Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis & Review Netflix Dark Season 2 ‘The Dark Times’

Sinopsis & Review Netflix Dark Season 2 ‘The Dark Times’

Ditulis oleh - Diperbaharui 3 September 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Previously on Dark. Siapa yang menyangka, peristiwa bunuh diri dari seorang pria bernama Michael Kahnwald dan hilangnya seorang anak laki-laki bernama Mikkel Nielsen berujung pada terungkapnya eksistensi sebuah ‘wormhole’. Dimana, sebuah terowongan dalam gua Winden akan membawa mereka yang menyusurinya ke tahun 1953, atau 1986. Dan, boleh bebas memilih sesuka kamu.

Harus kita akui, Dark adalah sebuah serial bergenre misteri, fiksi ilmiah dan drama yang patut diacungi jempol karena kemampuannya memutar balik kepala penonton. Season pertama dari serial garapan sutradara Baran bo Odar berakhir dengan tokoh Jonas Kahnwald terdampar di masa depan, dan mari kita membahas kelanjutan dari misteri yang terjadi di kota kecil Winden.

Sinopsis

Dark Season 2

  • Tahun rilis: 2017
  • Season: 3
  • Genre: Misteri, Science fiction
  • Produksi: Netflix
  • Sutradara: Baran bo Odar
  • Pemeran: Louis Hofmann, Daan Lennard Liebrenz, Maja Schöne, Lisa Vicari, Oliver Masucci, Gina Alice Stiebitz, Jördis Triebel, Stephan Kampwirth, Karoline Eichhorn

Tahun 2020. 8 bulan setelah hilangnya Mikkel Nielsen, Winden kedatangan seorang penyidik federal bernama W. Clausen yang membentuk sebuah gugus tugas untuk menyelidiki misteri hilangnya para warga kota kecil tersebut. Apalagi, Ulrich yang merupakan salah satu petugas kepolisian di kota tersebut juga ikut menghilang.

Penyelidikan inspektur Clausen di Windenpun lambat laun mulai mengungkap banyak hal. Termasuk, tentang keberadaan Alexander Tiedemann, direktur utama dari pembangkit listrik tenaga nuklir Winden yang bermaksud untuk segera menutup fasilitas tersebut. Sementara sang istri, Regina Tiedemann tengah menjalani perawatan karena penyakit kanker yang ia derita.

Sekonyong-konyong, Claudia Tiedemann tua muncul, bukan hanya di tahun 2020, tapi juga menjelajahi waktu ke tahun 1987. Claudia mulai membongkar keberadaan lorong waktu pada versi muda dari dirinya sendiri. Sehingga, Claudia dari tahun 80-an juga mulai mengarungi waktu. Penjelajahan Claudia ini juga memberikan petunjuk tentang latar belakang seorang Alexander Tiedemann.

Jonas Kahnwald dari masa depan datang menjumpai Hannah, ibunya. Setelah Hannah dibuat bingung dengan kemunculan versi lebih dewasa dari putranya tersebut, Jonas berhasil membuat ibundanya yakin bahwa pria berjanggut tebal itu adalah anaknya. Bahkan, ia membawa sang ibunda mengarungi waktu, sehingga Hannah kini telah mengetahui tentang eksistensi perjalanan waktu.

Charlotte Doppler semakin mendalami kasus hilangnya para warga Winden. Ia kemudian menemukan data kepolisian dari tahun 1952 tentang kasus pembunuhan anak yang terjadi pada saat itu, bahkan mendapati foto Ulrich yang dinyatakan sebagai tersangka. Hingga akhirnya, Peter, suami dari Charlotte mengungkap tentang perjalanan perjalanan waktu pada pemimpin kepolisian kota Winden itu.

Tahun 1953. Helge Doppler dinyatakan hilang. Ulrich Nielsen ditangkap oleh pihak kepolisian karena dicurigai sebagai pelaku kasus pembunuhan anak-anak di kota Winden pada masa itu, dan menghilangnya Helge.

Namun Helge bertemu dengan Noah, dan sang pastor membawa Helge kecil kembali. Sehingga, menjelaskan hubungan Helge dengan rangkaian peristiwa di kotanya dalam sekian tahun yang berbeda.

Tahun 2052. Jonas terdampar di masa depan hingga terpaksa hidup bersama sekelompok gerilyawan yang dipimpin oleh Elisabeth Doppler. Winden tampak telah hancur berantakan, dan hal tersebut sepertinya dipicu oleh peristiwa yang terjadi pada tahun 2020, dan berhubungan dengan keberadaan pembangkit listrik tenaga nuklir di kota mereka.

Dengan kegigihannya, Jonas memanfaatkan keberadaan isotop radioaktif dalam puing-puing pembangkit listrik tenaga nuklir Winden sebagai gerbang waktu. Tapi, dirinya justru terdampar di tahun 1921, masa dimana lorong waktu Winden pertama kali dibuat. Pertemuan dengan Noah membawanya untuk bertemu dengan Adam, dan mengungkap siapa gerangan pria dengan wajah penuh bekas luka tersebut.

The Brightside

The Brightside

Sebelum kamu berpikir bahwa kamu akan terseret dalam ‘gelapnya waktu’ ketika menyaksikan serial ini, ada satu hal yang menurut kami membuat season 2 lebih ‘bercahaya’ dari judulnya. Setelah pada season 1 mungkin kita akan dibuat ternganga dengan segala peristiwa dalam Dark, sekarang kita akan melihat warga Winden mulai bersatu untuk mengurai misteri yang terjadi.

Para pemuda yang terdiri dari Nielsen & Doppler bersaudara kini memutuskan untuk terlibat lebih jauh. Betul, sedikit mengingatkan kita pada sekelompok anak di Stranger Things. Yang terpenting adalah, para orangtua mereka juga sudah mulai dapat menguak lembaran demi lembaran peristiwa janggal di Winden. Kita suka tokoh Charlotte Doppler. Dia bagai Sherlcok Holmes-nya serial ini.

Dark kehilangan ‘dark’-nya? Tentu tidak. Season 2 akan memberikan perasaan yang naik-turun. Gemas karena Jonas terlempar dari waktu ke waktu, sosok Noah mulai menjadi antagonis yang menyebalkan, lalu kita dibuat bertanya-tanya tentang ‘apocalypse’. Bisa jadi, kamu juga sedikit emosi karena serial ini bikin otak harus berputar lebih cepat dari semestinya.

Sinetron Fiksi Ilmiah

Sinetron Fiksi Ilmiah

Semakin jauh mengikuti serial Dark, kita akan semakin tahu bahwa sebenarnya, serial orisinil Netflix ini adalah sebuah kisah drama biasa. Ya, layaknya sebuah sinetron. Namun, tentunya kita patut mengapresiasi Baran bo Odar dan kawan-kawan karena memiliki ide brilian dimana kisah kehidupan warga di kota fiksi Winden yang seharusnya berjalan seperti tidak ada apa-apa, menjadi penuh intrik.

Rahasia kelam masa lalu yang mungkin saja telah dilupakan menjadi benang kusut, ketika kemudian semuanya menyeruak sebagai akibat kemunculan, atau lebih tepatnya, diciptakannya sebuah lorong waktu. Lantas, orang-orang yang menemukan hal tersebut bolak-balik di dalamnya tanpa menyadari tindakan mereka dapat mempengaruhi kehidupan orang lain, juga diri mereka sendiri.

Eksistensi wormhole di gua Winden membuat drama kehidupan mereka yang tinggal di kota kecil tersebut tidak lagi tampak normal. Hilangnya Mikkel Nielsen atau yang ternyata adalah Michael Kahnwald memicu sebuah peristiwa yang lebih besar lagi, dan dapat kita lihat di season 2-nya. Dan unsur misteri juga science fiction serial ini mulai terasa sangat kental.

Masa Kini dan Masa Depan

Masa Kini dan Masa Depan

Sepertinya bo Odar memang membuat season 1 sebagai pemanasan sebelum petualangan lorong waktu yang sebenarnya dimulai. Kali ini, kita akan dibawa menjalani hari-hari menjelang sebuah bencana yang dikisahkan terjadi pada tanggal 27 Juni tahun 2020. Ya, kita dibawa maju 8 bulan dari peristiwa yang telah terjadi pada season 1.

Melalui time skip ini, para sineas Dark juga lambat laun mulai memperjelas cerita yang mereka bangun. Serunya, kita akan melihat bagaimana mulai banyak orang dari masa kini juga masa lalu, bertemu dengan mereka yang datang dari masa depan. Malahan, ada yang berhadapan dengan diri mereka sendiri. Sebagai penonton mungkin kamu akan dibuat bertanya-tanya, apa yang akan terjadi setelah ini.

Meski insiden yang dialami para penduduk Winden mulai terurai, kesan misteri khas Dark yang menjelimet tidak lantas hilang, malahan tambah ribet. Adegan dimana beberapa orang yang telah mengetahui bahwa ada yang salah dengan rangkaian perstiwa yang mereka alami, akan membuat kamu tidak mau mendengarkan lagu Goodbye dari grup Apparat dan memijit tombol skip intro.

‘Bukan Dimana, Tapi Kapan’

Bukan Dimana, Tapi Kapan

Bagi kamu yang belum, atau ingin menyaksikan serial ini, kami menyarankan sebaiknya jangan menyaksikan Dark sambil melakukan hal lain seperti masak, membersihkan kamar, atau berseluncur di Instagram. Bukan apa-apa, serial orisinil Netflix ini memang sebuah tontonan yang sangat menarik. Tapi, juga membutuhkan konsentrasi tinggi untuk menyaksikannya.

Karena jika tidak, bisa-bisa kamu tersesat sendiri dan sulit untuk memahami apa sebenarnya yang tengah dialami oleh warga Winden. Perpindahan waktu yang kadang hadir tanpa transisi apapun bisa membuat kita yang tidak terbiasa akan bertanya-tanya. Kapan? Dimana? Siapa? Sama seperti pertanyaan yang muncul saat Mikkel dinyatakan hilang. ‘Bukan dimana, tapi kapan’.

Tapi santai saja, beberapa adegan memang dibuat untuk menjelaskan siapa dan tahun berapanya, dan itulah salah satu hal menyenangkan yang membuat serial ini begitu adiktif. Jangan heran jika kamu dibuat mengerenyitkan kening karena berpikir keras.

Lantas berucap ‘ooo’, ‘ya ampun’, atau ‘ternyata…’. Apalagi, di season keduanya, serial ini mulai membolak-balikan waktu dengan tahun yang berbeda dari season sebelumnya.

Seujurunya, agak rumit memang jika harus melakukan breakdown terhadap serial orisinil Netflix yang satu ini. Kejadian-kejadian yang terjadi di tiap tahun yang berbeda namun berpengaruh pada setiap timeline-nya sedikit sulit untuk dijabarkan. Apalagi, peristiwa-peristiwa itu melibatkan begitu banyak orang.

Para pecinta kisah misteri yang dibalut dengan nuansa sci-fi, juga mereka yang gemar menyaksikan tontonan yang membuat kepala terasa berat pasti akan sangat menyukai Dark. Bagaimana dengan yang tidak suka? Cobalah untuk mulai menyaksikan season pertamanya. Setelah itu, kamu pasti tidak akan mampu meninggalkan serial ini begitu saja.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *