bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Cold Skin, Ancaman dari Makhluk Aneh

Seorang pria sampai di sebuah pulau terpencil untuk menjadi petugas mercusuar. Dia hanya bertemu dengan seorang pria saja yang tinggal di sana.

Tapi kemudian dia baru menyadari bahwa ada makhluk aneh yang selalu hadir di setiap malam. Mereka berdua berjibaku bertahan di mercusuar dari serangan makhluk aneh yang berjumlah banyak itu.

Cold Skin adalah film horror produksi Prancis dan Spanyol karya Xavier Gens yang dirilis pada 20 Oktober 2017.

Tampil minimalis dengan seting di satu lokasi saja, seakan sudah mencuatkan kesan claustrophobia, ditambah lagi dengan kehadiran sekelompok makhluk aneh nan misterius yang akan semakin menambah atmosfer mencekam.

Dengan premis seperti itu, apakah film ini akan memenuhi ekspektasi kita akan rasa takut dan penasaran? Sebelum menontonnya, simak review berikut terlebih dahulu dari film yang ambil bagian di Fantasia Film Festival 2018 ini.

Baca Juga: 20 Film Bertema Alien Terbaik yang Wajib untuk Ditonton!

Sinopsis

Cold Skin poster_

Samudera Atlantik, 1914. Seorang pria Inggris berlayar menuju sebuah pulau terpencil untuk menjadi pengamat cuaca.

Sesampainya di sana, dia dan kapten kapal tidak menemukan petugas sebelumnya yang hendak diganti, dan hanya bertemu dengan penjaga mercusuar bernama Gruner yang menyambut mereka dengan dingin. Kapten kapal mengajak pria itu pergi bersamanya, tapi dia menolak.

Dia melihat sekeliling pulau dan melihat lingkaran aneh yang dibuat dari batu. Di rumah yang akan dia tempati, dia menemukan buku diary milik ahli meteorologi sebelumnya yang meninggalkan catatan tentang makhluk aneh.

Malam tiba, dia diteror oleh munculnya makhluk aneh di depan pintu. Dia langsung bersembunyi di gudang bawah tanah hingga mereka semua pergi.

Keesokan paginya, dia mencoba menghampiri Gruner tapi tidak diabaikan olehnya. Dia menemukan senjata dan amunisi yang banyak di rumah itu.

Malam tiba lagi dan dia mencoba bertahan dengan menembak sekelompok makhluk itu. Dia harus mulai menyalakan api dan membakar rumah itu supaya makhluk-makhluk itu pergi. Dia pun keluar dari rumah itu dan bersembunyi di balik batu besar.

Keesokan paginya dia mengikuti Gruner yang pergi ke pantai. Saat dia melihat ada makhluk yang serupa dengan yang menyerangnya, dia hampir menembaknya tapi dihalangi oleh Gruner yang menyatakan bahwa dia jinak.

Luka di tangannya kemudian dijilat oleh makhluk itu dan sembuh. Dia menawarkan persediaan amunisi dan sisa makanannya kepada Gruner agar bisa tinggal di mercusuar itu.

Malam tiba, Gruner mengajaknya untuk mempersiapkan diri menyambut serangan para makhluk aneh itu. Ketika Gruner mulai menembak, dia justru mundur ketakutan dan pingsan. Pagi harinya, Gruner marah dan menugaskannya untuk mengambil air buat persediaan.

Malam tiba lagi dan mereka harus berjibaku kembali. Tapi, kali ini Gruner langsung menutup pintu dan membiarkan dia berjuang sendirian menghadapi makhluk-makhluk ganas itu. Keesokan paginya, Gruner menemukannya bersimbah darah tapi dalam keadaan hidup.

Setelahnya, mereka menjalani hidup seperti ini sebagai rutinitas. Dia mengetahui bahwa Gruner sering menyetubuhi makhluk yang menjadi peliharaannya itu. Dia juga mulai menyadari bahwa tujuannya datang ke pulau ini untuk menemukan ketenangan justru menjadi kebalikannya.

Suatu malam, mereka lupa menutup pintu karena keasyikan bermain catur, sehingga serangan mendadak dari para makhluk itu membuat mereka tersudut di ruangan atap dengan kaki Gruner terluka berat akibat gigitan dan cakaran makhluk-makhluk itu.

Keesokan paginya, Aneris, nama makhluk peliharaan Gruner, menjilati luka Gruner hingga sembuh. Saat mereka di pantai, terlihat ada kapal melintas. Dia mencoba mencari pistol suar tapi dihalangi oleh Gruner.

Saat Gruner memukulnya, Aneris datang membela pria tanpa nama ini yang membuat Gruner gusar. Saat dia memperlihatkan perahu kecil yang dibuatnya dari tulang, Aneris menunjukkan lokasi sebuah perahu. Dia langsung memberi tahu Gruner tentang perahu yang memang sudah ada sejak lama.

Karena membutuhkan stok amunisi, mereka sepakat untuk menghampiri kapal karam milik Portugis dan turun ke dasar laut menggunakan pakaian selam dari besi. Beberapa kotak amunisi dan dinamit berhasil diambil ketika dia dikagetkan oleh kedatangan makhluk, tapi tidak menyerangnya.

Sesampai di mercusuar, mereka langsung menanam dinamit-dinamit itu di sekelilingnya untuk menghadapi kedatangan para makhluk nanti malam. Ketika para makhluk datang, mendadak dinamit tidak meledak.

Dia berusaha menerobos serangan makhluk-makhluk untuk menyambungkan kabel peledak. Akhirnya dinamit berhasil meledak, namun juga menghantam mereka.

Setelah itu, bermalam-malam kemudian tidak ada serangan dari para makhluk seiring hilangnya Aneris. Musim berganti dan tidak ada lagi kemunculan para makhluk itu di malam hari.

Hingga suatu hari ketika dia berjalan menyusuri pantai, dia bertemu dengan salah satu makhluk itu hanya saja kali ini berukuran seperti anak kecil.

Dia berusaha memberikan isyarat tidak akan membahayakannya dengan meletakkan obor di pasir. Tidak berapa lama Aneris muncul yang diikuti oleh para makhluk lainnya dalam jumlah besar.

Apa yang akan dilakukannya? Apakah dia akan dimangsa? Atau, dia menemukan maksud kedatangan mereka dan berdamai? Pasti penasaran, kan? Simak film ini hingga usai untuk menemukan jawabannya.

Kisah yang Sunyi dan Terpencil

Kisah yang Sunyi dan Terpencil_

Film yang dibuka dengan kutipan Friedrich Nietzsche dalam bahasa Spanyol ini langsung disambung oleh narasi dari tokoh utamanya, yaitu seorang pria Inggris yang dikirim ke pulau terpencil untuk bertugas sebagai pengamat cuaca.

Kesan serius sangat kuat dari awal yang langsung membuat kening kita mengernyit dan sedikit membetulkan posisi duduk agar bisa serius.

Kemudian satu persatu serpihan misteri mulai diperlihatkan, antara lain lingkaran aneh yang dibuat dari batu di tepi pantai dan foto seorang wanita di buku diary petugas pengamat cuaca sebelumnya yang dikabarkan telah meninggal dunia karena sakit tipes.

Mendadak kita langsung dikagetkan oleh kemunculan makhluk aneh seperti kombinasi ikan dan manusia. Dari sini fokus cerita bergeser ke ranah action dimana setiap malam pria ini dan Gruner berusaha mempertahankan diri dari serangan ganas dan cepat para makhluk tersebut.

Cipratan darah tersebar kemana-mana yang membuat suasana mulai seru dan menegangkan, meski editing yang buruk terlihat beberapa kali di adegan aksi ini.

Referensi The Art of War dari Sun Tzu mulai disajikan yang membuat kesan pintar mengemuka dengan banyaknya referensi ilmiah yang berhasil disematkan di dalam film berdurasi 1 jam 48 menit ini. Segala cara mereka lakukan, bahkan hingga mengambil dinamit dari dasar sebuah kapal karam di musim dingin.

Gangguan Kejiwaan yang Terselubung

Gangguan Kejiwaan yang Terselubung_

Mungkin di sepanjang film kita dibuat mencoba menerka maksud dari cerita film ini yang seperti berjalan tanpa arah. Jika menceritakan tentang bagaimana mengatasi makhluk aneh, dua tokoh utama ini tidak sama sekali mencari solusi lain kecuali bertahan.

Jika menceritakan misteri kematian petugas sebelumnya, tidak banyak petunjuk yang disajikan, terlupakan oleh rentetan adegan action. Tapi menjelang akhir film, baru semua terkoneksi.

Cerita yang merupakan adaptasi dari novel karya Albert Sanchez Pinol yang disusun naskahnya oleh Jesus Olmo dan Eron Sheaan ini langsung membuka secara gamblang maksud film dalam satu adegan yang membuka gangguan psikologis yang diderita oleh Gruner.

Dia tidak ingin ditinggal sendirian di pulau, oleh karena itu Gruner selalu menghalangi pria Inggris itu untuk keluar dari pulau dan menjadikan makhluk aneh sebagai peliharaan yang digunakan juga untuk melampiaskan nafsu dan amarahnya.

Terkuak juga misteri foto wanita di buku diary yang ternyata adalah istri dari Gruner yang wafat karena penyakit tipes.

Ending ini tidak terlalu mengejutkan, karena di sepanjang film kita sudah diberikan serpihan-serpihan petunjuk, tapi sayangnya tidak dibangun dengan penceritaan yang baik sehingga tidak terasa dan seakan mudah terlupakan.

Dan sebenarnya, dengan tanpa kehadiran makhluk aneh dalam cerita, bisa jadi kisah ini akan menjadi drama thriller yang lebih kuat dari sisi psikologis.

Karena adanya makhluk aneh ini, yang penampakannya mengingatkan kita pada makhluk aneh di film The Shape of Water (2017), hanya dimunculkan untuk suguhan adegan action saja, tidak ada pengaruh apa-apa kepada psikologis Gruner dan cerita.

Sinematografi yang Indah

Sinematografi yang Indah_

Film produksi Eropa memang memiliki ciri khas tersendiri, yaitu tempo yang lambat. Dan biasanya, dengan tempo seperti ini sisi sinematografi menjadi perhatian utama yang pada akhirnya menjadi kekuatan film itu sendiri. Hal ini berlaku juga pada film Cold Skin.

Seting film ini berada di sebuah pulau terpencil yang hanya dihuni oleh dua manusia dan satu makhluk, jika di siang hari, membuat pulau tampak sangat lengang.

Kamera bergerak bebas menangkap semua sisi pulau Canary di Spanyol ini dengan deburan ombaknya dan lautan luas di ujung horizon yang seolah tanpa batas. Sangat indah, menyegarkan mata dan menenangkan hati.

Tapi itu saat di siang hari saja, lain halnya ketika malam tiba dimana atmosfer mencekam langsung menyeruak menutupi seisi langit dan bumi. Secara pasti, sinematografi arahan Daniel Aranyo adalah elemen terbaik dari film ini yang berhasil menutupi tampilan special effect yang masih kurang rapi.

Cold Skin memang handal secara visualisasi, berkat sinematografi yang apik, tapi itu tidak cukup untuk menutupi kelemahan dari sisi cerita yang kurang menarik. Kemudian, film ini diselingi adegan action yang kurang maksimal, serta korelasi dengan ceritanya tidak terkoneksi dengan baik.

Memang film ini tidak setara dengan film-film monster arahan Guillermo del Toro, namun dengan hanya menghadirkan dua karakter saja di sepanjang film, menghasilkan kesan yang lebih intim dan membumi.

Jika kalian memiliki waktu luang dan ingin mencicipi film monster rasa Eropa, maka film ini bisa menjadi pilihan bijak untuk ditonton. Jika sudah siap digedor jantungnya, langsung ditonton saja, ya!

Cold Skin
Rating: 
2.7/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram