bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film Billionaire Boys Club (2018)

Sekelompok pemuda dari keluarga kaya raya membentuk sebuah perusahaan yang bergerak di bidang trading. Keahlian Joe dan Dean dalam menyakinkan orang membuat banyak investor berdatangan.

Tetapi skema ponzi yang mereka terapkan berkali-kali membuat mereka nyaris terjungkal. Akhirnya, petaka besar terjadi juga dengan dua pembunuhan yang mereka lakukan.

Billionaire Boys Club adalah film drama kriminal karya James Cox yang dirilis oleh Vertical Entertainment lewat video on demand pada 17 Agustus 2018.

Mengupas sekelumit biografi Joe Hunt dan perusahaannya, Billionaire Boys Club menjadi film terakhir Kevin Spacey sebelum dia terjerat kasus asusila. Sedikit banyak, kasus ini memengaruhi perilisan film yang sempat terkatung-katung.

Dibintangi oleh deretan aktor populer, film ini mencoba menawarkan kembali kisah penipuan di ranah finansial yang sudah berulang kali difilmkan. Berdasarkan kisah nyata, apakah film ini menarik untuk ditonton? Simak review berikut sebelum menontonnya.

Baca Juga: 10 Film Tentang Dunia Saham yang Menarik untuk Ditonton

Sinopsis

Billionaire Boys Club_
  • Tahun Rilis: 2018
  • Genre: Drama, Thriller, Biography
  • Produksi: HW Productions, Elevated Films
  • Sutradara: James Cox
  • Pemeran: Ansel Elgort, Taron Egerton, Kevin Spacey

Joe Hunt dan Dean Karny bertemu tidak sengaja di sebuah resto. Mereka adalah teman lama semasa sekolah di Harvard. Dean lalu mengajak Joe untuk datang ke klub malam dimana teman-teman mereka dari keluarga kaya raya biasa berpesta.

Joe mengajukan rencana bisnis di pesta itu, tapi tidak digubris oleh rekan-rekannya. Setelah mendapat inspirasi dari kisah kesuksesan Steve Jobs, Joe merancang rencana bisnis dengan konsep Paradox Philosophy.

Dean memberikan uang sebanyak $10 ribu kepada Joe untuk memulai bisnis ini. Dean mengajak Joe bertemu dengan Ron Levin, pengusaha kaya yang mereka incar untuk menjadi investor.

Joe dan Dean mengajukan ide ini kepada rekan-rekan mereka dan mendirikan sebuah perusahaan bernama BBC. Dengan investasi dari orang tua mereka masing-masing, BBC mulai terjun ke dunia trading.

Pergerakan mereka dijadikan modal untuk menarik minat Ron yang langsung menanamkan investasi berjumlah besar. Joe mulai tenggelam dalam kemewahan. Dia mendekati Sydney Evans dan menjalin hubungan cinta dengannya.

Langkah BBC berikutnya adalah membeli perusahaan tambang Cogenco yang hendak bangkrut. Joe membeli rumah mewah untuk ditempatinya bersama Sydney, sementara Dean mulai mengonsumsi narkoba.

Saat dana dari Ron belum juga cair, Joe menyadari bahwa dia telah ditipu oleh Ron. Mereka menyusun rencana yang akan dilakukan kepada Ron.

Joe dan bodyguard-nya, Tim, mendatangi Ron dengan maksud menakut-nakutinya agar mau menandatangani cek. Setelah cek ditandatangani, Tim merasa kesal dengan ucapan Ron. Akhirnya, Tim membunuh Ron.

Joe mulai ketakutan dan terlihat resah saat makan malam bersama orang tua Sydney. Dia hanya memberi tahu kejadian sebenarnya kepada Dean saja. Dengan keresahan yang tampak di wajah Joe, beberapa rekannya memilih mengundurkan diri demi menyadari bahwa ada yang salah dengan perusahaan ini.

Untuk menutupi kerugian yang dialami, Joe dan Dean mendekati Izzy dimana ayahnya memiliki kekayaan tersembunyi. Tapi mereka harus bisa membawa ayah Izzy dari San Francisco ke Los Angeles secara diam-diam.

Ayah Izzy berubah pikiran dan membuat mereka melakukan aksi nekat dengan memaksanya masuk ke dalam kotak. Ayah Izzy dalam kondisi pingsan saat dikeluarkan dari kotak. Saat Dean lengah, ayah Izzy menyerangnya. Kemudian, Joe datang membantu Dean.

Apa yang terjadi berikutnya pada mereka? Apakah akan ada nyawa yang melayang lagi? Dapatkan jawabannya dengan menonton film ini hingga usai. Di akhir film, kita akan diberikan beberapa fakta yang terjadi setelah peristiwa dalam film ini.

Billionaire Boys Club dalam Fakta

Billionaire Boys Club dalam Fakta_

Billionaire Boys Club menceritakan secara kronologis seluruh fakta yang terjadi pada perusahaan investasi ini. Jauh sebelum berbagai kasus trading berujung penipuan merambah luas, terutama pada saat ini, Joe dan rekan-rekannya sudah terlebih dahulu memulainya di tahun 1983.

Mereka sukses membujuk para investor untuk menggelontorkan uang mereka dalam jumlah banyak. Bahkan di dalam film diceritakan ada investor yang menanamkan modalnya dari dana pendidikan anak-anaknya dan hipotek rumahnya.

Beberapa waktu berjalan, mereka merasakan kesuksesan hingga penipuan yang dilakukan oleh Ron Levin terkuak. Sesuai cerita dalam filmnya, Joe membunuh Ron.

Lalu, dia dan Dean membujuk ayah Izzy untuk berinvestasi yang akan dijadikan dana talang bagi para investor lainnya. Rupanya skema ponzi mereka berantakan. Pada akhirnya, Joe dan Dean membunuh ayah Izzy juga.

Joe dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas dua kasus pembunuhan tersebut tanpa adanya kemungkinan pembebasan bersyarat. Sementara itu, Dean yang bertindak sebagai saksi dimasukkan ke dalam program perlindungan saksi dimana identitasnya diubah dan dirahasiakan.

Di tahun 2018, Joe yang mewakili diri sendiri dalam setiap persidangan, mengajukan banding atas vonisnya dan keluarganya mengajukan petisi pembebasannya.

Akting Pemeran yang Tidak Konstan

Performa Akting Para Pemerannya yang tidak Konstan_

Sebagai pendiri BBC, sosok Joe dan Dean mendapat porsi adegan yang lebih banyak dibanding rekan-rekannya di film berdurasi 1 jam 48 menit ini. Di sepertiga film awal, akting Ansel Elgort sebagai Joe dan Taron Egerton sebagai Dean tampil apik, meyakinkan, dan penuh semangat.

Kita dibuat percaya akan kejeniusan Joe dalam menganalisa dan kepintaran Dean dalam memengaruhi orang. Tapi setelah film memasuki sepertiga kedua, akting mereka terasa menurun seiring mengendurnya tensi dan terlalu banyak hal klise yang ditampilkan.

Puncaknya, di sepertiga terakhir, akting mereka semakin terlihat layaknya aktor amatir. Ekspresi keresahan Joe ditampilkan dengan sangat kaku oleh Elgort. Begitu pun dengan Egerton yang tidak bisa menampilkan ekspresi sosok antagonis dengan pantas.

Berbanding terbalik dengan performa Kevin Spacey yang sangat apik. Dia bisa membuat kita merasa kesal dengan ucapan-ucapannya yang merendahkan dan meremehkan orang lain.

Tapi dia juga bisa memompa motivasi kita untuk terus ikut tenggelam dalam kesuksesan BBC. Sayang, Spacey terjegal kasus asusila yang membuat film ini menjadi yang terakhir baginya.

Sedikit informasi tambahan, ada sebuah teori yang menyebutkan bahwa Ron Levin memalsukan kematiannya sendiri karena tidak ada jasad yang ditemukan.

Bahkan, sehari setelah dugaan kejadian pembunuhan, kartu kredit milik Ron digunakan di sebuah toko yang menjadi langganannya. Ada beberapa saksi juga yang pernah melihatnya di seputaran Los Angeles bahkan hingga di Barcelona, Spanyol.

Oleh karena itu, pihak keluarga Joe membuat sayembara akan memberikan $100 ribu kepada siapa saja yang bisa menemukan bukti keberadaan Ron Levin.

Cerita yang Meninggalkan Banyak Celah

Cerita yang Meninggalkan Banyak Celah_

Film dengan sinematografi yang biasa dan desain produksi yang kurang autentik ini memiliki banyak kesamaan dengan film Wall Street (1987) dan The Wolf of Wall Street (2013).

Hal ini membuat kita mudah menebak apa yang akan terjadi pada jalan ceritanya dan konflik apa yang akan memecahkan persahabatan mereka.

Di beberapa rangkaian adegan, kontinuitasnya sedikit bermasalah. Contohnya, semenjak Joe mendirikan BBC dan menjalankannya, ayahnya tidak pernah diberitahu sama sekali.

Tapi ketika ayahnya hadir, dia tahu bahwa anaknya melakukan skema ponzi tanpa mendapat penjelasan dari Joe atau informasi dari rekan-rekannya.

Lalu, ketika Joe dan Dean telah membunuh ayah Izzy, Joe meminta Dean pulang dan bertemu dengannya besok pagi. Tapi anehnya, Dean justru datang ke rumah Joe dan bertikai dengan Sydney yang hendak pergi.

Masuknya adegan ini justru merusak kontinuitas cerita, meski dimaksudkan untuk meningkatkan tensi emosi. Dari sisi desain produksinya terdapat lebih banyak kesalahan, terutama dari jenis mobil yang ditampilkan.

Beberapa mobil BMW yang didatangkan dari Jerman adalah seri yang baru diproduksi di tahun 1985, sedangkan cerita film ini terjadi sebelum tahun tersebut. Ternyata model BMW dalam film ini adalah model pabrikan Amerika, bukan Jerman, yang bisa dilihat dari letak lampu dan bumper-nya.

Billionaire Boys Club memang menceritakan fakta sesungguhnya dengan jujur. Namun karena pengembangan karakternya terkesan tanggung, membuat kita tidak bisa terikat dengan ceritanya.

Editing yang kasar di beberapa perpindahan adegan membuat kita terasa dibanting dengan keras tanpa pernah mengerti maksud adegan tersebut.

Kualitas film ini semakin terpuruk dengan tidak konstannya performa akting para pemerannya, kecuali Kevin Spacey. Tapi, justru kasus yang menimpa Kevin Spacey membuat perilisan film ini terkatung-katung.

Bahkan Razzie Awards menganugerahkan Barry L. Bumstead Award untuk film ini karena tidak mendapat perilisan yang proporsional.

Tidak akan pernah menjadi salah satu film biografi atau film kriminal terbaik, Billionaire Boys Club masih bisa dinikmati, terutama bagi yang menyukai akting Kevin Spacey. Jika minat, tonton filmnya sekarang juga, ya!

Billionaire Boys Club
Rating: 
1.5/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram