bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Film A Cinderella Story, The Millenial Cinderella

Ditulis oleh Gerryaldo - Diperbaharui 11 September 2021

Si cantik Hilary Duff kembali menghiasi layar lebar dengan filmnya yang berjudul A Cinderella Story. Film ini tayang pada tahun 2004 silam dan berhasil masuk ke dalam salah satu film chick flick yang saya suka. Kisah manis seorang gadis muda bernama Samantha Montgomery yang harus memiliki hidup layaknya kisah Cinderella.

Film yang disutradarai oleh Mark Rosman ini juga berhasil meraih predikat A- dari situs rating CinemaScore dan membukukan keuntungan sebesar $ 70,1 juta dengan budget produksi yang hanya berkisar $ 19 juta. Bahkan pemain utama film ini, Chad Michael Murray dan Hilary Duff memenangkan penghargaan di ajang Teen dan Kids Choice Award.

Sinopsis

A Cinderella Story_Poster (Copy)
  • Tahun Rilis: 2004
  • Genre: Romance, Comedy
  • Produksi: Gaylord Films, Dylan Sellers Productions, Clifford Werber Productions
  • Sutradara: Mark Rosman
  • Pemain: Hilary Duff, Chad Michael Murray, Jennifer Coolidge

Samantha Montgomery (Hilary Duff) memiliki masa anak-anak yang luar biasa, hidupnya berkecukupan, dan keluarganya yang menyayangi dia seutuhnya. Sampai suatu kali, Ibu Sam meninggal dan mulai merenggut kebahagiaannya, namun Sam tetap ceria karena Ayahnya masih ada untuknya.

Kebahagiaan Sam pun tak lama bertahan, begitu Ayahnya menikah lagi dengan janda dua anak bernama Fiona (Jennifer Coolidge), hidup Sam berubah. Ibu sambungnya yang diharapkan menjadi pengganti sosok ibunya yang meninggal malah mengasingkan dia. Terlebih saat Ayah Sam meninggal dalam bencana gempa. Sam sendiri dan terpuruk.

Beberapa tahun setelahnya, Sam beranjak pada usianya yang ke 17 dan siap untuk menghadapi semester akhir. Ia berharap bisa masuk ke perguruan tinggi idamannya di Princeton sekaligus melepaskan diri dari Fiona dan dua kayak sambungnya bernama Briana (Madeline Zima) dan Gabriella (Andrea Avery).

Untuk menghemat uang juga biaya masuk Princeton, Sam bekerja di kedai milik keluarganya sendiri yang kini dikelola penuh oleh Fiona. Disaat semua orang mengumpulkan keuntungan harian dari kedai makan, Fiona sering sekali melakukan pemborosan, untuk belanja bahkan bottox juga implan sana-sini.

Tidak dirumah, tidak di tempat kerja, Sam benar-benar dibawah tekanan Fiona. Ditambah lagi kehidupan SMA nya yang juga tak kalah menyedihkan. Sam selalu menjadi laughingstock para siswa siswi populer disana yang dipimpin oleh si cantik bengis Shelby Cummings (Julie Gonzalo) dan siswa tampan nan cuek setengah mampus, Austin Ames (Chad Michael Murray).

Meski kerap dijadikan bahan rundungan, Sam yang sudah kebal soal itu menganggapnya bukan masalah besar. Selama di sekolah, ia berteman dengan seorang pria geek yang memiliki mimpi sebagai artis bernama Carter Farrel (Dan Byrd). Kehidupan mereka berdua di SMA benar-benar dibawah radar.

Selain Carter, Sam juga memiliki teman daring dalam aplikasi chat. Teman daringnya menamai dirinya sebagai Nomad. Obrolan mereka selalu seru dan membuat hari-hari keduanya lebih berwarna, namun demikian mereka sama sekali belum pernah bertemu. Mereka hanya mengira-ngira siapa dari 3,000 siswa di SMA mereka adalah Nomad dan Princeton Girl, yakni nickname Sam.

Suatu kali, SMA mereka mengadakan acara Halloween Dance dan mereka berniat untuk bertemu dengan clue berada di tengah-tengah lantai dansa. Mereka akan mengenakan kostum yang tidak bisa dikenal dan hanya akan memberi kode nickname mereka masing-masing. Keduanya setuju dan sangat bersemangat.

Hari H, rencana Sam sedikit berantakan. Ketika Ibunya mengizinkan kedua anaknya pergi ke pesta dansa, Sam malah diminta untuk bekerja. Sam sudah berusaha minta izin tapi Fiona tetap menolaknya. Beruntung ada Carter dan salah satu senior staff di kedai milik Sam bernama Rhonda (Regina King) yang membantunya sehingga ia bisa pergi ke pesta dansa.

Detik-detik terakhir, Sam yang tak memiliki kostum mendapat pinjaman gaun cantik dari Rhonda yang dipadupadankan dengan topeng putih yang mereka temukan di toko kostum. Sam cantik sekali dan menjadi perhatian banyak orang di tempat pesta bahkan Shelby pun menyukai gaun milik Sam namun tidak dengan orangnya. Sam menjadi putri cantik misterius.

Sam meminta tolong pada Carter supaya ingatkan dirinya kalau sudah jam 12 malam karena ia harus kembali ke kedai tanpa ketahuan Fiona kalau ia sedang pergi berpesta. Carter pun mengaktifkan alarm di handphone milik Sam yang ditaruh di bawah sepatunya. Pesta pun dimulai, meski awalnya sempat berantakan, Sam pun bertemu dengan Nomad yang adalah Austin Ames, cowok populer di sekolah!

Sam kaget bukan main dan sempat ingin melarikan diri, namun berkat bujukan Austin, Sam pun mau bersama dengan Austin menghabiskan waktu bersama di pesta dansa. Sedangkan Carter? Ia berhasil berkencan semalam dengan wanita idamannya, Shelby karena Carter sudah menolong Shelby yang ingin diganggu oleh pria lain, berkat jubah Zoro nya, ya Carter jadi tidak dikenal dan Shelby mau berkencan dengannya.

Malam itu dihabiskan dengan indah oleh Sam dan Austin sampai alarm akhirnya berbunyi. Sam segera lari menemui Carter untuk kembali ke kedai dan dikejar oleh Austin. Ia sama sekali belum tahu siapa gadis di balik topeng putih cantik itu. Saat  keluar gedung,  handphone Sam jatuh di tangga dan itu satu-satunya petunjuk Austin untuk menemukan si ‘Cinderella’.

Pencarian besar-besaran di sekolah pun dimulai oleh Austin, Sam ingin sekali mengakui tapi ia terlalu insecure dengan keadaan dan kenyataan bahwa dirinya adalah Sam bukan barbie yang diimpikan semua pria. Namun akhirnya identitas Sam terbongkar saat Briana dan Gabriella melihat isi chat di aplikasi atas nama Nomad dan Princeton Girl. Mereka tahu dan membocorkannya di salah satu acara sekolah dengan cara yang memalukan.

Sam sedih bukan main, ditambah lagi surat penerimaannya ke Princeton dipalsukan oleh Fiona. Sam merasa semuanya berakhir. Begitu akan menyerah, ia menemukan kenyataan bahwa Ayahnya meninggalkan semua warisan padanya. Ini membuatnya sedikit lebih baik dan akhirnya membawa dirinya untuk mengakui sepenuhnya pada Austin. 

Ia mengatakan bahwa Austin lah yang pengecut karena ia malah malu dan malah ikut memandang rendah Sam. Ia bahkan takut untuk mengambil keputusan. Begitu Sam akan pergi, Austin mengejarnya dan meminta maaf. Film pun berakhir bahagia.

Super Manis

A Cinderella Story_Sweet Plot (Copy)

Sepanjang menonton film ini, saya senyum-senyum sendiri saking manisnya cerita si Sam dan Austin meski ada interupsi dari keluarga Sam yang super ajaib. Sam tidak pernah menyerah akan kehidupannya dan cerita cintanya. Ia mempertahankan semua dengan caranya yang tidak bisa dan ternyata efektif.

Kehadiran Carter dan Rhonda yang jadi penolong baik ibu peri dalam cerita asli Cinderella pun membuat plot film ini jadi tidak hambar. Apalagi ketika Rhonda yang mulai membuat hidup Fiona mulai berubah akibat mengundurkan diri disusul dengan pengunduran diri semua pegawai di kedai dan membuat pengunjung kedai pun tidak sudi lagi datang ke kedai Fiona.

Begitu besar rasa sayang Rhonda pada Sam. Sam yang kelewat baik ini menuai apa yang selama ini ia tabur; kebaikan. Semua dibalas dalam sekali waktu yang tepat. Tepatlah kata-kata Good things will come to those who wait patiently disematkan dalam kehidupan Sam. 

Biang Kerok

A Cinderella Story_Step Mum & Sisters (Copy)

Serius sih, Jennifer Coolidge sukses besar dalam memerankan tokoh Fiona yang jahat, keterlaluan dan super angkuh. Ekspresi dan aktingnya yang super membuat tokoh Fiona berhasil dihujat oleh para penonton film ini. Bukan hanya tokoh Fiona saja sih yang jadi biang kerok, kedua kakak sambung Sam juga ikut serta dalam peran ini.

Anehnya, kedua kakak sambung Sam ini sepertinya agak-agak. Terkadang mereka menjadi biang kerok bagi masing-masing pribadi mereka sendiri dan ibunya. Namun tokoh Briana sepertinya agak kalem ketimbang si Gabriella yang manipulatif dan doyan menyerang Sam secara verbal. Duh, rasanya ingin masukin mereka semua ke dalam karung.

Handphone VS. Sepatu Kaca

A Cinderella Story_Cellphone (Copy)

Apabila dalam cerita Cinderella di tahun 1634 yang ditulis oleh Giambattista Basile, si gadis menjatuhkan sepatu beludru tupai, dan di tahun 1967 berubah menjadi sepatu kaca akibat salah alih bahasa oleh penulis Charles Perrault, maka dalam film ini sudah bukan sepatu lagi. Melainkan handphone. Ya! Handphone.

Handphone tersebut yang menjadi modal utama si pangeran Austin mencari putrinya yang hilang kabur entah kemana akibat harus menghadapi realita sebenarnya. Kocak sekali, sang sutradara, Mark Rosman, bisa-bisanya kepikiran untuk memakai properti handphone ketimbang sepatu beneran seperti cerita Cinderella aslinya. 

Meski sebagai penonton kita sudah tahu endingnya seperti apa, tetap saja kita akan terbius oleh cerita dalam film A Cinderella Story ini. Itu kenapa, ceritanya mengalami banyak perubahan mengikuti perkembangan jaman, ya mungkin supaya kita juga terhibur dan tidak bosan karena sudah khatam akan plot Cinderella pada umumnya. Film ini berhasil membuat Bacaterus memberi skor 3.7/5 atas semua yang disajikan dalam A Cinderella Story.

A Cinderella Story
Rating: 
3.7/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram