bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Drama Malaysia Bidadari Salju (2020)

Gimana rasanya jika harus menikah dengan orang yang sudah merisak martabat mu sebagai wanita? Tentu hal ini menjadi malapetaka, inilah yang dirasakan oleh Sweet Qismina yang harus menikah dengan Adam Lee yang semasa sekolah menyiksanya. Bahkan rasa benci dan ketidak percayaannya pada sang suami, makin membuat rumah tangga mereka bergejolak.

Inilah kisah yang akan kamu saksikan saat menonton drama televisi asal negara tetangga Malaysia berjudul Bidadari Salju (2020). Drama ini sebenarnya diadaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Mia Kiff. Jika kamu sering melihat TikTok, salah satu adegan dari drama ini juga pernah viral banget lho tahun 2020 sampai 2021.  

Lalu bagaimana kelanjutan kisah cinta antara Sweet Qismina dan Adam Lee? Apakah mereka bisa mengatasi semua masalah dalam rumah tangganya? Jangan sampai ketinggalan, kamu bisa membaca review lengkapnya dibawah ini.

Baca juga: Bikin Senyum Sendiri, Inilah 10 Film Malaysia yang Romantis!

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun Rilis: 2020
  • Genre: Romantic, Drama, Family
  • Produksi: A. Aida Production
  • Sutradara: Along Kamaludin
  • Pemain: Sweet Qismina, Adam Lee, Jasmine Suraya Chin
  • Jumlah Episode: 28 Episode

Entah apa yang dilakukan Kayra (Sweet Qismina) hingga ia harus berhadapan dengan Hariz (Adam Lee) setiap harinya di sekolah. Bertemu dengan Hariz bukanlah hal yang menyenangkan bagi gadis ini, pasalnya selalu saja ada hinaan yang didapatkannya.

Kayra tahu, ia hanyalah putri tunggal dari orang tua yang miskin dan memiliki wajah yang buruk penuh dengan jerawat. Namun Kayra tetap tabah, ia berusaha untuk tetap sabar meski setiap harinya jadi bulan-bulanan Hariz beserta teman-temannya.

Hingga segala sesuatunya sudah melebihi batas kesabarannya, dikhianati pria yang dicintainya sampai dikeroyok kelompok para gadis itu adalah hal biasa. Tapi ketika Hariz menyebarkan fitnah soal foto bugilnya, hal ini membuat harga diri dan martabatnya sebagai wanita hancur.

Kayra disebut sebagai pelacur oleh semua orang, sampai-sampai ia dipukuli oleh ayahnya hingga masuk rumah sakit. Kini tidak ada lagi kata “sabar” dalam dirinya, hari itu Kayra melampiaskan segala amarahnya pada Hariz dengan satu tamparan keras.

Di saat itu juga Kayra mengatakan, bahwa ia tidak akan pernah lupa dan memaafkan apa yang telah Hariz lakukan sampai mati. Lima tahun berlalu setelah kejadian ini, Kayra kini tumbuh menjadi wanita cantik yang mandiri, tangguh dan berpendirian.

Kayra menetap di Kuala Lumpur untuk meniti karirnya, kini ia bekerja disebuah perusahaan besar dan ternama. Hanya satu hal yang paling tidak diinginkannya, Kayra sangat membenci cinta dan pria dalam hidupnya.

Kesialan datang padanya ketika ia tahu bahwa perusahaan tempatnya bekerja adalah milik ayah Hariz. Belum lagi kini Hariz berusaha mengejar cintanya, hal ini benar-benar membuat Kayra sangat muak.

Takdir seperti tengah mempermainkannya, ternyata kedua orang tuanya dan orang tua Hariz adalah teman lama. Alhasil Kayra terpaksa menerima untuk dikahi Hariz, hanya karena ia tidak ingin jadi anak durhaka.

Jika dilihat-lihat rumah tangga ini sebenarnya bisa saja berhasil, sayangnya ada banyak gangguan yang datang. Ego masing-masing yang besar membuat segalanya jadi runyam, Hariz menjadi pria yang posesif dan mengendalikan Kayra. Berada dalam situasi sulit, Kayra berusaha keras untuk menjadi istri yang menurut dan berbakti pada suaminya.

Setiap harinya rumah tangga mereka dihiasi dengan pertengkaran, padahal semua masalahnya sangatlah remeh. Segala sikap dingin Kayra padanya tidak pernah ia pedulikan, karena baginya Kayra adalah “Bidadari Salju” yang ditakdirkan untuknya.

Tapi seberapapun Kayra berusaha untuk berdamai, perubahan Hariz yang signifikan membuat hidupnya semakin sesak. Ia tidak bisa tahan dengan semua hak dan kebebasannya yang di renggut oleh Hariz begitu saja.

Semua projek kantor diambil alih oleh Hariz, belum lagi rasa cemburunya. Hariz pun demikian, karena cemburu butanya membuat segalanya semakin tidak terkontrol. Apakah takdir akan membuat Hariz benar-benar akan kehilangan sosok Bidadari Saljunya itu?

Upgrade dari Kisah Benci Jadi Cinta

Upgrade dari Kisah Benci Jadi Cinta

Setelah menonton berbagai drama dari beberapa negara Asia lainnya, jujur saja saya cukup kagum dengan Bidadari Salju (2020). Dari segi kualitas pembuatannya mungkin masih kalah jauh dengan drama Korea, Cina dan Thailand.

Namun dari segi kekuatan cerita, saya pikir Bidadari Salju (2020) cukup unggul soal pengembangan karakter dan kekuatan premisnya.

Membuka cerita dengan kondisi Kayra semasa sekolah, pada awalnya saya pikir Bidadari Salju (2020) adalah drama remaja. Melihat bagaimana Hariz menyiksa dan menghina martabat seorang gadis yang notabennya tidak pernah melakukan kesalahan apapun.

Memang ada plot hole, kenapa tiba-tiba Hariz bisa begitu membenci Kayra, namun hal ini ditutupi dengan sangat baik dengan hal lain. Lalu bagian kedua ketika mereka sama-sama dewasa, salah satu bagian yang paling enjoy untuk disaksikan.

Kali ini giliran Kayra yang balas dendam pada Hariz, untuk membuat pria itu merasakan sakit yang sama seperti di masa lalu. Overall untuk episode 1 sampai 15, menjadi episode yang paling saya nikmati mulai dari tensi, jalan cerita hingga aktingnya.

Memasuki episode 16 hingga ke episode akhir, saya melihat ceritanya menjadi lebih kompleks dan ada perubahan karakter signifikan dari Kayra dan Hariz.

Hal ini sangat diluar dugaan, Hariz berubah jadi suami egosi dan overprotektif dan Kayra berusaha menahan ego demi menjadi istri berbakti. Fase ini menjadi suasana baru, yang membuat penonton tidak bosan dan malah makin penasaran.

Satu hal yang pasti, kisah benci dan cinta tetap ada dan menjadi isu utama sejak awal hingga akhir. Hal ini menjadi kekuatan dari Bidadari Salju (2020), bagi saya drama ini berhasil membuat upgrade dari kisah benci dari cinta. Sambil menyelipkan hubungan rumah tangga toxic, karena mereka memang saling menyakiti satu sama lain.  

Drama Rumah Tangga, dari Sisi Romansa dan Agama

Drama Rumah Tangga, Dari Sisi Romansa dan Agama

Bidadari Salju (2020) memberikan kita pandangan bagaimana rumah tangga berlangsung. Ada dua sisi yang diperlihatkan dalam drama ini, sisi dari romansa serat sisi agama hubungan suami istri.

Dalam romansa, dua orang yang terlibat dalam hubungan bisa mementingkan ego masing-masing. Inilah yang terjadi ketika Hafidz dan Kayra saling mengikuti ego masing-masing di berbagai situasi.

Namun ada satu hal yang sangat membekas di pikiran saya, setelah menonton Bidadari Salju (2020). Drama ini bisa membuat kisah romansa dan drama rumah tangga beriringan dengan agama.

Kata yang paling saya ingat dan menjadi titik berat di bagian kedua hingga akhir adalah “istri yang menuruti suami”. Berulang kali Hafiz selalu saja melontarkan kalimat ini, ketika berbicara dengan Kayra.

Hal ini memang benar adanya, namun drama ini juga memperlihatkan bahwa ada beberapa situasi yang tidak memungkinkan hal ini terjadi. Pasalnya seorang istri juga memiliki hak untuk bersuara, ketika suaminya mulai berjalan ke arah yang salah. Drama ini menunjukkan bahwa kata “Istri yang menuruti suami” adalah pondasi untuk menjalankan rumah tangga.

Hal ini memang mutlak, tapi bukan berarti suami berhak mengendalikan hidup dan kebebasan wanita. Segalanya harus sepadan dan seimbang, karena rumah tangga tidak hanya disetir oleh suami, tapi ada istri yang mendampingi. Keduanya memiliki peran, hak dan kewajiban masing-masing, namun tidak boleh sampai mengeksploitasi salah satunya.

Hampir Sempurna dan Bisa Lebih Rapi

Hampir Sempurna, Jika Bisa Bisa Lebih Rapi

Jujur saja saya sangat enjoy menonton Bidadari Salju (2020), ceritanya memang upgrade dari kisah romansa umum. Pengembangan ceritanya sangat bagus, tapi ceritanya tidak melenceng dari premis awal yang diberikan pada penonton.

Ceritanya juga cukup berimbang, baik dari sisi Kayra maupun Hariz diperlihatkan dengan sangat baik. Satu-satunya yang ingin saya komentari adalah pengembangan cerita di bagian akhirnya saja.

Entah mengapa memasuki episode 20 hingga 28 ada kesan terlalu memaksakan untuk memasukan sub konflik. Ada konflik yang tidak perlu dikembangkan, contohnya soal komplotan penjahat yang balas dendam. Jika ingin membuat Kayra menghilang, cukup gunakan skenario kecelakaan dan lainnya.

Soal kehadiran Jeanny, karakternya dibangun dengan sangat baik sebagai sepupu yang manis di depan namun busuk di belakang. Tapi segala hal buruk yang dilakukannya tidak diperlihatkan secara gamblang, jadi pondasi karakternya kurang kuat.

Caranya untuk bertaubat juga bagi saya agak kurang memuaskan, setidaknya berikanlah kisah efek jera yang lebih baik. Jangan dipotong dengan alasan kehilangan anak, lalu ia tiba-tiba ingin bertaubat dan kembali dengan mantan kekasihnya.

Di lima episode akhir Bidadari Salju (2020) memang episode klimaks, tapi sebenarnya klimaks ini bisa dipersingkat lagi. Padahal hanya tinggal bilang saja alasan kenapa Hariz menikahi Jeanny semuanya bisa terselesaikan. Tapi entah sutradara dan penulis menyukai hal dramatis, jadi hal ini dikembangkan lagi sambil membawa karakter lain.

Untuk sinematografi dan pengambilan gambarnya cukup baik, saya hanya terganggu dengan plotnya yang banyak dipotong untuk masuk ke segmen lain. Jadi terkadang ada rasa kagok, kenapa tiba-tiba sudah beralih ke cerita lain, cara memotong ceritanya kurang lembut.

Setelah membaca review drama Bidadari Salju (2020) apakah kamu tertarik untuk menontonnya? Drama ini bisa kamu saksikan di WeTV, setelah itu jangan lupa bagikan pendapatmu soal dramanya di kolom komentar di bawah ini. Temukan juga review drama-drama Asia lainnya, yang bisa kamu dapatkan hanya di Bacaterus.

Bidadari Salju
Rating: 
3.5/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram