersebut membuat All the Bright Places menjadi film melodrama yang minimalis, manis, dan berubah menjadi ‘gelap’ di bagian akhirnya.

Ikut Bersimpati Terhadap Karakter Utama

All the Bright Places

*https://www.dailycardinal.com/article/2020/03/all-the-bright-places-review-a-mediocre-movie-with-an-important-message

Film ini begitu kritis menyoroti persoalan Violet dan Finch, yang di satu sisi mereka sedang mencari jati diri, dan di sisi lainnya tengah bermasalah dengan mentalnya. Semua permasalahan tersebut digambarkan secara baik dalam All the Bright Places. Kita pun tak jarang akan ikut merasa kasihan, dan iba terhadap masalah yang dihadapi oleh keduanya.

Pendekatan cerita yang dilakukan All the Bright Places sepertinya mampu membuat yang menontonnya ikut larut ke dalam permasalahan yang terjadi. Bagaimana tidak, Finch yang terlihat kuat di awal, ternyata memendam perasaan rapuh yang begitu mendalam. Sebaliknya, Violet yang di awal cerita terkesan depresi, kembali menjadi kuat dan ceria, meski di akhir film ia harus bersedih lagi kehilangan Finch.

Violet Markey yang diperankan oleh Elle Fanning memang menarik perhatian sejak di menit awal. Ia digambarkan begitu terpuruk, dan diceritakan sudah terlalu lama berada di lingkaran kesedihan. Lewat kisahnya itu, kita dibuat lebih bersimpati kepadanya, namun di beberapa bagian lainnya kita akan senyum-senyum sendiri ketika melihat kebahagiaannya mulai muncul kembali setelah hadirnya Finch.

Tapi ironisnya, Finch harus berakhir secara tragis dan mengenaskan karena nyatanya tidak mampu bangkit dari rasa sedihnya. Meski ada sosok kakak perempuan yang mendukungnya, dan Violet yang selalu menemaninya, Finch harus kalah, dan mesti mengakhiri hidupnya.

Kenyataan yang diperlihatkan oleh Finch membuat rasa simpati muncul dengan perasaan yang berbeda. kisahnya sungguh tragis, dan cukup mengagetkan jika karakternya akan berakhir seperti itu. Ada rasa haru yang begitu menyesakkan ketika seharusnya ia masih bisa bertahan hidup untuk berbagi kebahagiaan dengan Violet.

Chemistry yang Manis

Chemistry yang Manis

*https://www.thecrimson.com/article/2020/9/21/all-the-bright-places-review/

Di dalam film ini kita akan disuguhkan konten percintaan remaja yang sewajarnya, dan tidak menampilkan kisah-kisah romantis yang “lebay”. Di separuh babak pertama, kita rasanya akan melihat adegan-adegan menyenangkan, dan manis saat Violet bersama Finch. Selanjutnya, di bagian pertengahan hingga akhir kita bisa terbawa larut oleh suasana cerita yang seketika berubah menjadi menyedihkan.

All The Bright Places mampu membagi dua porsi tersebut dengan jalan penceritaan yang sangat baik. Selain itu, chemistry yang dibangun oleh Fanning dan Smith memastikan juga bahwa film ini bukanlah sekedar film remaja biasa. Keduanya tampil cukup harmonis saat pertama kali bertemu, hingga sosok Finch harus bunuh diri di akhir-akhir film.

Pada awalnya, mereka diperlihatkan sebagai dua orang sahabat yang sama-sama saling peduli, dan mendukung satu sama lain. Di bagian perkenalan itu pun,Fanning dan Smith mampu menghidupkan cerita lewat karakternya, dan seolah-olah mereka sudah benar-benar berpacaran. Aktingnya keduanya saling menunjang, dan terlihat sangat cocok sebagai sebuah pasangan di usia remaja.

Interaksi mereka di film ini cukup intens, dan semuanya diperlihatkan lewat dialog, perasaan, dan semua bentuk kasih sayang yang mereka berikan. Semua elemen tersebut membuat kita yang menontonnya rela untuk mengikuti jalan ceritanya dari awal hingga akhir.

All The Bright Places pada akhirnya benar-benar menjadi film remaja yang sangat menarik, dan sarat akan makna tentang kesehatan mental. Dengan segala kesederhanaan yang ditawarkan oleh film ini, All The Bright Places menjadi sebuah tontonan yang spesial, baik dari segi penceritaannya, maupun chemistry yang ditawarkan oleh Fanning dan Smith.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *