bacaterus web banner retina
Bacaterus / Review Film / Sinopsis & Review Eiffel... I'm in Love 2, Makin Romantis?

Sinopsis & Review Eiffel... I'm in Love 2, Makin Romantis?

Ditulis oleh Syuri - Diperbaharui 1 Juni 2021

Akhirnya, sekuel "Eiffel... I'm in Love" datang juga! Masih dengan judul yang sama, hanya ada angka '2' di belakangnya, pemain-pemainnya pun full team sama semua seperti film pertama dulu. Butuh waktu 15 tahun lamanya penonton menunggu kelanjutan cerita Tita dan Adit, karena film pertamanya dirilis pada tahun 2003.

Berbeda dari film pertamanya yang diangkat dari novel, film keduanya ini hanya lanjutan dari prekuel film saja, karena kelanjutan novelnya pun tidak ada. Penasaran dengan sinopsis dan review untuk sekuelnya? Yuk, simak terus bersama Bacaterus.

Sinopsis

  • Tahun: 2018
  • Genre: Drama, Romansa
  • Sutradara: Rizal Mantovani
  • Produksi: Soraya Intercine Films
  • Pemeran: Shandy Aulia, Samuel Rizal, Tommy Kurniawan, Saphira Indah, Helmy Yahya, Hilda Arifin, Shakira Alatas

Setelah film pertama kita digantung dengan scene di bandara (kayak "AADC" pertama), ternyata lewat sekuelnya ini kita tahu Tita (Shandy Aulia) sama Adit (Samuel Rizal) sudah LDR-an selama 12 tahun. Usia Tita sendiri sekarang sudah 27 tahun dan sekarang telah bekerja sebagai dokter hewan.

Hidup di keluarga kaya raya dan terlalu dijaga ketat oleh ibunya, Tita yang sudah dewasa ini masih bersikap seperti anak-anak. Tapi, Adit pun sama, masih saja suka cemburu dan marah-marah tidak jelas seperti waktu dulu di film pertama. Tapi, sesudahnya dia selalu melakukan hal romantis sehingga Tita luluh kembali. Jadi, selama LDR 12 tahun itu, Tita dan Adit hampir berantem setiap hari, bahkan karena hal sepele sekalipun.

Di sisi lain, Tita mulai gundah gulana karena Adit tidak pernah mengajaknya ke jenjang lebih serius, bahkan membicarakannya pun tidak pernah. Sedangkan teman-teman Tita sudah banyak yang menikah, terutama kedua sahabat Tita yaitu Nanda dan juga Uni (kalau Uni malah jadi kakak ipar Tita, karena menikah dengan Alan kakaknya Tita).

Suatu hari, ayahnya Tita mengumumkan agar semua anak-anaknya resign dari kantor masing-masing. Karena, mereka sekeluarga akan pindah ke Paris untuk mengurus restoran milik mereka di sana yang terbengkalai, soalnya ayah Adit selaku rekan bisnis ayahnya Tita diceritakan telah meninggal dunia (jadi kangen alm. Didi Petet, hiks). Tentu Tita merasa sangat senang karena bisa satu kota dengan pacarnya.

Tita berharap, setelah tidak LDR, ia dan Adit tidak akan berantem tidak jelas lagi. Ia juga diam-diam berharap akan diajak  menikah oleh Adit. Lalu, apakah keinginan Tita benar-benar terjadi? Lalu, bagaimana dengan Adam, karakter baru yang katanya sahabat dekat Tita di Jakarta?

Benar-benar Reuni

Berbeda dengan 'sekuel' pertamanya yaitu "Lost in Love" yang disutradarai oleh penulis novelnya langsung, Rachmania Arunita, "Eiffel... I'm in Love 2" kembali disutradarai oleh Rizal Mantovani, musik kembali dipegang oleh Anto Hoed & Melly Goeslaw, serta para pemainnya sama semua dengan film pertamanya.

Jadi, sekuel yang kali ini benar-benar reuni dan bakal banget ngobatin kangen generasi anak gaul 2000-an yang pernah hype sama film pertamanya.

Ceritanya Masih Picisan?

Rasanya aneh nggak, sih, Tita yang sudah berusia 27 tahun, seorang dokter hewan pula, tidak dikasih izin bundanya untuk punya handphone? Saya rasa se-over protective orang tua zaman sekarang nggak akan segitunya.

Justru malah anak-anak yang masih kecil pun sudah dikasih hape agar bisa menghubungi ortunya. Untuk sisi yang ini saya rasa nggak masuk akal. Apalagi latarnya kan sekarang, which is dunia udah modern banget.

Terus, Tita sama Adit hubungan LDR-nya pakai apa? Masa pakai telepon rumah? Mahal gila telepon interlokal. Terus, surat-suratan gitu? Nyampenya kapan suratnya? Eh, ternyata bunda dan Adit menghubungi Tita melalui telepon jadoel milik asisten rumah tangga di kediaman Tita. Kadang lewat handphone Alan (kakak Tita) dan Uni (sahabat Tita yang ternyata sekarang jadi istri Alan).

Ada Saingan Adit dan Tita yang Potensial

Namanya Adam (diperankan oleh Marthino Lio) dan Celine. Adam diceritakan merupakan sahabat dari Tita. Kenapa dia tidak ada di film pertama? Karena Adam baru ketemu Tita setelah satu tahun Tita berpacaran dengan Adit. Ceritanya Tita dan Adit sudah bersahabat selama 11 tahun, tapi sebenarnya Adam memiliki rasa yang lebih terhadap Tita, sedangkan Tita clueless (tapi kalau menurut saya lebih ke denial, sih).

Sedangkan peran Celine tidak jelas, bahkan wajah full-nya saja tidak ditampakkan, dia hanya pemanis saja di sini sebagai bahan untuk membuat Tita cemburu. Kehadiran mereka berdua membuat hubungan Tita dan Adit semakin runyam, karena Adit tidak kunjung melamar Tita dan nampak dekat dengan Celine. Begitu pula Adit yang insecure tapi tidak mau merelakan Tita buat Adam.

Banyak Repetisi Scene

Seperti berantem melulu, padahal kan mereka sudah dewasa, ya? Terus, scene di mana Tita ngambek karena dipanggil "Tit" doang, padahal kan namanya "Tita", lalu Adit balas "Kalau namanya Tuti ya dipanggil Tut, bukan Tit". Itu kan sudah pernah kita tonton di film yang pertama.

Tita yang uget-uget ke Adit dan Aditnya stay cool. Juga adegan saling nguping di kamar masing-masing, yang akhirnya membuat mereka bertengkar (lagi). Scene Tita menangis di kamar karena ulah Adit, lalu ditenangkan oleh Uni, itu semua pernah terjadi di seri pertama film.

Ya, itulah beberapa pengulangan scene seperti film yang pertama. Hal ini mungkin bisa ngangenin dan lucu buat beberapa orang, tapi buat saya sendiri rasanya jalan cerita seperti ini cukup boring dan terlalu klise. Like, jadi bedanya apa film yang kedua dengan yang pertama selain karakternya yang bertambah usia, sedangkan dari sikap dan kelakuan mereka semuanya sama?

Tapi kalau yang nguping itu mungkin karena sesuai dengan posternya yang mengulang a.k.a sama persis dengan poster film pertamanya, jadi masih saya maklumi, sih. Buat penonton yang ingin kangen-kangenan, itu bagus banget.

Apakah Sekuel ini Memuaskan?

Saya bilang tidak. Pada akhirnya, Tita tetap jatuh ke tangan Adit yang pemarah dan labil, walaupun kadang-kadang romantis. Padahal, ada Adit yang lebih baik dari segi manapun juga untuk Tita. Adam, nih, ya, sudah memendam perasaannya selama 11 tahun. Tapi, dia tidak pernah mencoba menjadi orang jahat dengan merebut Tita ataupun menyatakan perasaannya karena tahu hubungan Tita dengan Adit.

Kalau saya boleh menyambung-nyambungkan, Tita dan Adit ini sama seperti Hermione dan Ron. Kedua sahabat Harry Potter itu sering bertengkar, tapi ujung-ujungnya menikah, karena tekanan dari para fans sebenarnya. Jadi, JK Rowling selaku penulis novel pun menjodohkan mereka, padahal wacananya ia ingin Hermione menjadi pasangan Harry.

Ketika diwawancara saat promo film pun, Emma Watson selaku pemain Hermione dan Rupert Grint yang memainkan karakter Ron mengatakan kalau Hermione dan Ron tidak cocok. Dan, walaupun menikah, jika itu dunia nyata, pasti Hermione dan Ron sudah bercerai. Saya rasa anggapan Emma dan Rupert sangat masuk akal. Hubungan seperti Hermione dan Ron, juga Tita dan Adit, itu tidak sehat.

Apalagi ceritanya mereka sudah sama-sama dewasa, kan, di sini. Bukan remaja menye-menye lagi. Rasanya tidak pantas sedikit-sedikit bertengkar. Saya khawatir jika film ini ditonton oleh anak-anak muda yang masih berangan-angan akan pasangan ideal, atau orang-orang yang belum menikah, jadi memiliki persepsi yang kurang baik akan hubungan pernikahan.

Kecuali misalnya kamu tahan memiliki pasangan yang dikit-dikit marah seperti Adit, atau pasangan yang childish banget seperti Tita, ya tidak masalah. Untuk filmnya, saya rasa masih lebih fun untuk ditonton yang film pertama saja. Yang film kedua ini terlalu cringe dan nggak ada fun-fun-nya. Pesan moral yang bisa diambil tidak terlalu banyak juga. Dan, sebenarnya permasalahan Tita-Adit ini bisa diselesaikan dengan satu hal: komunikasi.

Ya, apapun itu, terimakasih untuk semua pemain, penulis cerita dan naskah, sutradara, serta semua kru yang bertugas telah membawa kita semua generasi sebelum tahun 2000-an bernostalgia melihat kemajuan kehidupan Tita, Adit, dan yang lainnya.

Walaupun tetap saja ceritanya menggantung karena pada ending scene diceritakan Adit yang melamar Tita saja, belum tentu jadi nikah atau tidaknya, kan? Atau mungkin mereka sengaja mau membuat trilogi menceritakan keseharian kehidupan Tita dan Adit yang telah resmi menjadi suami istri?

Kayaknya itu bakal lebih seru, sih, bayangin Tita yang manja menjadi istri dan ibu. Anyway, bagaimana pendapat kamu tentang sekuel "Eiffel... I'm in Love" ini?

Sedikit trivia nih, sebenarnya film ini bukanlah sekuel pertama dari "Eiffel... I'm in Love", karena pada tahun 2008, telah ada 'sekuel'nya yang berjudul "Lost in Love". Tapi, film "Lost in Love" bukan buatan Rizal Mantovani seperti film pertamanya, melainkan garapan Rachmania Arunita sang penulis novel aslinya. Tapi, pemerannya semua beda, Tita dimainkan oleh Pevita Pearce dan Adit diperankan oleh Richard Kevin.

'Sekuel' ini cukup laris, walaupun tidak semeledak seri pertamanya, namun tidak mendapatkan review yang baik dari kritikus dan pengamat film. Sedangkan sekuel yang ke-2 alias "Eiffel... I'm in Love 2" ini bisa dibilang lebih sukses secara komersil. Mungkin karena semua pemainnya original seperti film pertama, dan karena sudah cukup lama juga film pertamanya rilis jadi penonton ada rasa kangennya.

Eiffel... I'm in Love 2
5 / 10 Bacaterus.com
Rating

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram